Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Perhatian Justin vs Ketidakpedulian Jason


" Selamat pagi " Justin menyapa Anna dengan manis saat gadis itu baru saja masuk ke dapur untuk membantu Roberta. Anna terkaget-kaget melihatnya. Justin? Sepagi ini? Anna mengucek kedua matanya untuk memastikan ia tidak salah lihat.


" Kenapa dengan matamu ? " Justin mendekatinya.


" Kena debu? kemari, aku akan meniupnya " tawar Justin. Anna menghentikan kucekan matanya. Roberta tersenyum simpul melihatnya.


" Tidak. Ini hanya kebiasaanku setiap bangun tidur " Anna berkilah.


" Baiklah " kata Justin pada akhirnya. Ia lalu membantu Roberta mengiris bawang.


" Biar aku saja " Anna hendak meraih keranjang berisi bawang merah yang dibawa Justin. Tapi Justin justru menyingkirkannya menjauh dari Anna.


" Aku bisa melakukannya. Seharusnya kau tidak perlu bangun sepagi ini. Kau harus banyak beristirahat. Kau sedang hamil, apalagi kau sedang sakit " jawab Justin.


" Kau sakit, Anna? " tanya Roberta. Ia sedikit terkejut dengan perkataan Justin barusan. Dengan sebuah kode di matanya ia menanyakan pada Anna, jadi, majikan mudanya itu sudah tahu kalau Anna sedang hamil ? Anna mengangguk, tetapi mulutnya berkata lain,


" Tidak. Aku tidak sakit. Hanya sedikit pusing kemarin "


" Mungkin tekanan darahmu turun. Itu biasa dialami orang yang sedang hamil muda. Jangan terlalu keras bekerja. Kau harus banyak beristirahat. Nanti ada masanya kau harus banyak bergerak agar proses persalinanmu berjalan lancar " Roberta menasehati.


" Benar kan yang aku katakan. Roberta juga mengiyakannya. Jadi, banyak-banyaklah beristirahat. Jangan khawatir. Aku akan menggantikanmu membantu Roberta " ucap Justin.


" Kalau hanya mengiris bawang saja tidak membutuhkan energi yang banyak " kilah Anna.


" Tapi itu bisa membuatmu menangis. Kau tidak melihatnya? sedari tadi aku berusaha menahan agar airmataku tidak jatuh " kata Justin sambil berusaha mengelap sudut matanya dengan menggunakan lengannya.


Ucapan Justin membuat Anna dan Roberta tertawa.


*****


" Dia tahu semuanya? " tanya Roberta setengah berbisik pada Anna saat Justin sudah meninggalkan mereka untuk mandi pagi.


" Baru setengahnya. Aku tidak memberitahunya tentang ayah anak ini " jawab Anna, sambil berbisik pula.


" Kenapa begitu? Kau harus memberitahunya. Bagaimana nanti kalau terjadi kesalahpahaman ? "


" Aku akan membicarakan ini terlebih dahulu dengan Jason, Roberta. Aku takut kalau aku mengambil keputusan sendiri, dia akan marah dan akan berakibat buruk pada semuanya "


Roberta mengangguk.


" Semoga dia membolehkan. Aku khawatir hubungan kalian berkembang, itu sangat tidak bagus untuk kalian bertiga "


" Apa maksudmu, Roberta? "


" Aku rasa Tuan Muda Justin menyukaimu, Anna "


Anna tertegun. Justin menyukainya? Ada rasa berdesir di hatinya saat mendengar hal itu, karena jauh dilubuk hatinya, iapun masih menyimpan rasa yang sama.


****


" Tidak perlu. Kau tidak perlu mengatakan hal itu padanya. Itu bukan sesuatu yang penting "


" Tapi aku takut terjadi kesalahpahaman diantara kita nantinya "


" Kesalahpahaman seperti apa maksudnya? " tanya Jason. Anna gelagapan. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia takut Justin jatuh cinta padanya. Bukankah itu terdengar menggelikan?


" Apa yang kau maksud adalah Justin menyukaimu? " pancing Jason sambil menatap mata Anna. Anna tertunduk. Jason menyeringai. Ia meraih wajah Anna dan menatapnya tajam.


" Kau pikir kau ini wanita seperti apa hingga Justin bisa menyukaimu? Kau tidak cantik. Sama sekali tidak seksi. Walaupun dia hanya adik tiriku, tapi kupikir standar keluarga Wilderman lebih tinggi darimu " ejeknya lalu melepaskan wajah Anna dari genggaman tangannya dengan kasar. Anna hampir menangis. Lagi-lagi Jason menghinanya.


" Kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, kau bisa pergi " usir Jason. Annapun segera meninggalkan kamar utama dan pergi ke kamarnya.


