
Apa? Suami Nyonya Olivia menikah lagi? Anna benar-benar terkejut mengetahui hal ini. Ternyata, keluarga Wilderman tidak seharmonis yang ia kira. Selama ini ia selalu berfikir, Nyonya Olivia telah memiliki segalanya. Rumah yang besar, perusahaan yang ia miliki sendiri, dan dua anak yang tampan serta baik. Selain itu, Nyonya Olivia sangat cantik dan anggun, lalu bagaimana bisa suaminya mengkhianatinya dengan wanita lain?
Anna menatap prihatin pada majikannya yang kini sedang terisak pelan. Pantas saja akhir-akhir ini Nyonya Olivia selalu melamun,ternyata beliau memikirkan hal ini.
" Apa Justin mengetahui hal ini, Nyonya?" tanya Anna pada majikannya. Nyonya Olivia menggeleng.
" Aku masih belum bisa memberitahunya,Anna. Aku masih belum yakin apa dia bisa menerima perceraian kami "
" C-Cerai ?"
Nyonya Olivia mengusap airmatanya.
" Ya,Anna. Setelah berpikir panjang, aku rasa perceraian adalah keputusan yang tepat bagi kami "
" Tapi bagaimana dengan Justin? dengan Josh?"
" Josh akan mengerti saat ia besar nanti. Aku rasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentangnya. Saat ini dia belum mengerti apapun. Yang dia tahu, daddy nya sedang bekerja di luar kota. Sedangkan Justin, ..Oh Tuhan, aku takut dia tidak bisa menerima semua ini.. Aku takut dia akan berubah seperti Jason "
" Jason? siapa Jason ?" Anna tidak mengerti.
Nyonya Olivia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Anna menunggu jawabannya.
" Ini semua adalah karma untuk ku, Anna "
Anna mengernyit. Karma? Apa lagi ini?
" Sebelum aku menikah dengan Jonathan. Dia sebenarnya sudah menikah, memiliki istri yang cantik, anak yang tampan, keluarga yang bahagia. Dan kemudian aku datang, dan keluarga itu menjadi hancur. Lauren, mantan istrinya bunuh diri, sedangkan Jason, putra mereka satu-satunya memilih tinggal dengan kakeknya, menjauhi kami sekeluarga. Dia sangat membenciku, bahkan sampai sekarang. Kalau dulu aku adalah perempuan muda itu, sekarang aku adalah Lauren "
Anna menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sekarang Nyonya Olivia adalah Lauren? Apa maksudnya ia berniat untuk bunuh diri?
" Nyonya, Anda tidak berpikir untuk... "
" Untuk bunuh diri, maksudmu?" Nyonya Olivia memotong pertanyaan Anna. Anna mengangguk.Ia sangat takut majikannya akan berpikir sempit.
" Aku tidak serapuh Lauren, Anna. Aku memiliki Josh dan juga Justin untuk aku jaga dan lindungi, mana mungkin aku menyerah dan meninggalkan mereka? Demi anak-anakku, aku harus kuat. Aku harus mampu menghadapi semuanya, sendirian, tanpa Jonathan "
" Kalau aku bertindak sama seperti Lauren, itu sama artinya aku menggiring anak-anakku untuk bertindak negatif juga. Mereka akan semakin shock dan itu bisa membuat mereka menjalani kehidupan yang salah. Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi "
" Lalu mengapa Nyonya tidak merebut perhatian Tuan kembali? Mempertahankan pernikahan Anda. Dengan begitu, semuanya akan bahagia "
" Bahagia katamu? bagaimana mungkin kami bisa bahagia dengan perempuan lain di sisi suamiku?"
" Kalau Anda bisa merebut perhatian Tuan kembali, maka perempuan itu akan menyingkir dengan sendirinya "
Nyonya Olivia tersenyum getir.
" Aku sudah tidak berniat melakukan semua itu Anna. Aku sudah cukup lelah mempertahankan pernikahan kami. Jonathan lebih memilih perempuan itu daripada kami. Jadi, perjuanganku cukup sampai disini saja. Sekarang saatnya kami memulai awal yang baru, tanpa Jonathan "
Suara deru mobil terdengar. Rupanya Justin sudah pulang.
"Keluarlah, jangan sampai Justin curiga " titah Nyonya Olivia pada Anna. Annapun beranjak dari duduknya.
" Terimakasih sudah mendengarkanku, Anna" katanya sambil tersenyum pada Anna. Anna mengangguk.
