Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Kemalangan beruntun


Anna melirik jam weker di meja kamarnya. Sudah jam 2 pagi. Tidak seperti biasanya, ia tidak bisa memejamkan matanya hari ini. Satu buah buku bahkan sudah selesai ia baca. Tetapi rasa kantuk belum juga menghampirinya. Anna bangun dari tempat tidurnya. Ia lalu keluar kamar menuju dapur, hendak membuat segelas susu hangat. Mungkin dengan bantuan segelas susu hangat, matanya bisa terpejam,walau mungkin hanya beberapa jam, mengingat ia harus pergi sekolah. Tapi itu lebih baik daripada ia harus sekolah dengan mata tertutup sepanjang hari (ketiduran).


Sebelum ke dapur, Anna melewati kamar Adam, membuka pintunya. Kakaknya itu tidak ada disana. Sudah beberapa hari ini Adam bekerja di sebuah bengkel. Ia bekerja dari pagi sampai sore hari. Itu memang permintaan Anna, agar kakaknya itu selalu ada disampingnya. Anna berharap kakaknya itu ada di rumah saat ia pulang sekolah. Mereka bisa bercanda ceria lagi. Dan yang terpenting, Anna ingin Ibunya luluh akan usaha Adam memperbaiki diri. Tetapi yang terjadi sekarang, Adam sering sekali pulang larut malam. Bahkan hari ini saja ia belum pulang. Pasti ia keluyuran, pikir Anna.


*****


Di suatu tempat..


Kattie membetulkan letak mantelnya. Udara sedikit dingin malam ini. Ia masih berdiri menunggu taksi, tidak jauh dari bar tempatnya bekerja. Suasana begitu sepi.


" Hei sayang, mau kemana?"


Tiga orang pria mendekatinya. Seseorang bahkan bersiul padanya. Meskipun ia mengenakan mantel, tetapi pakaian yang dikenakan Kattie hari ini memang sedikit terbuka, wajar saja kalau pria-pria mengganggunya. Di bar tadi ia juga diganggu beberapa orang, tapi untungnya disana ada Felix,penjaga bar yang melindunginya dari pria-pria itu. Tapi sekarang dia disini sendirian. Tak urung Kattie merasa takut juga.


" Menunggu taksi? Bagaimana jika kami antar?"


" Tidak perlu membayar dengan uang, hanya sedikit balas budi saja "


" Saling menguntungkan, bukan?"


Kata-kata itu terdengar menjijikkan di telinga Kattie. Kattie beringsut mundur. Bukankah lebih baik ke bar dan meminta pertolongan Felix? Begitu pikirnya.


" Mau kemana, sayang ?" salah satu pria menghalanginya. Seketika ingatan Kattie memutar. Bukankah mereka ini gerombolan pria yang beberapa hari ini mengganggunya di bar?


" K-Kalian?"


" Iya, ini kami, Sayang. Pengagum rahasia. " jawab yang lain sambil tersenyum smirk.


" Akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga. Kami sudah lama menantikan kesempatan seperti ini. "


" Pada akhirnya kau tetap akan bersenang-senang bersama kami "


Kattie bergidik ngeri. Ia mencoba lari menghindar, tetapi salah satu dari mereka menangkapnya. Ia menjadi bulan-bulanan ketiga pria itu. Salah satu pria melemparnya ke pria yang satunya, sampai..


" Hentikan!!! " sebuah suara membuat aksi lempar-lemparan itu berhenti. Salah seorang pria memegang erat Kattie.


" Lepaskan dia!! Atau aku akan panggil polisi "


" Adam!!! " Kattie berteriak memanggil Adam. Ia sangat ketakutan sekarang.


" Mau jadi jagoan, bocah ?" seorang pria menyeringai. Ia mulai menyiapkan kuda-kudanya. Adam menghampiri ketiga pria itu. Seorang diantara mereka langsung menyerangnya. Adam bisa menangkis serangan itu. Seorang lagi ikut menyerangnya. Jadilah Adam dikeroyok dua pria, sementara pria yang lain masih memegangi Kattie sebagai tawanannya.


Adam tampaknya cukup kewalahan menghadapi lawannya yang tidak seimbang. Ia menerima berbagai macam pukulan hingga membuatnya jatuh tersungkur. Tetapi ia selalu berupaya untuk bangkit kembali. Kattie menangis dibuatnya.


" Jadi ini ibumu? kau masih terlihat muda dan cantik,sayang "


Dua pria itu terus memukuli Adam. Saat kemudian Adam berhasil memukul seorang diantara mereka hingga jatuh tersungkur


" Aku tidak main-main lagi denganmu,bocah! " kata pria satunya dengan marah. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya. Lalu mulai menyerang Adam. Adam berusaha mengelak. Ia memukul balik orang itu hingga jatuh dan pisau itu terlempar dari tangannya. Perkelahian terjadi lagi. Tiba-tiba, pria yang tadi terjatuh bangkit dan mengambil pisau yang tergeletak. Ia lalu menyerang Adam. Adam yang tidsk siap, tidak bisa menghindar. Pria itu lalu menghujamkan pisau itu tepat ke dadanya.