Dikamar, Anna menangis. Walaupun apa yang dikatakannya bisa saja sebuah kebenaran, tetapi ia merasa tersakiti oleh ucapan Jason.


Sementara itu di kamar utama, Jason menatap ke luar jendela kamarnya sambil tersenyum. Ia memang sengaja mengatakan hal seperti itu pada Anna. Sengaja menyakiti hatinya demi sebuah rencana. Ia akan membiarkan Justin mendekati Anna. Disaat Justin sudah memantapkan hatinya untuk Anna, disaat itu pulalah ia akan membuka semuanya dan membuat Justin sakit hati.


" Kau harus membayar semua yang ibumu lakukan pada ibuku "


*****


Tok.Tok. Anna menghentikan menyisir rambutnya. Ia lalu menuju pintu kamarnya.


" Sudah selesai bersiap-siap? " tanya Justin dengan senyum manisnya.


Anna mengernyit.


" Aku akan mengantarmu periksa kandungan hari ini "


" Eh??? Bagaimana kau tahu? " tanya Anna. Pasti kau mencuri dengar pembicaraanku dengan Roberta, batin Anna.


Justin tersenyum simpul,


" Tidak perlu dipermasalahkan. Aku menunggumu di depan ya ! " katanya dan berlalu pergi.


" Hei, bukankah kau harus sekolah? " tanya Anna setengah berteriak.


" Aku membolos!! " jawab Justin dengan teriakan pula.


****


Anna mengambil tas selempangnya dan menutup pintu kamarnya. Ia berjalan perlahan. Saat melewati ruang tamu, dilihatnya Jason yang sedang membaca koran. Anna memilih untuk mengacuhkannya. Toh, Jason juga tidak akan mempedulikannya.


" Kau akan pergi dengannya ? "


Anna menghentikan langkahnya. Jason melipat korannya dan menatap Anna tajam.


" Kenapa? Apa kau keberatan ? " tanya Anna takut-takut.


" Aku tidak pernah peduli kau pergi dengan siapa. Bukankah pernikahan kita hanya sementara? " Jason balik bertanya. Anna tersenyum kecut lalu melangkah keluar dari rumah sambil menggerutu,


kalau memang tidak peduli, kenapa harus bertanya? merepotkan saja.


Jason memandang mobil sport Justin yang membawa Anna menuju dokter kandungan.


" Bagus. Semakin mereka dekat semakin baik. Justin harus sangat mencintai Anna sehingga ia bisa merasakan sakit hati yang terdalam "


*****


" Kandungannya sehat. Hanya saja tekanan darahmu sedikit turun. Banyak makan dan istirahat yang cukup akan membantu " Dokter Grace menasehatinya. Anna mengangguk.


" Baik dokter "


Dokter Grace mengantar Anna keluar pintu ruangan. Justin segera menghampiri mereka.


" Akan lebih baik jika Anda sebagai suami bisa ikut ke ruang periksa, agar bisa mengetahui perkembangan bayi kalian. Tidak perlu malu. Banyak juga pasangan muda yang datang ke ruang periksa bersama " kata Dokter Grace sambil tersenyum ramah.


" Ehh, maksud dokter? "


Dokter Grace tidak menjawab. Ia hanya tersenyum simpul dan menepuk punggung Justin.


" Lain kali, Anda harus ikut di ruang periksa. Oya, jangan biarkan istrimu bekerja terlalu keras. Ia harus cukup istirahat agar kandungannya sehat "


Justin dan Anna saling berpandangan sebelum mereka berdua tersenyum pada Dokter Grace.


****


" Maaf, karena aku, Dokter Grace menjadi salah paham terhadapmu. Lain kali biarkan aku periksa kandungan sendirian " kata Anna. Ia berharap Justin tidak marah karena kesalahpahaman yang tercipta.


" Untuk apa kau meminta maaf. Aku sama sekali tidak keberatan dengan kesalah pahaman tadi. Lagipula, aku sendiri yang menawarkan untuk mengantarmu periksa "


" Jadi kau tidak marah "


" Tidak sama sekali. Aku akan marah kalau kau melarangku mengantarmu lagi ke dokter kandungan "


Anna menatap Justin seakan memprotes ucapannya.


" Kenapa? "


Sepertinya Justin sadar kalau dia mendapatkan tatapan tidak menyenangkan dari Anna.


" Kalau nanti aku melarangmu, itu murni karena aku tidak ingin melihatmu bolos sekolah. Sekolah itu penting. Kau tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan seperti itu. Itu sama saja dengan mengejekku yang tidak bisa bersekolah " kata Anna berapi-api.


" Baiklah, baiklah. Aku tidak akan bolos sekolah lagi. Tapi aku juga tetap akan mengantarmu periksa kandungan "


" Ehh?? "


" Mintalah jadwal sore untuk periksa kandungan agar aku bisa tetap mengantarmu. Itu baru adil "