
Anna membolak balikkan halaman buku di depannya. Ia berusaha mencerna setiap kalimatnya, tetapi hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak bisa berfikir. Sulit berkonsenstrasi. Pada akhirnya, ia menutup bukunya dan merebahkan kepalanya diatas tumpukan buku itu. Ia mencoba memejamkan matanya, tetapi yang terjadi adalah bayangan Jason yang menari-nari dipikirannya.
Si**!Anna mengumpat. Ia lalu menegakkan tubuhnya. Menarik nafas dalam dan mulai mencoba berkonsenstrasi lagi.
" Kau ada masalah, Anna ? " tanya Hailey, pegawai baru di butik. Anna menggeleng dan mencoba mengalihkan perhatiannya pada komputer di depannya.
" Oh, syukurlah. Kukira kau ada masalah serius mengingat tingkahmu yang tidak begitu baik saat ini. Kau tanpaknya kesulitan berkonsenstrasi " tebak Hailey tanpa mengalihkan pandangannya dari komputernya.
" Tidak. Aku baik saja. " ucap Anna tenang seraya berpura-pura menggerakkan kursornya.
" Sudah seharusnya. Kita akan kedatangan tamu penting minggu ini. Kau harus bersikap professional, apapun masalahmu. " kata Hailey seolah menggurui. Anna tidak menjawab. Tapi bibirnya mencibir Hailey dengan sengit. Untunglah pemandangan itu tidak dilihat oleh Hailey. Kalau ya, sudah pasti Anna akan mendapatkan masalah baru lagi.
Anna menggerutu dalam hati. Sejak kedatangan Hailey, hari-harinya di butik berubah menjadi kelam. Hailey yang pintar. Hailey yang cerdas dan seksi telah merebut semua perhatian pegawai di butik ini. Bahkan pemilik butikpun terpesona dengan tingkah laku dan kepribadiannya. Dalam waktu satu bulan, Hailey telah mampu menjadi ratu di butik ini.
Kalau dipikir, sebenarnya memang Hailey pantas mendapatkannya. Ia seseorang yang tekun, teliti dan sangat berdedikasi. Banyak pelanggan butik yang menyukai setiap rancangannya. Bahkan beberapa waktu lalu, butik ini berhasil mendapatkan kontrak besar karena kelihaiannya.
Tapi, dibalik itu, Hailey adalah seorang wanita penggoda. Anna tidak menyukai caranya berbicara dan memperlakukan klien, terlebih klien pria. Cara bicaranya yang mendayu-dayu membuat Anna muak. Anna masih ingat bagaimana Hailey merayu Tuan Feeders saat pria tua itu datang ke butik tempo hari. Pria itu terlihat menelan ludahnya berkali kali saat mereka membicarakan kontrak untuk seragam karyawan.
Bagian terburuknya, Hailey bahkan sengaja menggoda Jason saat pria itu menjemput Anna. Ia bahkan menggodanya di depan Anna. Ingin rasanya Anna memperingatkan Hailey saat itu juga, tetapi ia harus menahan diri, karena ia harus menjaga harga dirinya di depan Jason.
" [ Aku mungkin agak telat menjemputmu nanti, ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan hari ini ] "
Anna hampir melemparkan gawainya karena sebal. Pesan dari Jason berhasil memperburuk moodnya.
" [ Silakan saja. Aku bisa pulang sendiri. ]" Anna mengetikkan kalimat jawabannya dengan sengit. Setelahnya ia mematikan gawainya. Tidak peduli apakah pesannya terkirim atau tidak.
****
Anna baru saja keluar dari butik tempatnya bekerja tatkala ia melihat mobil suaminya terparkir rapi di depan tempat kerjanya.
Anna mengedarakan pandangannya. Dan benar dugaannya, Jason tengah berbicara dengan Hailey. Mereka berdua tampak asyik sekali. Perasaan Anna tiba-tiba saja menjadi tidak menentu. Ia kesal dan marah melihat suaminya yang secara terang-terangan telah membohonginya
" Rapat penting ya ? Hufth. Jelas saja !! " katanya kesal. Anna melangkahkan kakinya ke jalan raya, mencoba mencari taksi.
Tak berapa lama, sebuah taksi menghampirinya. Anna menarik ganggang pintu untuk membukanya. Tapi tiba-tiba sebuah tangan mencegahnya. Sontak pandangan Anna langsung tertuju pada pemilik tangan. Jason. Pria itu tersenyum pada Anna, seakan tidak memiliki kesalahan apapun.
