
Anna berjalan kaki sambil memijat tangan kirinya dengan tangan kanannya. Ia merasa pegal setelah seharian penuh melayani pembeli. Hari ini kedai makan Tuan Smith sangat ramai sekali. Walaupun membuatnya lelah, tapi hal ini membuatnya sangat senang karena kesibukan membuatnya melupakan masalahnya.
" Well, well, ternyata kau keluar sekolah untuk bekerja ya? setelah Tuan Wilderman meninggal, tidak ada yang membiayaimu lagi ya? " sebuah suara bernada ejekan terdengar di telinganya. Anna menengok ke arah suara itu. Ternyata suara itu berasal dari mulut Ashley Runner. Gadis itu tersenyum sinis padanya. Disampingnya ada si populer sekaligus kekasihnya, Justin Wilderman, yang melihatnya dengan pandangan yang sulit diartikan, entahlah, mungkin antara mengejek,dan juga kasihan pada Anna.
Masih terasa di dada Anna, sebuah debaran halus sekaligus perasaan nyeri saat melihat Justin yang digandeng Ashley dengan mesra. Tapi ia memaksakan diri untuk tetap tegar. Ia tidak ingin Justin menertawai perasaannya. Lagipula, bertemu dengan Justin membuatnya memiliki kesempatan untuk menanyakan perihal Max Wilson. Dengan senyum yang dipaksakan, Anna menghampiri mereka.
" Hey, Ashley, hei Justin, senang bertemu kalian disini " ia berusaha menyapa keduanya dengan sopan, meski terasa sesak di dadanya.
Ashley berdecih. Ia mencibir sapaan yang baru saja dilontarkan Anna.
" Sok dekat. Cari muka " ucapnya lirih, tapi tentu saja masih dapat didengar dengan jelas oleh Anna. Dan Anna memilih untuk mengabaikannya,
" Kebetulan sekali kita bertemu disini. Aku ingin menanyakan perihal Max Wilson padamu, Justin. Apa dia baik saja? " kata Anna sambil menatap Justin dengan serius. Justin terkesiap. Ia tidak menduga Anna akan menanyakan tentang Max padanya. Ia menjadi salah tingkah.
" Max ? Tentu saja dia baik " jawab Justin.
" Syukurlah. Aku benar-benar mengkhawatirkannya karena dia begitu sulit untuk dihubungi " ucap Anna penuh kelegaan. Justin mendelik. Dihubungi? Jadi, sejauh mana hubungan mereka berdua ?
" Kau belum mengerti juga ya? Max menghilang. Itu artinya dia mencampakkanmu. Kau pikir dia sudi berteman dengan gadis sepertimu? Ia tahu kau hanya memanfaatkannya saja. Dasar gadis bo***!! " Ashley menyambung pembicaraan tanpa diminta.
Anna tersenyum menatap mereka berdua meski sebenarnya hatinya ingin berteriak mendengar kata-kata Ashley.
" Aku rasa Max tidak seperti itu. Ia sangat tulus, tanpa kepura-puraan. Ia juga berani dan jujur "
Justin melirik Anna dengan sinis. Apa lagi ini? Anna memuji Max di depannya?
*****
Hufth. Anna menghempaskan tubuhnya di kursi rumah sakit. Selain karena lelah bekerja, ia merasa sangat kesal melihat kedekatan Justin dan Ashley.
" Kau terlihat kesal sekali. Kenapa? " tanya Marrissa .
" Aku hanya sedang lelah saja " bantah Anna.
Marrissa menjalankan kursi rodanya ke arah Anna.
" Kalau memang melelahkan, sebaiknya kau urungkan niatmu untuk mencari pekerjaan sampingan lagi. Aku takut kau tidak kuat menjalaninya " katanya dengan bijak.
Anna menggeleng.
" Ini hanya penyesuaian saja. Aku akan tetap mencari pekerjaan sampingan itu. "
" Sebaiknya kau menunggu sebentar, sampai surat wasiat dibacakan " kata Marrissa sambil menunjukkan sebuah amplop surat yang ada di pangkuannya. Ia lalu mengulurkan amplop itu pada Anna.
" Apa ini? " tanya Anna sambil meraih amplop dari tangan Marrissa.
" Penantian kita sudah berakhir, Anna. Besok pagi, surat wasiat akan dibacakan. Aku yakin Jonathan akan memberikan apa yang menjadi hakku " kata Marrissa dengan mata berbinar.