
" Hai aku datang lagi " kata Max pelan sambil membuka pintu kamar rawat inap Kattie. Anna yang sedang belajar, cukup kaget dibuatnya.
" Eh, Maxx, kau kemari? "
Max mengangguk. Ia meletakkan kantong plastik di meja lalu mengambil kantong plastik yang satunya dan menghampiri Anna.
" Kita makan siang disini atau di luar? di kantin ? " tanyanya .
Anna mendongak.
" Kau membawa makanan ?"
" Spagetti dan beberapa buah -buahan yang mungkin kau suka. Ayo kita makan "
Tanpa menunggu jawaban Anna. Max meraih tangan Anna dan membawanya keluar dari kamar rawat inap,menuju kantin.
*****
Anna melahap makan siangnya dengan lahap. Ia memang sangat lapar siang ini. Tadi pagi ia tidak sarapan. Bahkan sore kemarin ia hanya meminum secangkir kopi.
" Ini enak sekali. Terimakasih sudah membawakanku makanan, Max "
Max mengangguk. Ia senang Anna menghargai makanan yang ia bawa.
" Kalau kau suka, aku akan membawakanmu setiap hari "
" Setiap hari ? "
" Ya. Kenapa tidak ? "
" Aku rasa itu akan merepotkan "
" Tidak juga. Aku suka melihatmu makan. Lagipula aku tidak ingin kau ikut sakit. Lihat, badanmu lebih kurus dari biasanya"
Anna tersipu malu mendengarnya. Rupanya Max sangat perhatian padanya.
******
Hari-hari berikutnya Anna lalui dengan Max. Pria itu selalu datang saat sekolah usai. Pernah suatu hari Max bolos sekolah untuk menemani Anna. Tapi tentu saja Anna tidak menyukai hal itu. Ia memarahi Max dan meminta pria itu tidak bolos sekolah lagi. Max pun hanya bisa pasrah menyanggupinya, karena kalau tidak, Anna mengancamnya untuk tidak menemaninya di Rumah Sakit lagi.
Dirumah sakit, mereka biasanya akan belajar bersama. Satu hal yang baru Anna ketahui, ternyata Max sangatlah pintar, pengetahuannya juga luas sekali. Benar-benar berbanding terbalik dengan penampilannya. Dan selain itu, ternyata Max juga orang yang ramah, sopan dan mempunyai empati yang tinggi. Ini terbukti saat Anna melihatnya tengah menghibur seorang anak yang menangis di luar sebuah ruang rawat inap. Ia bahkan bisa membuat anak itu tersenyum. Anna benar-benar salut dengan kelakuannya.
" Kau ini, sudah aku bilang cara menghitungnya bukan seperti itu " kata Max kesal karena Anna beberapa kali salah menerapkan rumus matematika. Anna tersenyum kecil.
" Baik, Pak Guru. Saya akan menghitungnya lagi " katanya dengan sopan.
" Sepertinya kau ini kurang konsentrasi "
" Baiklah, saya akan berkonsentrasi penuh Pak Guru " kata Anna, kemudian kembali berkutat pada soal matematika yang diberikan Max.
" Anna, apa kau tidak rindu sekolah?" tanya Max. Anna tidak menjawab. Ia pura-pura sibuk menghitung. Padahal dalam hatinya, ia ingin sekali berangkat sekolah lagi. Tapi apa mau dikata, Ibunya masih koma, dia takut terjadi sesuatu pada Ibunya. Kehilangan Adam sangatlah menyakitkan, karena itu ia ingin selalu disamping Ibunya. Menjaganya sepanjang hari.
" Anna apa kau tidak merindukan suasana sekolah? Rindu dengan Miss Maggie yang galak itu? atau tatapan menyelidik Tuan Clark .... "
Pikiran Anna menerawang. Mengikuti arah perkataan Max. Tiba-tiba saja suasana kamar inap itu seperti suasana sekolahannya. Angin yang berhembus membuat pepohonan ikut bergoyang. Anna dapat merasakan sejuknya angin itu mengenai rambutnya. Dan disana, ada segerombolan siswa yang mengobrol, bermain bola atau sekedar mengganggu siswa lain. Anna bahkan bisa melihat Miss Maggie yang sedang memarahi seorang siswa yang terlambat masuk kelas. Ya! Anna merindukannya. Sangat merindukannya. Anna merindukan soal-soal yang luar biasa sulitnya dari Miss Maggie, dan juga rindu dimarahi Miss Maggie. Anna tahu walaupun gurunya itu galak, tapi itu semua demi kebaikan siswanya. Dan Tuan Clark? Walaupun selalu mencurigai siapapun yang masuk perpustakaan, tapi tatapan menyelidik nya membuat Anna merasa seakan-akan ia adalah seorang agen rahasia yang sedang menyamar di perpustakaan. Ngomong-ngomong, beberapa bukunya belum ia kembalikan, pasti Tuan Clark sekarang sedang menggerutu kesal, mengumpatnya dan bahkan ia pasti akan semakin curiga pada setiap siswa yang masuk wilayah kekuasaannya, perpustakaan.
"... Drew? apa kau tidak rindu bercerita dengannya? .."
