Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Membuktikan kecurigaan


" Bagaimana keadaan Ibumu? " tanya Max pada Anna. Kini mereka ada di kursi tunggu di luar kamar rawat Kattie. Anna menghela nafas.


" Seperti yang kau lihat. Dia belum juga sadar. Ini sudah seminggu sejak peristiwa itu "


" Aku turut prihatin, Anna. Ini semua pasti sangat berat untukmu. Aku tidak bisa membayangkan... "


" Tidak perlu dibayangkan.Aku sudah mengalaminya " potong Anna. Max tertegun. Anna lalu tertawa kecil. Max tersenyum dibuatnya.


" Aku salut kamu bisa melalui ini semua sendirian " kata Max lirih. Ia terbayang saat orangtuanya bercerai. Ia merasa tidak terima dan marah. Dan saat itu minuman keras dan obat-obatan menjadi pelariannya. Ia pun bergaul dengan orang-orang yang salah. Karena itu penampilannya menjadi urakan seperti ini.


" Tidak juga. Ada Morgan yang membantuku "


" Morgan? siapa dia? saudaramu? atau pacarmu? " Max ingin tahu.


" Dia sahabat Adam. Dia yang membantuku mengurus semuanya. Mulai pemakaman Adam, sampai rumah sakit Ibuku " Anna menjelaskan.


" Wow.. Dia sangat baik "


" Ya. Aku banyak berhutang budi padanya. Aku tidak tahu bagaimana jadinya tanpa dia. Aku benar-benar sendirian "


" Sendirian? jadi saudara kandungmu hanya Adam saja?" Max pura-pura menanyakan hal ini pada Anna. Sebenarnya ia sudah tahu bahwa Anna masih memiliki Marrissa, saudarinya yang sekarang menjadi istri muda Tuan Wilderman, Ayah Justin.


Anna terkesiap. Pertanyaan Max tadi menyadarkannya akan satu hal. Astaga. Ia benar-benar bodoh. Bagaimana bisa ia melupakan hal sepenting itu. Bagaimana bisa ia melupakan Marrissa? Dia harus tahu tentang hal ini. Tapi bagaimana bisa ia menghubungi Marrissa? Ia tidak tahu dimana saudarinya itu tinggal. Ia bahkan tidak mempunyai nomor telponnya. Sejak pertemuan mereka di rumah kala itu, mereka tidak saling berhubungan lagi.


" Anna?" suara Max mengagetkannya.


" Eh, aku.. maaf, kau tadi bertanya apa?" Anna tampak kebingungan. Dari sikap dan ceritanya tadi Max mulai menebak kalau Anna belum mengabarkan hal ini pada Marrisa Wilderman. Tapi kenapa? Apa Anna terlalu kalut sehingga melupakan keberadaan saudarinya? Atau jangan-jangan mereka berdua memang tidak saling berhubungan?


" Hm? lupakanlah... " kata Max kemudian. Anna merasa lega mendengarnya.


" Oya, sebenarnya aku kesini karena Justin yang memintaku " Max berbohong.


" Justin?" Anna mengernyit.


" Ya, dia sebenarnya sangat mengkhawatirkanmu "


" Lalu mengapa dia tidak datang sendiri kesini?"


" Ya, kau tahu, hubungan keluarganya sedang rumit. Karena itu dia tidak bisa datang kesini " Max mengelak. Anna mengangguk. Ia tahu Justin masih marah padanya karena Marrissa menjadi orang ketiga di pernikahan orangtuanya.


" Kalau kau mau, kau bisa menemui Justin di perusahaan Ayahnya. Akhir-akhir ini dia sering mondar mandir di sana"


Ya. Perusahaan Wilderman. Pasti aku bisa menemukan Marrissa disana, pikir Anna.


" Baiklah. Apa nama perusahaannya ?" Anna mulai bersemangat. Max bisa melihat itu. Pancingannya mengena. Semoga saja ia bisa melihat Anna bertemu Marrisa untuk membuktikan kecurigaan Justin tidak benar sama sekali.


******


Seperti dugaan Max, pagi harinya Anna langsung mengunjungi perusahaan Wilderman yang kemarin ia sebutkan. Hari ini pun Max sengaja bolos sekolah untuk mengikuti Anna.


" Permisi, dimana saya bisa bertemu dengan Tuan Wilderman?" tanya Anna pada seorang satpam yang tengah berjaga di pintu masuk. Satpam itu memandangnya dengan tatapan menyelidik.


" Sudah membuat janji ? " tanyanya dingin.


" Belum "


" Kalau begitu bisa dipastikan Anda tidak bisa menemuinya saat ini. Jadwal beliau sangat padat "


" Bagaimana dengan Marrissa? apakah aku bisa menemuinya?"


" Marrissa? Maksudmu Nyonya Muda? Marrissa Wilderman? " Satpam itu menanyainya lagi. Anna mengangguk.


