Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Malam terkutuk


" Ehem " suara batuk Jason menghentikan ketiganya bercanda.


" Selamat sore, Tuan Wilderman " sapa Max ramah pada Jason. Ia lalu menghampiri Jason dan mengulurkan tangannya.


" Aku Max, teman Justin dan Anna. Aku kebetulan lewat sini dan mampir "


" Oh, ya " jawab Jason acuh. Ia lalu berlalu dari tempat itu menuju ke kamarnya.


" Wow. Kakakmu benar-benar cool " kata Max. Anna dan Justin memandangnya heran.


" Maksudku, kakak tirimu... " ralat Max.


" Ya,ya,ya, aku rasa dia dingin dan kejam " Max meralatnya lagi saat melihat Anna dan Justin yang masih menatapnya dengan heran.


" Tapi tetap saja dia tampan. Serius. Dia jauh lebih tampan darimu, Just. " tambahnya sambil terkekeh geli yang langsung disambut dengan pukulan bantal oleh Justin.


Sementara itu, di kamar utama, Jason membuka jasnya dengan kesal. Ia lalu melemparkannya dengan sembarangan.


Flasback Jason.


Pukul lima sore. Jason tengah menyetir mobil mewahnya menuju kediaman Wilderman. Seharian ini dia berada di rumah warisan Ayahnya untuk Marrissa. Ia memang tidak melakukan apapun disana. Ia hanya ingin bersantai dan melarikan diri dari kesepiannya selama tinggal di rumah miliknya. Ia memang tidak memiliki teman. Sikapnya yang angkuh dan dingin membuat orang-orang akan berpikir ribuan kali untuk mendekatinya. Selama ini, hiburannya adalah mengerjai Anna. Memerintah gadis itu, membentaknya sampai ketakutan memberikan kesenangan tersendiri baginya. Tapi hari ini hari Minggu, dan sesuai perjanjian, ia harus mengijinkan Anna mengunjungi keluarganya. Ia sudah berusaha menahan Anna tadi pagi, tetapi rupanya Anna begitu cekatan. Ia berhasil membersihkan kolam renang dengan tempo yang singkat. Ia bahkan menyelinap pergi sebelum Jason menyadarinya.


Huff. Jason membuang nafas. Sepertinya ia mulai terbiasa dengan keberadaan Anna. Bagaimana tidak? Setiap pagi, wajah Anna yang selalu dilihatnya saat bangun tidur, dan saat ia pulang bekerja, Anna pula yang membukakan pintu untuknya.


Namun, jangan anggap perasaan terbiasanya itu dengan menyukai Anna. Cih. Jason berdecih. Ia tidak mungkin menyukai gadis seperti Anna. Anna bukanlah tipe perempuan ideal yang diinginkannya. Tipe perempuan ideal Jason adalah perempuan yang cantik, seksi dan cerdas seperti Marrissa, bukan yang lugu seperti Anna. Lagipula, Anna hanya alat balas dendamnya saja pada Marrissa. Perempuan cantik itu harus menderita menyaksikan adik perempuannya dicampakkan olehnya.


Jason memutar otak. Agar Anna bisa dicampakkan olehnya, itu artinya ia harus memiliki Anna terlebih dahulu. Saat Anna menjadi sangat mencintainya, saat itu pula ia akan meninggalkan Anna. Dengan demikian, dendam terbayar sudah, Anna akan merasakan sakit hati seperti yang ia rasakan selama ini.


Tapi bagaimana caranya membuat Anna mencintainya? Mungkin perhatian yang terus menerus bisa membuat gadis itu membuka hatinya, jawab kata hati Jason. Ya, ide yang bagus. Jason mengiyakan perkataannya sendiri. Mulai sekarang ia harus memberikan perhatian pada Anna, agar gadis itu masuk perangkapnya.


Sedetik kemudian ingatan Jason tertuju pada rumah Anna. Ya, ia harus mulai memberikan sedikit perhatian dengan cara menjemput gadis itu pulang. Jason tersenyum smirk. Ia kemudian memutar mobilnya, menuju rumah Anna.


Jason memberhentikan mobilnya persis di depan rumah Anna. Sejenak ia mengatur nafas, menyiapkan kata-kata yang akan diucapkannya saat bertemu dengan Anna dan Marrissa. Setelah menemukan kata-kata yang tepat, Jason bersiap untuk turun dari mobil mewahnya. Tapi alangkah terkejutnya ia saat melihat Marrissa tengah bersama Morgan. Kedua orang itu tampak sangat dekat sekali. Jason mengurungkan niatnya. Rasa ingin tahu serta cemburu dalam hatinya memaksanya untuk mengamati keduanya.


" Bang***!!!!! " Jason berteriak marah saat mengingat kejadian itu. Tepat di depan matanya, ia melihat Morgan mencium dahi Marrissa. Dan Marrissa tampaknya sama sekali tidak menolaknya.


" Breng*** kau Marrissa!!! Si**** kalian berdua!!! " umpatnya dengan marah. Untung kamar utama ini dilengkapi peredam suara,hingga umpatan kemarahannya tidak terdengar dari luar.


*****


" Jadi kau tidak akan membiarkan "anak" ini pulang ke rumahnya malam ini? " tanya Anna pada Max sambil melirik ke arah Justin.


