Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Aku kecewa padamu


Sesampainya dirumah, Anna cepat-cepat berganti pakaian dan menghapus riasannya. Ia juga melepaskan cincin pernikahannya dan menyimpannya dalam kotak kecil di laci meja. Anna meraih gawainya. Ada 5 buah panggilan tidak terjawab dari Marrissa. Anna lalu menekan tombol panggilan.


" Anna? " suara di seberang menyahut.


" Aku sudah menikah dengannya " kata Anna datar. Ia masih sedikit sebal dengan kakaknya yang telah mengatur pernikahannya.


" Ya, aku tahu. Dia memberitahuku.Selamat atas pernikahan kalian. Maaf aku tidak bisa datang. Semuanya begitu mendadak "


" Sekarang, apalagi yang harus aku lakukan? " tanya Anna seakan menyindir Marrissa yang mengatur hidupnya.


" Apapun, sesukamu, tapi bertahanlah... maaf aku sudah menyulitkanmu " suara di seberang terdengar parau, lalu hening. Anna bisa merasakan kalau kakaknya bersedih, mungkin dia menangis. Anna jadi merasa bersalah telah menyindir kakaknya. Seharusnya ia tahu, kakaknya hanya berusaha memberikan yang terbaik baginya.


" Aku harus bekerja dulu " Anna cepat-cepat mengakhiri panggilan. Ia merasa berat mendengar isak tangis kakaknya. Setelah telepon dimatikan, Anna menatap wajahnya di cermin, kemudian menangis tersedu.


***


" Pernikahan kita hanya diatas kertas. Karena itu jangan berharap menjadi Nyonya di rumah ini. Semua tetap pada tempatnya masing-masing. Kau tetap harus mematuhi segala perintahku " kata Jason pada Anna. Malam itu ia memanggil Anna di ruang kerjanya untuk membicarakan pernikahan mereka. Anna mengangguk setuju. Ada perasaan lega di hatinya. Sejujurnya, awalnya ia begitu takut jika pernikahan mereka membuat ia harus berada di sisi Jason setiap saat, seperti suami istri pada umumnya, tapi ternyata tidak. Syukurlah.


" Ini, ambillah " Jason menyodorkan setumpuk uang pada Anna. Anna mengambilnya.


" Setiap bulannya aku akan memberimu uang. Kau bisa menggunakannya untuk membeli semua kebutuhan di rumah ini, dan juga apapun yang kau butuhkan, termasuk untuk bayimu. Kecuali untuk kebutuhan ibu dan saudarimu. Aku tidak mengijinkan sepeserpun uangku untuk mereka " Jason menjelaskan. Anna menghela nafas. Padahal ia ingin sekali membelikan barang untuk Marrissa dan Ibunya.


" Dan jangan coba-coba membohongiku. Kalau aku tahu kau berbuat curang, kupastikan mereka yang akan menerima akibatnya " ancam Jason.


****


" Anna, kau belum tidur? " tanya Justin begitu melihat Anna yang keluar dari ruang kerja Jason.


" Aku.. belum mengantuk " jawab Anna sekenanya.


Ia menyembunyikan uang Jason ke dalam jaketnya.


" Kalau begitu, ayo nonton televisi bersamaku " ajak Justin. Belum sempat Anna menjawab, Justin sudah meraih tangannya. Menggandeng Anna ke ruang tengah untuk menonton televisi.


" Kita anggap saja sekarang sedang nonton film di bioskop. Meski tanpa popcorn " canda Justin setelah mereka berdua duduk di depan televisi. Ia lalu meraih remote tv dan mulai mencari acara televisi yang bagus.


" Kau suka nonton apa ? komedi ? action? drama ? atau justru kartun? " tanya Justin bersemangat.


" Apa saja "


" Hm? "


" Aku sudah lama tidak menonton televisi. Terakhir kali aku menontonnya saat menemani Ibuku di rumah sakit " Anna menerangkan.


" Wow.. lama sekali ya? Kalau begitu, bagaimana kalau kita melihat komedi saja, aku rasa bagus untuk mengurangi keteganganmu karena Tuan menyebalkan itu "


" Ehh ?? "


" Bukankah kau baru saja dipanggil ke ruang kerjanya untuk dimarahi? "


Anna terdiam. Rupanya Justin telah salah sangka.


" Rasanya seperti sedang kencan " gumam Justin.


" Ehh?? "


" Mm..maksudku, kita hanya berdua saja menonton televisi, seperti orang yang sedang kencan di bioskop " Justin menjelaskan, dia tampak sedikit gugup. Anna tertunduk. Dalam hati dia merasa bahagia sekali akhirnya bisa merasakan " kencan " dengan Justin.


" Kau tidak tidur, Anna? " suara Jason mengagetkan keduanya.


" Dia belum mengantuk " jawab Justin. Ia merasa kesal karena Jason mengganggu acaranya.


" Aku tidak bertanya padamu " kata Jason sambil menatap tajam Anna.


" Aku..rasa aku sudah mengantuk. Aku akan tidur sekarang " jawab Anna kemudian, lalu ia beranjak meninggalkan mereka berdua. Justin mendengus kesal. Sementara Jason dengan acuh melangkah ke kamar utama.


*****


" Dia tidak akan pergi " jawab Jason. Justin menatap kakak tirinya dengan kesal.


" Ada apa denganmu? Kau selalu melarangnya. Padahal ini hari Minggu. Dia bebas kemana saja. Bukankah seharusnya begitu? " Justin mulai emosi karena sudah seminggu ini kakaknya selalu menginterupsi rencananya. Jason selalu melarang Anna pergi dengannya. Tidak. Tidak boleh. Anna harus bekerja. Selalu itu yang menjadi alasan kakaknya. Dan anehnya, Anna selalu menurut. Ia bahkan tidak keluar rumah di hari Minggu kemarin, padahal biasanya ia selalu menengok Ibunya.


