Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Menjauhlah dari istriku


" Anna,perusahaan kami mengadakan pesta malam ini. Apa kau bisa menemaniku di pesta nanti ?. "


" Pesta ? "


" Ya, ada peluncuran produk baru. Jadi, apa kau mau ikut ? "


" Tapi bagaimana dengan joanna ? "


" Jangan khawatir, Roberta bersedia menjaganya malam nanti "


" Baiklah kalau begitu "


" Kalau begitu nanti sore aku akan menjemputmu pulang kerja "


Anna mengangguk setuju.


*****


Justin bermain dengan Joanna sambil menunggu Anna selesai berdandan di ruang tengah.


" Maaf, aku membuatmu menunggu lama " kata Anna begitu ia memasuki ruang tengah. Justin menghentikan aktifitasnya. Sejenak ia terdiam. Terpesona pada kecantikan Anna.


" Kau.... Cantik " kata Justin. Anna tersipu malu.


" Ayo kita berangkat "


" Selamat bersenang-senang " teriak Joanna dan Roberta saat mengantar mereka di depan pintu rumah.


***


Suara musik mengalun lembut disebuah ruangan. Justin menggenggam tangan Anna dengan lembut. Saat ini mereka tengah berdansa. Sekali lagi, desiran aneh muncul di dada Anna. Hatinya berdegup kencang. Meski begitu, ia tidak ingin moment ini berakhir. Anna ingat, dulu ia pernah berdansa dengan seorang pria di acara pesta topeng sekolahnya. Meski Anna tidak mengetahui dengan pasti siapa pasangan dansanya kala itu, tapi rasa gugup dan bahagia yang ia rasakan saat ini sama dengan perasaannya waktu itu.


" Senang rasanya bisa berdansa denganmu, Anna " bisik Justin di telinganya. Anna tersipu malu. Ia yakin saat ini wajahnya semerah kepiting rebus, apalagi saat ini bukan pesta topeng. Sudah pasti wajah merahnya terlihat jelas oleh Justin.


" Kau cantik sekali. " sekali lagi Justin memujinya, membuat Anna semakin merasa kikuk. Justin meraihnya ke dalam pelukannya.


" Andai kau bukan istri kakakku... Andai pernikahan itu tidak perlu terjadi... " Justin berkata lirih, yang terdengar seperti sebuah gumam an bagi Anna.


"... maka... " belum selesai perkataannya, tiba-tiba,


" Menjauhlah dari istriku ! " sebuah suara tiba-tiba mengagetkan mereka. Dengan kasar Jason melepaskan Anna dari pelukan Justin dan menyeretnya keluar dari ruangan itu.


****


" Lepaskan aku, Jason. Kau menyakitiku ! " teriak Anna dengan marah. Tapi Jason seperti orang kesetanan. Ia tidak peduli dengan teriakan istrinya. Ia, yang biasanya selalu menjaga harga dirinya, kali ini bahkan tidak peduli dengan tatapan orang-orang disekitarnya. Ia terus menyeret Anna dan melemparkannya ke dalam mobil mewahnya. Brakk. Jason menutup pintu mobilnya dengan kasar.


" Kau gila, Jason ! " ucap Anna.


" Kau bahkan lebih gila dariku, Anna ! Kau, seorang istri sah CEO perusahaan ini, dan kau justru berdansa, berpelukan dengan pria lain dimana dia adalah adikku sendiri. Kau sudah hilang akal, Anna ! " balas Jason. Nafasnya memburu dan matanya memerah karena marah.


" Beraninya kau berkata seperti itu ? Kau bahkan membawa wanita lain tinggal dirumahmu saat aku, yang kau bilang istrimu ini, dan juga anak kita, berada disana ! Kau... "


" Apa ? Apa kau cemburu dengan keberadaan Ashley ? Dengar, Anna, aku "membeli " mu. Aku " membeli " mu ! Karena itu aku bebas melakukan apa saja padamu ! Dan kau harus patuh pada ku. Kau mengerti ?! "


" Tidak!. Tidak lagi. Jangan berbuat sesukamu Jason. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak akan mematuhimu lagi. "


" Suka atau tidak suka, kau harus mematuhiku, Anna. "


" Tidak, Jason. Aku sudah muak. Aku ingin bercerai. "


" Bercerai ? Jangan berani mengatakannya karena aku tidak akan pernah mengabulkannya. Selamanya! "


" Kenapa ? Kita bahkan tidak saling mencintai ? Pernikahan kita adalah suatu kesalahan. Dan sudah saatnya kita mengakhiri semuanya. "


" Coba saja kalau kau berani. Aku akan melemparkanmu kejalanan, tanpa uang dan tanpa Joanna "


" Joanna putriku. Kau tidak berhak mengambilnya dariku ! "


" Dia juga putriku, Anna. Dan aku tidak akan pernah mengizinkannya hidup miskin bersamamu. "


" Siapa bilang kami akan miskin ? Aku sudah bekerja, Jason, dan andai saja kau tidak ikut campur, kami sudah memiliki rumah sendiri saat ini "


" Aku tidak mengizinkannya, Anna! Putriku hanya akan tinggal dirumahku. Kau mengerti ? "


" Kau bre*****, Jason !! "


" Terserah apa katamu. Satu hal yang pasti, kita tidak akan bercerai !! Dan sebaiknya kau berpikir untuk tidak melakukan kesalahan seperti tadi, karena aku tidak akan mengampuni siapapun yang mencoba mempermalukanku seperti yang baru saja kau dan Justin lakukan. Aku akan memberi pelajaran dengan kedua tanganku sendiri. Mengerti !! "


****


Hujan deras mengguyur kota malam ini. Anna merapikan selimut Joanna. Gadis kecil itu tampak tertidur lelap.


