
Pagi ini, Anna datang lebih awal ke sekolah. Bukan apa-apa, ia hanya ingin melihat Drew, sahabatnya, itupun jika ia masih dianggap sahabat, mengingat Drew tidak pernah lagi menghampirinya saat ia kembali ke sekolah.
" Drew!! " Anna berseru saat melihat tubuh mungil sahabatnya itu memasuki halaman sekolah. Dugaannya benar, kebiasaan Drew masih sama, selalu datang empat puluh lima menit lebih awal di sekolah. Drew menengok kesana kemari. Saat dirasa sudah aman, ia menghampiri Anna yang berdiri di antara semak, tak jauh dari gerbang sekolah.
" Anna, aku merindukanmu " Drew berseru riang sambil menghampiri Anna. Anna melebarkan kedua tangannya, hendak memeluk Drew. Tapi Drew hanya berdiri mematung. Anna menangkupkan lagi kedua tangannya. Mungkin Drew takut ketahuan, pikirnya.
" Anna aku merasa sedih mendengar semuanya. Tentang Ibumu dan juga Adam " ucap Drew penuh simpati. Anna mengangguk.
" Terimakasih, Drew "
" Aku melihatmu menangis di pemakaman Adam, tapi aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan " sesal Drew.
" It's okay, Drew. Aku baik-baik saja sekarang. Aku masih dikelilingi orang baik yang membantuku " Anna menjelaskan.
" Aku merasa tidak enak padamu, Anna "
" Tidak apa-apa "
" Oya, beberapa waktu lalu Max Wilson menanyakanmu "
" Oh, Max. Dia salah satu orang yang membantuku, Drew "
" Really? "
Anna mengangguk.
[Sh**. Apalagi ini? Jadi benar mereka kini dekat? Dan rumor yang menyebutkan kalau Max menggandeng Anna itu benar?]
" Max banyak membantuku dengan pelajaranku. Tidak kusangka ternyata dia pintar sekali. Sangat berbeda dengan penampilannya dulu. Tapi sekarang dia sudah merubah penampilannya .."
[Ya. Dia menjadi tampan dan populer sekarang. Dan dia juga mengelilingimu! Sial. Dulu Roger, lalu Justin, dan sekarang Max? Kenapa pria-pria itu mengikutimu?]
" Max bahkan meminta staf rumahnya untuk menjaga Ibuku disaat aku pergi sekolah. Jadi aku tidak merasa khawatir lagi saat meninggalkan Ibuku untuk pergi sekolah "
[Apa? Max Wilson bahkan melakukan itu padanya? Keterlaluan! Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus melakukan sesuatu ]
" Kenapa kau diam saja, Drew? "
" Eh.. Aku senang mendengarnya Anna. Tapi kuharap Max tidak seperti Roger. Ya, kau tahu, rasanya sulit dipercaya seorang Max Wilson bisa berbuat seperti itu tanpa adanya maksud lain "
" Maksudmu? "
" Anna, kau sudah pernah tertipu dengan sikap baik Roger padamu, aku rasa tidak ada salahnya berhati-hati dengan Max, bagaimanapun di sekolah ini dia pernah menjadi bagian dari para pembully "
Anna diam. Ia mencoba berpikir sejenak. Kata-kata Drew ada benarnya juga. Tapi ia sangsi Max seperti yang Drew katakan.
" Aku rasa Max tidak seperti Roger, Drew " Anna meyakinkan sahabatnya. Lebih tepatnya meyakinkan dirinya sendiri.
" Siapa yang tahu? " kata Drew sambil melirik Anna yang terlihat merenung. Yess, batinnya.
" Oya, kalau kau terus menunggu Ibumu di rumah sakit, lalu bagaimana pekerjaan sampinganmu ?" Drew berusaha mengorek keterangan Anna, siapa tahu ada yang menarik, pikirnya.
