
" memangnya kamu tidak bisa tinggal lebih lama lagi?" tanya Anna pada Adam sambil memasukkan potongan roti ke mulutnya. Adam menggeleng. Ia lalu meneguk kopinya.
"sehari lagi juga tidak bisa?" tanya Anna lagi.
Adam baru saja akan membuka mulutnya saat Kattie tiba-tiba menyahut,
"biarkan dia bekerja,Anna. Dia laki-laki dewasa, bisa menjaga dirinya sendiri. " kata Kattie dingin. Anna melirik kesal pada ibunya. Sejak Adam masuk penjara, ibunya bersikap semakin dingin padanya, sepertinya ia belum bisa memaafkan Adam, padahal kakaknya itu telah berubah.
"jadi kapan kau akan berangkat?" tanya Kattie lagi, tanpa melihat Adam.
"pagi ini" jawab Adam pendek. Huk!Huk! jawaban Adam membuat Anna kaget, baru saja semalam mereka bertemu dan pagi ini,Adam akan meninggalkannya lagi. Ia belum puas rasanya bercerita pada Adam. Adam mengulurkan segelas air padanya. Anna langsung meneguknya.
"bagus" kata Kattie cuek, sepertinya ia memang sudah tidak peduli lagi dengan anak laki-laki satu-satunya itu.
" ibuuu " ucap Anna protes dengan sikap ibunya, tapi ibunya seakan tak bergeming. Kattie justru bangkit dari duduknya dan menuju ke kamarnya.
" jangan menggangguku tidur " perintahnya sambil berlalu.
"jam berapa kamu berangkat kerja?" suara Adam memecah suasana.
"sebentar lagi "
"mau aku antar? kebetulan aku membawa mobil temanku,yeah,itupun kalau kau tidak malu..mobilnya rongsokan "
*****
Anna menunggu Adam memasukkan barang-barangnya. Ada sebuah tas besar yang Adam masukkan ke dalam pick up kuning itu. Dilihat dari ukurannya, sepertinya Adam membawa hampir semua pakaiannya.
" kau membawa semua pakaianmu? apa kau tidak akan kembali ?" tanya Anna heran. Adam tidak menjawab. Ia menghidupkan mesin mobil,dan mobilpun melaju pelan.
"syukurlah rongsokan ini tidak mogok " katanya mengalihkan pembicaraan. Anna terus menatap Adam, meminta jawaban. Lama kelamaan Adampun tidak tahan. Ia lalu menghentikan mobilnya.
" kau lihat sikap ibu padaku,Anna? aku tidak tahan lagi. ia seakan tidak melihatku ada. jadi untuk apa aku dirumah?"
" dulu kelakuanku memang buruk , berandalan, pemabuk.. tapi itu dulu, setelah keluar penjara aku sudah berubah, aku bekerja, tidakkah ia melihat perubahanku,Anna? tidak! dimatanya aku tetap sama! hanya seseorang yang tidak berguna " kata Adam penuh emosi.
Anna menatap kakaknya. Ia seakan merasakan apa yang dikatakan kakaknya. Yang dikatakan kakaknya benar. Anna menelan ludah. Ada rasa sesak didadanya. Ia pun tidak ingin melihat Ibu dan kakaknya seperti ini. Ia ingin keluarganya utuh kembali.
"apa itu artinya kau tidak akan kembali?" Anna hampir menangis ketika menanyakannya. Adam menatap mata adik kesayangannya.
"aku pasti akan datang untukmu,Anna. kau bisa menghubungiku kapan saja kau membutuhkanku"
Anna menangis mendengar jawaban Adam. Adam mengusap bahunya,mencoba menenangkannya.
" hei..jangan menangis..mereka nanti akan mengira aku memukulmu,bukankah aku mantan narapidana?" Adam mencoba melucu, tapi Anna masih saja terisak.
" ayolah, rongsokan ini tidak akan berjalan kalau kau masih terus menangis. Nanti kau bisa terlambat bekerja " bujuk Adam.