****
" Apa Ibuku sudah pulang? " tanya Justin saat melihat Anna yang baru saja keluar dari ruang kerja Ibunya.
" Ya. Nyonya Olivia minta dibuatkan teh hangat " jawab Anna sambil menunjukkan nampannya.
" Teh hangat? sepulang bekerja?Hmm, tidak biasanya " Justin menggumam.
" Kau mengatakan sesuatu ?"
" Ehh,tidak. Hanya saja, tidak biasanya Ibu pulang di jam ini dan minta dibuatkan teh hangat. Apa Ibuku sakit?"
" Nyonya Olivia tidak kelihatan sakit, dia hanya terlihat lelah, sedikit " jawab Anna sambil mengkode menggunakan tangannya.
" Baiklah, kalau begitu, biarkan saja Ibuku beristirahat. Aku akan ke kamarku dulu "
" Baik"
****
Hari berikutnya,
Anna melangkah riang memasuki halaman rumah kediaman Wilderman. Ini adalah minggu terakhirnya bekerja di rumah besar ini. Hari Sabtu nanti, Olga akan pulang dan mengambil alih pekerjaannya. Membayangkan hal itu, ada rasa sedih sekaligus gembira di benak Anna. Sedih karena dia akan berpisah dengan Josh dan juga Justin. Dan gembira karena ia akan mendapatkan gaji dari pekerjaannya yang bisa ia tabung untuk kuliahnya nanti.
Anna hampir berada di depan pintu rumah ketika Justin tiba-tiba keluar dengan wajah yang marah.
" Hei, Just... " Anna mencoba menyapanya, tetapi Justin tidak mengindahkannya, bahkan tidak melihatnya sama sekali. Ia berjalan dengan serampangan menuju ke garasi, menutup pintu mobilnya dengan keras dan melarikan mobilnya keluar dari kediaman Wilderman. Anna keheranan melihatnya. Ketika membuka pintu, dilihatnya Nyonya Olivia yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.Isak tangisnya terdengar pelan. Anna cepat-cepat menghampirinya.
" Apa Justin sudah mengetahuinya, Nyonya?"
Nyonya Olivia mengangguk. Ia menangis sesenggukan. Anna memeluknya.
" Dia tidak sengaja mendengar pembicaraanku di telepon " kata Nyonya Olivia di sela isak tangisnya.
" Mommy, kenapa Mommy menangis?" suara kecil itu mengagetkan mereka. Tampak Josh yang kebingungan, mendekat ke arah mereka. Anna melepaskan pelukannya. Nyonya Olivia segera menghapus airmatanya.
" Tidak apa-apa Josh. Tadi mata Mommy tergores kain.."
" Lalu mengapa Anna memelukmu?"
" Oh, itu,itu karena... " Nyonya Olivia terbata-bata.
" Kau ingat Josh? saat aku menangis, kau langsung memelukku. Dan inilah yang aku lakukan pada Ibumu. Aku menirumu,Josh " sambung Anna.
" Tentu saja. Aku mengajarinya dengan baik " kata Josh sombong. Anna tersenyum mendengarnya.
" Oya,Josh, bukankah hari ini kita harus merapikan kamarmu? tiga hari lagi Olga pulang bukan? biarkan dia melihatmu menjadi tambah rajin sekarang "
" Yeah, aku tahu. Ayo Anna, bantu aku merapikan kamarku " pinta Josh dan berjalan mendahului Anna. Anna mengikutinya.
****
Tok!Tok!Tok.
" Sebentar " teriak Anna tanpa mengalihkan pandangannya dari tayangan televisi di depannya. Lima menit kemudian ia berjalan dengan malas menuju pintu rumahnya. Pasti Adam, batinnya. Ia memang agak kesal pada kakaknya itu yang beberapa hari ini selalu pulang malam. Karena itu ia dengan sengaja mengulur waktu untuk membuka pintu. Tak lupa memasang wajah cemberut agar kakaknya tahu kalau ia sedang kesal.
" Just..Justin " Anna berseru kaget begitu membuka pintu.
" Boleh aku masuk?" tanyanya.
" Eh,eh, ia .."
Justinpun lalu masuk dan langsung duduk di kursi tamu. Dari wajahnya,Anna tahu, Justin pasti masih shock dengan masalah orangtuanya.
" Mau minum apa? " tanya Anna. Justin menggeleng. Tatapan matanya tampak kosong.
