Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Negosiasi


" Apa kau yakin Anna mencintaimu? " tanya Marrissa pada sosok tampan yang duduk didepannya. Lelaki itu tersenyum.


" Sure. Dia bahkan menamai bayi kami ' Joanna' gabungan dari nama Jason dan Anna. Lagipula, kami sudah berbulan-bulan tinggal bersama, tentu saja hal semacam itu sangat mungkin terjadi. Dia perlahan-lahan mencintaiku " jawabnya dengan penuh percaya diri. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya.


" Apa kau juga mencintainya ? " Marrissa menanyainya sambil menatap mata Jason lekat, berharap tidak ada kebohongan. Jason tampak canggung. Ia melihat ke arah yang lain.


Bagaimana mungkin kau menanyakan hal itu padaku, Marrissa ? Aku hanya mencintaimu. Sejak lama.


" Kalau kau tidak mencintainya. Lalu, kenapa kau bersikeras untuk mempertahankan pernikahanmu dengannya? " tanya Marrissa, mata indahnya masih menatap tajam pada Jason.


" Jangan bilang kalau kau hanya mengasihaninya atau malah ingin mempermainkannya. Kalau itu yang terjadi, aku tidak segan untuk membalasmu " ancam Marrissa. Ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Ia tidak akan bisa menerima kalau adik semata wayangnya tersakiti sekali lagi.


" Joanna membuatku berubah pikiran. Bagaimanapun, dia anakku. Aku tidak bisa membiarkannya jauh dariku. Aku tidak ingin dia mengalami nasib yang sama sepertiku. Dia putriku. Dia harus berkecukupan. Dan yang pasti dia harus dikelilingi orang-orang yang mencintai dia, dibesarkan dengan limpahan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Sesuatu yang tidak aku dapatkan dari kedua orangtua ku " jawab Jason dengan menatap Marrissa seakan meyakinkan wanita itu kalau ucapannya benar-benar dari lubuk hatinya yang terdalam.


Marrissa mengangguk. Ucapan Jason ada benarnya juga.


" Mengenai Anna, aku akan belajar untuk mencintainya " ucap Jason pelan.


" Bagaimana jika akhirnya, kau tidak bisa mencintainya ? " tantang Marrissa.


Jason menghela nafas dalam.


" Maka aku akan melepaskan dia untuk orang yang dia cintai, dan juga mencintainya sepenuh hati. Tapi sebelum itu, aku mohon beri kesempatan padaku untuk belajar mencintainya "


Jason sepertinya memohon dengan tulus. Mungkin lebih baik, aku memberikannya kesempatan itu. Toh, dengan begitu, kehidupan Anna dan bayinya akan terjamin.


Marrissa melipat kedua tangannya. Jawaban Jason membuatnya berpikir untuk mempercayainya. Tapi disisi lain, ia juga harus memikirkan nasib adiknya. Bagaimana jika Jason tidak bisa mencintainya ? Apa Anna harus menghabiskan seluruh hidupnya untuk menunggu cintanya pada Jason terbalaskan? Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi. Anna adalah adik semata wayangnya. Ia tidak akan tega melihatnya terpuruk. Kebahagiaan Anna sangat penting.


" Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk bisa mencintai Anna? "


" Astaga, Marrissa. Ini soal perasaan. Bagaimana bisa aku menentukan kapan aku akan jatuh cinta padanya? " Jason tampak frustasi.


" Aku tahu. Seperti yang kau bilang tadi, ini tentang perasaan. Tapi ini juga bukan hanya tentang perasaanmu, tapi juga perasaan Anna, adikku. Aku tidak bisa membiarkan dia menunggu seumur hidupnya untuk itu. Dia juga berhak bahagia dengan laki-laki yang mencintainya " suara Marrissa terdengar begitu emosi.


Mereka berdua terdiam beberapa saat, sampai akhirnya,


" Beri aku waktu lima atau enam tahun. Kalau dalam waktu itu, aku tetap tidak bisa mencintainya, aku akan menceraikannya "


Marrissa menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan.


" Baiklah "


" Kalau kau setuju, berarti perjanjian kita tetap berlanjut bukan ? Itu artinya, kau juga tidak boleh menikahi lelaki manapun sampai perjanjian kita selesai "


" Aku rasa kau masih ingat poin-poin dalam perjanjian kita Marrissa " kata Jason mengingatkan.


*****


Marrissa terdiam di depan laptopnya yang terbuka. Ia mengingat percakapannya dengan Jason beberapa saat lalu. Jason mengingatkannya tentang isi lain dari perjanjian yang telah mereka buat. Sejujurnya, Marrissa sudah tidak mempedulikan rumah warisan itu, tetapi ada satu sisi dalam hatinya yang merasa bahwa ia ingin mengakhiri perjanjian itu. Demi seseorang yang mengusik hatinya.


