Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Marissa


Anna masih tidak mempercayai seseorang yang tengah berdiri di depannya. Wanita muda yang begitu cantik dengan penampilannya yang begitu elegan. Dia adalah Marissa, kakaknya yang telah meninggalkan rumah beberapa tahun yang lalu. Perubahan penampilannya tidak membuat Anna lupa pada kakaknya. Anna mendekati kakaknya,ingin memeluknya. Tetapi Marissa seolah-olah menjaga jarak dengannya. Ia mendekati Anna sambil melihat sekeliling, seolah memastikan tidak ada seorangpun yang melihat mereka berdua.


" Kenapa?" tanya Anna ketika Marissa menolak pelukannya. Ia menatap kakaknya dengan kecewa.


" Jangan sampai semuanya tahu kalau kita bersaudara, Anna " kata Marissa setengah berbisik.


" Tapi kenapa? "


" Aku tidak mau hubunganku dengan Jonathan berakhir hanya karena ia mengetahui latar belakang keluarga kita "


Astaga. Anna hampir melupakan hal itu. Jika Marissa berada disini, itu artinya Marissa adalah istri muda Tuan Jonathan.


" Bersikaplah seolah kita tidak saling kenal " perintah Marissa. Ia lalu berlalu meninggalkan Anna.


" Ibu merindukanmu " kata Anna pelan saat Marissa berjalan melewatinya. Langkah Marissa terhenti sesaat, kemudian ia berlalu.


****


" Anna, apakah kau tahu artinya bercerai?" pertanyaan si kecil Josh membuyarkan lamunan Anna.


" Apa? bercerai? darimana kau mendengar itu Josh?" tanya Anna pada Josh yang sedang menumpuk legonya,berusaha untuk membuat bentuk dinosaurus dari lego-lego itu.


" Aku mendengarnya dari ruang kerja. Mereka bilang, mereka akan bercerai" jawab Josh tanpa mengalihkan perhatiannya dari lego-legonya.


" Mereka?"


" Mommy daddy ku "


Anna menarik nafas panjang. Ia menatap Josh. Kasihan Josh, di usia nya yang masih kecil, ia harus berpisah dari kedua orangtuanya.


" Jad, apa itu bercerai?" tanya Josh sekali lagi.


Anna mendekati Josh.


" Josh, kadang ketika dua orang dewasa bertengkar , mereka memutuskan untuk tidak bersama lagi "


" Tidak bersama?"


Anna mengangguk. Ia mengambil salah satu lego dari tumpukan lego Josh yang berbentuk pesawat.


" Lihat, sebelumnya mereka ini adalah lego yang kau bentuk menjadi pesawat, tetapi kemudian bagian yang ini aku ambil,bisa jadi pula bagian yang lain kau ambil sehingga tidak lagi berbentuk pesawat, tapi kau tetap bisa membentuknya menjadi pesawat lagi atau mungkin kau akan membuat bentuk yang lain. Bercerai seperti itu, bagiannya menjadi terpisah dengan bagian lain. Tetapi suatu saat,bisa jadi mereka bersatu kembali dalam bentuk yang sama atau bentuk yang berbeda "


Josh menatap Anna lekat.


" Jadi maksudmu, moomy dan daddy ku akan kembali bersama lagi?"


"... " Anna bingung akan menjawab apa.


" Mungkin saja " akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulut Anna.


" Lalu bagaimana jika lego-lego itu aku bentuk ke bentuk yang lainnya?bukankah mereka tak lagi sama?"


"Mm.. " Sekarang Anna benar-benar bingung mau menjawab apa.


Prangggg!! Terdengar suara benda jatuh di lantai bawah, sepertinya suara vas yang pecah. Anna yang kaget langsung berlari ke bawah yang lalu diikuti oleh Josh.


****


Suasana tampak kacau di bawah.Meja kaca pecah. Nyonya Olivia terlihat menangis.Justin ada disampingnya.Wajahnya memerah karena marah. Sementara di depannya ada lelaki tampan berjas hitam yang juga terlihat marah. Dari sudut bibirnya terdapat bercak darah. Anna rasa itu adalah Tuan Jonathan Wilderman. Dari lukanya, sudah jelas,terjadi baku hantam antara Tuan Wilderman dengan putranya,Justin.


" Pergilah dari sini,Jonathan, kita akan bertemu nanti di pengadilan " kata Nyonya Olivia tegas. Tangan kirinya menggenggam lengan Justin, seakan mencoba menenangkan putranya itu dari amarah.


Jonathan Wilderman menatap kedua orang didepannya dengan kesal. Anna yang tersadar akan keberadaan Josh dibelakangnya segera mengajak bocah itu naik lagi ke lantai atas.


