
" jadi, bisakah kau membantuku mendapatkannya,Anna? " pinta Drew. Anna terdiam sejenak. Mata Drew yang berbinar seperti anak anjing yang patuh membuat Anna tidak tega untuk menolak permintaannya. Sementara itu disisi lain, ia bahkan tidak tahu tipe gadis seperti apa yang disukai Justin dan bagaimana caranya untuk mencari tahu tipe gadis Justin.
"ehm, aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan mengusahakannya " jawab Anna pada akhirnya.
" terimakasih, Anna. kamu memang sahabat terbaikku " puji Drew.
******
Tepat pukul enam pagi,Anna terbangun. Setelah mencuci muka dan gosok gigi,iapun menuju dapur untuk sarapan pagi. Dilihatnya Ibunya tengah membuat telur dadar. Ada pula segelas susu putih dan roti tawar yang terhidang di meja.
" kau sudah bangun? tidurmu nyenyak?" Kattie menanyainya. Anna menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana.
"ya. nyenyak,sangat nyenyak sekali. Home sweet home. Tidak ada yang lebih nyaman daripada di rumah sendiri " jawab Anna sambil mengambil piring dan mengambil setangkup roti tawar.
" tentu saja, di rumah ada ibu yang membuatmu nyaman " kata Kattie sambil menyodorkan piring berisi beberapa buah telur dadar. Anna mengambilnya dan mengisinya di tangkupan roti, kemudian melahapnya.
" ibu, apa ibu membaca pesanku tempo hari?"
" telan dulu makananmu baru berbicara,Anna " perintah Kattie. Anna menurut. Dikunyahnya makanannya. Setelah menelannya, Anna kembali bertanya,
" ibu, apa ibu sudah mengunjungi Adam? "
Kattie tidak menjawab. Ia meneguk kopinya sambil memandang pemandangan yang terlihat dari jendela rumah kecilnya.
" ibu,Adam kemarin dirawat di rumah sakit "
"ibu sudah tahu "
" jadi ibu sudah menengoknya?" tanya Anna antusias.
" untuk apa menengoknya? dia masuk rumah sakit karena berkelahi lagi. berandalan itu tidak pernah berubah " kata Kattie sengit.
Ucapan Kattie membuat semangat Anna menurun kembali. Padahal ia tadi sudah gembira karena menyangka ibunya datang untuk menengok Adam.
" Adam sudah berubah,Bu. Ibu saja yang tidak memperhatikannya"
" Bagaimana Ibu bisa memperhatikannya kalau dia sendiri tidak pernah pulang ke rumah "
" Bagaimana ia bisa tahan berada di rumah kalau Ibu mengabaikannya?" suara Anna mulai meninggi.
" Hentikan, Anna, Ibu tidak ingin berdebat tentang hal ini lagi " perintah Kattie
" Kenapa bu ? Adam sudah berusaha melakukan hal yang terbaik. Dia sudah bekerja.Dia berusaha untuk berubah. Dia hanya butuh dukungan dari Ibu. Tapi ibu bahkan tidak mau menyapanya. Kenapa Bu? Apa yang salah dengan menjadi seorang mantan narapidana?Apa Ibu malu? Bagaimanapun dia juga anak Ibu" Anna mulai emosi.
"Jaga bicaramu Anna. Ibu sudah bilang,tidak mau berdebat tentang hal ini "
"Kita akan terus berdebat kalau Ibu masih mengabaikan Adam " ancam Anna
"Anna!!" bentak Kattie dengan nada tinggi. Anna terdiam. Kemudian ia memilih untuk masuk kekamarnya, meninggalkan Kattie.
"Habiskan sarapanmu Anna" perintah Kattie setengah berteriak, tetapi Anna tidak mempedulikannya.
Dikamar,Anna terisak sedih sambil memandangi foto keluarganya.
" kenapa sulit sekali mencairkan hati Ibuku,Tuhan?"
******
Drrtt. Drrt. Suara getar gawai menyadarkan Anna dari lamunannya. Anna meraih gawainya. Sebuah pesan,dari Roger. Anna membacanya.
" Aku menunggumu di depan rumah "
Anna meraih tas kecilnya dan segera mengenakan sepatu,kemudian keluar kamar. Tak dilihatnya Ibunya saat berjalan ke pintu rumah. Mungkin sudah tidur,pikirnya.
Anna tersenyum saat mendapati Roger sudah menunggunya. Anna menatap Roger. Pria itu mengenakan jeans yang dipadu dengan kaos warna putih dan kemeja flanel. Dan hei,ternyata ada yang berbeda dari Roger. Ia mengecat rambut pirangnya dengan warna hitam.
" kau mengecat rambutmu? "
Roger mengangguk.
" bagaimana? terlihat lebih tampan kan?" tanyanya menyombongkan diri.
Anna tersenyum kecil.
" dimataku, kau tetap yang paling tampan " pujinya.
Roger menyorongkan pipinya, berharap mendapatkan kecupan manis dari Anna. Namun yang terjadi adalah Anna justru mendorongnya.
" dasar pemalu " ejek Roger.
" biar saja" sahut Anna cuek.
" mari kita berangkat,Tuan Puteri " ajaknya sambil membuka pintu mobilnya seraya menunduk sopan dan Anna pun berlagak seperti Tuan Puteri yang angkuh sedang naik ke kereta kudanya.
****
" jadi, kapan kau bisa bertemu Adam?" tanya Anna pada Roger,
" segera beib,setelah urusanku selesai "
"kau ada pekerjaan di musim panas ini?"
"kau pikir hanya kau saja yang bekerja sampingan? Aku juga butuh uang untuk memberi makan kucingku "
Anna tertawa mendengar penuturan Roger.
"memangnya apa pekerjaanmu?"
" semacam permainan petak umpet, aku mencari seseorang"
" seseorang?siapa?"
" kau tidak perlu tahu, yang jelas orang ini perlu diberi pelajaran "
" kau membuatku takut,Roger"
" hei, jangan takut,beib. Ini pekerjaan yang menyenangkan,kau tahu?"
" kenapa menyenangkan?"
" karena ada gadis cantiknya,hahaha.." Roger tertawa melihat wajah Anna yang cemberut.
" aku bercanda,beib. Sebentar lagi permainan ini berakhir "
"kau sudah menemukannya?"
"Sure. Aku juga sudah memberikannya pelajaran. Tapi aku rasa itu belum cukup membuatnya jera.Jadi,aku rasa aku akan memberikan kartu As padanya "
******
Justin melihat kedatangan Anna yang diantar Roger dari jendela kamarnya di lantai atas. Ia merasa kesal melihat perlakuan Roger yang sok romantis pada Anna.
" tunggu saja saat aku membuka kedokmu, playboy tengik "
Justin meraih gawainya. Dibukanya pesan dari Maxwell dan dibacanya pesan itu berulang kali,
" Hei,bro, ternyata si pirang tidak sealim yang kita kira. Lihat saja kelakuannya,beberapa hari ini dia keluar masuk bar-hotel dengan gadis yang berbeda. Kau kalah telak !!" begitu bunyi pesan Max,ditambah dengan beberapa foto Roger bersama dengan gadis-gadis yang tidak dikenalnya. Sepertinya Roger memang penggila pesta dan sekaligus penggila perempuan. Dan Amanda,bukanlah satu-satunya selingkuhannya. Tapi bagaimana caranya agar Anna mengetahui hal ini?