
Minggu pagi. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Anna telah tiba. Sesuai perjanjian, setiap hari minggu, Jason mengijinkannya untuk mengunjungi ibunya. Anna bangun pagi-pagi sekali hari ini. Ia bahkan telah menyelesaikan pekerjaan rumah sesaat sebelum Roberta datang. Roberta tidak kalah kagetnya. Tapi ia akhirnya memahami kerajinan Anna yang tidak seperti biasanya itu.
Selesai menyiapkan sarapan untuk kedua tuannya, Annapun bersiap untuk mengunjungi Ibunya.
" Hei, Anna " panggil Jason dari arah kolam renang. Anna menengok. Ia keheranan melihat Jason yang sudah bangun sepagi ini di hari minggu. Padahal di hari biasa, ia selalu meminta Anna untuk membangunkannya. Anna pun menghampiri Jason.
" Ada perlu apa, Tuan ? " tanyanya dengan sopan. Ia tidak ingin merubah mood Jason. Bisa-bisa nanti dia tidak diijinkan mengunjungi Ibunya.
" Aku ingin berenang "
Anna mengernyit. Sepagi ini? Apakah tidak terlalu dingin? Baik, katakanlah dia memang mau berenang. Lalu untuk apa dia memanggilnya? Bukankah dia tinggal menceburkan diri saja ke kolam? Atau jangan-jangan ia minta ditemani? Membayangkan hal itu membuat Anna begidik ngeri.
" Hei, kenapa kau melamun ? " Jason menoyor kepala Anna.
" Saya hanya merasa heran saja Anda ingin berenang sepagi ini " Anna mencari alasan.
" Dan aku lebih heran lagi karena air kolam begitu kotor . Sayang sekali, padahal aku sudah bangun pagi untuk ini "
" Maksud Anda? "
" Bersihkan kolamnya sekarang juga ! "
Anna terkesiap.
" T-Tapi... " belum sempat Anna melanjutkan kalimatnya, Jason sudah menatapnya dengan galak. Anna tidak punya pilihan lain lagi.
" Baik, saya akan membersihkannya " kata Anna dengan patuh. Jason tersenyum penuh kemenangan.
****
" Anna!! Aku merindukanmu " Marrissa berseru senang tatkala mendapati adik perempuannya dibalik pintu yang ia buka. Anna memeluk kakaknya.
" Aku juga merindukanmu, Marrissa "
" Bagaimana keadaan Ibu ? " tanya Anna begitu ia melepaskan pelukan hangat Marrissa.
" Baik. Masuklah ke kamar, ia pasti senang kau datang " ajak Marrissa. Annapun mendorong kursi roda kakaknya menuju kamar Ibunya.
Kattie menitikkan airmata saat mengetahui Anna datang. Anna memeluknya, mencium kedua pipinya, lalu menghapus airmata Ibunya.
" Ibu terlihat bingung saat kau tidak juga muncul. Aku lalu menjelaskannya, dan dia berulang kali menitikkan airmata. Aku merasa sangat bersalah karenanya " Marrissa menjelaskan.
" Oya, bagaimana keadaan disana, Anna? Apakah Jason bersikap kurang ajar padamu? apakah dia menyakitimu? " Marrissa tampak mengkhawatirkan keadaan adiknya. Anna terdiam sesaat. Ia tidak ingin kakaknya khawatir terhadapnya meski kemarin sikap Jason membuatnya takut.
" Aku baik-baik saja. Hanya saja aku tidak menyukai sikapnya yang terlalu menyebalkan " jawab Anna.
" Syukurlah. Aku juga tidak mengerti mengapa Jason begitu cepat berubah "
" Tidak perlu dipikirkan. Biarkan saja dia. Yang penting, kita baik-baik saja "
Marrissa mengangguk setuju pada ucapan adiknya.
" Apa kau menghubungi Morgan? " tanya Anna ingin tahu. Ia khawatir kakaknya terlalu menjaga harga dirinya hingga enggan menghubungi Morgan.
" Seperti yang kau bilang, ia begitu cepat datang saat kita membutuhkan pertolongan "
" Apa aku bilang. Morgan memang pria yang baik " timpal Anna.
" Awalnya memang canggung, tapi pada akhirnya kami mulai akrab. Ia sekarang berhenti menjadi sopir truk. Ia memilih bekerja di bengkel reparasi mobil agar sorenya bisa datang kemari untuk mengecek keadaan kami. Ia begitu mengkhawatirkan kami "
Anna menyimak penjelasan kakaknya. Senyumnya mulai mengembang karena melihat kaksknya yang begitu antusias bercerita.
" Mengapa kau tersenyum seperti itu ? "
" Nothing. Hanya saja, aku rasa sebentar lagi aku akan memiliki kakak ipar " ujar Anna dengan senang.
" Aku rasa tidak mungkin. Aku masih begitu mencintai Jonathan " Marrissa membantah, meski begitu pipinya tampak bersemu merah. Anna mengangguk. Meski begitu, dalam hati ia berharap, Marrissa akan segera membuka hatinya untuk Morgan. Entah mengapa ia berfirasat bahwa Morgan adalah lelaki yang tepat untuk kakaknya.
****
" Selamat datang !! " Justin berseru ramah saat membuka pintu untuk Anna sore itu. Anna mengernyit. Ia agak tidak biasa dengan sikap Justin ini.
" Tuan menyebalkan itu tidak ada? " tebak Anna.
" Dia pergi entah kemana sejak siang tadi. Mungkin bersenang-senang dengan wanita itu lagi "
Anna menarik nafas lega.
