Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Max Wilson


Anna memasuki halaman sekolahnya dengan penuh keraguan. Beberapa pasang mata terus melihatnya sambil berbisik-bisik. Jelas saja hal itu membuat Anna semakin canggung.


Anna berdiri di depan gedung sekolahnya. Ia bimbang akan terus melangkah atau berlari pulang. Ia menundukkan kepalanya. Bayangan ibunya yang tengah terbaring di rumah sakit terlintas di benaknya. Apakah ibunya akan baik-baik saja?


" Dia kembali? kupikir dia sudah keluar dari sekolah ini "


" Aku dengar Ibunya mabuk dan tertabrak mobil "


" Mabuk?? "


" Apa kau tidak tahu? Ibunya bekerja di bar. Mabuk bukanlah hal yang aneh bukan? "


" Ibunya pemabuk. Ayahnya perampok. Kurasa dia juga diam-diam melakukan sesuatu yang buruk "


" Memangnya dia punya keberanian untuk melakukan hal seperti itu ?"


" Tidak ada seorangpun yang tahu, bukan?"


Disela kebimbangannya, ada saja suara sumbang yang menggunjingkannya. Telinga Anna bisa mendengarnya dengan jelas. Butiran airmata mulai terbentuk di matanya. Ia berusaha keras agar butiran itu tidak terjatuh.


" Buah tidak akan jauh dari pohonnya bukan? Kalian jangan tertipu penampilannya. Kelihatannya saja dia gadis baik-baik.Bahkan kakaknya yang terlihat baikpun ternyata hanya seorang penghancur rumah tangga orang "


Suara seorang pria membuat Anna terhenyak. Ia lalu mengangkat kepalanya. Dan dilihatnya Justin Wilderman yang melihatnya dengan tatapan sinis. Disampingnya ada Ashley, yang bergelayut manja di pundak pria itu. Mereka berdua dan juga siswa lain melihatnya dengan tatapan mencemooh, merendahkan.


Anna menggigit bibirnya. Sebegitu rendahkah dirinya di hadapan mereka? Tubuh Anna terasa gemetar. Kebimbangannya sepertinya menemui sebuah titik. Ya, rasanya ia tidak sanggup untuk berada di antara siswa "mulia" seperti mereka.


Anna membalikkan badan. Ia memutuskan untuk pulang. Satu kakinya sudah melangkah ke depan, ketika tiba-tiba ada seorang pria dengan jaket hoodie dan kacamata hitam yang meraih tangannya, menggenggam tangannya erat hingga tubuhnya berbalik mengikuti langkah pria itu. Pria itu dengan berani membawanya kembali, memasuki gedung sekolah, diiringi tatapan heran dari siswa lain di tempat itu. Dan ketika mereka berada di depan Justin dan Ashley, pria itu berhenti. Dengan tangan satunya ia menyibakkan hoddie yang menutupi kepalanya. Kemudian melepas kacamata hitamnya.


" Maxxx?? "


" Hai, Just. Aku akan mengantar Anna ke kelasnya. Ia sudah terlalu lama absen. Aku takut ia melupakan arah ke kelasnya " sapanya dengan sopan. Ia lalu menarik Anna untuk segera berlalu dari hadapan mereka, tanpa mempedulikan tatapan keheranan Justin.


" Nah, ini tempat dudukmu "


Max bahkan mengantar Anna sampai di bangkunya. Dengan tatapannya ia mengisyaratkan Anna untuk duduk di kursi kelasnya. Anna pun duduk. Ia masih menatap Max seakan tidak percaya dengan orang yang ada dihadapannya.


" Kalau kau melihatku seperti itu terus, aku bisa berpikir kau menyukaiku" kata Max datar. Anna tertawa kecil.


" Kau... terlihat berbeda "


" Benar kan? Kau mulai menyukaiku. Karena itulah aku tidak suka berpakaian rapi. Penampilan seperti ini membuat aura ketampananku terlihat jelas. Aku tidak terlalu suka digilai para gadis. Mereka seperti semut saja "


" Tapi aku memang menyukaimu " Anna menggodanya. Max berdecak kesal. Ia yakin saat ini Anna sedang memperoloknya.


" Kau terlihat tampan. Aku bahkan tidak mengenalimu tadi "


" Ah, sudahlah. Kalau aku disini terus, hari ini juga kau akan menyatakan cintamu padaku. Lebih baik aku kembali ke kelas " Max pura-pura kesal. Ia lalu berbalik, hendak meninggalkan Anna.


" Tunggu "


Anna memegang tangan Max. Max berhenti, dan berbalik menghadap Anna. Anna berdiri dari kursinya. Ia lalu membungkukkan badannya.


" Gumawo, Max "


" Aku tidak ingat pernah mengajarimu bahasa Korea "


" Apa kau lupa, hampir sebulan aku dirumah sakit. Televisi di kantin selalu memutar drama korea " balas Anna. Max tersenyum. Ia lalu meninggalkan Anna.