Tok.Tok. Pintu kamarnya diketuk seseorang, Anna membukanya, ternyata Justin.


" Ya, dia tidur dengan lelap. "


" Kalau begitu, bisakah kita mengobrol sambil meminum secangkir teh ?. "


" Sure. "


Anna menutup pintu kamarnya dan melangkah mengikuti Justin yang menuju dapur.


Sesampainya di dapur, Anna segera menyeduh teh untuk mereka berdua.


" Kalian bertengkar hebat ? "


" Bukankah kami selalu bertengkar ? Aku rasa tidak ada kedamaian dalam pernikahan ini. "


" Hem, Kurasa benar. " Justin meneguk tehnya.


" Hati-hati, itu masih panas. " Anna mengingatkannya. Dan benar saja, Justin segera menjulurkan lidahnya, kepanasan. Anna tertawa geli.


" Anna, kau masih ingin membeli rumah ? "


" Entahlah, aku tidak yakin. Jason selalu saja ikut campur dalam hal ini, membuat mereka tidak jadi menjual rumahnya atau bahkan untuk sekedar menyewakannya padaku. "


" Mungkin kau bisa mencoba saranku. Temanku akan meninggalkan kota ini dalam waktu dekat dan ia tidak ingin menjual rumahnya. Kurasa kau bisa tinggal disana sampai ia kembali "


" Dia akan pergi untuk betapa lama ? "


" Paling cepat enam bulan, tapi bisa jadi lebih, karena ia tidak suka menetap lama di suatu tempat. Rumah itu ia pertahankan karena peninggalan orangtuanya. Bagaimana ? "


" Kapan kau akan mengantarkanku kesana ? "


" Secepatnya. Bagaimana kalau besok sore ? Sepulang kerja ? "


" Oke. "


****


" Apa kau mencintainya ? " tanya Ashley sambil menatap dalam -dalam pada Jason. Siang itu mereka bertengkar karena perbuatan Jason semalam yang terlihat cemburu pada kedekatan Justin dan Anna.


" Sudah berapa kali kukatakan, aku tidak mencintainya. "


" Lalu kenapa kau begitu cemburu pada Justin ? "


" Aku ? Cemburu ? "


" Kau bisa saja bilang tidak, tapi perilakumu menunjukkan sebaliknya, Jason. Akuilah kau telah jatuh cinta pada Anna. "


" Aku tidak mengerti ucapanmu, Ashley. Sudahlah, aku harus pergi. Aku banyak urusan hari ini. " Jason meninggalkan Ashley yang terlihat marah. Ashley mengumpat habis-habisan.


" Bre******!! Ini tidak boleh terjadi. Jason tidak boleh mencintai pe***** itu. Aku tidak bisa dikalahkan si itik buruk rupa itu. Wanita miskin. Tidak. Hanya aku yang akan menjadi Nyonya Wilderman. Wanita itu harus kusingkirkan !! "


Ashley terus mengoceh tidak karuan. Ia mengacak-acak rambut pirangnya.


Merasa lelah, ia lalu duduk di kursi kerja Jason. Memandangi foto Jason di pigura kecil. Ia lalu mengambilnya.


" Kau harus jadi milikku Jason. Hanya aku. Aku Nyonya Wilderman-mu." katanya seolah berbicara dengan foto itu. Ia lalu meletakkan kepalanya ke meja kerja Jason, saat kemudian ia menyadari bahwa di bawah keyboard, ada sebuah amplop. Penasaran. Ia lalu meraih amplop itu dan membukanya.


" Siapa wanita ini ? "


*****


Anna melihat jam tangannya berulang kali. Ini sudah lebih dari satu jam, tapi Justin belum datang menjemputnya. Ia ingin menghubungi Justin, tapi takut kalau-kalau Justin tengah sibuk dengan pekerjaannya dan ia justru mengganggunya.


" Ah, bagaimana ini ? Atau sebaiknya aku pulang saja ? Lalu bagaimana jika dia benar-benar datang kemari ? "


Pada akhirnya, Anna memutuskan untuk pulang saja, tapi sebelum itu, ia mengetikkan pesan untuk Justin, mengatakan bahwa ia akan pulang karena hari sudah terlalu sore.


" Terkirim " gumam Anna saat melihat tanda centang dua di aplikasi handphonenya. Ia akan memasukkan handphonenya ke dalam tas ketika tiba-tiba benda itu berbunyi nyaring. Nomor tidak dikenal.


" Halo "


" Halo, apa Anda yang baru saja mengirimkan pesan ke nomor xxcc " suara diseberang menyebutkan nomor Justin, Anna mengiyakan.


" Iya, itu aku. Kenapa ? "


" Syukurlah, kami akhirnya bisa menemukan orang yang mengenali pasien kami "


" Pasien ? Apa maksudmu ? Apa yang terjadi pada Justin ? "


" Terjadi kecelakaan. Saat ini pasien belum sadar dan berada di unit gawat darurat rumah sakit.. " penelpon menyebutkan nama rumah sakitnya.


" Baiklah. Aku akan segera kesana. "