
Anna mengoleskan selai kacang ke kedua sisi roti kemudian memberikan roti itu pada Josh yang langsung mengunyahnya dengan lahap.Hari ini Josh bangun lebih pagi. Ia ingin sarapan bersama Anna karena hari ini hari terakhir Anna menginap di rumahnya.
" pagi " sapa Justin sambil menguap. Rambutnya yang berantakan dan uapannya barusan itu menandakan kalau ia baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak. Justin menarik kursi di depan Anna dan mendudukinya. Beberapa kali ia menguap,
" kalau masih mengantuk,lebih baik kembali tidur " saran Anna.
" aku tidak mengantuk, hanya menguap beberapa kali " bantah Justin.
" itu tandanya kau mengantuk " kata Josh. Justin melihat kesal ke arah adiknya yang tampak makan dengan lahap. Anna tersenyum sinis pada Justin kemudian mengusap kepala Josh.
" anak pintar " pujinya.
Justin meneguk jus jeruk didepannya. Kemudian melihat ke sekeliling.
" Apa ibuku belum bangun?" tanyanya sembari mengambil setangkup roti tawar kemudian mengolesinya dengan selai kacang.
" Nyonya Olivia pergi pagi-pagi sekali,tampaknya tergesa-gesa "
" oya? pergi kemana?"
Anna mengangkat bahu, demikian pula dengan Josh.
" aku sudah selesai Anna "
" baiklah Josh,kau bisa bermain terlebih dahulu, nanti aku akan menyusulmu kalau sudah selesai sarapan "
" baik,Anna" dibantu Anna,Josh pun turun dari kursinya kemudian berlari kecil ke kamarnya.
" apa terjadi sesuatu,Justin?" tanya Anna ingin tahu.
"A-Appa?" tanya Justin tidak mengerti.
" Apa kau merasa ada sesuatu yang aneh?"
"seperti apa misalnya?"
" Nyonya Olivia bilang ia akan keluar kota selama tiga hari, tapi ternyata baru dua hari sudah pulang "
" hal seperti itu biasa terjadi "
" tapi aku beberapa kali melihat Ibumu duduk melamun, sepertinya ada sesuatu yang dipikirkannya "
" sesuatu apa ?"
" Mana aku tahu ? ayolah Justin, kau kan putranya, harusnya kau bisa langsung mengetahui ketidakberesannya "
" tidak. Aku tidak tahu dan aku rasa aku juga tidak ingin mengetahuinya " jawab Justin acuh tak acuh. Anna menatapnya kesal.
" kamu ini memang tidak punya perasaan " katanya kesal dan segera meninggalkan Justin. Justin menggelengkan kepalanya. Ia memang sengaja bersikap acuh tak acuh. Sebenarnya ia sendiripun merasakan ada sesuatu yang tidak beres setelah kepulangan ibunya dari luar kota. Bahkan beberapa kali ia memergoki ibunya tengah menangis. Ia juga berusaha mencari tahu permasalahan yang dihadapi ibunya . Tetapi ibunya selalu diam saat ia menanyakannya.
***
" maaf, beib, hari ini aku tidak bisa menjemputmu. ada urusan yang harus segera aku selesaikan "
Anna membaca pesan Roger berulang-ulang. Roger akhir-akhir ini memang selalu sibuk.
Anna menghela nafas. Ia sudah mempacking barang-barangnya ke dalam tas ranselnya. Tadi ia sudah berpamitan pada Nyonya Olivia. Sore ini dia akan pulang ke rumahnya.
Jam menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit, Anna melangkahkan kakinya keluar dari kamar tamu, kamarnya selama menginap di kediaman Wilderman.
" kau sudah mau pulang?" suara Justin mengagetkannya.
" ya. sudah jam empat,sudah waktunya aku pulang"
" tapi dia belum datang " kata Justin.
" mau aku antar?" tawar Justin.
" kalau kau tidak keberatan"
*******
Anna baru saja akan membuka pintu rumahnya,ketika tiba-tiba ia mendengar suara Drew yang memanggilnya. Anna membalikkan tubuhnya dan menyapa Drew ramah.
" Drew? hai, tumben sekali kamu datang kemari? ada perlu apa?"
" Aku hanya sedang lewat dan melihatmu pulang diantar Justin. Benar kan tadi yang mengantarmu Justin?"
"Hm, benar " Anna membenarkan pertanyaan Drew.
" jadi kalian sudah akrab? bagaimana bisa ? "
" Masuklah dulu, nanti akan aku ceritakan di dalam sambil minum teh" ajak Anna sambil membuka pintu.
*****
" selama ini ternyata dugaan kita salah Drew. Justin tidak sejahat yang kita bayangkan. Ia bahkan sangat baik " kata Anna sambil memberikan secangkir teh hangat pada sahabatnya,Drew.
Drew meneguk tehnya. Ia melirik Anna.
" apa kau mulai menyukainya? " tanyanya takut-takut.
"aku? tidak mungkin Drew. Aku tidak mungkin menyukai orang sepertinya. Lagipula aku kan sudah punya Roger. Aku sangat mencintainya "
" tapi kurasa matamu tadi berbinar saat kau berbicara tentang Justin "
" tidak, itu hanya perasaanmu saja "
" kau juga begitu bersemangat menceritakan betapa baiknya dia, meminjamimu baju, menemanimu di rumah sakit, dan kalian kan tinggal dirumah yang sama, yeah,walaupun hanya tiga hari,tapi aku rasa itu waktu yang cukup untuk menumbuhkan perasaan semacam itu "
" No. Aku perempuan setia,Drew. Bagiku hanya ada satu orang yang kucintai,hanya Roger "
" serius?"
" sangat serius "
" baguslah, kalau begitu,aku tidak perlu bersaing denganmu "
"Apa?" Anna kaget mendengarnya.
" eh, maksudku, ...aku senang kau setia "
" hm, bukan itu yang kudengar tadi. ayo jujurlah padaku Drew "
" jujur apanya?"
" kau menyukai Justin,bukan?"
Wajah Drew bersemu merah, Anna tertawa ringan.
" Astagaa.. Dreww.. kau benar-benar menyukainya"
" dengan seluruh jiwa dan ragaku " ucap Drew pelan. Anna semakin tertawa.
" hai,jangan menertawakan perasaanku " ucap Drew sebal. Ia merengut.
" oke..oke... "
" jadi,bisakah kau membantuku mendapatkannya,Anna?"