Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Kembali ke kediaman Wilderman


Setibanya di kediaman Wilderman, Anna merasa aneh karena suasana tampak sepi. Biasanya akan terdengar suara Josh yang sedang bermain atau mungkin suara gitar yang dimainkan Justin.


" Apa yang kau cari ? " rupanya Jason menangkap gelagat Anna.


" Kenapa sepi sekali, dimana Josh dan yang lain? "


" Josh dan Ibunya sudah pergi dari rumah ini. Hanya Justin yang tersisa "


" A-Apa? "


" Tidak usah kaget begitu, mereka memang tidak berhak tinggal di rumah ini "


" Jadi Anda mengusir mereka? "


" Andai aku bisa, akan sangat menyenangkan sekali. Sayangnya mereka telah lebih dahulu pergi dari rumah ini "


Anna mencebik. Jahat sekali orang ini, pikirnya.


" Jangan menghinaku seperti itu " kata Jason. Rupanya ia melihat Anna yang mencebikkan mulutnya. Anna pun gelagapan, malu.


Apa dia punya seribu mata, sampai tidak ada satupun yang lolos dari penglihatannya? Anna bertanya dalam hatinya.


" Kamarmu di belakang. Kau akan tinggal disana selama bekerja disini "


" Tinggal disana? "


" Atau mungkin kau lebih suka tidur di kamar utama denganku? "


Anna begidik ngeri. Jason tersenyum dingin.


" Selama menjadi pelayanku, kau harus mematuhi semua ucapanku. Tidak boleh sekalipun kau menolaknya. Mengerti ? "


Anna mengangguk.


" Mengapa kau masih berdiri disitu ? " tanya Jason pada Anna yang masih terdiam di tempatnya semula.


" Tuan belum menjelaskan jam kerja saya? "


" Tidak ada jam kerja. Kau akan berada di rumah ini 24 jam penuh dan harus siap kapanku aku membutuhkanmu "


" A- Apa? Tapi saya belum membawa pakaian saya " Anna beralasan.


" Noah sedang membelikannya untukmu "


" Tapi.. saya.. saya harus merawat kakak dan ibu saya "


" Tidak ada pengecualian "


" Tapi kakak dan Ibu saya lumpuh.. siapa yang akan membantu mereka untuk sekedar makan atau pergi ke kamar mandi ? "


" Apa peduliku? "


" Kumohon, Tuan. Setidaknya beri saya kesempatan untuk mengecek keadaan mereka seminggu sekali " Anna memohon. Jason mengernyit.


" Baiklah. Setiap minggu pagi kau boleh menengoknya. Tapi siang hari kau harus sudah berada disini "


" Baik. Terimakasih Tuan "


" Sekarang pergilah. Lakukan pekerjaanmu "


Annapun bergegas pergi dari hadapan Jason. Saat melewati ruang tengah. Ia melihat telepon rumah. Timbul niatnya untuk menelpon kakaknya, mengabarkan keadaannya. Setelah memastikan keadaan aman. Anna segera meraih ganggang telepon dan menekan nomor handphone nya. Lama sekali hanya terdengar nada tunggu. Sampai akhirnya sebuah suara menyahut.


" Hallo " sapa suara di seberang.


" Hallo Marrissa, ini aku, Anna " katanya pelan.


" Anna? Ya Tuhan, syukurlah. Aku begitu mengkhawatirkan keadaanmu. Baj***** itu melesatkan mobilnya begitu kau masuk ke dalam. Kau tidak apa-apa Anna? Si breng*** itu tidak menyakitimu kan? "


" Aku tidak apa, Marrissa. Dengar, saat ini kau memegang handphone ku bukan? "


" Ya "


" Ada nomor Morgan di kontakku. Hubungi dia kapanpun kau membutuhkan bantuan. Ia pasti datang menolongmu "


" Kenapa harus menghubunginya? Apa kau tidak akan pulang ? "


" Aku hanya bisa datang setiap minggu pagi, Marrissa. Si bre***** itu bahkan tidak mengijinkanku pulang mengambil pakaian "


" Astaga, kejam sekali dia "


" Memang. Ingat pesanku, Marrissa, hubungi Morgan. "


" Baiklah, Anna "


" Aku harus menutup teleponnya sekarang "


" Hati-hati Anna. Jaga dirimu baik-baik "


" I will. Kau juga, jaga dirimu baik-baik "


Tut. Telepon dimatikan. Anna pun bergegas pergi.


****


" Kau? Kenapa kau ada disini ? " Justin terlonjak kaget saat ia baru saja masuk ke kamarnya dan menemukan Anna yang membereskan kamarnya. Anna pun sama kagetnya dengan Justin. Ia tidak menyangka Justin akan pulang siang ini.


" Aku.. aku sedang membereskan kamarmu "


Mendengar jawaban Anna, Justin cepat-cepat menuju meja belajarnya. Ia takut Anna merapikan buku-bukunya dan menemukan fotonya di situ. Tingkah Justin yang seakan ketakutan tentu saja membuat Anna geli.


" Aku belum menyentuh mejamu " ungkapnya.


" Syukurlah. Aku takut tanganmu mengotori buku-buku ku " kata Justin sambil duduk di kursi. Anna melotot.


"Kau bisa membersihkan lantainya,tapi jangan sentuh apapun di meja ku " tambahnya.


" Jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhnya walau dibayar sejuta pun " jawab Anna dongkol.


