Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Warisan


Anna tertunduk lemas di kursi Rumah Sakit yang dingin. Masih terngiang perkataan petugas administrasi rumah sakit di telinganya.


" Total sementara biaya rumah sakit Nyonya Kattie dan Nyonya Marrissa adalah.. " petugas itu menyebutkan angka yang jumlahnya fantastis. Anna gemetar mendengarnya. Seratus juta lebih. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Anna berpikir keras. Kemarin ia tidak terlalu mempermasalahkan biaya Rumah Sakit, karena saat itu, Marrissa dan juga Tuan Wilderman masih ada dan sanggup untuk membantu masalah keuangannya. Tapi tiba-tiba saja, kecelakaan itu terjadi sebelum Tuan Wilderman bisa membantunya. Anna mendesah. Uang pemberian Morgan kurang dari seperempat jumlah yang dibutuhkan. Sedangkan tabungannya sendiri berkisar di bawah sepuluh juta. Kalau jumlah keduanya ditotal, mungkin ada seperempatnya. Lalu bagaimana ia mendapatkan sisa tagihannya ? Siapa yang bisa membantunya?


****


" Bagaimana? Bisakah aku pulang? aku bosan di rumah sakit terus " Marrissa menanyainya begitu Anna memasuki ruang rawat inapnya. Anna menghampirinya dengan wajah lesu.


" Kenapa? "


" Maafkan aku, Marrissa. Sepertinya kita dalam masalah " Anna mengaku.


" Biaya rumah sakit? " tebak Marrissa. Anna mengangguk.


" Sudah kuduga. Anna, pergilah kerumahku. Aku menyimpan beberapa perhiasan disana. Kalau dijual, aku rasa akan cukup untuk biaya perawatanku sekaligus Ibu "


Anna tersenyum lega. Akhirnya, masalah ini terpecahkan juga.


****


" Permisi, saya adik Nyonya Marrissa Wilderman. Kakak saya meminta saya untuk mengambil beberapa perhiasan di kamarnya " ucap Anna pada seorang wanita yang membukakan pintu rumah Marrissa. Wanita setengah baya itu melihat Anna dengan tatapan curiga.


" Kakak saya mengalami kecelakaan bersama suaminya.. " Anna mencoba menjelaskan.


" Ya, aku mengetahuinya. Dan karena itu kami kehilangan Tuan kami " kata si wanita sambil tetap melihat Anna dengan curiga.


" Ini, saya rasa Anda perlu berbicara dengan kakak saya.. " Anna mengambil gawai dari tas nya.


" Maaf Nona, bukan maksud saya untuk tidak mempercayai Anda. Hanya saja.. " wanita itu tidak melanjutnya kalimatnya. Ia terlihat ragu. Anna melihat wanita itu, menunggunya untuk melanjutkan kalimatnya.


" Tadi pagi Tuan Jason datang. Beliau meminta kami untuk mengamankan rumah ini. Dalam artian, tidak memperbolehkan siapapun masuk rumah ini sebelum pembacaan warisan " Wanita itu menjelaskan. Anna tertegun.


" Tapi.. tapi aku hanya mengambil barang milik kakakku saja "


" Maafkan saya Nona "


" Atau mungkin Anda bersedia mengambilkannya untukku dan aku akan menunggu di sini "


Wanita itu menggeleng.


" Maafkan saya Nona, saya benar-benar tidak bisa "


*****


" Bagaimana Anna? Berapa kau bisa menjualnya? "


Anna menggeleng.


" Apa maksudnya? " tanya Marrissa bingung.


" Asisten rumah tanggamu melarangku masuk ke rumahmu ..."


" Oh, maksudmu Martha? Berikan gawaimu, aku akan menghubunginya. Beraninya dia melarangmu masuk "


" Aku rasa percuma " kata Anna pendek.


" Percuma bagaimana? Bagaimanapun aku masih Nyonya-nya " suara Marrissa meninggi.


" Seingatku tadi, Wanita itu bilang Tuan Jason menyuruhnya mengamankan rumah itu. Mungkin dia salah sebut. Harusnya Justin, bukan Jason. "


" Jason? " tanya Marrissa sambil menatap Anna.


Anna mengangguk.


" Tidak Anna. Martha tidak salah sebut. Itu memang Jason, putra pertama Jonathan "


" A- Apa? " kata Anna tidak percaya.


