
Anna mendorong kursi roda kakaknya memasuki kantor pengacara Williams&co. Ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh Marrissa, kakaknya. Hari pembacaan surat wasiat Jonathan Wilderman, mendiang suaminya. Marrissa berdandan dengan sederhana kali ini, tetapi tetap saja kecantikannya terpancar dari wajahnya. Anna bisa merasakan hal itu. Ditambah lagi, dengan tatapan kekaguman para pegawai Williams, terutama pegawai laki-laki, pada kakaknya itu.
" Anna " Olivia Wilderman memanggilnya. Anna menoleh, dan kemudian ia merasa malu sekaligus merasa kecil di hadapan mantan majikannya ini.
" Nyonya,.. Nyonya Olivia.. " jawab Anna, sedikit terbata. Olivia tersenyum hangat dan menghampirinya. Meskipun ia membenci Marrissa, tetapi ia memiliki rasa sayang terhadap Anna.
" Bagaimana kabarmu, Anna? " tanyanya tanpa melihat ke arah Marrissa. Dan Marrissa pun tampaknya juga melakukan hal serupa. Pura-pura melihat ke arah lain.
" Saya.. saya baik saja, Nyonya " jawab Anna dengan canggung.
" Kau terlihat lebih kurus sekarang. Kau masih bekerja paruh waktu? "
" Saya sekarang bekerja full time di sebuah kedai makan, Nyonya " jawab Anna dengan jujur. Olivia mengernyit.
" Full time? Bukankah kau harus sekolah? Bagaimana dengan sekolahmu? Bukankah besok pagi kalian ujian sekolah? "
" Saya.. saya berhenti sekolah, Nyonya " jawaban Anna membuat Olivia terkejut. Tapi sebelum ia menanyakan hal itu lebih lanjut, Marrissa sudah menyelanya.
" Anna, tolong antar aku ke dekat jendela. Aku ingin melihat pemandangan dari atas sini " pintanya. Anna mengangguk.
" Permisi, Nyonya " ucapnya pada Olivia, kemudian mendorong kursi roda kakaknya ke tempat yang disebutkan Marrissa tadi.
Olivia memandangi Anna yang mendorong kursi roda kakaknya. Terbersit rasa kasihan dalam hatinya. Tapi bagaimana mungkin dia menolongnya, ada Marrissa di sana.
Pintu ruangan terbuka, seorang pria berwajah tampan tampak memasuki ruangan. Sorot matanya yang dingin seakan membuat seisi ruangan membeku.
" Jason " sapa Olivia pada anak tirinya. Pria itu tidak menjawab. Ia tersenyum dingin lalu melangkah menghampiri Marrissa. Marrissa yang mendengar nama Jason lalu berbalik, tepat saat itu Jason sudah berada di depannya.
" Hallo, Marrissa,.. atau haruskah aku memanggilmu Ibu? Hmm, kurasa itu tidak mungkin, tidak pernah ada seorangpun yang pantas menggantikan tempat Ibuku " katanya dengan senyum mengejek. Marrissa tercengang dibuatnya. Ia tidak menyangka Jason akan berkata seperti itu. Benar-benar berbeda dengan Jason yang ia kenal dulu.
Pandangan Jason beralih pada Anna yang berdiri di samping kakaknya. Masih dengan tatapan yang merendahkan.
" Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan darimu, Marrissa. Bahkan untuk berjalanpun kau membutuhkan bantuan orang lain " hinanya. Anna melihatnya dengan marah, hampir saja ia membalas ucapan Jason, tetapi Marrissa terlebih dahulu bersuara,
" Ya. Menyedihkan bukan? Tetapi untungnya, aku masih dikelilingi orang-orang yang baik dan tulus padaku, bukan orang yang disampingku karena uang "
Perkataan Marrissa sukses membuat Jason terdiam dan menyingkir. Jason memang tidak memiliki siapapun. Orang terdekatnya adalah Noah, yang notabene adalah asistennya.
" Baik, karena sudah berkumpul semua, maka pembacaan surat warisan bisa kita lakukan saat ini juga " kata Tuan Williams yang baru saja masuk ke dalam ruangan, sambil meletakkan tas kecil yang dibawanya ke atas meja. Ia lalu membuka tas kecil itu dan mengeluarkan selembar amplop tertutup. Kemudian ia menunjukkan pada setiap hadirin bahwa amplop itu dalam keadaan tertutup. Setelah semuanya mengangguk. Ia lalu membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas.