" Tak apa Josh,mari kita lanjutkan bermain di kamarmu " katanya lembut. Josh menurut dan segera meraih genggaman tangan Anna. Anna mengajaknya kembali ke kamarnya. Sekilas Anna melihat Marrissa yang meliriknya dengan tatapan meremehkan.


Josh duduk terdiam di depan legonya. Ia tampak shock dengan keributan yang baru saja terjadi di rumahnya.


" Kenapa Josh ? kau tidak ingin bermain lagi?" tanya Anna pada Josh yang terlihat seperti melamun.


Josh menggeleng


" Kenapa mereka bertengkar,Anna? aku tidak pernah melihat daddy dan Justin semarah itu? " tanyanya pelan.


Anna menatap Josh,


" Kadang orang dewasa memang bersikap seperti itu Josh. Tidak perlu khawatir atau takut, mereka akan kembali berbaikan lagi "


Anna meraih Josh ke dalam pelukannya.


****


" Aku pulang"


Seperti biasa,Anna mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah. Adam hanya mendongak dari arah dapur. Ia memegang spantula. Pasti kakaknya itu sedang memasak. Melihat kakaknya memasak, membuat perut Anna menjadi lapar. Awalnya Anna agak ragu melihat Adam memakai celemek dan memasak, apalagi kalau melihat sejumlah tato yang menghiasi tubuhnya. Sangat lucu baginya melihat kakaknya yang berwajah sangar itu memasak. Tetapi Adam berhasil meyakinkannya dengan hasil masakannya yang terbilang enak.


" Kau masak apa?" tanya Anna sambil memasukkan dua potong kentang goreng ke dalam mulutnya.


" Daging sapi goreng "


" Huffth, kupikir sesuatu yang spesial " gerutu Anna.


" Kau tidak mau? kalau begitu biar aku makan sendiri " goda Adam sambil meletakkan daging goreng itu ke dalam piring dan mematikan kompor.


" Eh,jangan pelit begitu. Aku lapar " ucap Anna memelas. Mau tak mau Adam memberikan potongan daging serta kentang ke dalam piring untuk adiknya. Anna tersenyum manja.


" Terimakasih kakakku "


Adam mencubit pipinya yang membuat Anna meringis kesakitan.


" Bagaimana kerjamu hari ini? " tanya Adam. Anna mengangkat bahu. Dari hari kehari sikap Adam melebihi ibunya sendiri. Menyiapkan makannya, menanyai harinya.


" Masih sama seperti kemarin " jawab Anna. Ia belum yakin akan membicarakan masalah Marrissa pada Adam.


" Syukurlah. Keluarga Wilderman baik padamu. Sayang sekali kau harus berhenti bekerja beberapa hari lagi "


" Ya. Aku rasa akan sulit untuk mencari majikan seperti Nyonya Olivia. Apakah menurutmu,aku tidak perlu berangkat sekolah dan bekerja saja pada mereka ?" goda Anna.


" Jangan berbicara omong kosong seperti itu. Kau harus menyelesaikan sekolahmu agar bisa kuliah "


" Tapi aku tidak yakin dengan biayanya "


" Aku pasti akan membantumu "


" Memangnya kau akan kembali bekerja?"


" Ya. tapi aku harus memastikan adikku yang bandel ini untuk berangkat sekolah terlebih dahulu. Mentang-mentang sudah bisa mencari uang, mau meninggalkan sekolah seenaknya " cibir Adam.


" Kau tahu harapan keluarga ini ada dipundakmu sekarang " tambahnya.


Anna menghembuskan nafas lepas.


" Andai Marrissa ada disini,kau tidak perlu bicara seolah-olah hanya aku harapan satu-satunya " keluhnya.


" Tidak perlu memikirkan dia. Aku rasa dia tidak akan kembali "


" Bagaimana jika dia kembali? "


" Aku tidak yakin. Seseorang yang sukarela meninggalkan rumahnya sendiri,pasti sangat sulit untuk kembali "


" Bagaimana denganmu? bukankah kau juga kembali ke rumah ini?"


" Tentu saja berbeda. Pertama,aku pergi karena tidak diterima disini. Kedua,aku kembali karena harus menjagamu "


" Jadi kau terpaksa menjagaku?"


" Bisa dibilang begitu. Aku tidak mau adikku berada di rumah sakit jiwa karena trauma pacarnya mencoba berbuat hal tak senonoh padanya " jawab Adam enteng. Anna mencubit pinggang kakaknya.


" Hentikan! Hentikan, aku hanya bercanda " Adam meminta ampun. Anna menghentikan cubitannya.


" Adam, menurutmu apa yang akan Ibu lakukan kalau Marrissa benar-benar kembali?"


" Kalau Ibu, aku yakin ia akan membuka tangannya lebar, dia kan anak kesayangannya. "


" Lalu bagaimana denganmu?"


" Tergantung "


" Tergantung apanya?"


" Tergantung bagaimana keadaannya saat kembali "