
" Kita sudah sampai " kata Anna dengan riang saat mobil Morgan tiba di depan rumahnya. Anna membuka pintu mobil.
" Aku akan membuka pintu rumah dan menyiapkan kamar terlebih dahulu. Kalian tunggulah di mobil. Hanya sebentar saja " katanya lalu berlari menuju rumah.
Marrissa hanya mengangguk. Saat ini ia duduk di samping Morgan. Morgan terlihat semakin canggung, meski beberapa kali Anna mendapatinya tengah melirik Marrissa. Anna memang sengaja meninggalkan mereka di mobil dengan alasan menyiapkan rumah, sebenarnya ia hanya ingin mengerjai Morgan.
" Jadi, selama ini kau kemana? " tanya Morgan pada Marrissa. Sedari awal pertemuan mereka, Marrissa dan Anna memang tidak membicarakan hal apapun terkait kehidupan Marrissa.
" Aku ? Aku berpetualang. Dari satu tempat ke tempat lain. Mencari pekerjaan yang bisa membuatku bertahan hidup "
" Tampaknya menyenangkan "
" Memang. Banyak hal yang aku temui dalam perjalananku. Teman, persahabatan, aku bahkan bertemu suamiku "
" Suami? Kau sudah menikah ? " Morgan tampak kaget.
Marrissa mengangguk. Morgan kelihatan kecewa.
" Beberapa saat yang lalu kami mengalami kecelakaan dan suamiku meninggal sementara aku mengalami kelumpuhan " kata Marrissa dengan sedih.
" Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanmu " ralat Morgan.
" Tidak apa. Aku sudah lebih baik sekarang " jawab Marrissa sambil menatap Morgan. Morgan kelihatan kikuk ketika kedua mata mereka bertemu.
" Anna bilang kau banyak membantunya disaat sulit kami. Terimakasih, Morgan. Terimakasih sudah menjaga Ibu dan adik-adikku " ucap Marrissa dengan tulus.
" No big deal. Keluarga Adam, keluargaku juga. Adam juga sering membantuku apalagi disaat aku kesulitan, dia pasti jadi orang pertama yang membantuku "
" Jadi, dimana kalian bertemu? maksudku kau dan Adam "
Percakapan demi percakapan pun mengalir diantara mereka berdua.
" Kalian membicarakan apa, seru sekali " tiba-tiba saja Anna sudah ada disamping mobil Morgan.
" Anna, kau mengagetkan saja " kata Morgan dengan kesal.
Anna tertawa geli.
" Kalian berdua cepat sekali akrab " sindirnya. Baik Morgan maupun Marrissa sama-sama tersipu malu.
" Morgan, tolong bantu aku mengangkat Ibu "
Morganpun keluar dari mobil dan menggendong Kattie keluar dari mobil menuju ke dalam rumah. Anna berdecak kagum karena Morgan menggendong Ibunya sampai ke rumah,
" Padahal kan di bagasi ada dua kursi roda " pikirnya. Tapi kemudian ia tersenyum sendiri, mungkin karena terlalu salah tingkah di depan Marrissa jadi Morgan tidak sadar kalau di bagasi mobilnya ada dua kursi roda. Anna lalu bergegas mengikuti Morgan masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian, Morgan kembali. Ia membuka pintu mobil tempat Marrissa duduk. Marrissa masih menatapnya dengan heran.
" Kenapa? " tanya Morgan bingung.
" Kenapa kau tidak menggunakan kursi roda? Bukankah kita punya dua? "
Morgan menepuk dahinya. Marrissa tertawa lepas.
" Astaga. Hal sebesar itu pun aku melupakannya "
" Mungkin kau juga harus memeriksakan dirimu ke dokter. Jangan-jangan kau mulai pikun " kata Marrissa di sela tawanya. Morgan tersipu malu.
" Kau mau kugendong juga, sini " Morgan lalu menggendong Marrissa tanpa meminta persetujuannya.
" Morgannn... " Marrissa merengek.
Tapi Morgan tidak peduli. Ia tetap saja menggendong Marrissa dan membawanya masuk ke rumah.
Sementara itu, di sebuah mobil mewah, Jason melihat pemandangan itu dengan marah. Kedua tangannya terkepal.
" Breng*** !! Baru saja menjadi janda sudah bertingkah! Kau harus diberi pelajaran!!
******
Pagi berikutnya..
" Tunggu sebentar " teriak Anna dari arah dapur. Pagi ini dia sedang memasak untuk Ibu dan kakaknya saat ia mendengar suara pintu rumah diketuk berulang kali.
Saat membuka pintu, ia tampak bingung karena yang didepannya adalah Noah, asisten Jason.
" Pagi.. " suara Anna menggantung karena ia tidak mengetahui dengan siapa dirinya berbicara.
" Selamat pagi, Nona Anna. Tuan Jason ingin berbicara dengan Nyonya Marrissa. Bisakah ? " tanyanya dengan ramah. Anna mengangguk. Noah tersenyum ramah sebelum ia berbalik melangkah menuju ke arah mobil mewah yang terparkir persis di depan rumah Anna.