Semua orang yang hadir di ruangan itu segera memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan isi surat warisan Jonathan Wilderman. Tuan Williams mulai membacakan baris demi baris.
" Surat wasiat ini dibuat dan ditandatangi pada hari...... "
" Dengan surat wasiat ini, aku memutuskan untuk membagi semua aset dengan ketentuan sebagai berikut : Seluruh perusahaan akan diserahkan pengelolaannya pada putra tertuaku, Jason Wilderman. Jason bertanggungjawab untuk mengelola perusahaan hingga adik-adiknya cukup umur dan cakap serta berkeinginan untuk mengelola perusahaan bersama-sama di bawah kepemimpinannya. Untuk Justin dan Josh Wilderman, aku wariskan pada kalian berdua sebuah hotel di Malaysia. Kediaman Wilderman sepenuhnya akan menjadi milik Jason. Sementara untuk istriku tercinta, Marrissa, aku menghadiahkannya sebuah rumah yang sudah lama dia mimpikan..... " Tuan Williams berhenti sejenak, ia menghela nafas, kemudian,
" ..Rumah itu bisa ia tempati dalam jangka waktu satu tahun setelah kematianku... "
Jason melirik Marrissa dengan senyuman penuh kemenangan. Sementara Olivia tersenyum penuh kelegaan karena Justin dan Josh mendapatkan haknya.
*****
" Tampaknya kau akan kembali menjadi gelandangan " ejek Jason pada Marrissa tatkala pembacaan surat warisan telah selesai. Wajah Marrissa tampak pias. Dia kalah telak dari Jason dan juga dari Olivia.
*****
" Aarrghhh " Marrissa berteriak kesal. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran mendiang suaminya. Mengapa harus ada syarat untuk memiliki rumahnya? Jika saja rumah itu jatuh ketangannya tanpa syarat, ia akan langsung menjualnya agar keluarganya bisa hidup dengan layak.
Anna hanya bisa terdiam melihat kemarahan kakaknya. Ia pun tidak menyangka mendiang Tuan Wilderman akan berbuat demikian.
" Mengapa? Mengapa kau berbuat seperti ini padaku Jonathan? Kita saling mencintai. Akupun sangat mempercayaimu. Tetapi mengapa kau seperti meragukanku? "
*****
Anna sedang berusaha membuka pintu rumahnya ketika tetangga samping rumahnya, Nyonya Anderson menghampirinya sambil membawa sebuah amplop surat.
" Selamat pagi, Anna " sapanya dengan ramah.
" Selamat pagi, Nyonya Anderson "
" Untung aku melihatmu pagi ini. Sudah beberapa hari aku menunggumu pulang. Tapi tampaknya kau jarang pulang ke rumah. Kau pasti sibuk menjaga Ibumu "
" Saya memang jarang pulang ke rumah, Nyonya selain untuk mencuci atau mengambil pakaian ganti saja " Anna menjelaskan.
" I see. Bagaimana keadaan Ibumu ? "
" Sudah lebih baik. Ibu sudah sadar dan kini kami berkomunikasi melalui kedipan mata "
" Sabarlah, Ibumu pasti segera sembuh "
Anna mengangguk.
" Oya, ada titipan surat untuk Ibumu " kata Nyonya Anderson sambil mengulurkan sebuah amplop surat berlogo bank pada Anna.
" Dari Bank. Mungkin sebuah tagihan " bisik Nyonya Anderson saat Anna menerima amplop surat itu.
" Baiklah, aku akan berjalan-jalan dahulu. Sampaikan salamku untuk Ibumu, Anna. Semoga dia cepat sembuh "
" Baik, Nyonya, terimakasih "
****
Anna memasukkan baju kotornya ke mesin cuci. Sambil menunggu, ia duduk di kursi dapur menikmati secangkir kopi. Anna melirik amplop surat pemberian Nyonya Anderson. Sejenak ia ragu untuk membukanya sekarang atau nanti saat di rumah sakit bersama Marrissa. Tetapi ternyata rasa ingin tahunya mengalahkan keraguannya. Anna lalu mengambil amplop surat itu. Menarik nafas sejenak. Lalu mulai membuka amplop itu dengan hati-hati. Nafasnya langsung tercekat saat membaca isi surat itu. Surat peringatan dari Bank. Ternyata sudah lebih dari dua kali Ibunya tidak membayar tagihan bank. Jika surat peringatan ini tidak juga diindahkan, maka rumah mereka akan disita.