Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Anna kembali bekerja


"Anna!! kau kembali " Josh bersorak gembira lalu menghambur ke pelukan Anna yang tengah memasuki rumah keluarga Wilderman. Anna berjongkok untuk menerima pelukan Josh. Josh memeluknya erat.


" Aku merindukanmu Anna. Aku pikir kau tak akan kembali "


" Tentu saja aku kembali, Josh. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan bocah nakal ini tanpa pengawasan " godanya sambil mengerling pada Josh.


" Orang jahat itu tidak menyakitimu kan ?" katanya serius pada Anna.


" Orang jahat?" Anna ganti menatap Justin. Justin menaikkan alisnya.


" Dia pasti menguping saat aku berbicara dengan ibu " terang Justin.


" Kau tinggal disini saja Anna. Dengan begitu tidak ada yang bisa menyakitimu. Ada aku dan Justin yang melindungimu " kata Josh sok jagoan. Di belakangnya, Justin mengiyakan dengan memberikan tanda OK dengan kedua tangannya.


" Terimakasih, jagoan. Aku tahu kau pasti akan melindungiku. Tapi aku punya ibu dan kakak di rumah, mereka pasti sedih kalau aku tidak tinggal bersama mereka. " Anna mengusap kepala Josh dengan sayang.


" Baiklah, tapi kalau nanti kau butuh bantuan, kau bisa menekponku. Dan kalau ibu dan kakakmu pergi. Kau bisa menginap disini "


" Tentu ,Josh "


*****


" Senang rasanya kau kembali ke rumah ini, Anna " Nyonya Olivia langsung memeluk Anna begitu melihatnya.


" Saya juga , Nyonya " jawab Anna.


" Justin sudah menceritakan padaku tentang masalahmu kemarin. Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu,Anna . Untunglah kau baik-baik saja dan penjahat itu sudah masuk penjara "


Anna mengangguk


" Untung saja JUstin menolong saya,Nyonya. Saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada saya kalau saja dia tidak datang tepat waktu "


****


Seharian itu Anna menghabiskan waktunya bersama dengan Josh. Bocah itu ternyata sangat merindukan Anna,ia bahkan tidak mau ditinggal pulang sehingga Anna harus menungguinya hingga tidur.


" Josh sudah tidur?" tanya Olivia pelan dari pintu kamar Josh. Anna mengangguk,kemudian melangkah pelan meninggalkan kamar Josh.


Berdua mereka melangkah menuruni tangga.


" Anak itu benar-benar kesepian tanpamu,Anna. Ini semua salah kami,karena kesibukan kami. Aku sebenarnya sangat ingin bersamanya sepanjang waktu, tetapi keadaan kami sekarang tidak seperti dulu lagi,bahkan semakin memburuk " keluh Olivia yang terdengar seperti curahan hatinya.


" Maksud Anda bagaimana,Nyonya Olivia?" Anna merasa sedikit kaget mendengar keluhan Nyonya Olivia yang mengatakan keadaannya memburuk.


" Bu, apa Anna sudah pulang?" teriak Justin dari lantai bawah. Sepertinya ia baru saja kembali dari luar.


Nyonya Olivia tersenyum mendengarnya, " lihat Anna, Justin sepertinya sangat mengkhawatirkanmu"


" Buu !! " teriak Justin lagi karena Ibunya tidak menjawab pertanyaannya.


" Sst,jangan berteriak Justin, Josh sudah tidur " kata Anna pelan. Justin terlihat gugup. Ia tidak menyangka Anna akan muncul bersama Ibunya.


" Oh, jadi kau masih disini " katanya kikuk.


"Tentu saja, apa kau tega membiarkan Anna pulang sendirian?" goda Ibunya.


" Kalau dia berani, silakan saja " tantang Justin.


" Lalu mengapa kau menanyakannya?"


" Aku..aku hanya ingin tahu saja " Justin mengelak.


" Karena kau sudah tahu, lebih baik kau mengantarkan Anna pulang " perintah Nyonya Olivia sambil mengedipkan matanya pada Justin. Justin menjadi salah tingkah.


" Tapi kalau merasa keberatan, biar Ibu panggilkan taksi online untuknya "


" Tidak. Aku akan mengantarnya sampai rumah " sahut Justin cepat. Nyonya Olivia tertawa,


" Lihat Anna,sebenarnya dia sangat perhatian padamu, tapi entah mengapa dia menyembunyikan perasaannya, dasar pembohong" goda Ibunya. Justin merengut.


