Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Thank you, Justin


Roger menyeringai pada Anna sebelum ia berbalik dan melangkah ke pintu. Anna semakin ketakutan.


" Kau akan menyukainya, Anna, teman-temanku pandai menyenangkan wanita...." kata Roger keras sambil membuka pintu.


Bugg!! Sebuah pukulan langsung mendarat di wajah Roger. Roger terhuyung ke belakang, sempoyongan. Anna menjerit ketakutan.


" Anna, kau tak apa?" tanya Justin dengan khawatir. Anna mengangguk. Roger bangkit


" Ternyata kau, pengganggu !" teriaknya marah.


Ia lalu melayangkan pukulan pada Justin. Justin mengelak dan membalasnya. Rogerpun jatuh. Justin menarik kerah baju Roger.


" Beraninya kau menyakiti Anna!" bentaknya. Roger tertawa mengejek. Justinpun memukulinya berulang kali sampai Roger terjatuh kembali.


Setelah Roger tergeletak. Justin mendekati Anna yang menangis ketakutan.


" Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan nafas yang memburu. Anna masih menangis. Badannya gemetar. Justin memeluknya.


" Tidak apa, kau aman sekarang " bisiknya pada Anna yang masih terus menangis. Kedua insan itu saling berpelukan. Dari arah belakang, Roger dengan susah payah mencoba berdiri kembali dan bersiap menyerang Justin dengan sebuah pisau lipat yang ia keluarkan dari saku jeans nya. Tampaknya ia memanfaatkan kelengahan Justin. Dia lari ke depan, ke arah Anna dan Justin. Tetapi sebelum ia sampai kesana,sebuah tendangan dilayangkan padanya hingga tubuhnya ambruk ke depan. Justin langsung menengok ke sumber suara. Dan dilihatnya Roger yang tersungkur dengan pisau lipat yang terlempar tidak jauh dari nya. Didepan pintu tampaklah Morgan dan Adam. Adam lalu mendekati keduanya.


" Kau tidak apa-apa ,Anna? " Adam langsung memeluknya dengan cemas. Anna mengangguk sambil menangis. Adam memegang wajah adiknya.


" Sudah berakhir,Anna. Semua sudah berakhir . Kau aman sekarang "


****


Anna duduk di kursi belakang mobil Justin. Ia masih terlihat shock . Ia sama sekali tidak mengira kalau Roger ternyata sudah merencanakan semuanya. Bahkan dari awal mereka bertemu pun tidak luput dari rancangan Roger. Andai saja Justin tidak ada di sana, entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Anna menengok ke luar jendela. Tampak Justin, Adam dan Morgan tengah berbincang dengan polisi. Dan ada seorang polisi lagi yang membawa Roger masuk ke dalam mobil polisi dengan kedua tangannya yang diborgol. Sebelum masuk ke dalam mobil polisi yang letaknya di depan mobil Justin. Roger masih sempat menunduk ke jendela mobil Justin,menyeringai pada Anna, sebelum akhirnya polisi menariknya.


" Aku mengawasimu,Anna " ucapnya keras. Anna segera menunduk ketakutan. Adam langsung berlari ke mobil Justin,dan membuka pintunya. Ia lalu memeluk Anna yang ketakutan.


" Jangan dengarkan apapun yang dia katakan. Kau aman. Ada aku " bisiknya.


*****


Tiga hari berlalu setelah peristiwa itu terjadi. Dan selama tiga hari itu, Anna tidak bekerja di kediaman Wilderman. Ia sedang menenangkan diri. Mulanya Nyonya Olivia maupun Josh merasa keberatan dengan 'cuti' nya Anna. Tetapi setelah Justin menjelaskan semuanya, Nyonya Olivia merasa prihatin dan tidak keberatan Anna tidak masuk kerja. Dan mulai tiga hari itu, Adam memutuskan pulang ke rumah Ibunya untuk menemani Anna. Mereka berduapun sepakat untuk merahasiakan peristiwa itu dari ibu mereka. Kattie pun tidak bertanya lebih lanjut tentang kepulangan Adam. Ia menganggap anak lelakinya itu sedang tidak punya uang dan pekerjaan sehingga tinggal di sana lagi. Tampaknya ia masih memandang Adam dengan sebelah mata. Kasihan Adam.


