Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Galau


Hari-hari berikutnya, Anna semakin merasa nyaman ketika berada di dekat Justin. Walaupun ia sedikit salah tingkah, tetapi ia tidak bisa mengingkari perasaannya yang selalu berbunga dan jantungnya yang terus berdebar jika di dekat Justin. Wajahnya selalu bersemu merah ketika Adam menggodanya tentang Justin. Ia mulai mengakui pada dirinya sendiri kalau ia memang menyukai Justin tetapi ia sekaligus takut kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia takut ini semua hanya sekedar salah paham. Mungkin saja perhatian Justin padanya selama ini sama dengan perhatiannya pada gadis lain. Kalau tidak, mana mungkin para pemandu sorak itu terus menerus menempel padanya ? Lagipula, mana mungkin cowok populer seperti Justin menyukai gadis biasa sepertinya? Mungkin saja dia tipe yang sama dengan Roger yang hanya mempermainkannya.


" Kau memikirkan apa?"


tiba-tiba Justin sudah berada didekatnya. Saat itu Anna sedang menunggui Josh yang sedang bermain pasir di taman. Jelas saja Anna kaget dibuatnya. Jantungnya terus berdegup kencang. Tidak, dia harus berhasil menguasai diri.


" Hei, aku bertanya padamu ? " tanya Justin sekali lagi lalu duduk disebelah Anna. Anna berdehem.


"Hmm, aku hanya memikirkan tentang sekolah. Minggu depan kita mulai sekolah " Anna berkilah.


Justin tertegun. Apa yang dikatakan Anna memang benar. Minggu depan mereka memang akan mulai bersekolah lagi. Dan itu artinya tugas Anna sebagai pengasuh akan segera berakhir. Dia sudah tidak bisa bersama dengan Anna sepanjang hari lagi. Kalau sudah begitu, haruskah ia mengatakan perasaannya pada Anna? Tetapi apa jadinya nanti di sekolah kalau ia bersama Anna? Yang pasti, tingkat kepopulerannya akan menurun drastis, menjadi bahan perbincangan di sekolah dan mungkin teman-temannya akan menjauhinya. Apa dia bisa sendirian tanpa teman di sekolah? Dan Anna? Sudah pasti dia akan lebih banyak menerima bully an karena bersama dengannya.


" Kenapa kau melamun? " Anna ganti bertanya. Justin terkesiap.


" Mm, aku memikirkan hal yang sama denganmu " jawab Justin berkilah, sama seperti yang dilakukan Anna.


Anna mengangguk. Mereka berdua lalu terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


" Kapan Olga akan pulang?" tanya Anna memecah kesunyian.


" Sepertinya Sabtu depan " kata Justin.


" Baguslah, aku tidak sabar ingin bertemu dengannya. Sungguh aku menjadi sangat penasaran padanya karena Josh sangat menyayanginya "


" Dia memang baik, sangat baik, dia selalu menjaga kami saat Ibu tidak ada. Dia seperti Ibu kedua bagi aku dan Josh. Apapun bisa kami ceritakan padanya, bahkan hal rahasia yang Ibu kami tidak mengetahuinya " jelas Justin.


" Sungguh? Hmm, aku rasa Nyonya Olivia akan sangat iri mendengar hal ini "


" Kalau begitu, jangan beritahu dia " pinta Justin yang lalu disambut dengan tawa Anna.


***


Mereka bertiga pulang kerumah saat jam makan siang. Selesai makan siang, Justin pamit keluar untuk pergi bersama Max, sedangkan Josh menonton kartun Tom & Jerry kesukaannya. Anna menemani Josh menonton kartun. Sesekali gelak tawa terdengar saat mereka menonton tingkah si kucing dan tikus dalam kartun tersebut.


Suara mobil terdengar. Anna melihat jam dinding. Jam setengah dua siang. Itu artinya baru sepuluh menit yang lalu Justin meninggalkan rumah, jadi tidak mungkin dia yang datang. Dan Nyonya Olivia biasanya akan pulam pukul tiga sore. Jadi kemungkinan juga bukan dia. Karena penasaran, Anna lalu mengintip dari jendela. Ternyata memang mobil Nyonya Olivia,tetapi mengapa ia tidak segera turun? Anna lalu mengamatinya dengan seksama. Nyonya Olivia terlihat sedang termenung di kursi pengemudi.