" Anna kemarilah " titahnya sambil memberi isyarat agar Anna duduk disebelahnya.
Setelah Anna duduk disampingnya,tiba-tiba saja Justin memeluknya. Anna kaget. Ia berusaha melepaskan pelukan Justin saat kemudian didengarnya Justin terisak pelan dan akhirnya Anna membiarkan Justin memeluknya.
Setelah agak lama, Justin melepaskan pelukannya.
" Maafkan aku, Anna"
" Tidak apa-apa Justin "
" Semuanya kacau Anna. Orangtuaku akan bercerai. Ayahku berselingkuh dengan wanita lain. Dia sudah mengkhianati Ibuku. Dia memilih wanita itu daripada kami, keluarganya. Aku tidak tahu harus kemana dan kemudian wajahmu terlintas. Karena itu aku kemari "
" Semuanya akan baik-baik saja Justin"
" Aku kesal pada Ibuku. Seharusnya dia mempertahankan keluarganya,bukannya memilih cerai. Seharusnya dia memikirkan kami, aku dan Josh. Josh masih kecil "
" Nyonya Olivia tidak mungkin bertindak gegabah, Justin. Ia pasti sudah memikirkan hal ini jauh hari sebelumnya. Masalah ini juga berat baginya "
" Tetap saja aku kesal padanya "
"Jangan terlalu lama kesal padanya, kasihan Nyonya Olivia "
" Anna, bisakah aku bermalam disini? Aku belum ingin bertemu dengan Ibuku "
" Tapi.. "
" Please, hanya semalam saja. Aku malas pulang ke rumah. Aku bisa tidur di kursi ini. Kalau kau keberatan, aku bisa tidur di teras rumahmu. Tapi kalau kau masih tetap keberatan, aku akan pergi dari sini "
" Jangan. Lebih baik kau tidur di kamar Adam " kata Anna. Bagaimanapun, Anna tidak bisa membiarkan Justin tidur di teras rumahnya, ataupun malah membiarkan dia pergi. Dengan keadaannya yang kacau seperti itu, hal buruk bisa terjadi padanya.
*****
[ Selamat malam, Nyonya Olivia. Saya hanya ingin memberitahukan kalau Justin menginap di rumah saya. Keadaannya cukup kacau, jadi saya khawatir jika harus membiarkannya berkeliaran di jalan ]
Anna mengetikkan pesan untuk Nyonya Olivia agar tidak mengkhawatirkan keberadaan anaknya.
" Anna, kau sudah berani membawa laki-laki menginap? di kamarku pula !!" Adam menjitak kepala adiknya. Anna meringis kesakitan.
" Sst, jangan berisik. Nanti dia bangun. Dia butuh istirahat sekarang "
" Istirahat? memangnya kalian habis melakukan apa?"
Bug! Anna menghantamkan bantal ke arah kakaknya.
*****
Paginya..
Keadaan Justin sudah membaik daripada semalam. Setelah sarapan bersama (yang diiringi godaan Adam dan Kattie) , Anna dan Justin berangkat ke rumah keluarga Wilderman.
Sesampainya disana...
Anna melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman depan.
" punya Ayahku " kata Justin pelan. Anna mengangguk. Mereka lalu memasuki rumah, dan dari arah ruang keluarga, terdengar suara orang yang sedang berbincang.
" Aku tidak ingin mengetahui apa yang mereka perbincangkan. Sudah jelas mereka akan berpisah " kata Justin datar.
" Kalau begitu,mari kita ke kamar Josh. Dia pasti kebingungan " ajak Anna.
" Aku tidak bisa menghadapi Josh"
" Baiklah,terserah kau mau kemana"
Justin berjalan menuju kamarnya meninggalkan Anna yang menuju ke dapur, hendak mempersiapkan sarapan untuk Josh. Saat melewati ruang tengah, Anna tertegun melihat seorang wanita yang tengah mengamati kolam renang. Posisi tubuhnya yang membelakangi Anna membuat Anna tidak bisa melihat wajahnya. Tetapi dari postur tubuh dan juga pakaian yang dikenakannya dapat terlihat jelas kalau wanita itu seksi sekaligus elegan. Sudah pasti wanita itu istri muda Tuan Wilderman,si pelakor.
" Permisi " sapa Anna. Wanita itu membalikkan badannya. Ia langsung menunjukkan wajah terkejutnya, sama seperti Anna.
" An- Anna?????"
" Marissa????"