
Justin tidak henti-hentinya memandang bayi mungil yang tertidur di boks bayi di samping tempat tidur Anna. Ia memandangnya penuh dengan rasa sayang. Hampir satu jam, ia berada di ruang persalinan menemani Anna melahirkan. Ia bisa melihat perjuangan Anna melahirkan bayi itu. Semuanya begitu mendebarkan. Tegang dan haru. Semuanya serasa bercampur menjadi satu. Perasaan lega pada akhirnya muncul saat mereka mendengar suara tangisan bayi itu.
" Dia cantik bukan ? " tanya Anna demi melihat wajah kekaguman yang tersirat dari wajah Justin. Justin mengangguk setuju.
" Dia cantik sepertimu " pujinya tanpa menoleh pada Anna. Anna menelan ludah. Ia masih saja berdebar mendengar pujian Justin.
" Apa kau sudah memberinya nama? " tanya Justin.
" Aku sedang memikirkannya " jawab Anna. Ia memang sedang memikirkan nama yang bagus untuk anaknya.
" Bagaimana kalau " Joanna " ? " Justin mengusulkan.
" Joanna? "
" Ya, artinya karunia Tuhan, dalam bahasa Perancis " Justin menjelaskan.
Anna mengangguk setuju.
" Aku rasa nama itu bagus. Dia memang karunia Tuhan yang terindah dalam hidupku "
" Eh, tapi, kurasa kau harus merundingkan nama itu dengan Ayahnya " Justin meralat ucapannya.
" Aku rasa tidak perlu. Dia bahkan tidak pernah peduli " kata Anna pelan, tapi tentu saja Justin masih dapat mendengarnya dengan jelas.
" Mengapa kau tidak jujur padaku, Anna? " tanya Justin, kali ini sambil memandang Anna. Anna menjadi salah tingkah.
" Apa maksudmu, Justin ? " Anna pura-pura bingung.
" Tentang ayah bayi ini.. tentang suamimu.. Anna, aku sangat berharap kau bisa menjelaskan semuanya padaku, agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi. Agar aku tidak menuduhmu yang bukan-bukan lagi "
Anna terdiam. Ia bingung harus mulai menjelaskan dari mana.
" Jadi benar, kakak tiriku adalah ayah bayi ini? "
Anna menunduk. Ia tidak berani menatap Justin. Justin menghela nafas perlahan.
" Maaf kalau aku terlihat seperti mendesakmu. Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya, Anna. Mengapa kalian bisa menikah? Apa benar dugaanku kalau Ibu tiriku, maksudku, kakakmu, memaksamu menikah dengan Jason agar ia bisa mendapatkan harta keluarga kami? "
" Bukan.. bukan seperti itu, Justin " tolak Anna.
" Lalu apa? apa Jason yang memaksamu menikah? " Justin menerka-nerka.
" Tidak.. " Anna kembali menolak pernyataan Justin.
" Ini tidak seperti yang kau pikirkan Justin. Kakakku tidak seburuk dugaanmu. Kami memang terpaksa menikah karena.. " Anna tidak melanjutkan ucapannya. Wajahnya terlihat pias. Tangannya menggenggam selimut dengan erat. Ia tidak sanggup bercerita pada Justin tentang kejadian di malam itu.
Justin menatapnya lekat, menunggu Anna menyelesaikan ucapannya. Ia bisa melihat dengan jelas kalau wajah Anna terlihat begitu panik. Sekilas hatinya merasa tidak tega untuk mendesak Anna, tetapi ia terus menguatkan hatinya.
Mungkin saat ini aku terlihat begitu kejam bagimu, Anna. Tapi aku hanya ingin tahu kebenarannya dari mulutmu sendiri. Agar aku tahu sejauh mana aku harus melindungimu atau tidak perlu melakukannya kalau kau dan Jason saling mencintai.
Ceklek. Suara pintu yang dibuka. Justin menengok ke arah pintu, demikian pula dengan Anna. Dan masuklah Jason. Justin dan Anna tampak terkejut dengan kehadiran Jason, begitu pula dengan Jason.
" Bukankah seharusnya kau berada di luar negeri sekarang ? " tanya Justin, terlihat tidak menyukai kehadiran Jason.
" Well, kau lihat, aku berada di sini sekarang " jawab Jason acuh. Ia melangkah mendekati boks bayi dan menatap bayinya lekat.
" Dia perempuan " kata Justin tanpa diminta.
" Aku tahu, dia terlihat cantik sekali " puji Jason tanpa mempedulikan Justin.
" Akan aku tinggalkan kalian berdua " ucap Justin dengan kesal. Ia merasa canggung dengan kehadiran Jason diantara mereka.
" Sudah seharusnya " sindir Jason.
Sepeninggal Justin,
" Dia sudah tahu " kata Anna pelan. Jason hanya mengernyit.
" Lalu? apa yang terjadi selanjutnya? " tanyanya dengan acuh.
Anna merengut kesal. Pertanyaan Jason tadi membuatnya meradang. Seakan Jason memang tidak mempedulikannya. Tapi hei, bukankah selama ini Jason memang tidak mempedulikannya? Mereka menikah hanya karena Anna mengandung anaknya, bukan? Dan sekarang anak itu telah lahir. Bukankah itu artinya kebebasannya sekarang ada di depan mata? Lalu kenapa ia harus kesal dengan sikap Jason? Memikirkan tentang kebebasannya membuat rasa kesal di hati Anna memudar dan berganti dengan percikan rasa bahagia. Tanpa sadar ia tersenyum membayangkan kebebasannya.
" Sampai kapan aku harus menunggu jawabanmu " tanya Jason sambil menatap tajam Anna sambil duduk di sofa tunggu dengan menyilangkan kedua kakinya dan bersedekap. Wajahnya terlihat serius sekali. Anna tersentak dari lamunannya.
