
" Mengapa kau memperkerjakan dia disini? " tanya Justin pada Jason. Saat itu mereka tengah duduk di meja makan, menikmati makan malam yang disajikan oleh Anna.
" Kenapa? kau tidak suka? " tanya Jason acuh.
" Kita sudah punya Roberta yang membereskan pekerjaan rumah "
" Aku bisa memecatnya besok "
" Anna? "
" Tentu saja Roberta. Dia hanya bekerja di pagi hari saja bukan? "
" Roberta sudah bertahun-tahun bekerja di keluarga kita. Kau tidak bisa memecatnya seenaknya "
" Bagus kau mengetahuinya " Jason memasukkan potongan daging ke mulutnya.
" Apa maksudmu? "
" Aku tidak akan memecat keduanya. Lagipula masakan Anna lumayan enak " Jason menyudahi makannya. Ia lalu beranjak pergi ke kamarnya.
Anna membereskan meja makan begitu kedua majikannya selesai makan. Ia mendengar semua percakapan majikannya. Dalam hati, ia merasa sangat sedih karena Justin masih juga menolak kehadirannya.
*****
" Anna!! mengapa kau tidak membangunkanku pagi ini!! kau tahu, hari ini aku ada meeting penting! kau membuat semuanya kacau! dasar perempuan si****!! " Jason berteriak marah. Anna gemetar mendengarnya. Ia memang tidak membangunkan majikannya karena ia sama sekali tidak tahu jadwal majikannya. Lagipula bisa dibilang ini adalah hari pertamanya bekerja karena kemarin dia baru tiba di rumah ini. Bukankah wajar kalau dia tidak tahu.
" Maafkan saya Tuan "
" Maaf? hanya itu yang kau bisa? sial!! "
Jason terus saja mengumpat marah pada Anna. Anna hanya tertunduk diam. Jason keluar dari kamarnya dengan wajah marah.
" Mengapa dia terlihat marah sekali? " tanya Justin keheranan.
" Aku tidak membangunkannya pagi ini " sesal Anna.
" Kalau begitu memang salahmu " kata Justin lalu pergi begitu saja. Anna menatap kepergiannya dengan sebal. Justin sama sekali tidak membelanya. Ia bahkan tidak berempati sama sekali.
******
" Tidak peduli bagaimana caranya, dalam waktu lima belas menit, berkas itu harus ada di tanganku!! " perintah Jason dengan keras di telepon. Wajah Anna berubah pias. Gara-gara tidak dibangunkan olehnya pagi ini, Jason berangkat tergesa-gesa ke kantornya dan ia melupakan berkasnya. Dan ia harus mengantarkannya dalam waktu lima belas menit. Anna cepat-cepat keluar dari rumah sambil membawa berkas itu di tangannya. Ia berpikir untuk mencari taksi saja agar cepat sampai ke kantor Jason. Hm, belum ada seminggu bekerja di rumah ini, ia justru akan kehilangan uang. Bagaimana jadinya kalau ia bekerja disini selama setahun? Bisa-bisa ia justru mempunyai banyak hutang.
Saat melewati garasi mobil, tanpa sengaja, Anna melihat motor sport Justin yang terparkir disana. Sebuah ide melintas di kepalanya. Bukankah mengendarai motor jauh lebih cepat daripada memakai taksi? Anna tersenyum. Dulu, Adam pernah mengajarinya mengendarai motor. Apa salahnya sekarang dicoba?
Setelah mengecek tangki bensin dan memasukkan berkas ke dalam jaketnya. Anna pun menyalakan motor itu dan melesat keluar.
****
Dengan tergopoh-gopoh Anna memasuki kantor Jason. Ia langsung menuju lift. Tapi ternyata lift sedang digunakan. Anna mengumpat. Tidak ada cara lain, ia harus menggunakan tangga darurat menuju lantai 12. Hmm, membayangkannya saja sudah membuat tungkai kakinya lemas.
****
Tok. Tok. Ruangan Jason diketuk dari luar.
" Masuk "
Mandy, sekretaris Jason masuk ke ruangan itu bersama Anna.
" Maaf, Pak. Nona ini memaksa untuk masuk ke ruangan Anda "
Jason menghentikan aktifitasnya yang tengah memeriksa dokumen. Dan dilihatnya Anna dengan sebuah berkas di tangannya. Dengan isyarat, ia meminta Mandy keluar ruangan. Segera setelah Mandy keluar, ia langsung memarahi Anna.
" Kau terlambat tiga menit " katanya sambil melihat jam tangannya.
" Maaf Tuan, jalanan lebih ramai dari yang saya kira. Ini berkas Anda, Tuan " kata Anna sopan sambil meletakkan berkas yang diminta Jason ke mejanya.
" Bawa pulang, aku sudah tidak membutuhkannya " kata Jason dingin. Mata Anna terbelalak. Apa? setelah perjuangannya naik tangga ke lantai 12?
" Kau ini tuli ya? aku bilang bawa berkas ini pulang! " perintah Jason sambil melemparkan berkas itu ke lantai. Tanpa banyak bicara, Anna memungutnya.
*****
Anna memijit kakinya di kursi lobby kantor. Kakinya terasa pegal sekali setelah ia gunakan untuk menaiki tangga sebanyak itu.
" Bukankah Anda adik Nyonya Marrissa? " seseorang menegurnya. Anna mendongak mencari asal suara. Dan dilihatnya seorang pria tampan dengan setelan jas warna abu-abu. Anna mengenalinya sebagai asisten Jason, Noah, yang kemarin membawanya keluar dari rumah. Anna mengangguk.
