
Anna tengah termenung sambil membuka brosur harga gawai terbaru. Berbagai harga yang tertera di sana cukup mahal untuknya. Ah, seandainya gawai nya tidak rusak, ia tidak perlu pusing memikirkan harga -harga yang tertera di brosur ini.
Sementara itu, diseberang tempatnya duduk,tampak Justin yang dikelilingi teman-temannya. Tetapi pandangan pria itu tertuju pada Anna yang duduk sendirian sambil memegang kertas.
" kenapa,babe?" tanya Novela. Pandangannya mengikuti arah pandangan Justin. Ia mendengus kesal saat tahu Justin sedang menatap Anna.
" Coba tebak, kertas apa yang ada ditangannya?" goda Novela.
"entahlah, pastinya bukan surat dari ku" jawab Justin. Seketika Novela dan Claire tertawa riuh.
"tapi bisa saja surat cinta dari salah satu fansnya" kata Max,si pria dengan potongan rambut mohawk.
Novela dan Claire memandangnya heran
"yeikh..memangnya ada yang tergoda dengan gadis pelayan itu?" kata Novela jijik.
"tidak semua selera orang itu sama,Nona-Nona. Benarkan bro?" jawab Max sambil melemparkan pandangannya pada Justin. Justin tersenyum kecut,kemudian mengangguk.
"ihh..Justinnnn " Claire merengek manja.
"tapi aku rasa dilihat dari kacamata manapun, Anna tidak menarik,apalagi keluarganya,yeikh... mana mungkin ada pria yang mau mendekatinya" kata Novela dengan penuh keyakinan.
"kau ingat si pirang anak baru itu?" Max melempar tanya.
"maksudmu Roger?"
"iya..bukankah dia selalu mengikuti gadis itu. aku dengar ia bahkan rela pindah kelas untuk mengikutinya"
Perkataan Max membuat Justin kaget
"Apa? Dia bahkan sampai pindah kelas?"
Justin segera teringat percakapannya dengan Roger beberapa hari yang lalu.
"ya. siapa tahu yang dipegang Anna adalah surat dari Roger, dan mungkin sebentar lagi mereka akan berkencan" kata Max pada ketiganya,sepertinya dia mencoba memanasi mereka.
"no way.. Roger tidak akan mengiriminya surat untuk mengajak kencan" Novela menolak pernyataan Max.
"siapa tahu?"
"betul. atau bertemu dia langsung, itu jauh lebih baik daripada mengirim surat" tambah Claire
"kalian tahu? aku dengar gawainya rusak karena balon air tempo hari,dan Anna terlalu miskin untuk bisa membeli gawai baru " kata Max lagi. [Hmm,lelaki satu ini suka gosip juga ternyata,hehe]
Justin terkesiap,berarti Anna berbicara jujur waktu itu.
"lagipula mengirim surat itu romantis..setidaknya untuk gadis miskin seperti Anna " tambah Max yang disambut dengan tawa Novela dan Claire.
"tapi,daripada penasaran,bukankah lebih baik kalian kesana dan menyelidikinya?" katanya lagi yang ditujukan pada Claire dan Novela.
"kesanalah Novela" perintah Claire
"aku? kenapa aku?"
"bukannya kamu yang ngotot bilang kalau itu bukan surat" nada suara Claire meninggi,sudah pasti dia tidak menerima penolakan. Novela menatap teman-temannya bergantian.
"baiklah,aku akan kesana dan menanyainya. dan kalau kata-kataku benar, kalian mentraktirku tiga hari berturut-turut. bagaimana?"
" no big deal!" sahut Max. [ sepertinya Max ini adalah tipe orang yang gampang penasaran].
"sama" kata Claire.
" Justin?" ketiganya menatap Justin
"boleh" jawab Justin.
Novela tersenyum dan segera menuju ke arah Anna.
Novela tampak percaya diri mendekati Anna. Ia tampak berkacak pinggang sambil berbicara dengan Anna. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti Anna terlihat sedih.
Beberapa saat kemudian, Novela kembali ke teman-temannya dengan senyum kemenangan
"sudah kubilang,tak ada satu pria pun yang tertarik padanya"
"lalu? apa yang dia pegang?" Max ingin tahu
" brosur gawai. aku rasa dia ingin satu,tapi tidak punya cukup uang untuk itu " jawab Novela. Max dan Claire tertawa. Justin tersenyum. Entah kenapa,dia merasa lega dengan kata-kata Novela.