" Bersyukurlah karena aku tidak akan pernah membayarmu untuk itu " ejek Justin. Anna mendengus kesal lalu segera keluar kamar. Tidak adik, tidak juga kakak, keduanya sama -sama menyebalkan, sungut Anna. Selepas Anna keluar dari kamarnya, Justin membuang nafas lega lalu cepat-cepat mengecek keberadaan foto yang ia sembunyikan. Syukurlah, foto itu masih berada di tempatnya.


Anna keluar kamar Justin sambil menenteng keranjang baju kotor Justin. Saat melewati ruang tengah, saat itu pula telepon rumah berdering, Anna mengangkatnya dengan malas. Ia pikir Jason yang menelponnya, mengingat sedari tadi pria itu keluar rumah.


" Hallo "


" Anna? kaukah itu? " suara seorang wanita diujung sana yang sangat dikenalnya, suara Nyonya Olivia.


" Nyonya Olivia? apakah ini Anda ? " Anna terkejut. Ia segera memperbaiki intonasi bicaranya.


" Ya. Sedang apa kau di rumahku? maksudku di kediaman Wilderman? " Nyonya Olivia sepertinya juga sama terkejutnya dengan keberadaan Anna di rumah itu.


" Saya.. saya sekarang bekerja di rumah ini, Nyonya "


" Bekerja? "


" Ya. Si bre***** itu, eh, maksud saya Tuan Jason yang memperkerjakan saya di sini sebagai pelayan " Anna meralat ucapannya, meski pada akhirnya ia mendengar suara tawa kecil di ujung sana.


" Oh, begitu ya? " suara Olivia terdengar menggantung, kemudian, " Apakah Justin ada di rumah ? Aku menelpon gawainya sedari tadi tapi tidak diangkat "


" Ada Nyonya, Tuan Justin baru saja datang. Saya akan memberitahunya "


" Oke "


Anna pun bergegas pergi. Begitu sampai di kamar Justin, ia langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu sambil memanggil namanya.


" Justin!! "


Justin yang sedang melamun tentu saja kaget.


" Whoa!! kau mengagetkanku" Justin cepat-cepat menyembunyikan foto Anna di balik tas ranselnya di meja.


" Maaf " Anna menyadari kesalahannya.


" Nyonya Olivia menelpon "


*****


" Hai, Mom "


" Hallo Justin. Ibu sudah menelponmu sedari tadi tapi tidak kau angkat "


" Baterai handphone ku habis. Aku lupa mencharge nya semalam "


" Kebiasaan. Apa kabarmu, sayang? "


" Baik, aku sehat. Kalian bagaimana? "


" Kami disini baik-baik saja. Josh sedang les bahasa melayu disini. Ia berusaha sekuat tenaga. Tampaknya ia ingin segera berbaur dengan orang-orang disini "


" Syukurlah. Oya, aku sudah mengirimkan Mr.T ke sana "


" Mr.T? "


" Ya, Jason memberikanku boneka itu. Dia bilang boneka itu tertinggal di kamarnya "


" Oh, begitu. Josh tidak mengatakan apapun. Aku kira tyranosaurus itu sudah ada disini "


" Mungkin dia tidak mau mengkhawatirkan Ibu "


" Ya, bisa jadi. Oh ya, Justin, aku mendengar Anna sekarang bekerja di rumah? "


" Ya. Ia menjadi pelayan di rumah ini sekarang "


" Apa terjadi sesuatu, Justin? "


" Maksud Ibu apa? "


" Justin, Anna adalah adik dari ibu tirinya yang tidak ia sukai. Lalu mengapa ia memperkerjakan Anna di rumah itu ? "


Justin mengernyit. Ucapan Ibunya benar. Jason selalu membenci siapapun yang berhubungan dengan wanita yang menjadi ibu tirinya. Jason pun tidak menyukainya karena dia adalah anak dari Olivia, wanita yang menjadi ibu tirinya. Lalu mengapa sekarang justru ia memperkerjakan Anna di rumah ini?


" Justin? kau masih mendengarkanku? "


" Ya, Bu "


" Justin, Ibu rasa ada sesuatu yang direncanakan Jason, dan itu melibatkan Anna "


" Dan aku tidak ingin terlibat dalam hal itu "


" Justin, dengar Ibu, meski Ibu tidak menyukai Marrissa tetapi Ibu tetap menyayangi Anna. Dia anak yang baik. Ibu tidak ingin hal buruk menimpanya "


" Kenapa ibu masih mempedulikannya? dia dan kakaknya sudah bersekongkol untuk menghancurkan keluarga kita. Kalau Ayah tidak menikahi kakaknya, ibu pun tidak akan menjadi janda. Dan keluarga kita tetap bahagia "


" Apapun yang dilakukan kakaknya, Ibu selalu merasa Anna tidak terlibat sedikitpun, Justin. Dia begitu baik dan polos "


" Dia itu palsu "


" Tidak, Justin. Lihat dengan mata hatimu. Ibu tahu, jauh di lubuk hatimu, kau membenarkan perkataan Ibu "


" Terserah apa kata Ibu, tapi bagiku dia tetap gadis palsu "


" Baiklah kalau kau bersikeras. Tapi, maukah kau menolong Ibu sedikit saja "


" Apa ? "


" Tolong jaga Anna "


" Ibu... "


" Lakukan untuk Ibu, Nak "