*****


" Bagaimana kabar Adam? " tanya Justin kikuk pada Anna, saat itu mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Anna. Hampir separuh perjalanan mereka terdiam, dan Justin berinisiatif untuk memulai pembicaraan, sayangnya yang keluar dari mulutnya adalah pertanyaan yang bodoh.


" Adam? Bukankah kemarin kalian baru saja bertemu? " tanya Anna heran, kemudian ia tertawa kecil.


" Hmmm, maksudku, terakhir kali aku bertemu dengannya,dia terlihat agak marah " Justin meralat ucapannya. Bagaimanapun ia tidak mau terlihat seperti orang bodoh di hadapan Anna.


" Kau tidak menjawabnya?"


Anna menggeleng. Justin terkekeh.


" Dia pasti sangat kesal sekarang "


" Biar saja. Aku sudah mengatakan berulang kali kalau Josh belum mengijinkan aku pulang, tetapi dia tidak mendengarnya. Entah terbuat dari apa telinganya itu " gerutu Anna.


Justin kembali terkekeh.


" Kalau aku jadi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama "


" Kau juga akan menerorku dengan panggilan dan pesan?"


" Tidak hanya itu, aku akan langsung datang ke rumah majikanmu, meminta mereka memulangkanmu secepatnya kalau tidak, aku akan berbuat anarkis di rumah majikanmu "


" Dasar psiko!. Untungnya kau bukan kakakku "


" Aku juga tidak mau punya adik menyebalkan sepertimu " pungkas Justin.


Anna menyebikkan mulutnya.


" Adam melakukan itu karena dia khawatir padamu. Sepertinya dia merasa sangat bersalah padamu karena semua kejadian ini berawal dari dia. Wajar kalau dia berusaha keras untuk melindungimu " Justin menerangkan sementara Anna melihatnya tanpa berkedip.


" Kenapa melihatku seperti itu? Aku terlihat semakin tampan ya?" kata Justin gugup.


Anna menggeleng. Justin semakin gugup. Dalam keadaan normal, biasanya Anna akan mengumpatnya kalau Justin mulai mengungkit soal ketampanannya. Tapi kali ini ia bahkan tidak menggerakkan mulutnya.


" Kau tahu? aku sedang memikirkan sesuatu sekarang "


Hufth, akhirnya Anna bersuara juga. Justin merasa lega sekaligus ingin tahu.


" Memikirkan apa?"


" Memikirkan... sejak kapan kau dekat dengan kakakku? sampai kau terdengar sangat tahu tentangnya" setelah berkata seperti itu, Anna pun tertawa terpingkal pingkal. Justin mendengus kesal.


****


Sesampainya di rumah Anna.


" Terimakasih tumpangannya, Justin "


Anna mengucapkan terimakasih pada Justin kemudian segera turun dari mobil. Justin mengangguk, kemudian mengikuti Anna turun dari mobil.


" Kenapa kau ikut turun?" tanya Anna heran.


" Sebaiknya aku menemui kakakmu dan meminta maaf karena kau pulang terlambat "


Anna mengernyitkan dahinya.


" Whatt?? Aku hanya sedang berperan sebagai majikan yang baik. Lagipula siapa tahu apa yang bisa dilakukan oleh seorang narapidana yang sedang marah? " kata Justin cuek. Anna langsung memukul perutnya. Justin pura-pura meringis kesakitan.


Keduanya disambut dengan sikap judes Adam di depan pintu.


" Apa majikanmu ini tidak mengijinkan kau memegang gawaimu Anna?" tanya Adam ketus.


" Tidak. Dia menyekapku " sahut Anna sambil masuk ke dalam rumah, meninggalkan Justin yang bingung menghadapi sikap kedua kakak beradik itu.


" Apaa??? " Adam dan Justin berseru berbarengan. Anna tertawa geli.


" Tidak,kakakku sayang. Majikanku yang baik hati dan juga sangat tampan ini telah memberikan aku tumpangan " teriak Anna dari dalam rumah. Tak lupa ia memberi penekanan pada kata " sangat tampan " sehingga membuat Adam ikut tersenyum, sedangkan Justin justru terlihat semakin gugup.


****


" Dia benar-benar menyukaimu, Anna " kata Adam sambil duduk di sebelah Anna dan mengambil popcorn dari mangkuk adiknya.


" Siapa?" tanya Anna tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi di depannya.


" Siapa lagi kalau bukan Justin "


" Jangan berpikir konyol Adam. Justin tidak mungkin menyukaiku. Ia siswa populer, sama seperti Roger "


" Aku rasa Justin berbeda dengan Roger "


" Aku tidak tahu. Yang pasti aku tidak ingin memenuhi diriku dengan harapan kosong, seperti yang Roger lakukan padaku "