
" Kau baik-baik saja ?" tanya Justin demi melihat Anna yang tiba-tiba terdiam.
" Apa kau juga melihat apa yang aku lihat?" Anna balik bertanya.
" Lihat apa?" tanya Justin tak mengerti.
" Sepertinya aku baru saja melihat Roger... dengan.. dengan seorang gadis " kata Anna dengan wajahnya yang berubah pias.
" Dimana?" Justin memelankan mobilnya dan melihat ke sisi kiri dan kanan.
" Di jalan sekitar mall tadi "
" Kau yakin?"
" Aku tidak begitu yakin. Tapi lupakanlah, aku pikir aku salah lihat. Roger sedang mengecat pagar rumahnya. Tidak mungkin berkeliaran di sini, dengan seorang gadis pula " Anna menenangkan dirinya sendiri. Tapi raut wajahnya yang terlihat cemas tidak luput dari pandangan Justin.
" Kalau kau ingin meyakinkannya, kita bisa putar balik, sebelum terlalu jauh " tawar Justin.
Anna terlihat bimbang. Justin masih melajukan mobilnya dengan pelan.
" putar balik, Justin " pinta Anna kemudian.
****
Justin menghentikan mobilnya di parkiran mall yang dimaksud Anna. Anna bergegas keluar dari mobil dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tapi tidak ia temukan sosok yang ia cari.
Anna melangkahkan kakinya ke sisi tempat ia melihat Roger, tetapi hasilnya nihil.
" Mungkin aku tadi memang salah lihat " batinnya.
" Mari kita pulang " ajak Anna pada Justin. Justin mengangguk. Merekapun berjalan kembali ke parkiran mobil.
Sepanjang perjalanan ke parkiran mobil, Anna mengutuki dirinya sendiri karena sudah meragukan kesetiaan Roger. Ia merasa dirinya menjadi begitu bodoh karena berpikir Roger membohongi dan mengkhianatinya.
Anna membuka pintu mobil dengan kesal.
" Kenapa kau cemberut begitu ? bukankah seharusnya kau lega karena itu bukan Roger?" tanya Justin sambil memakai sabuk pengamannya.
Justin berdehem. Dalam hati ia berkata, Roger sebenarnya hanyalah seorang playboy yang mempermainkanmu,Anna. Kau hanya belum sadar.
" Aku akan sangat malu sekali kalau bertemu dia. Dan dia pasti akan sangat marah kalau tahu apa yang aku pikirkan " desah Anna.
Justin tidak berkata sepatah kata pun. Dalam benaknya, ia berpikir untuk secepatnya membuka kedok Roger agar Anna tidak semakin terjerumus pada hubungannya dengan Roger.
Justin menstater mobilnya. Ia lalu menatap spion mobilnya, untuk keluar dari tempat parkir. Disaat yang sama, Roger sedang berjalan menuju ke salah satu mobil yang terparkir di sana. Dan dia tidak sendirian. Ada Amanda Knight bersamanya. Mereka berdua tampak begitu mesra. Tangan kiri Roger tampak menenteng tas belanja sedangkan tangan kanannya bertengger di bahu Amanda. Dari kaca spionnya pun terlihat kalau mereka berjalan sembari bercanda, bahkan sesekali tampak berc****n. Benar-benar seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
Justin terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Haruskah ia memberitahu Anna sekarang?
" Hei, mengapa kau tidak segera menjalankan mobilnya? " tanya Anna keheranan. Justin tidak menjawab. Ia masih melihat kaca spionnya. Anna tahu ada yang tidak beres. Dan ia pun menoleh ke belakang.
" Ro..Roger?" desis Anna tak percaya.
Anna membuka pintu mobil dan berlari ke arah Roger .
" Roger!!! " teriak Anna. Roger yang sedang membuka pintu mobilnya pun terkejut dengan kedatangannya. Sementara Amanda tampak keheranan dengan kedatangan Anna.
" Siapa dia,beib? salah satu mainanmu kah ?" tanya nya sambil menatap Anna dari atas ke bawah dengan pandangan menyepelekan.
" Apa? mainan? Roger, katakan, apa yang terjadi sebenarnya? dan siapa dia?" tanya Anna sambil menunjuk Amanda.
Amanda mengernyit. Dan ia mendekati Anna.
" Dengarkan aku, kau gadis bodoh. Roger itu pacar ku. Dan kau hanyalah mainan yang akan dia buang kapanpun dia bosan. Jangan pernah bermimpi untuk menggantikan posisiku " katanya dengan tatapan mengintimidasi. Anna hampir menangis mendengarnya.
" Apa itu benar Roger? aku hanya mainanmu? "
Airmata mulai meleleh di wajah Anna.
Roger tidak menjawab.
" Ayo beib, kita tinggalkan mainanmu yang sudah usang ini " titah Amanda. Roger mengangguk. Merekapun masuk ke mobil dan meninggalkan Anna yang menangis sesenggukan.
" Dia mengkhianatiku, Justin.. Roger mengkhianatiku.. Aku hanya sebuah mainan untuknya..yang bisa ia buang kapan saja... Dia mengkhianatiku " kata Anna disela tangisannya. Justin yang tidak tega melihat keadaan Anna, segera meraihnya ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan gadis itu.