*****


Anna sedang menyirami bunga-bunga nya di dalam pot. Adam memperhatikannya. Ia tersenyum saat melihat adiknya tersenyum senang saat ada kuncup bunga mawarnya yang mulai mekar.


" Lihat Adam, bunganya mulai mekar " teriak Anna girang.


" Ya, aku melihatnya " kata Adam dari kejauhan. Ia sedang memangkas tumbuhan pagar ,sekedar untuk merapikannya.


" Kemarilah, bukan hanya satu yang mekar, tetapi tiga " kata Anna bersemangat. Adam pun melangkah mendekati Anna. Dan memang benar, ada tiga kuncup mawar yang mulai mekar. Masing- masing dari induk mawar yang berbeda. Ada mawar merah, putih,dan jingga.


" Bunga baru, harapan baru " kata Adam pelan.


" Apa maksudmu?"


" Bunga mawar ini seperti harapan kita, Anna. Kuncup yang mulai mekar ini seperti harapan kita yang terus bermunculan dan tumbuh, membuat hidup kita jadi lebih berwarna. Sedangkan ini.." Adam menghentikan kata-katanya dan memotong sebuah bunga mawar yang telah rontok kelopaknya.


" Ini adalah harapan lama kita. Sudah layu, rontok, harus dibuang. Ini seperti harapan lama kita. Tidak selalu karena tidak tercapai. Bisa saja karena sebenarnya harapan itu sudah terpenuhi sehingga kita beralih ke harapan yang lain. Dan ini harus di potong, dibuang. Agar kuncup yang lain bisa terus tumbuh. Seperti masa lalu yang menyakitkan, kita harus membuangnya dan menumbuhkan harapan baru bagi kita " kata Adam panjang lebar. Anna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tanda tidak mengerti ucapan kakaknya. [Toss Anna !!aku pun begitu 😅]


" Kau kan memang tidak pandai dalam pelajaran bahasa! ini kiasan, Anna " Adam pura-pura kesal.


" Kalau sudah tahu, seharusnya kau memberi contoh yang lain "


" Sudahlah, mungkin harapan baru mu yang baru saja datang itu bisa menjelaskan " kata Adam kesal. Ia lalu berjalan ke rumah, meninggalkan Anna yang lalu menengok untuk mengetahui siapa yang datang. Ternyata Justin.


" Kenapa dia?" tanya Justin pada Anna saat melihat Adam yang tiba-tiba saja meninggalkan adiknya sendirian.


" Entahlah, dia berbicara tentang mawar dan harapan. Aku tidak mengerti sedikitpun kata-katanya " Anna mengadu pada Justin. Justin tersenyum.


" Kau kan memang jelek di pelajaran bahasa " ejeknya.


" Iya,aku akui " kata Anna sambil memayunkan bibirnya.


" Kau tampak lucu seperti itu " puji Justin.


" Jangan memujiku. Pria yang sering memujiku ternyata seorang pembohong besar yang jahat "


" Aku tidak memuji. Aku jujur "


" Bahkan dalam sebuah kejujuran seorang pria sering ada maksud tersembunyi "


" Terserahlah. Kamu membingungkan. Tidak pintar dalam bahasa, tidak begitu cantik tetapi angkuh " kata Justin pura-pura kesal.


Anna tertawa.


" Hei, aku tidak seangkuh dirimu " tolaknya.


" Tetap saja kau angkuh,sombong "


" Hahaha, okay,okay. Aku terima itu. Ngomong-ngomong , ada apa kau kesini "


" Ibu memintaku melihat keadaanmu " kata Justin sedikit ketus. Padahal kata hatinya berbeda.


[ Aku rindu padamu, Anna ]


" Oh, ya, aku akan mulai bekerja lagi besok "


" Apa kau yakin? kau bisa mengambil cuti lagi kalau masih belum siap " tanya Justin, padahal hatinya sudah bersorak gembira.


Anna mengangguk.


" Aku punya tanggung jawab pada Nyonya Olivia dan juga Josh. Aku tidak bisa lari begitu saja. Lagipula dia sudah di tangkap. Apa lagi yang aku takutkan?"


Justin mengangguk setuju.


" Oya, aku belum berterima kasih padamu. Andai saja waktu itu kau tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Terimakasih sudah menolongku, Justin "


" Aku memang selalu jadi malaikat pelindungmu, Anna. Kau saja yang tak pernah tahu " Justin menyombongkan diri.


" Hmm, mulai lagi " ucap Anna kesal