Dan Anna pun terbayang wajah manis Drew. Dengan poninya yang membuatnya tampak semakin imut. Kira-kira sedang apa Drew sekarang? Apa dia juga berceloteh seperti dulu? Siapa sahabatnya sekarang? Mengapa dia tidak pernah mengunjungi Anna?..
" .. bahkan aku rasa kau juga seharusnya merindukan Justin. Bukankah kalian teman dekat?"
Justin? Ya, Anna merindukannya. Pipinya terasa hangat dan dadanya berdesir aneh saat mendengar Max mengucapkan namanya. Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Apa dia semakin populer? Apa dia masih bersama Ashley? Deg. Menyebut nama Ashley membuat Anna cepat-cepat membuang pikirannya. Bayangan sekolah beserta isinya pun menghilang. Ya. Justin milik Ashley sekarang. Ia tidak boleh memikirkan pria itu lagi.
" Anna? kenapa kau malah melamun? "
" Eh, tidak. Aku tidak melamun " Anna membantah.
" Yakin? " Max bertanya sambil menatap lekat Anna. Anna jadi gugup.
" Eh, aku memang melamun tadi, tapi hanya sedikit " Anna akhirnya mengaku.
" Kau melamunkan apa? sekolah? atau Justin?"
" Keduanya " jawab Anna tanpa sadar.
" Eh, maksudku.. aku melamunkan sekolah, dan segala suasananya, ... teman-teman, Drew.. dan juga Justin. Bukankah Justin juga temanku? tapi itu juga kalau dia masih menganggapku sebagai temannya " Anna membela diri. Max tersenyum.
" Kamu memang menyukainya bukan? sangat menyukainya aku rasa " goda Max.
" Tidak, bukan begitu "
" Lalu mengapa pipimu bersemu merah begitu?"
" Eh, aku... aku rasa suasana disini cukup panas " Anna terus berkilah. Max terkikik geli.
" Kau tahu. Aku senang mendengarnya. Tidak perlu takut dan malu kalau kau memang menyukai seseorang. Justru perasaan seperti itu membuatmu merasa lebih hidup. Orang yang memiliki perasaan cinta akan terlihat lebih berwarna dari orang lain di sekitarnya "
Anna menunduk malu.
" Apa kau tidak ingin mendengar kabarnya sekarang? Siapa pacarnya sekarang.. "
" Siapa? " potong Anna.
Max mengangkat bahunya.
" Aku tidak bisa memberitahumu sekarang "
" Kau ini, menyebalkan sekali ..." Anna merajuk.
" Kau benar-benar ingin mengetahuinya? "
Anna mengangguk.
" Kalau begitu, datanglah ke sekolah ... "
Anna menggeleng.
" Kau tidak hanya akan mengetahuinya. Kau juga bisa melihatnya. Dan kau bisa bertemu Drew juga .. "
Anna masih menggeleng. Max menatapnya.
" Anna, kau harus kembali ke sekolah. Ujian akan segera dimulai. Ini demi masa depanmu. Aku rasa Ibumu juga menginginkan hal ini. Dan kau bilang, Adam ingin kau bisa lulus sekolah dengan nilai yang memuaskan. Kau bahkan sudah menabung untuk kuliahmu nanti "
Menyebut nama Adam. Membuat Anna mengingat mendiang kakaknya itu sekali lagi. Adam memang sangat menginginkan hal itu. Anna menatap Ibunya yang terbaring.
" Percayalah Anna, Ibumu pasti setuju " Max berusaha meyakinkan Anna.
" Tapi bagaimana dengan Ibuku, Max? Aku takut kehilangannya. Aku sudah kehilangan Adam " tanya Anna bimbang.
" Kau tidak perlu kuatir. Aku akan meminta salah satu staf di rumahku untuk menunggui Ibumu saat kau masuk sekolah. Ia akan berjaga di sini. Jika terjadi sesuatu yang darurat, ia akan langsung menghubungimu. Dan aku akan selalu siap mengantar mu pulang pergi sekolah " kata Max panjang lebar.
" Kenapa kau begitu baik padaku, Max?"
" Kenapa? Kau takut?"
" Tidak. Hanya saja, orang terakhir yang berbuat baik padaku ternyata merencanakan hal yang buruk padaku "
" Percayalah, aku tidak seperti itu, Anna. Aku memang bukan orang baik, tapi aku juga bukan seorang pengecut yang hanya bisa menyakiti seorang gadis "
" Lalu?"
" Karena aku pernah mengalaminya Anna. Keluargaku juga berantakan. Mungkin tidak seburuk yang kamu alami. Tetapi aku kagum dengan kekuatanmu untuk bertahan menghadapi semua ini. Karena itu, aku ingin kamu tetap kuat, jangan sepertiku. Aku sudah salah jalan. "
" Tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah, Max "
" Bagiku sudah. Tapi kamu belum, karena kamu kuat "
" Kalau aku kuat, kamu juga kuat. Kenapa kita tidak saling membantu? Aku juga ingin membantumu, Max "
" Membantu apanya? Aku jauh lebih pintar darimu. Dan tentu saja aku jauh lebih kaya darimu " Max menyombongkan dirinya. Anna mencubit tangannya gemas. Max tertawa.
" Jadi, kau mau kan kembali sekolah lagi ?"
" Tergantung "
" Tergantung apa?"
" Tergantung kau juga mau berubah atau tidak "