
" Hei, hati- hati. " seru Jason seraya membantu Anna yang hampir terjatuh dari atas kursi. Saat itu, Anna sedang berusaha memasang pigura foto di kamarnya. Gambar dirinya bersama Joanna. Karena letaknya yang terlalu tinggi, ia menggunakan kursi sebagai tempat berpijak. Mungkin karena terlalu asyik memaku hingga ia tidak sadar kalau ia hampir terjatuh. Untung saja Jason datang disaat yang tepat dan segera menangkap tubuhnya.
" Eh, ya, terimakasih. " ucap Anna kaku seraya mengisyaratkan Jason untuk melepaskan pegangannya. Jason tersadar.
" Seharusnya kau lebih berhati-hati. "
" Baik. " ucap Anna pendek.
" Kau butuh bantuan ? Kau terlihat kesulitan. "
" Aku bisa melakukannya sendiri. "
" Kau yakin ? "
" Tentu. Aku bisa melakukannya sendiri. " tegas Anna tanpa menoleh pada Jason.
" Baiklah. Tapi kau bisa memanggilku kalau kau butuh bantuan. Aku akan berada di rumah seharian. " tawar Jason. Tetapi sepertinya Anna tidak mendengarkan ucapannya, atau mungkin tidak mempedulikannya. Jasonpun berlalu.
***
" Mau menjemput Joanna ? " tanya Jason pada Anna yang sedang berdiri di teras rumah.
" Ayo aku antar. Kita jemput Joanna bersama. " tawar Jason.
" Tidak perlu. Taksiku sudah datang. " lagi-lagi Anna tidak mempedulikan Jason. Ia segera beranjak menghampiri taksi yang memasuki halaman rumah.
****
Jason menghentikan mobilnya di depan sekolah Joanna. Seumur hidupnya, baru kali ini ia datang ke sekolahan putrinya. Selama ini dia tidak pernah peduli dan bahkan tidak tahu dimana Joanna sekolah. Baru sekitar satu jam yang lalu ia mengetahuinya. Itupun dengan bantuan Noah.
Beberapa menit kemudian, anak-anak tampak keluar dari gedung. Beberapa dari mereka terlihat keluar bersama ibu atau ayahnya. Beberapa keluar dengan wajah ceria, dan sepertinya berceloteh pada orangtuanya tentang kegiatan mereja di sekolah hari ini. Namun ada pula yang memasang wajah cemberut, dengan muka ditekuk yang membuat siapapun menjadi gemas melihatnya.
Sesaat kemudian, yang ditunggupun tiba. Joanna tampak bergandengan dengan Ibunya keluar dari gedung sekolah. Jason menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Entah kenapa ia merasa khawatir Anna akan menolaknya seperti tadi ketika ia menawarkan dirinya menjemput Joanna. Namun hati kecilnya berkata,ia harus mencobanya.
Jason lalu keluar dari mobilnya. Ia menghampiri Anna dan Joanna. Anna terlihat tidak suka dengan kedatangan suaminya.
" Hallo, Joanna " Jason terlihat kikuk saat menyapa putrinya.
Joanna menatapnya acuh.
" Ada keperluan bisnis apa di sekolah Joanna ? " tanya Anna sinis.
" Aku memang ada keperluan, tetapi bukan keperluan bisnis. Aku kemari khusus untuk menjemput putriku dan mengajaknya makan es krim bersama " jawab Jason sambil mengalihkan pandangannya pada Joanna.
" Kau suka es krim ' kan, Joanna ? "
Joanna mengangguk senang.
" Jojo, kau baru saja makan es krim kemarin, gigimu bisa sakit nanti. " Anna menyela.
" Tapi aku ingin es krim, mommy. Aku janji hanya hari ini saja, besok aku tidak akan makan lagi. " katanya dengan mata memohon pada Ibunya.
" Ya, hanya hari ini saja makan es krim bersamaku. Kukira besok aku terlalu sibuk untuk makan es krim. " tambah Jason.
Melihat anaknya yang memohon, Anna menjadi tidak tega.
" Baiklah, tapi hanya hari ini saja "
" Baik, mommy. Horee!! " Joanna tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Jason menatap Anna penuh kemenangan. Anna memalingkan wajahnya.
Jason mengulurkan tangannya. Joanna segera menyambutnya dengan gembira. Mereka akan melangkah bersama menuju mobil Jason. Satu hal yang baru pertama kali ini terjadi dalam hidup mereka bertiga.
" Hei, tunggu ! " seorang gadis kecil lain menghadang langkah mereka dengan kedua tangannya yang membentang. Wajahnya terlihat serius dan penuh keingintahuan.
