
Hufth. Anna menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia merasa sangat lelah hari ini. Padahal, kalau dipikir, kegiatan yang ia lakukan adalah kegiatan keseharian yang biasa ia kerjakan. Tetapi tetap saja akhir-akhir ini ia merasa cepat sekali lelah seakan-akan yang ia kerjakan adalah dua atau tiga kali lipat dari pekerjaan yang biasa ia lakukan. Apakah ini efek kehamilannya?
Anna mengelus perutnya. Saat ini perutnya memang masih rata. Tapi seiring berjalannya waktu, perutnya akan membesar, hingga saatnya nanti bayi ini dilahirkan. Pikiran Anna menerawang. Ia tidak ingin menggugurkan bayi ini. Bayi ini sama sekali tidak berdosa. Tapi ia juga bingung harus bagaimana menjalani kehidupannya nanti. Menjadi seorang single mom pastinya akan sangat sulit baginya, apalagi di usianya saat ini. Saat bayi mungil itu lahir, ia harus merawatnya seorang diri. Dan setelah anak itu besar, bukan tidak mungkin ia akan mengajukan pertanyaan soal Ayahnya yang pastinya akan sangat sulit untuk ia jelaskan.
Perlahan airmata Anna menetes. Kehidupannya kedepan akan sangat sulit. Meski begitu, ia berjanji akan menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Ia akan berjuang sekuat tenaga untuk membesarkan dan melindunginya.
****
Pukul 06.00 pagi
Anna membuka tirai jendela di kamar utama. Ia memang melakukannya sepagi mungkin, agar majikannya yang menyebalkan itu tidak terbangun, karena sampai saat ini, ia belum siap sama sekali untuk bertatap muka dengan Jason.
" Jadi kau membuka tirai sepagi ini, pantas saja aku tidak menyadarinya "
Anna hampir berjingkat karena kaget mendengar suara itu. Cepat-cepat ia membalikkan badannya. Jason menatapnya sambil tetap merebahkan tubuhnya di ranjangnya.
Anna tidak menjawab. Ia lalu mengambil keranjang pakaian kotor Jason, hendak membawanya keluar untuk di cuci.
" Berhenti di situ " perintah Jason. Anna menghentikan langkahnya. Ia menundukkan wajahnya. Jason beranjak dari tidurnya. Ia duduk di tepi ranjang.
" Kapan kau siap? " tanya Jason sambil menoleh kepadanya.
" Siap untuk apa? " Anna merasa bingung dengan pertanyaan majikannya.
" Pergi ke kantor catatan sipil " jawab Jason angkuh.
" Kantor catatan sipil? Untuk apa? "
Jason bangkit.
" Tentu saja untuk menikah "
" Me-menikah? "
" Ya. Kita akan segera menikah "
Anna mengangkat wajahnya. Sama sekali tidak percaya dengan ucapan majikannya.
" Kita? menikah? "
" Terpaksa. Kakakmu yang menginginkannya. Dia bilang kau sedang mengandung anakku, meski aku meragukan hal itu " kata Jason sambil menatap tajam pada Anna. Anna masih terpaku. Antara percaya dan tidak. Menikah dengan Jason bukanlah hal yang diinginkannya, apalagi perkataan Jason itu. Ia meragukan anak dalam kandungannya. Apa dia sedang tidak waras? Bukankah dia yang melakukannya? Memangnya dia pikir wanita seperti apa aku ini? Aku tidak ingin menikah dengannya. Suara hati Anna seakan berteriak menolak ucapan Jason.
" Bagaimana? kapan kau siap? " Jason menanyainya sekali lagi.
" Aku tidak tahu " jawab Anna .
" Tidak tahu? Kakakmu sudah memohon padaku untuk menikahimu "
Apa? Marrissa memohon padanya? Suara batin Anna semakin berteriak. Bagaimana mungkin kakaknya bertindak tanpa memberitahunya?
" Jadi, suka atau tidak suka, kita akan menikah " Jason menatap Anna yang kebingungan. Anna semakin pias. Tanpa menjawab ia lalu keluar dari kamar Jason. Jason menatap kepergiannya. Ia memang tidak menyukai rencana pernikahan ini, tetapi hanya pernikahan ini yang bisa menghentikan kedekatan Marrissa dan Morgan. Dan hanya pernikahan ini juga yang dapat membuat Justin menderita, karena Jason tahu, adik tirinya itu jatuh cinta pada Anna.
****
" Kenapa kau lakukan itu padaku ? " Anna bertanya dengan nada tinggi begitu ia bertemu dengan Marrissa. Pagi itu, setelah selesai menyiapkan sarapan untuk kedua majikannya, ia langsung menyelinap pergi ke rumahnya. Ia tidak dapat menahan diri lebih lama lagi setelah mendengar ucapan Jason.