" Kenapa kakimu? kau butuh pertolongan? "
Selain tampan, asisten Jason ini sangat ramah dan baik juga rupanya. Beda jauh dengan boss nya yang luar biasa menyebalkan itu.
" Tidak apa. Hanya pegal sedikit " jawab Anna sambil tetap memegangi kakinya. Noah menundukkan badannya, bermaksud memijit kaki Anna.
" Tidak perlu. Kau tidak perlu melakukan itu, Noah "
" Tapi kau harus segera sembuh karena aku membutuhkan bantuanmu " Noah bersikeras.
" Bantuan? "
" Tuan Jason menyuruhku untuk membelikanmu beberapa baju. Tapi aku tidak mengetahui ukuran yang pas untukmu. Kebetulan sekali hari ini kita bertemu jadi kita bisa membelinya bersama-sama "
****
Hari sudah menjelang sore saat Noah mengantarkan Anna pulang ke kediaman Wilderman. Di depan pintu, Justin sudah menunggunya dengan wajah masam. Wajahnya semakin masam saat melihat Anna keluar dari mobil Noah dengan menenteng tas belanjaan.
" Dari mana saja kau? " tanyanya dengan marah saat Anna sudah berada di depannya.
" Membeli baju bersama Noah " jawab Anna polos.
" Bagus. Kau membeli baju bersamanya dan meninggalkan tanggung jawabmu " kata Justin dengan ketus.
" Jangan khawatir, aku akan segera memasak makan malam yang lezat untukmu " jawab Anna santai. Ia memang sedang enggan berdebat dengan Justin. Energinya sudah terkuras seharian ini. Ia hanya ingin segera beristirahat setelah menyiapkan makan malam untuk kedua majikannya.
" Aku tidak membicarakan tentang makan malam "
" Lalu apa lagi ? " tanya Anna heran.
" Kau pergi begitu saja mengendarai motorku entah kemana dan tiba-tiba kau pulang diantar Noah "
Anna terbelalak. Ia ingat sesuatu. Astaga. Itu dia. Motor sport Justin. Ia memang menggunakannya tadi, tapi kemudian Noah mengatakan akan menyuruh satpam kantor untuk mengantar motor itu ke rumah. Lalu, apa motor itu tidak juga sampai di rumah? Seketika Anna menjadi panik. Secepat kilat ia berlari ke arah garasi untuk mengecek keberadaan motor itu. Dan ternyata motor itu sudah terparkir rapi disana. Anna bernafas lega.
" Untung aku tadi pulang cepat. Kalau tidak, apa kau mau bertanggingjawab kalau motorku dicuri orang? " tanya Justin dengan galak.
" Kalau begitu, sebaiknya rumah ini memakai penjaga. Aku heran rumah sebesar ini tidak memiliki penjaga. Pelayanpun hanya ada ada aku dan Roberta yang datang setiap pagi. Apa kalian terlalu pelit untuk hal semacam itu ? " balas Anna tidak mau kalah.
" Apa kau bilang?? " Justin mendelik marah. Ia mendekati Anna. Jarak diantara mereka sekarang hanya ada sekian centi. Tiba-tiba saja Anna merasa gugup.
" Aku..aku harus memasak makan malam " kata Anna cepat lalu pergi meninggalkan Justin sendirian. Sepeninggal Anna, Justin tertawa geli. Mengapa pipi Anna memerah dan ia terlihat sangat gugup di dekatnya? Apa Anna menyukainya? Apa perasaan mereka sama?
****
" Dia mungkin tidak akan pulang malam ini. Lebih baik kau bereskan saja meja makan ini " perintah Justin kala mendapati Anna yang masih menunggu Jason di meja makan sambil sesekali terkantuk.
Anna melirik jam dinding. Sudah pukul sebelas malam. Dan ia sangat mengantuk. Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan baginya. Apalagi jika orang yang ditunggu sama sekali tidak mengetahui kalau dirinya sedang ditunggu.
Justin menatapnya kasihan. Dalam hati ia memang mulai membenarkan perkataan Ibunya bahwa Anna adalah gadis yang baik,meski agak ceroboh. Berada serumah dengan Anna juga membuat perasaannya pada gadis itu semakin menjadi-jadi. Tapi disisi lain dia memiliki Ashley di sampingnya, dan kenyataan bahwa Anna adalah adik dari ibu tirinya juga tidak bisa diabaikan begitu saja.
" Aku akan membantumu membereskannya " tawar Justin. Ia lalu meraih piring makanan di meja.
" Jangan Justin " cegah Anna. Secara refleks tangannya memegang tangan Justin yang meraih piring. Sesaat suasana hening. Waktu seakan berhenti sesaat. Anna dan Justin saling bertatapan tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
" Anna!! Anna!! Gadis bo***!! dimana kau " sebuah teriakan dari ruang tamu menyadarkan mereka. Anna segera melepaskan tangannya dari tangan Justin dan bergegas menuju ke sumber suara.
Di ruang tamu, tampak Jason yang sepertinya sedang mabuk, bersama seorang wanita berpakaian seksi.
" Ya, Tuan "
" Ingat, Besok pagi jangan lupa membangunkan aku!! Harus sampai bangun" perintahnya. Anna mengangguk.
" Baik, Tuan "
Jason mencium bibir wanita itu. Anna merasa mual melihatnya.
" Ayo kita ke kamar, sayang " ajaknya pada wanita itu.