" Sebelum bertemu Jonathan, aku terlebih dulu mengenal Jason. Dia adalah pelanggan restoran tempatku bekerja. Mungkin karena usia kami hampir sama, kami menjadi cepat akrab. Dia kemudian menawariku bekerja di perusahaan Ayahnya. Dan disanalah aku bertemu dengan Jonathan " Marrissa menjelaskan tanpa diminta.


" Jadi, apakah dia jahat? "


" Kenapa kau bertanya seperti itu? Jason orang yang baik, dia ramah dan baik hati "


" Lalu kenapa ia melarangku masuk ke rumahmu? padahal itukan milikmu "


" Kau salah Anna. Rumah itu atas nama Jonathan. Aku bisa mengerti sikap Jason. Ia mungkin mengkhawatirkan perebutan warisan. Jason orang yang bertanggungjawab. Ia pasti hanya mengamankan peninggalan Ayahnya"


" Kupikir orang sekaya mereka tidak perlu meributkan warisan " gumam Anna.


" Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang, Anna? Aku tidak bisa mengambil barang-barangku dirumah. Gawaiku juga hancur. Aku tidak bisa menghubungi Jason atau siapapun untuk membicarakan hal ini. Aku seperti sedang berkelana sendirian di hutan tanpa kompas,makanan, atau sekedar tongkat untuk menopang tùbuhku " keluh Marrissa.


" Sejak kapan kau menjadi puitis begitu ?" tanya Anna sambil tertawa. Marrissa pura-pura cemberut karena ditertawai.


" Aku sebenarnya juga bingung, Marrissa. Uang ku dan uang pemberian Morgan hanya ada seperempat dari jumlah tagihan. Kita juga tidak mempunyai jaminan apapun. Salahkah kalau aku berpikir untuk meminjam uang pada Nyonya Olivia? " tanya Anna dengan hati-hati.


" Apa? meminjam uang pada wanita itu? apa kau gila, Anna? mau ditaruh dimana mukaku? aku istri Jonathan sekarang, sedangkan dia hanya mantan istri "


Anna tertunduk lesu.


" Aku tidak punya kenalan yang bisa meminjami aku uang sebanyak itu selain Nyonya Olivia "


" Bagaimana dengan calon adik iparku ? " tanya Marrissa dengan mata melirik nakal pada Anna.


" Adik ipar? siapa ? " tanya Anna tidak mengerti.


" Tentu saja Max Wilson. Bukankah keluarganya terhitung kaya? "


" Max tiba-tiba saja menghilang. Aku tidak bisa menghubunginya "


" Menghilang? Kenapa? " tanya Marrissa. Sepasang alisnya terangkat saking terkejutnya.


" Apa kalian ada masalah ? "


" Seseorang memotret kita, Max dan juga Tuan Jonathan di Rumah Sakit. Mempublikasikannya di dinding sekolah disertai tulisan yang memojokkan. Sejak itu aku tidak bisa menghubunginya "


" Astaga, jahat sekali orang itu "


" Mereka memang begitu. Anak orang kaya yang tidak punya hati "


" Apa kau tidak tahu siapa pelakunya? "


" Aku tidak tahu. Dan juga tidak peduli "


" Kalau hanya menyangkut dirimu saja, kau boleh tidak peduli. Tapi ini tentang Max. Tentang perasaannya "


" Sebenarnya aku juga merasa tidak enak pada Max. Aku ingin menjelaskan padanya, tapi dia sudah menghilang. Ya sudahlah, aku akan menjelaskannya nanti saat aku bertemu dengannya. Sekarang, yang harus kita pikirkan adalah uang pinjaman " Anna memutuskan.


" Baiklah. Tapi kau harus janji, kau harus menjelaskan padanya "


" Pasti. Sekarang bagaimana usulku tadi? Bisakah kita meminjam uang pada Nyonya Olivia? "


" Tidak. Tidak. Aku tidak mau menggunakan sepeserpun uangnya. Please, Anna, jangan buat aku menjadi orang yang tidak tahu diri "


" Baiklah, jika itu maumu. Lalu apa yang harus kita lakukan? "


" Menunggu " jawab Marrissa dengan pasti.


" Menunggu ? "


" Ya. Kita harus menunggu sampai surat wasiat Jonathan dibacakan. Aku yakin dia tidak melupakan aku " jawab Marrissa sambil tersenyum simpul.