Anna mengusap airmatanya. Adam tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya lagi.
Dalam perjalanan, mereka lebih banyak diam. Adam cukup memaklumi hal itu. Mungkin Anna masih shock dengan keputusannya.
****
Adam menghentikan mobil tepat di depan halaman rumah kediaman Wilderman.
" wow..besar juga rumah ini, aku berani bertaruh,pemiliknya sangatlah kaya" ucap Adam.
"mereka kaya baik di harta maupun hati " jawab Anna.
"hei Anna, kau ingat kata-kataku kemarin?"
" dengar, kalau kau tidak menyukainya,jangan memberikan harapan padanya. dan sebaliknya kalau dia terus menerus memberikan harapan padamu tanpa menyukaimu, jangan patah hati dan melakukan hal bodoh,di luar sana masih banyak lelaki yang baik " kata Adam sok bijak.
"aku terlalu pintar untuk melakukan hal bodoh, bro " sahut Anna. Adam terkekeh geli. Ia mengacak-acak rambut adiknya.
" hei, jangan sembarangan, nanti mereka berpikir aku berbuat me*** di mobil ! " ancam Anna. Adam menghentikan tindakannya. Anna merapikan rambutnya.
" sudah cantik " puji Adam. Anna menatap Adam dan tersenyum
"terimakasih"
" sebenarnya aku penasaran, apa yang membuatmu bisa berkata bijak seperti itu, menasehatiku, seakan kau pernah mengalaminya "
"aku hidup di jalanan,Anna.. pengalaman bisa dijadikan pelajaran.. sudah sana,pergilah, nanti kau dipecat " Adam mengusir Anna.
Anna mencibir. Sebelum turun dari mobil, ia memeluk Adam erat. Adam membalas pelukannya.
"aku akan sangat merindukanmu"
"sama"
Annapun turun dari mobil.
" Anna ,sebentar.." Adam menyusulnya turun. Ia lalu mengulurkan gawainya pada Anna.
" untukku?"
" iya, bukan model keluaran terbaru. tapi masih bisa digunakan " kata Adam. Untung saja ia teringat cerita Anna tentang gawainya yang rusak.
" tapi bagaimana denganmu? "
" aku bisa membelinya nanti. aku akan menghubungimu saat sampai nanti"
Anna mengangguk.
******
Adam menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dari hadapan Anna.
[ Aku memang mengalaminya,Anna. Aku memberikan harapan palsu untuk gadis itu. Aku tidak menyukainya tapi aku bertingkah seolah-olah hanya dia satu-satunya bagiku. Kakakmu ini hanya seorang pengecut br*****k Anna]
Ingatan Adam melayang pada kejadian setahun yang lalu.
" Bre***** kau Adam, aku begitu mencintaimu,tapi apa yang kau lakukan??" seorang gadis tampak kalap, dengan membabi buta ia memukuli tubuh Adam yang saat itu tengah berada di ranjang dengan seorang gadis lain.
Adam mencoba menangkis serangan gadis itu. Sementara gadis disebelahnya tampak berusaha menutupi tubuhnya yang tel******.
" sudah kubilang Catherine, aku tidak mencintaimu, kita hanya main-main "
"main-main katamu? aku hamil,Adam! aku mengandung anakmu!!" teriak gadis itu sambil menangis
" aku tidak menginginkan anak itu, gugurkan saja " perintah Adam dengan entengnya.
Chaterine tampak shock. Ia menatap Adam dengan nanar.
" kau akan menyesal Adam! aku pastikan kau akan menyesal !! " teriaknya sebelum ia keluar dari kamar itu.
Dan perkataan Chaterine menjadi kenyataan. Seandainya waktu bisa terulang kembali. Ingin rasanya Adam menghilangkan bagian pertemuannya dengan Chaterine. Bagaimana ia mempermainkan gadis itu. Dengan begitu, Chaterine mungkin masih hidup sampai saat ini.