" Oh,.. lalu, bagaimana kau akan melunasi biaya Rumah Sakit? Well, bukan maksudku menyinggungmu, Anna, tapi aku tahu bagaimana keuanganmu. Apa Max yang melakukannya juga? "
[ Kalau benar, ini akan menjadi cerita yang menarik dan aku bisa membuatmu semakin hancur di sekolah ini ]
" Marrissa yang membayarnya " kata Anna singkat tapi sudah cukup membuat Drew terkejut.
" Apa? Marrissa? Dia sudah kembali? Seperti apa dia sekarang? Bekerja dimana? Apa dia sudah menikah? Lalu seperti apa suaminya? Ceritakan padaku, please " Drew memberondongnya dengan pertanyaan. Anna terlihat bingung. Sepertinya ia baru menyadari jika ia baru saja melemparkan sebuah berita heboh pada sahabatnya itu.
" Kenapa kau diam saja, Anna? Ayo ceritakan " Drew mengiba. Anna kebingungan. Haruskah ia menceritakan rahasia ini pada Drew?
Anna menghela nafas. Drew sahabatnya. Seharusnya ia bisa mempercayainya lebih dari siapapun.
" Apa kau bisa menjaga sebuah rahasia, Drew? " tanyanya pelan. Drew tertawa kecil.
" Kau meragukanku ? Apa selama ini aku pernah membuka rahasiamu di depan semua orang ? "
[ W**ell, aku memang tidak membukanya, tetapi aku membawa mereka ke rahasiamu, haha ]
Anna menggeleng.
" Tidak apa jika kau ragu. Aku rasa aku juga tidak ingin mengetahuinya lebih jauh. Semua terserah padamu. Toh, itu bebanmu " pancing Drew.
" Marrissa memang sudah kembali, dan dia juga sudah menikah "
" Oh, baguslah. Jadi, dimana letak rahasianya ?"
" Marrissa menikah dengan Jonathan Wilderman, ayah Justin"
" A-Apa?" Mata Drew membulat, tidak percaya. Ini benar-benar berita bagus, pikirnya. Sebuah senyuman smirk muncul diwajahnya. Sayang, Anna tidak melihatnya.
" Aku merasa bersalah pada Nyonya Olivia karena hal ini. Padahal dia begitu baik padaku tapi justru kakakku yang menghancurkan pernikahannya. Dan Justin juga salah paham denganku. Padahal hubungan kami sudah membaik. Kami sudah semakin dekat. Tapi dengan adanya kejadian itu membuat dia berpikiran buruk tentangku. Dia pikir aku punya andil dalam perceraian kedua orangtua nya. Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semua ini padanya. " Anna menumpahkan bebannya pada Drew, dan tanpa dia sadari, ia juga membuka perasaannya pada Drew, tentang Justin, sosok pria yang disukai Drew.
[Tunggu, mengapa dia lebih menekankan ceritanya pada Justin? Apa Anna menyukainya? Kalau ya, aku tidak akan segan untuk berbuat buruk padanya! ]
" Tenanglah, Anna. Dia hanya salah paham. Cepat atau lambat dia pasti akan menyadarinya " ucap Drew, sok bijak.
" Tapi rasanya aku tidak tahan melihatnya "
" Maksudmu ? " [ Mengakulah, pengkhianat ]
Anna menyadari kesalahannya. Mana mungkin dia memberitahu Drew kalau dia menyukai Justin. Drew sangat menyukai Justin. Gadis itu bisa patah hati.
" Eh, maksudku,.. aku merasa dia semakin kejam padaku, dan aku merasa tidak tahan diperlakukan begitu " ralat Anna.
" O, begitu. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Hmm, aku pikir tadi kau tidak tahan diperlakukan dingin olehnya karena kau menyukainya " goda Drew. Anna salah tingkah. Dan Drew bisa menangkap bahasa tubuhnya.
[Sia***!! Jadi kau benar menyukainya ya? ]
" Jangan coba-coba menyukainya ya, kau kan tahu, dia itu calon suami masa depanku " kata Drew, kemudian tertawa kecil. Mau tak mau, Anna pun ikut tertawa agar Drew tidak curiga padanya.