" Syukurlah. Akhirnya ada sedikit ketenangan di rumah ini " ucapnya. Justin menatapnya heran.
" Eh, maksudku.. " Anna berusaha meralat ucapannya. Justin tertawa.
Anna menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
" Ikut aku ke ruang tengah. Aku mengundang seseorang yang spesial kemari " Justin memegang bahu Anna dan menggiringnya ke ruang tengah. Anna mengikutinya dengan malas. Seseorang yang spesial. Sudah pasti Ashley bukan? batinnya.
Langkah malasnya menjadi terhenti saat dilihatnya seorang pria dengan rambut plontosnya di ruang tengah. Meski dia hanya melihat postur tubuhnya dari belakang, tetapi Anna yakin seratus persen kalau itu adalah dia. Sahabatnya yang menghilang.
" M.. Max?? "
Pria itupun membalikkan badannya. Ia tersenyum melihat kedatangan Anna.
" Selamat sore, Anna " sapanya ramah. Anna masih terdiam di tempatnya.
" Kau tidak memelukku? Memangnya kau tidak rindu sama sekali denganku? " Max merentangkan kedua tangannya dengan mimik muka yang konyol. Anna mendengus kesal.
" Hei, aku tidak akan mengijinkan kalian berpelukan di rumahku " Justin memprotes.
" Ayolah, bro, sekali saja. Biarkan dia menuntaskan rindunya pada si tampan ini " goda Max. Justin pura-pura merengut sambil berkacak pinggang. Anna tertawa terbahak bahak melihat kekonyolan dua orang itu.
" Baiklah, aku serahkan dia padamu. Kalian berdua berbincanglah. Aku akan mengambilkan minuman untuk kalian " perintahnya seraya mendorong Anna mendekat ke arah Max.
" Tapi ingat. No touch. Apalagi berpelukan. Aku akan mengawasi kalian dari cctv " perintahnya sebelum meninggalkan tempat itu.
" Bagaimana kabarmu, Max ? " tanya Anna sambil mendekati Max.
" Bagaimana kabarku? Oh,God. Anna, apa yang terjadi denganmu? kita lama tidak bertemu dan kau tiba-tiba saja berubah menjadi formal begitu. Kau bahkan tidak memelukku. Membuatku merasa tidak diinginkan " Max pura-pura sedih. Anna melemparkan sebuah bantal sofa padanya.
" Kemana saja kau ? "
" Kau mencariku? "
" Tentu saja. Kau menghilang tiba-tiba. Tanpa berpamitan sedikitpun. Kau pikir aku tidak sedih? Aku bertanya pada diriku sendiri, apa kesalahan yang aku perbuat padamu? atau mungkin kau terlalu percaya pada gosip di papan pengumuman sekolah dan marah padaku? " Anna bercerita panjang lebar pada Max. Max melihatnya tanpa berkedip. Ia tampak serius mendengarkan perkataan Anna.
" Apa? " tanya Anna galak.
" Nothing. Aku hanya mendengarkan ucapanmu. " jawab Max.
" Oke. Aku salah. Aku pergi tiba-tiba tanpa memberitahumu, tapi asal kau tahu saja, aku tidak pernah marah padamu " tambahnya.
" Lalu mengapa kau tidak mengabariku? "
" Karena aku kehilangan handphone ku. Aku menelpon Justin untuk menanyakannya. Tapi dia tidak memberikannya " Max membela diri.
" Hm? Justin ? "
" Ya. Aku sudah beberapa kali menelponnya. Setahuku hanya dia yang dekat denganmu selain gadis berponi itu, siapa namanya? Drew? Aku beberapa kali menghubungi dia juga, tetapi dia selalu bilang tidak memiliki nomor handphonemu "
" Drew bilang begitu? "
" Ya. Aku kadang heran. Dia itu sebenarnya sahabatmu atau musuhmu? Dia seperti tidak menyukaimu "
Anna terdiam, mencoba mencerna perkataan Max. Mengapa Drew berkata demikian?
" Lalu mengapa kau pergi tiba-tiba? "
" Ibuku sakit. Dia ingin aku berada di sampingnya"
" Astaga. Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Sudah lebih baik? "
" Ya. Dia sudah pergi ke surga " lanjut Max.
" Oh, maaf. Aku turut berduka cita, Max " sesal Anna. Max mengangguk.
" Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau bisa terdampar disini? Justin bilang kau putus sekolah dan menjadi pelayan di sini "
Anna menghela nafas. Ia pun mulai menceritakan semuanya. Tentang hutang-hutang keluarganya dan juga biaya rumah sakit yang menumpuk hingga akhirnya Jason membawanya ke rumah ini sebagai pelayan.
" Maafkan aku, Anna. Andai saja aku tahu lebih awal, aku pasti bisa membantumu " sesal Max.
" Tidak apa, Max. Ini memang sudah takdirku "
" Hei, tangkap ini " Justin melemparkan sekaleng minuman pada Max dan memberikan satu kaleng lagi pada Anna begitu ia sampai di dekat gadis itu.
" Ada apa? kenapa kalian menatapku seperti itu? " tanya Justin begitu melihat ekspresi aneh kedua temannya.
" Sekarang kau harus memberikan penjelasan, mengapa kau tidak mau memberikan nomor handphone Anna padaku " tanya Max
" Itu karena...karena..yach.. karena... " Justin bingung memberikan jawaban. Anna dan Max saling bertatapan. Kemudian tanpa banyak bicara mereka berdua menggelitiki Justin hingga Justin minta ampun.