Morgan. Marrissa memanggil nama itu dalam hatinya. Lelaki yang sangat baik. Begitu menyayanginya dan keluarganya. Awalnya ia tidak mempedulikan kehadiran lelaki itu. Tapi perhatian dan kasih sayang Morgan membuatnya merasakan debaran lain di dada. Sesuatu yang dulu pernah ia rasakan pada mendiang Jonathan. Dan entah sejak kapan, ia mulai memikirkan lelaki itu. Memasak makanan untuknya, menunggunya pulang. Semuanya menjadi kegiatan yang sangat ia nantikan. Ia ingin segera mengungkapkan perasaannya pada Morgan, karena ia tahu dengan pasti bahwa lelaki itu menyimpan rasa yang sama terhadapnya.


Tetapi dengan adanya perjanjian itu, sudah pasti ia harus menahan keinginannya.


Aku sudah pernah berbahagia diatas penderitaan Anna dan juga ibuku. Jadi apa salahnya kalau sekarang, aku harus menahan keinginanku demi kebahagiaan Anna?


" Sedang memikirkan apa ? " Morgan menepuk bahunya lembut, tapi tetap saja membuat wanita cantik itu kaget.


" Eh, tidak, aku hanya sedang terhanyut dengan tulisanku " jawab Marrissa.


" Oya ? Memangnya apa yang kau tulis ? " Morgan menarik kursi disebelahnya dan mendudukinya.


" Aku berpikir untuk membuat sebuah novel cinta. Tapi kelihatannya begitu sulit. Aku belum bisa menggambarkan tokoh utamanya dengan baik " Marrissa menatap laptopnya.


" Bagaimana kakimu? "


" Luarbiasa. Aku benar-benar bersyukur untuk keajaiban ini. Aku tidak sabar untuk berlari " kata Marrissa dengan semangat.


" Hei, tunggu dulu. Bersabarlah. Kau harus benar-benar pulih dulu. Lagipula, aku belum membeli sepatu lari. Aku tidak akan membiarkanmu berlari sendirian. Jadi kau harus menungguku membelinya dulu " Morgan pura-pura merajuk. Marrissa mengulum senyum. Bahkan perhatian kecil Morgan seperti ini saja sudah membuat hatinya berbunga.


" Bagaimana keadaan ibu ? "


" Masih seperti biasa. Aku berharap keajaiban juga menghampirinya "


" Bersabarlah "


Marrissa mengangguk. Ia mulai menyalakan laptopnya.


" Kita tidak berkunjung ke rumah sakit? " tanya Morgan heran. Biasanya setelah ia pulang kerja, Marrissa akan menunggunya untuk bersiap-siap mengunjungi Anna. Tapi saat ini Marrissa justru menyalakan laptopnya.


" Jason akan membawanya pulang malam ini "


" Jason? Kau yakin? "


" Sure. Dia suaminya. Sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga anak dan istrinya "


" Tapi... Apa kau benar-benar yakin ia akan merawatnya dengan baik? Jason ? Dia bahkan tidak mau datang saat Anna melahirkan "


" Ayolah, Morr. Aku rasa kita harus memberikannya kesempatan "


" Kesempatan ? Marrissa, ada apa ini? Bukankah pernikahan mereka akan segera berakhir ? "


" Jason tidak ingin mengakhiri pernikahannya "


" Apa?!? Apa yang membuat ba****** itu berubah pikiran "


" Joanna "


" Joanna? "


" Bayi mungil itu bisa merubah pikiran Ayahnya dalam sekejap. Ia tidak ingin jauh dari putrinya. Ia ingin putrinya tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta serta berkecukupan. Terlebih lagi, Jason mengetahui kalau Anna diam-diam mencintainya "


" Apa?? Anna mencintai Jason? " Morgan terlihat sangat terkejut. Marrissa mengangguk.


" Karena itu ia menamai bayi mereka Joanna. Gabungan dari nama Jason dan Anna "


Morgan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tapi tiba-tiba saja ia tersadar


" Tunggu, darimana kau mengetahui hal ini? Jangan bilang kalau bed**** itu datang kemari menemuimu " kata Morgan panik. Ia memang tidak menyukai Jason. Bed**** itu selalu meremehkannya. Apalagi caranya memandang Marrissa yang notabene adalah ibu tirinya. Morgan selalu merasa kalau Jason menyukai Marrissa.


" Tadi siang dia datang kemari " kata Marrissa tenang.


" Apa saja yang kalian bicarakan ? " selidik Morgan.


" Tidak banyak. Ia hanya mengatakan kalau ia tidak ingin mengakhiri pernikahannya dan ia akan belajar mencintai Anna " jawab Marrissa. Tidak mungkin kan ia mengatakan pada Morgan perihal perjanjian mereka?


" Hanya itu saja ? "


Marrissa mengangguk.


" Kupikir itu yang terbaik. Aku lega akhirnya adikku bisa bahagia "


Meski itu artinya hubungan kita akan menggantung.