" Apa peduli? kau juga bukan Ibunya " jawab Max cuek. Anna berkacak pinggang, pura-pura marah.


" Dengarkan aku, Tuan Max Wilson, dia yang akan kau ajak menginap dirumahmu itu, adalah anak dibawah umur. Setidaknya kau harus meminta ijin pada orangtuanya sebelum membawanya pergi "


" Kalian membicarakan aku? " tanya Justin.


" Siapa lagi ? " jawab Anna dan Max serempak. Justin terkekeh.


" Dengar,Nona Marrie-Anne Rose, Orangtuaku ada diseberang lautan sana, aku bahkan tidak tahu perbedaan jam disini dan disana berapa, jadi aku tidak akan mengganggu Ibuku hanya untuk sebuah izin yang konyol. Dan satu lagi, anak yang kalian bicarakan ini sudah dewasa, sudah berusia 18 tahun, sudah bisa mengambil keputusan sendiri " Justin membela dirinya sendiri sekaligus membela Max,sahabatnya. Max tersenyum mendengar perkataan Justin.


" Aku tidak mengajarinya berkata demikian " sanggah Max sambil mengangkat kedua tangannya saat dilihatnya Anna memandangnya galak.


" Heii, aku tidak takut. Dia pasti lelah karena seharian diluar, jadi tidak mungkin memerintahku ini itu "


Justin dan Max memandang Anna dengan tatapan meremehkan.


" Sudah, sudah, pergilah kalian berdua. Habiskan malam panjang kalian berdua seperti sepasang kekasih yang hanya bertemu setahun sekali " usir Anna.


" Hei, kau pikir kami ini **** "


Anna terkekeh geli.


" Kau yakin tidak mau ikut? "


" Aku tidak mau mengganggu malam panjang kalian "


" Annaaa!!! "


Anna kembali tertawa.


***


Selepas kepergian Justin dan Max, Anna memilih untuk menonton televisi di ruang tengah. Ia tadi sempat melirik kamar utama saat melewatinya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Mungkin Tuan menyebalkan itu sudah tidur, sesuai perkiraannya. Jadi malam ini ia bisa lebih leluasa menonton acara kesukaannya.


***


Malam semakin larut. Tapi Jason belum bisa memejamkan matanya. Sudah beberapa botol minuman keras ia habiskan. Ia sangat butuh pelarian malam ini. Dan minuman adalah jawabannya. Ia membutuhkannya untuk melampiaskan kemarahannya karena Marrissa dan Morgan. Selain itu keakraban Justin dan Max serta Anna tadi turut memercikkan amarah didadanya. Ia sangat benci saat Justin selangkah lebih unggul darinya. Ya, Justin memiliki teman, tidak seperti dirinya. Rrrghh. Lagi-lagi Jason berteriak marah. Entah untuk yang keberapa kalinya. Ini tidak bisa dibiarkan. Ia akan mengusir teman Justin dari rumah ini. Justin tidak boleh merasakan kebahagiaan disaat ia begitu tersiksa. Bahkan kalau bisa, ia tidak ingin Justin merasakan kebahagiaan sedikitpun.


Jason melangkah keluar dari kamarnya dengan sedikit terhuyung. Ia mabuk. Tapi ia harus mengusir Max dari rumah ini. Ia menuju ruang tengah. Ruangan tampak sepi. Tidak ada seorangpun disana. Hanya televisi yang masih menyala. Jason mendengus kesal. Sudah terlambat,pikirnya. Pasti b******* kecil itu tengah bersenang-senang dengan temannya di suatu tempat. Jason hendak berbalik arah menuju kamarnya lagi, saat dilihatnya sebuah tangan terjulur dari sofa. Jason mendekati sofa. Dan dilihatnya pujaan hatinya tengah tertidur pulas disana.


" Marrissa " katanya lirih. Jason mendekatinya. Tangannya membelai rambut gadis itu sambil menatapnya lekat, seakan tidak percaya pujaan hatinya tengah berbaring didepannya.


Kemudian bayangan Marrissa dan Morgan berkelebat di pikirannya. Tidak. Dia tidak akan membiarkan mereka bersama. Marrissa harus menjadi miliknya. Hanya miliknya.


Anna terbangun saat merasakan sebuah sentuhan di tubuhnya.


" T-Tuan " Dengan kaget Anna berusaha bangkit dari tidurnya. Tapi tubuh serta tangan Jason yang duduk didekatnya, menahannya.


" Tuan, apa yang Tuan lakukan " Anna begitu takut dengan pandangan mata Jason yang lain terhadapnya. Apalagi saat mencium aroma minuman keras dari Tuannya.


" Kau cantik sekali, Marrie (sa) " bisik Jason lembut.


" Anda mabuk, Tuan " Anna berusaha melepaskan diri dari cengkraman Jason.


" Aku mencintaimu, Marrie, sangat mencintaimu "


" Lepaskan, Tuan. Anda mabuk "


" Tidak akan kubiarkan dia memilikimu, Marrie-ku "


Jason berusaha mencium Anna. Anna meronta,menendang ke segala arah.


" Jangann!! Kumohon jangann!! "