" Kalau aku bilang tidak akan pergi, maka itulah yang akan terjadi, bukankah begitu, Anna ? " kata Jason sambil menyeka mulutnya dengan tisu. Ia lalu beranjak meninggalkan ruang makan. Anna hanya menunduk diam.


" Kenapa kau selalu mematuhinya, Anna? Apa ada yang terjadi di rumah ini yang tidak aku ketahui ? " tanya Justin sambil menatap Anna tajam. Langkah Jason terhenti. Ia menoleh kebelakang. Justin berganti menatap tajam kakaknya. Jason menyeringai. Menikmati penderitaan adik tirinya.


****


Senin pagi,


Anna masuk ke dalam taksi yang telah dipesannya. Mobil kuning itu kemudian melesat membawanya pergi ke suatu tempat. Justin segera menyusulnya. Mengikutinya dengan mobil sport miliknya. Saat itu ia merasa penasaran sekali saat Anna menelpon untuk memesan taksi. Ia lalu pura-pura pergi ke sekolah. Padahal ia berada tidak jauh dari rumah, bersiap dengan mobilnya untuk mengikuti Anna. Ia yakin, ada sesuatu yang disembunyikan Anna.


Taksi yang ditumpangi Anna membelah jalanan kota, hingga tibalah di suatu tempat yang membuat Justin semakin bertanya-tanya. Rumah Sakit. Apa Ibu atau saudarinya sakit lagi? tanya Justin dalam hatinya. Kalau begitu, seharusnya tadi ia menawarkan tumpangan untuk Anna. Dasar bod** !! Kasihan Anna jika harus mengeluarkan uang untuk ongkos taksi. Justin mengutuk dirinya yang terlalu berpikiran negatif pada Anna.


Justin masih mengikuti langkah Anna. Ia hampir saja mendekati dan menyapa Anna jika saja ia tidak membaca arah ruangan yang dituju Anna. Klinik kandungan? Justin merasa aneh. Ia semakin merasa curiga saat Anna menghampiri bagian pendaftaran. Anna berbincang sejenak. Sepertinya menanyakan sesuatu. Ia lalu masuk ke ruang tunggu.


Justin menghampiri bagian pendaftaran.


" Permisi, bolehkan saya mengetahui untuk apa gadis itu kemari? "


Perawat itu tersenyum. Menyadari kekonyolan pertanyaan Justin.


" Tentu saja untuk pemeriksaan kandungan. Disini klinik kandungan " jawabnya sambil menahan tawa.


" Jadi kakaknya yang lumpuh itu hamil " gumam Justin. Ia mencoba berpikir kalau Anna sedang menemani kakaknya untuk periksa kehamilan.


" Maksud Anda? " rupanya perawat itu mendengar gumaman Justin.


" Gadis yang baru saja dari sini tadi, dia memiliki seorang saudari yang lumpuh, tidak kusangka saat sedang lumpuh, dia hamil " kata Justin sambil mendesah lega.


" Tidak ada pasien kami yang lumpuh. Semuanya sehat. Normal " kata perawat itu.


" Apa? " Justin kaget.


" Semuanya normal. Gadis yang tadi itu memeriksakan kehamilannya "


*****


" Justin, kau bolos sekolah " Anna tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Justin yang duduk santai di kursi dekat kolam renang. Dan yang membuat Anna lebih terkejut lagi, di meja dekat Justin ada beberapa botol minuman keras.


" Apa pedulimu ? " kata Justin sambil meneguk botolnya.


" Kau tidak pernah peduli padaku. Perasaanku. Kau hanya mempermainkan aku, Anna. Gadis palsu. Kau benar-benar palsu " tambahnya. Ia bangkit dan mendekati Anna. Bau minuman keras tercium oleh Anna. Membuatnya merasa mual.


" Justin, kau mabuk "


" Lalu kenapa? Apa kau akan peduli? Lebih baik kau mempedulikan kandunganmu itu. Bukankah saat ini kau sedang hamil? "


Racauan Justin sontak membuat Anna kaget. Bagaimana Justin bisa mengetahui hal ini ? Justin memandangnya sinis.


" Kau bingung? Bagaimana aku bisa mengetahuinya? Kau pikir, kau bisa menyembunyikannya dariku dan bisa mempermainkanku dengan mudah ? Dasar gadis palsu !! Selamanya kau akan tetap palsu bagiku!! " umpat Justin sambil menatap tajam Anna. Anna terpaku. Sama sekali tidak menyangka Justin akan berkata seperti itu.


" Bod**nya aku yang percaya kau ini polos, sepolos wajahmu. S*** !! Kau bahkan tidur dengan laki-laki lain dibelakangku. Katakan, siapa saja yang sudah pernah melakukannya denganmu? Max? atau kakak tiriku Jason? atau orang lain? Kau melakukannya sukarela atau mereka harus membayarmu? Katakan berapa yang harus aku bayar untuk tidur denganmu ? "


Plakk !! Anna menampar Justin dengan kuat. Ia sangat marah dengan hinaan Justin padanya.


" Ternyata kau bukan pria yang baik. Aku kecewa padamu Justin " kata Anna sambil menangis. Ia lalu pergi meninggalkan Justin.


Justin memegangi pipinya. Masih terasa tamparan Anna disana.


" Aku juga kecewa padamu Anna. Kau sama sekali bukan gadis yang baik " gumamnya.