" Apa yang kau lakukan? Aku mau pulang. " kata Anna kesal.
" Aku datang menjemputmu. Anda bisa pergi, Pak " perintah Jason pada sopir taksi itu.
****
" Kau tampak kesal. Kenapa ? Ada yang mengganggumu ? "
Anna tidak menjawab, dia justru mengalihkan pandangannya ke samping.
" Kau tidak menjawab. Sepertinya masalahnya ada padaku. " canda Jason.
" Come on. Bicaralah. Apa yang membuatmu kesal. Apa yang telah aku lakukan ? "
" Astaga. Kau ini memang benar-benar ibunya Joanna. Kalian berdua sangat mirip. Apalagi disaat merajuk seperti ini. Bagai pinang dibelah dua, hahaha. "
" Jangan menertawaiku. Memang kami mirip karena dia anakku! " kata Anna ketus.
" Apakah aku juga harus membelikanmu es krim dahulu agar mau bercerita ? "
" Kau tidak perlu memperolokku seperti itu. "
" Kalau begitu, tanpa es krim pun kau bisa berbicara jujur padaku "
" Jujur ? Mudah sekali kau mengatakannya, padahal kau sama sekali tidak bisa melakukannya. "
" Aku ? Aku selalu jujur. Kapan aku berbohong padamu ? "
" Kau bahkan tidak ingat kapan kau melakukan kebohongan. "
" Serius. Di bagian mana aku berbicara bohong padamu ? "
" Kau benar-benar tidak mengingatnya ? Hari ini kau bilang akan telat menjemputku karena ada rapat yang tidak bisa ditinggalkan. Dan ternyata? Kau bahkan sudah ada disini sebelum jam pulangku. Dan rapatmu ? Yang katamu tidak bisa ditinggalkan itu, ternyata justru kau pindahkan lokasinya di tempat kerjaku !!! " jawab Anna berapi-api.
Jason sampai menganga mendengar penjelasan istrinya. Tak berapa lama, ia justru tertawa terbahak-bahak. Anna menjadi kebingungan.
" Hei apa yang kau tertawakan ? "
Jason tidak bisa berhenti tertawa. Ia bahkan harus menepikan mobilnya.
" Kau ini sangat lucu " kata Jason begitu akhirnya ia bisa menghentikan tawanya.
" Kau marah padaku hanya karena hal sekecil itu ? Baiklah, aku jelaskan. Hari ini aku benar-benar memiliki rapat yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi aku juga memiliki istri yang sama sekali tidak bisa aku kesampingkan. Dan sebagai suami yang baik, tentu saja aku memilih istriku. Sebenarnya akan jauh lebih baik, jika istriku mau menemaniku menghadiri rapat. " sindir Jason. Anna mencibir.
" Atau mungkin saranmu tadi seharusnya kupertimbangkan. Entah kenapa tidak terpikir olehku untuk memindahkan rapatku di sekitar tempat kerjamu. " kata Jason sambil melirik Anna, menggoda.
" Boleh saja, aku kira Hailey akan sangat senang membantumu " ucap Anna ketus.
Jason memandang Anna. Ia lalu tersenyum simpul. Sebagai lelaki, ia tahu, wanitanya ini sedang dilanda cemburu dan dia merasa bahagia sekali dengan dugaannya itu.
" Tapi aku akan lebih bahagia kalau istriku yang membantuku, bukan orang lain " katanya lembut.
" Serius. Bekerja dengan orang yang istimewa akan sangat menyenangkan. Terlebih jika ada perasaan di dalamnya. " tambah Jason. Anna memalingkan wajahnya. Ia mulai salah tingkah.
" Anna, apa kau mencintaiku ? " tanya Jason.
" Apa yang kau katakan ? Kenapa kau bertanya seperti itu ? " Anna pura-pura tidak mengerti. Padahal wajahnya terasa panas. Hatinya berdegup kencang. Ada perasaan bahagia dihatinya saat Jason menanyakan hal itu. Apakah ini cinta?
" Karena aku mencintaimu. " jawab Jason singkat. Tanpa menunggu jawaban Anna, Jason sudah mendekatkan tubuhnya pada istrinya itu dan mencium bibirnya.