Di lain pihak, Kattie menggigit tangan pria yang memeganginya. Pria itu mengaduh kesakitan. Kattie memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari ke arah Adam.


" Adamm!! " Kattie berteriak. Ia lalu memeluk Adam, anaknya yang tergeletak dengan pisau yang masih tertancap di dadanya. Airmata Kattie bercucuran.


Adam melihatnya. Ia memaksakan dirinya tersenyum pada Kattie.


**Flashback


Sudah hampir seminggu,Adam mengawasi Ibunya. Ia mendapatkan informasi dari Felix, temannya sewaktu di penjara dulu, bahwa akhir-akhir ini Kattie sering diganggu orang-orang yang sama. Ia dan Kattie memang tidak akur. Tetapi hubungan Ibu dan anak masih sangat kental, karena itu ia begitu mengkhawatirkan Kattie. Lagipula ia merasa aneh dengan pria-pria yang mengganggu Ibunya itu. Beberapa kali ia memergoki mereka tengah berbincang tentang melaksanakan rencana Tuan X dan bayaran yang didapat. Ia merasa kalau mereka hanyalah orang suruhan saja. Lalu siapa sebenarnya Tuan X? dan mengapa mereka mengganggu Ibunya? apa yang dia inginkan? Adam terus menyelidiki kemungkinan yang terjadi. Mulai dari teman -teman Ibunya, teman mendiang Ayahnya, bahkan temannya sendiri. Tapi ia belum menemukan kecurigaan pada mereka.


Biasanya,selepas bekerja, ia akan pulang. Menunggu Kattie berangkat bekerja kemudian mengikutinya. Setelah dirasa aman, ia akan menuju halte bis yang letaknya agak jauh dari bar untuk menunggu Ibunya selesai bekerja. Selama berada di bar, ada Felix yang akan menjaganya. Jadi ia tidak perlu khawatir, dan bisa memejamkan mata sejenak bersama para gelandangan yang menempati halte itu tiap malam. Tetapi hari ini, ia bertemu dengan Tuan Smith, pria tua itu membangunkannya dan menawarkan pekerjaan sampingan padanya. Tuan Smith merasa kasihan melihatnya tertidur di halte. Ia pikir, Adam tidak lagi di terima di rumah. Mereka berbincang lumayan lama. Saat mereka selesai berbincang, Adam tersadar kalau jam kerja Ibunya sudah selesai. Karena itu ia lalu bergegas menuju bar tempat Kattie bekerja. Dan disanalah ia melihat Ibunya diganggu pria-pria itu. Ia memberanikan dirinya menghadapi ketiga pria itu. Meski tidak seimbang Namun, demi melindungi Ibunya, ia akan lakukan apapun. Perkelahian terjadi. Ia berkali-kali harus jatuh tersungkur. Dan pada akhirnya ia bisa memukul mundur pria itu, tetapi seorang lagi tiba-tiba menyerangnya dengan pisau tepat di dadanya. Darah merembes keluar dari bajunya. Pandangannya pun mulai kabur. Ia tergeletak. Samar-samar ia mendengar Ibunya berteriak, menghampiri dan memeluknya sambil menangis. Tidak. Adam tidak ingin Ibunya menangis. Karena itu ia paksakan dirinya untuk tersenyum, seolah menyatakan bahwa ia baik-baik saja. Sebelum semuanya menjadi gelap.


*****


Kattie menangis sambil memeluk Adam.


" Bagaimana ini?" salah satu dari pria itu tampak kebingungan.


" Dia mati.. dia mati, bung "


" $**l!!!"


" Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Suara-suara kebingungan.


" Tidak boleh ada saksi "


" Lenyapkan dia "


Kattie tersadar. Yang mereka maksud dengan saksi adalah dia. Ketiga orang itu menyeringai. Dengan gemetar Kattie berdiri. Ketiga orang itu menatapnya dengan aneh. Seperti ingin menelannya hidup-hidup..Maka Kattie pun berlari. Ketiga pria itu mengejarnya. Shock dan bingung membuat Kattie kehilangan arah. Ia bukannya lari ke arah bar untuk meminta pertolongan, tetapi justru lari ke arah lain.


Lari dan terus lari. Kattie terus berlari tanpa tahu arah. Sampai tiba-tiba suara nyaring terdengar. Ciiittt!! Brukkk !!! Sebuah mobil yang melaju kencang menabrak Kattie dari arah yang berlawanan. Tubuh Kattie melayang ke udara untuk selanjutnya terhempas ke aspal dengan keras.