****


Anna mengetuk pintu ruang kerja. Tidak biasanya Nyonya Olivia minta dibuatkan teh hangat. Biasanya setelah pulang kerjapun ia akan masuk ke kamarnya. Tapi hari ini berbeda, setelah menyapa Josh, Nyonya Olivia memilih untuk masuk ke ruang kerja. Anna tahu ada yang tidak beres dengan majikannya. Tapi dia ragu untuk menanyakannya.


" Ini tehnya Nyonya " kata Anna pada majikannya yang masih termenung di kursi kerjanya.


" Terimakasih Anna "


Nyonya Olivia meraih cangkir teh itu dan mulai meneguknya dengan pandangan kosong.


" Apakah kurang manis, Nyonya ?" tanya Anna pada majikannya yang sepertinya tidak mendengar pertanyaannya.


" Ya, Anna. Ada apa?"


Anna tersenyum.


" Saya tadi menanyakan apakah rasa tehnya kurang manis, tetapi Anda sepertinya tidak mendengarnya. Maaf kalau saya tidak sopan,Nyonya, tapi apakah ada yang mengganggu pikiran Anda?" akhirnya Anna memberanikan diri bertanya.


" Tidak Anna. Semuanya baik-baik saja. Terimakasih "


" Saya senang mendengarnya,Nyonya. Ini mungkin terdengar lancang, tapi kalau Nyonya ingin menceritakan sesuatu, saya dengan senang hati akan mendengarkannya, meski mungkin saya bukan pemberi saran yang bagus,tapi saya ini pendengar terbaik " ucap Anna. Nyonya Olivia tersenyum mendengarnya.


" Baiklah kalau begitu, saya permisi dahulu Nyonya " pamit Anna. Ia lalu membalikkan tubuhnya.


" Bagaimana kabar keluargamu,Anna?" tanya Nyonya Olivia tiba-tiba, membuat Anna tidak jadi meninggalkan ruang kerja itu.


" Keluarga saya? Baik-baik saja,ibu saya masih bekerja serabutan sedangkan kakak laki-laki saya sudah tinggal kembali di rumah kami. Meskipun hubungannya dengan Ibu masih belum begitu baik, tetapi saya percaya semuanya akan membaik dengan sendirinya. Hanya butuh sedikit waktu lagi untuk membuat mereka akur kembali " Anna menjelaskan panjang lebar. Nyonya Olivia mengisyaratkan padanya untuk duduk. Anna pun mematuhinya.


" Pasti berat rasanya saat Ayahmu meninggal "


" Sangat berat,Nyonya. Apalagi Ayah meninggalkan banyak tanggungan untuk kami lunasi " kata Anna sambil tersenyum tipis. Nyonya Olivia mengangguk.


" Tapi meskipun begitu, kalian tetap bersama bukan? "


" Tidak juga,Nyonya. Kakak laki-laki saya memang telah kembali, tetapi kakak perempuan saya belum "


" Kamu punya saudara perempuan? "


" Iya Nyonya. Dia lebih tua dari saya dan Adam,kakak laki-laki saya "


" Lalu kemana dia pergi? apakah dia bekerja di luar negeri?"


" Kamipun tidak tahu kemana dia pergi,Nyonya " jawab Anna dengan mata yang berkaca-kaca. Nyonya Olivia menepuk kecil tangannya,tanda menguatkan.


" Tidak apa-apa Nyonya. Suatu saat dia pasti kembali " kata Anna dengan yakin. Nyonya Olivia mengangguk.


" Kau gadis yang kuat,Anna. Sepertinya aku perlu belajar banyak darimu "


" Nyonya juga Ibu yang hebat. Hampir semuanya Nyonya lakukan sendiri, bekerja, mengurus anak.. "


" Itu karena keadaan, Anna " Nyonya Olivia memotong ucapan Anna.


" Dulu aku seperti ibu rumah tangga lainnya, memasak, merapikan rumah, mengurus Josh, menyiapkan keperluan sekolah Justin, tapi semuanya berubah saat suamiku tak lagi sama "


" Maksud Anda?"


" Jonathan berselingkuh, Anna. Dia meninggalkanku untuk perempuan lain yang lebih muda. Selama ini saat dia sering keluar kota, aku selalu berpikir dia bekerja dengan keras, tetapi ternyata dia lebih banyak meluangkan waktunya bersama perempuan itu dan melupakan aku dan anak-anak kami disini. Terakhir kali aku keluar kota, aku bertemu dengan mereka dan ternyata mereka diam-diam telah menikah "