" Dasar bocah, suka sekali melamun " sindir Jason.
Anna mengerucutkan mulutnya.
" Maksudmu siapa? "
" Tentu saja bayi itu " jawab Jason dengan kesal. Ingin rasanya ia menoyor kepala Anna karena gemas dengan kelakuan gadis itu. Tapi ia mengurungkannya dan tetap dengan sikap dinginnya seperti biasa.
" Joanna "
" Joanna? " Jason mengernyit.
" Aku rasa itu nama yang bagus "
" Kedengarannya seperti gabungan nama kita. Jason dan Anna. Sepertinya kau benar-benar mencintaiku padahal pernikahan kita hanyalah sebuah kontrak " ejek Jason sambil tersenyum sinis.
Anna mendelik. Cih, mencintaimu? yang benar saja.
" Jangan besar kepala. Joanna artinya karunia Tuhan dalam bahasa Perancis " Anna mengelak.
" Sejak kapan kau belajar bahasa Perancis? Seingatku, terakhir kali aku melihatmu, kau masih memegang sapu dan kemoceng di tanganmu " ejek Jason.
" Banyak hal yang Anda lewatkan, Tuan Wilderman "
Anna bersungut-sungut kesal. Jason menyembunyikan rasa gelinya. Wajah Anna yang kesal seperti itu terlihat lucu baginya. Jason berdehem.
" Anna, tentang pernikahan kita.. "
Anna segera memasang telinganya baik-baik. Ia sangat menantikan ucapan Jason, apalagi kalau itu berkaitan dengan berakhirnya pernikahan mereka.
" Aku memutuskan untuk memperpanjang kontrak kita "
" A-apa maksudmu? " tanya Anna dengan terkejut. Ia sama sekali tidak ingin mendengar hal ini dari Jason.
" Kita tidak akan bercerai. Tidak secepat itu "
" A-appa? Kenapa bisa begitu ? Bukankah dari awal sudah disepakati kalau kita akan bercerai setelah anak ini lahir? "
" Kau terdengar semangat sekali untuk sebuah perceraian? Padahal aku tahu itu bertentangan dengan hatimu "
" Apa maksudmu ? " Anna semakin tidak mengerti.
" Kau menamai anak itu Joanna,meski kau berusaha mengelak, tapi aku yakin itu adalah gabungan nama kita. Itu artinya kau mencintaiku. Dan aku bukanlah seseorang yang kejam yang menceraikan istri yang mencintainya tepat saat anak mereka dilahirkan " Jason menjelaskannya panjang dan lebar, Anna tercengang dibuatnya.
" Tapi Joanna artinya karunia Tuhan!! "
" Dalam bahasa Perancis, kau sudah mengatakannya tadi " sambung Jason dengan tenang.
" Kalau nama itu yang membuatmu berpikir aku mencintaimu, maka namanya akan aku ganti !! "
" Terlambat. Aku sudah menyetujui nama itu " ucap Jason tidak mau kalah. Anna terdiam. Jason tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu beranjak dari duduknya dan mendekati Anna.
" Aku akan kerumah kakakmu untuk membicarakan perpanjangan kontraknya. Aku yakin ia akan sangat setuju dengan keputusanku ini "
" Ini pernikahanku, bukan pernikahannya! dan aku tidak ingin mempertahankannya. Kau harus menceraikan aku, Jason Wilderman " kata Anna dengan emosi.
" Sst, jangan berteriak, nanti Joanna bangun " Jason mengingatkan.
" Kau harus menceraikanku, sesuai perjanjian "
" Apa kau lupa? yang membuat perjanjian adalah aku dan kakakmu. Jadi yang berhak memutuskan hanya aku atau kakakmu. Dan aku sangat yakin sekali dia akan mendukung keputusan ini "
*******
Marrissa mengarahkan kursi rodanya keluar rumah. Sore ini ia akan mengunjungi Anna dirumah sakit. Ia tadi sudah berpamitan pada Ibunya. Ia tinggal menunggu Morgan pulang saja. Tapi yang dinanti tidak kunjung datang, padahal hatinya semakin tidak sabar ingin segera menemui dan menimang bayi cantik Anna. Karena itu ia nekat keluar rumah sendirian.
" Marrissa!! " panggil Morgan dari seberang jalan. Ia terlihat khawatir karena Marrissa keluar rumah tanpanya. Dengan tergesa-gesa ia berusaha menyebrang jalan. Morgan tidak memperhatikan kalau di sisi kiri ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang. Tetapi Marrissa memperhatikannya. Dengan isyarat tangannya ia mencoba menghentikan Morgan. Tetapi sepertinya Morgan tidak mempedulikannya, ia justru mengkhawatirkan Marrissa.
Marrissa semakin panik. Ia tidak ingin Morgan mengalami kecelakaan dan terluka. Marrissa mencengkram kursi rodanya erat. Ingin rasanya ia berlari ke arah Morgan dan menghentikannya sebelum terlambat. Ia berusaha berdiri. Dan tiba-tiba saja sebuah keajaiban terjadi. Marrissa tiba-tiba saja dapat berdiri dan bahkan ia dapat berlari ke arah Morgan.
Ciiit. Mobil itu mengerem karena menyadari adanya seseorang yang tiba-tiba saja berlari ke jalan. Morgan segera menangkap tubuh Marrissa. Mereka berdua jatuh berguling.
" Kalian tidak apa-apa? " pemilik mobil yang menghampiri mereka segera bertanya dengan panik karena hampir saja ia menabrak dua orang pengguna jalan.
Morgan tidak mengindahkan pertanyaan si pemilik mobil. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
" Marrissa, kau bisa berjalan "