
" Jadi, apa itu tadi ? " tanya Justin pada Max yang tengah memainkan gitar di ruang musik. Max memang menyukai musik. Ia banyak menghabiskan waktunya dengan bermain musik. Bahkan seringkali ia melarikan diri ke ruang musik dari pelajaran yang tidak ia sukai.
" Apa yang mana? " tanya Max tanpa memperhatikan Justin sedikitpun. Justin mendengus kesal.
" Rambut baru, gaya baru .. "
" Apa kau suka?" potong Max sambil terus memainkan gitarnya. Justin tidak menjawab.
" Mengapa kau melakukan semua ini? merubah penampilanmu?"
Max tidak menjawab, ia malah asyik memainkan gitarnya, melantunkan Perfectly Perfect nya Simple Plan.
Maybe
You'll never see in you what I see
The little things you do that make me go crazy
I'm not crazy
You're perfectly perfect to me
" Max!! aku bertanya padamu!! " Justin mulai kehabisan kesabaran. Max menghentikan permainan musiknya. Ia meletakkan gitarnya. Melipat kedua tangannya kedepan dan menatap Justin dengan serius.
" Kenapa kau tidak menjawabnya?"
" Haruskah? Kau juga tidak menjawab pertanyaanku " kata Max santai.
Justin mendengus kesal.
" Kau terlihat berbeda, dan aku agak tidak menyukainya "
" Really? padahal kata seseorang, aku terlihat tampan sekarang. Tapi seperti kau lihat, aku belum terbiasa dengan hal ini. Banyak gadis yang memperhatikanku dan itu membuatku muak. Bahkan Cheryl dari kelas sebelah hampir seharian ini mengikutiku" kata Max jujur. Ia memang menjadi pusat perhatian seharian ini. Banyak gadis yang dulu segan menatapnya kini justru mengikutinya seharian dan itu membuatnya kesal. Karena itu ia memilih berada di ruang musik untuk bersembunyi dari kejaran para gadis itu.
" Kau akan segera menikmatinya " ejek Justin. Entah mengapa ungkapan jujur Max membuatnya merasa kesal. Mungkin karena kepopuleran Max akan membuatnya tersaingi.
" Tidak. Aku tidak suka menjadi populer. Itu membuatku tidak bisa dekat dengan gadis yang aku sukai " sindir Max. Sebagai sahabat Justin, ia mengetahui dengan jelas kesulitan Justin mengungkapkan perasaannya pada Anna karena ketakutannya kehilangan popularitas. Justin menjadi salah tingkah. Ucapan Max adalah sindiran telak baginya.
" Tapi kalau memang aku harus jadi sepopuler itu. Aku tidak akan ragu melepaskannya untuk bisa bersama dengan gadis yang aku sukai. Populer itu seperti garis nasib di tangan, apapun yang kau lakukan, kalau memang sudah tertulis populer, kau akan tetap populer "
" Kau mengejekku? "
" Tidak. Aku membicarakan pendapatku sendiri "
" Kalau kau tidak mau populer, mengapa kau merubah penampilanmu? "
" Kenapa? kau takut tersaingi? sudah aku bilang, aku tidak suka menjadi populer "
" Tidak. Kau bisa menjadi pesaingku kapan saja "
" Kapan saja? "
" Sure " jawab Justin mantap.
" Termasuk dalam mendapatkan Anna? "
Justin mendelik.
" Kau masih menyukainya ya? " tebak Max. Ia lalu berdiri mendekati Justin.
" Ya. Kau masih menyukainya " Max berbicara sendiri.
" Kenapa kau tidak mengatakannya pada Anna? Kau masih takut kepopuleranmu itu hilang? "
" Aku tidak menyukainya "
Max mendelik tak percaya.
" Seriously?"
" Kau pikir kenapa aku bersama Ashley ? Aku menyukainya. Dia gadis yang sempurna. Cantik, baik, berprestasi, populer..Dan yang terpenting, dia jujur, bukan pembohong besar seperti Anna "
" Kau masih berpikir Anna membohongimu? "
" Menurutmu? "
" Seperti kau tahu, aku tidak mempunyai teman wanita sebanyak dirimu.Tapi bergaul denganmu membuatku mengerti banyak hal tentang mereka. Kebanyakan dari mereka menyukai segala sesuatu yang berbau ketenaran seperti Novela, Claire, bahkan Ashley-mu. "
Justin tersenyum sinis.
" Tipe seperti mereka ini hanya akan mendekatimu saat kau tampan, kaya, pintar dan apapun itu yang membuatmu populer. Mereka akan menghilang saat kau terjatuh "
" Ash tidak seperti itu. Dia berbeda. Dia sudah populer dengan sendirinya. Dia ketua cheers "
" Selanjutnya adalah barisan gadis naif, biasa, kutubuku dan sebagainya. Anna termasuk golongan ini " Max melanjutkan perkataannya tanpa menggubris Justin.
" Mereka tidak sedikitpun memperhatikan siapa kamu, seberapa kaya orangtuamu, populer tidak kah dirimu. Yang mereka lihat hanya kamu sebagai dirimu sendiri "
Justin berdecih.
" Dan sejauh ini, aku melihat Anna seperti itu. Dia memang tidak secantik Ashley, tapi Ashley juga tidak semanis dia. Anna baik, walau terkadang membuat kesal juga. Dia juga kuat dan hebat. Dia bisa bertahan di tengah keluarganya yang berantakan. Aku kagum padanya "
" Kau terdengar menyukainya " ejek Justin.
" Mungkin. Tapi itu bukan masalah untukmu kan? Kau tidak menyukainya " sahut Max enteng. Justin mendengus kesal. Ia tidak menyukai kata-kata Max barusan.
" Dengar. Anna itu pembohong. Kau sudah tertipu dengannya "
" Anna jujur. Aku percaya padanya " bantah Max
" Kau akan menyesalinya Max. Dia hanya penipu yang berusaha mengambil keuntungan darimu "
" Stop menyebut dia pembohong. Anna bukan gadis seperti itu. Dan aku tidak akan pernah menyesalinya. Justru kau yang akan menyesalinya saat melihat Anna bersama orang lain "
" Breng*** kau Max " Justin mulai emosi
" Kau yang breng*** Justin ! Kau pengecut! Kau menyebut Anna pembohong, tapi kau sendiri tidak pernah jujur pada perasaanmu padanya. Perse*** dengan kepopuleranmu! "
Bug. Justin yang tersinggung meninju Max. Max memegangi perutnya sejenak. Lalu ia berdiri tegar kembali. Justin sudah siap dengan kuda-kudanya.
" Dengar, aku tidak akan membalas pukulanmu karena aku masih menganggap bahwa kamu ini adalah temanku "
Justin mengurungkan kuda-kudanya. Dengan kesal ia berbalik, bergegas pergi meninggalkan Max.
" Tapi aku tidak akan diam kalau kau menghina Anna lagi. Dia bukan pembohong seperti dugaanmu. Dia tidak terlibat dengan Marrissa " teriak Max, tetapi Justin sudah berlalu.
" Aku mendengarnya sendiri Justin. Aku tidak tuli. Anna tidak terlibat dengan Marrissa!!!" teriak Max sekali lagi.