" Melakukan padamu? apa? " Marrissa tidak mengerti. Ia menggerakkan kursi rodanya ke dalam rumah.
" Kau memohon padanya untuk menikahiku " ucap Anna dengan keras.
Marrissa menghela nafas dengan berat. Ia menghentikan kayuhan tangannya pada roda kursi rodanya. Ia memang bertindak lebih dahulu tanpa memberitahu Anna. Ia pikir, Anna akan menyetujui hal ini. Lagipula, menurutnya ini adalah keputusan terbaik bagi Anna saat ini.
" Itu adalah pilihan terbaik bagimu saat ini, Anna " Marrissa menjawab dengan setenang mungkin. Saat ini ia harus bisa meyakinkan Anna untuk menikah.
" Terbaik? Bagiku? itu hanya pikiranmu saja. Aku sama sekali tidak merasa baik dengan keputusan mu itu. Ini hidupku. Kau tidak berhak mengaturnya tanpa persetujuanku !! " teriak Anna berang. Marrissa sekali lagi menghela nafasnya dengan berat. Ada rasa seperti teriris di dadanya. Andai saja Anna tahu, ia sudah menukar pernikahan adiknya dengan cintanya sendiri.
" Maaf aku melakukannya tanpa meminta persetujuanmu terlebih dahulu, Anna. Tapi yakinlah, bahwa ini yang terbaik. Anak itu harus lahir dengan nama keluarga ayahnya dibelakangnya . Dia harus bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan padamu, Anna "
" Tapi aku tidak ingin menikah dengannya " Anna menangis. Marrissa terkejut.
" Kenapa? "
" Karena aku membencinya. Aku merasa terhina dengan setiap ucapannya. Dia tidak menginginkan anak ini. Dia pikir aku melakukannya dengan orang lain. Aku tidak bisa hidup dengan orang seperti itu! " kata Anna sambil menangis.
" Anna, dengarkan aku.. Aku tahu perasaanmu, aku juga tidak menyukai rencana ini. Tapi hanya ini pilihan kita saat ini. Kau butuh seseorang untuk mendampingimu saat hamil. Kau juga butuh asupan makanan yang baik agar bayimu sehat. Kau butuh tempat tinggal yang layak dan juga fasilitas kesehatan yang memadai agar persalinanmu berjalan lancar. Dan semua itu bisa kau dapatkan dengan menjadi istri Jason. Lagipula ini anaknya, biarkan dia ikut bertanggung jawab. Jangan tanggung semuanya sendirian, Anna "
" Tidak.. aku tidak ingin menikah dengannya " Anna masih menolak.
" Kalau kau menolaknya, lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Apa kau akan pulang ke rumah ini dan membiarkan Ibu mengetahui keadaanmu? Apa kau bisa menanggung semuanya sendiri? "
Anna masih terisak. Tubuhnya luruh ke lantai. Ia sendiri masih bingung dengan kehidupannya nanti.
" Anak ini anak Jason, meski awalnya dia tidak menginginkannya, tapi aku yakin, ia akan menyayangi anak ini nantinya. Karena ini darah dagingnya. Ia tidak bisa mengingkarinya. Darah jauh lebih kental daripada air "
Marrissa mengangkat wajah Anna yang sembab.
" Kau hanya harus bertahan sampai anak itu lahir, Anna. Setelah itu, kau bisa menentukan pilihanmu selanjutnya . Aku tidak akan menahanmu " kata Marrisa dengan mata berkaca-kaca. Setelah mengucapkan itu, Marrissa membalikkan kursi rodanya. Ia mengayuhnya menjauh dari Anna agar adiknya itu tidak melihat airmatanya yang menetes.
" Aku mencintai Justin. "
Suara parau Anna membuat Marrissa menghentikan kayuhan kursi rodanya.
" Aku berharap dengan dialah, aku mengucapkan janji nanti. Bukan dengan orang lain "
" Maafkan aku, Anna tapi kau harus melupakan Justin. Dia tidak akan menerimamu saat ini ataupun nanti, bahkan walaupun kau tidak menikah dengan kakaknya "
Setelah mengatakannya, Marrissa mengayuh kursi rodanya meninggalkan Anna. Anna masih terisak di lantai rumahnya. Tanpa mereka sadari, Jason berada di luar, mendengar semua pembicaraan mereka.
[ " Bahkan gadis seperti dia berani menolakku? . Apa katanya tadi? dia menyukai Justin? S*****!! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi !! Mereka semua harus menderita!! " ]