"Anda bisa menunggunya di loby. Beliau biasa datang pukul sebelas untuk makan siang bersama Tuan Wilderman. Maklum, pengantin baru. Tapi belum tentu juga ia akan menemuimu. "


Senyum Anna mengembang. Jam sebelas, itu tiga jam dari sekarang. Tapi tidak mengapa. Ia bersedia menunggu asalkan bisa bertemu dengan Marrissa.


*****


Tok.Tok.Tok. Suara ketukan sepatu membuat Anna menoleh mencari asal suara. Dan dari kejauhan muncullah sosok Marrisa. Ia sangat cantik dengan dress selutut warna merah menyala. Bibirnya pun dipoles dengan warna senada.Ditambah dengan heels hitam. Penampilannya terlihat seksi dan menggoda. Anna beranjak dari duduknya dan segera menghampiri saudarinya itu.


" Marrissa? " panggilnya saat saudarinya itu hendak berjalan ke arah lift kantor.


" Anna? kenapa kau kemari?" cecarnya.


" Aku, harus bicara denganmu " jawab Anna.


"Jangan disini. Ikut aku " perintah Marrissa. Ia lalu berjalan keluar ke arah halaman samping kantor dimana terdapat tempat bagi karyawan untuk sekedar makan atau bercengkrama saat masa istirahat datang.


" Bicaralah " kata Marrissa dingin setelah mendudukkan tubuhnya di kursi.


" Beberapa hari yang lalu terjadi kecelakaan, Ibu dirumah sakit dan Adam meninggal "


" Aku sudah tahu " jawabnya dingin.


" Apa? kau sudah tahu ?? " Anna berseru kaget.


" Kau sudah tahu tapi kau tidak menengok ibu? kau bahkan tidak datang ke pemakaman Adam !!! Apa kau masih pantas disebut sebagai anak Ibu? kakakku? " suara Anna meninggi. Ia begitu kesal dan marah. Bagaimana mungkin saudarinya ini setega itu?.


" Diamlah! Pelankan suaramu! " titah Marrissa.


" Dengar, aku ada disana saat kau terus menangis di pusara Adam. Bahkan seorang pria memelukmu disana "


" Lalu mengapa kau tidak menghampiriku?"


" Kau pikir aku tidak mau? Aku juga ingin berlari ke sana. Adam juga adikku, sudah pasti aku sedih saat ia meninggal. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Ada yang mengawasiku " Marrissa membela diri.


" Mengawasimu? Siapa? "


" Aku tidak tahu. Bisa jadi orang suruhan musuh suamiku atau mantan istrinya yang breng*** itu "


" Jangan asal menuduh. Untuk apa Nyonya Olivia mengikutimu? "


" Well, Siapa yang tahu kalau dia dendam padaku dan menyakiti kalian "


" Nyonya Olivia tidak mungkin berbuat demikian. Dia sangat lembut dan baik " Anna membela mantan majikannya.


" Terserah. Aku mengatakan yang sebenarnya " kata Marrisa sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia memandang ke seberang. Anna merasa tidak enak hati dibuatnya.


Marrissa memang mengatakan yang sebenarnya. Akhir-akhir ini, ia merasa diawasi, entah oleh siapa.


" Kapan kau akan datang menjenguk Ibu? " tanya Anna kemudian.


" Secepatnya, saat Jonathan keluar kota, aku akan menyelinap menemui kalian "


" Kenapa harus sembunyi-sembunyi? apakah kau malu mengakui kami sebagai keluargamu?"


" Siapa yang tidak malu mempunyai keluarga yang berantakan? mendiang Ayah yang profesinya perampok, adik berandalan yang mantan narapidana serta Ibu yang bekerja di bar? " Marrissa mendebat perkataan Anna.


" Aku tidak " jawab Anna tegas.


" Ya, tapi kau di bully habis-habisan di sekolah. Tidak ada yang mau berteman denganmu "


" Aku punya teman, namanya Drew " Anna membela diri.


" Temanmu tidak sebaik perkiraanmu, Nona Muda yang naif "


" Kalau kau tahu, kenapa kau tidak datang menolong kami? setidaknya kau bisa menemui kami "


" Kau pikir apa yang sedang aku lakukan sekarang? Aku berusaha menolong kalian dengan caraku. Dan aku hanya minta kalian diam sampai aku mendapatkan semuanya "


" Tidak perlu mendapatkan semuanya. Kau hanya perlu pulang, itu sudah cukup bagi kami "


" Omong kosong. Bukankah kau juga butuh uang untuk biaya rumah sakit Ibu?"


Anna menunduk diam. Melihat keangkuhan saudarinya, ingin rasanya ia berkata tidak. Tetapi kenyataannya, ia memang butuh uang dalam jumlah besar untuk biaya rumah sakit ibunya.


Marrissa tersenyum sinis.


" Jangan datang mencariku lagi. Aku yang akan menemui kalian. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan pastikan biayanya terlunasi saat Ibu keluar dari rumah sakit " kata Marrissa. Ia lalu beranjak dari duduknya, meninggalkan Anna sendirian di tempat itu.


Tak jauh dari tempat itu, Max tersenyum senang. Ternyata dugaannya benar. Anna tidak terlibat apapun dengan Marrissa.