****
" Selamat pagi, Marrissa " sapa Jason saat Marrissa menemuinya di ruang tamu dengan memakai kursi roda yang didorong Anna.
" Ada keperluan apa kau menyempatkan diri kemari ? "
" Aku sudah memikirkan imbalan yang aku inginkan "
" Imbalan? Imbalan apa? " tanya Anna bingung.
" Jadi kau belum memberitahu adikmu ya? " ejek Jason.
" Apa yang dia bicarakan, Marrissa? " tanya Anna dengan bingung pada kakaknya. Marrissa terdiam.
" Kakakmu ini memohon bantuanku untuk melunasi hutang kalian. Dan dia setuju untuk memberikan imbalan, apapun yang aku minta "
Anna menatap kakaknya tidak percaya.
" Aku sudah bilang padamu akan bekerja untuk melunasinya " bantah Marrissa. Nada suaranya meninggi pertanda ia mulai tersulut emosi.
" Bekerja katamu? semua orang tahu kalau kau ini lumpuh. Pekerjaan apa yang bisa kau lakukan? " kata Jason sengit sambil menatap Marrissa tajam. Marrissa tampak pias. Anna memilih diam. Ia masih mencoba mencerna perkataan Jason mengenai imbalan. Imbalan apa yang diinginkan si breng*** itu ?
" Jadi, apa maumu? " tanya Marrissa.
" Dia " jawab Jason sambil menunjuk Anna. Baik Anna maupun Marrissa tampak kaget, tidak menduga kalau Jason akan mengatakan hal itu.
" Jangan libatkan adikku! Kau cukup berurusan denganku saja " Marrissa mencoba melindungi adiknya.
" Kau bisa memilih. Aku akan mencabut bantuanku saat ini juga, dengan konsekuensi pihak bank menyita rumah ini. Atau kau biarkan adikmu menjadi pelayan dirumahku dan rumah kecil ini aman. Semuanya bahagia "
" Tapi asal kau tahu, pihak bank akan menyita rumah ini besok pagi jika kau tidak melunasinya " Jason menambahi.
" Dan jangan coba-coba meminta pertolongan pada pria itu. Siapa namanya? Morgan Knight? namanya terasa aneh. Well, Aku akan pastikan dia kehilangan pekerjaannya dan juga akan kupastikan dia menderita kalau kau meminta pertolongan darinya " ancam Jason.
" Dasar kau, breng***!!" teriak Marrissa marah.
" Terimakasih untuk pujiannya " Jason tersenyum smirk.
" Aku akan memberi kalian lima menit untuk berfikir. Sementara itu aku akan menunggu di mobil "
****
" Maafkan aku, Anna, maafkan aku " Marrissa tak henti-hentinya meminta maaf. Air matanya mulai mengalir.
" Mengapa kau tidak menceritakannya padaku tentang imbalan itu, Marrissa? "
" Aku sama sekali tidak menduga bahwa ia menginginkanmu, Anna. Aku bersalah, maafkan aku "
Anna memeluk kakaknya.
" Tidak apa, Marrissa. Tidak apa. Aku akan menjadi pelayannya. Seperti yang dia inginkan " Anna menenangkan kakaknya.
" Tapi Jason sama sekali tidak terduga, Anna. Ia bisa berubah dalam waktu sekejap saja. Aku takut kau disakiti. Aku akan merasa sangat bersalah kalau itu terjadi "
" Jangan khawatir, Marrissa, aku hanya menjadi pelayannya. Lagipula dirumah itu ada Nyonya Olivia. Nyonya Olivia tidak akan membiarkannya menyakitiku. Ia pasti akan melindungiku "
Anna menghapus airmata kakaknya.
" Sudah hampir lima menit. Aku akan menemuinya."
Marrissa mengangguk.
****
Jason tersenyum lebar saat melihat Anna melangkah keluar dari rumahnya.
" Kemarilah, gadis kecil " gumamnya.
Anna mengetuk kaca mobil. Kaca mobilpun diturunkan setengah. Dan dilihatnya Jason yang memandang angkuh ke depan.
" Saya akan menjadi pelayan Anda, Tuan Wilderman "
" Keputusan yang benar " kata Jason tanpa melihat Anna.
" Kapan saya mulai bekerja ? "
Jason mengalihkan pandangannya pada Anna.
" Masuklah ke dalam mobil. Kau akan bekerja hari ini juga "
" Apa? Hari ini? Tapi saya.. "
" Tidak ada waktu lagi. Kalau kau tidak masuk sekarang. Aku akan membatalkan urusan hutang kalian "
Dengan gugup Anna lalu membuka pintu mobil. Setelah Anna masuk ke dalam mobil, dalam hitungan detik mobil itupun melesat pergi dari rumah Anna. Marrissa yang melihatnya pun menjadi panik.