" Apa yang kau lakukan ? Kau menghalangi jalan kami, Lea " hardik Joanna.
" Siapa dia, Jojo ?. " tanyanya sembari melihat ke arah Jason. Jason mengernyit.
" Oh, dia.. "
" Aku ayahnya " jawab Jason. Anna kaget mendengarnya. Jason mengakui Joanna sebagai anaknya?.
" Pertanyaanmu sudah terjawab. Kami mau lewat sekarang. " kata Jason dengan dingin. Gadis kecil itupun menurunkan tangannya sehingga ketiganya bisa lewat. Setelah mereka lewat, gadis itu menggaruk kepalanya seakan tidak mengerti dengan jawaban Jason tadi.
****
" Kau senang ? " tanya Jason pada Joanna. Saat itu mereka dalam perjalanan pulang dari rumah makan.
" Tentu saja kau senang. Hari ini kau banyak sekali makan es krim. Ingat janjimu tadi, Jojo " tambah Anna.
Joanna mengangguk.
" Tapi aku senang bukan hanya karena makan es krim saja, mommy " tukas Joanna.
" Oya ? Lalu apa lagi yang membuatmu senang ? " tanya Jason. Entah kenapa ia berharap gadis kecilnya itu akan mengatakan kalau kehadirannya yang membuatnya senang. Jason tersenyum membayangkan hal itu.
" Aku senang melihat Lea tadi. Kurasa sekarang ia tidak akan mengejekku lagi karena Tuan Wilderman bilang dia adalah ayahku. "
Jason tambah kegirangan.
" Ehm, jadi dia sering mengejekmu ? "
" Anak-anak sering seperti itu. Mereka suka bercanda." potong Anna.
" Bagaimana dia mengejekmu ? " tanya Jason, seakan tidak mempedulikan ucapan Anna.
" Dia selalu bilang kalau ayah tidak sayang padaku, karena tidak pernah menjemputku. "
Jason merasa bersalah. Sungguh.
" Tapi hari ini aku bisa membalasnya. Dia pasti kesal sekali. Sangat kesal sekali " ucap Joanna dengan polosnya.
" Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuatnya semakin kesal ? " tawar Jason.
" Jas.. "
" Bagaimana, Jojo ? "
" Bagaimana caranya ? "
" Aku akan menjemputmu setiap hari. Dia akan semakin kesal "
" Jas... " Anna mencoba memotong.
" Sungguh ? Aku akan sangat senang sekali " Joanna tampak gembira. Anna menjadi kesal dibuatnya.
****
" Jangan memberinya harapan palsu, Jason. Dia masih terlalu kecil untuk kau tipu. " ucap Anna pada Jason. Saat itu mereka baru saja tiba dirumah. Dan Joanna langsung menghambur masuk ke dalam rumah meninggalkan kedua orangtuanya yang tampaknya akan berselisih paham lagi.
" Aku tidak akan menipu anak kecil, terlebih pada putriku. "
" Apa kau yakin kau bisa menjemputnya setiap hari ? Dengan semua kesibukanmu ? "
" Sure. " jawab Jason yakin.
" Bagaimana jika kau ada kepentingan mendadak ? Ke luar negeri ? "
" Joanna anak yang pintar. Aku yakin dia akan mengerti "
****
Joanna melangkah dengan gembira. Dengan bangga, ia menggandeng tangan Jason. Hari ini, Jason menepati janjinya. Ia menjemput Joanna pulang sekolah, meski harus membatalkan rapatnya. Baginya, kepercayaan Joanna sangat penting.
" Tunggu ! " lagi- lagi gadis kecil bernama Lea menghentikan langkah keduanya. Ia memberi tanda stop dengan tangannya. Jason tersenyum. Ia lalu melirik Joanna. Joanna melipat kedua tangannya di dada, seakan bersiap meladeni temannya ini.
" Kenapa kau menghalangi langkah kami, nona kecil ? " tanya Jason sehalus mungkin.
" Kau pembohong, Joanna. " tudingnya pada Jojo.
Lea lalu mengarahkan pandangannya pada Jason. Sepertinya ia tidak terlalu takut pada Jason.
" Dia bukan ayahmu. "
" Apa yang kau katakan, aku ayah Joanna "
" Bukan. Bukan. Aku sudah ingat sekarang. Waktu itu ada yang menjemputmu dan kau bilang dia ayahmu. Kenapa sekarang berbeda ?. "
Joanna mulai terlihat gelisah
" Jadi, yang mana Ayahmu ?. "