Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Penyesalan Justin


"ini,aku kembalikan kaosmu" Anna mengulurkan kaos milik Justin yang ia bawa beberapa hari lalu.


Hari itu setelah sekolah usai, Anna memang sengaja menunggu Justin di dekat lokernya. Suasana tampak sepi karena siswa yang lain telah pulang.


Justin menatapnya


" ini sudah bersih?"


Anna mengangguk.


Justin mengernyit.


"kamu yakin?"


" kalau kamu ragu,kamu bisa pinjam kaca pembesar atau mikroskop di laboratorium" balas Anna. Justin menatapnya tak percaya.


" kamu pandai berkilah ternyata"


Anna masih mengulurkan kaos itu.


"kamu punya kantong plastik atau semacamnya?"


Anna mengangkat alisnya,


"untuk apa?"


"Well,aku tidak yakin dengan kata-katamu, sepertinya masih ada berjuta kuman disana, aku tidak mau terinfeksi" kata Justin dengan mimik muka jijik.


Astaga!Menyebalkan sekali !Ingin rasanya Anna memukul kepala pria bermata elang itu. Tapi ia urungkan,saat ini yang ia inginkan hanya menyelesaikan masalahnya dengan Justin.Anna membuka tas ranselnya,mencari persediaan kantung plastiknya. Justin mendongak, mencoba mencari tahu isi tas Anna.


"cairan pembersih,lap..kamu kerja sampingan jadi cleaning service juga?" katanya mengejek saat sekilas melihat isi tas Anna. Anna melotot galak. Justin tersenyum melihat tingkahnya.


Anna melanjutkan mencari kantong plastik di dalam ranselnya. Setelah ketemu,ia langsung memasukkan kaos Justin ke dalamnya.


"whoa..seharusnya kamu menunjukkan kantong plastik itu dulu padaku,mana tahu kantong plastiknya kotor .. "


"Berisik! " potong Anna.


"hei..apa kamu bilang?"


"Aku hanya punya satu kantong plastik,dan itu sudah pasti bersih. Sekarang aku harus memberikannya padamu"


"salahmu membuat kaos ku kotor"


"aku tidak sengaja,aku juga sudah meminta maaf,bahkan aku sudah mencucinya dengan bersih. Ini " Anna mengulurkan kembali bungkusan plastik berisi kaos itu.


"masukkan ke lokerku" perintah Justin,masih dengan mimik muka jijik.


"aku tidak mau bersentuhan dengan kantong plastik itu,setidaknya dalam waktu 3x24jam"


Anna cemberut,dipikirnya ini orang hilang apa? sampai harus menunggu 3x24 jam.


Meski begitu,


Annapun memasukkan kantong plastik itu ke loker Justin sesuai perintah. Saat Anna melakukannya,diam-diam Justin mengamati wajah Anna.


" selesai. sekarang urusan kita benar-benar selesai" kata Anna lega setelah memasukkan kantong plastik itu ke loker Justin. Justin tersenyum mengejek.


"Jaket apa?"


"Jaket yang aku pinjamkan tempo hari"


"Ooh,maksudmu jaket murahan itu? jaket itu terlalu buruk. Setelah memakainya badanku terasa gatal,jadi aku membuangnya"


"apa? kamu membuangnya,?"


"Ya" Justin mengangguk


"kamu HANYA meminjam jaketku lalu kamu membuangnya? " tanya Anna tak percaya


" Ralat,kamu yang MEMAKSA meminjamiku"


"Apapun itu,kamu seharusnya mengembalikannya padaku. Itu milik kakakku"


"sampaikan maafku pada kakakmu" kata Justin santai. Anna terdiam. Bagaimana ia bisa menghubungi kakaknya,kalau gawai saja dia tidak punya,dan Adam bahkan tidak pernah pulang kerumah.


" kenapa kamu diam? kakakmu dipenjara lagi?"


Anna memandang Justin dengan nanar.


"kenapa? aku benar kan?berandalan itu di penjara lagi "


"kakakku bukan lagi seorang berandalan. dia memang mantan narapidana,tapi dia sudah menyesal dan jadi orang baik sekarang. dia bekerja sekarang" .


" lalu apa masalahnya?" Justin seakan tidak peduli.


"aku tidak bisa menghubunginya..karena..karena gawaiku rusak. Dan itu semua karena ulah para pemandu sorakmu itu. Pertama mereka merisakku karena loker kita berdekatan,selanjutnya mereka merisakku karena menganggapku mengganggumu. Aku heran kenapa mereka bisa mengidolakan dan rela melakukan apapun demi seseorang yang menyebalkan sepertimu!"


setelah mengatakan semuanya,Anna berlalu meninggalkan Justin yang terdiam di tempatnya. Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata dari sudut yang berbeda sedang melihat dari kejauhan.


******


Sudah lebih dari satu jam Justin duduk di meja kedai makan kecil milik Mr. Smith. Ia memang sengaja datang sendirian,karena ia ingin bertemu Anna. Entah kenapa,kata-kata yang diucapkan Anna tadi sepulang sekolah membuatnya tidak enak hati. Memang,semuanya bukan salah Anna. Ia sendiri yang sebenarnya memaksa bertukar tempat dengan pemilik loker sebelumnya. Ia mengancam Ryne,pemilik loker sebelumnya untuk memberikan loker itu padanya sekaligus mengancam akan memukulinya jika ia berani memberitahukan hal itu pada orang lain. Ryne yang ketakutan,dengan terpaksa menyerahkan kunci loker padanya. Ia juga yang mengatakan pada semuanya,kalau kaosnya kotor karena ulah Anna hingga ia terpaksa memakai jaket Anna. Entah mengapa ia melakukan itu semua. Yang ia tahu,ia hanya ingin Anna ada dalam jangkauannya.


Justin menghentikan pelayan yang baru saja selesai mengelap meja di depannya.


" apa Anna tidak datang bekerja hari ini?" tanyanya


" Anna? dia sudah dipecat"


"Apa? dipecat? kapan?"


"kemarin. aku dengar ia tidak datang dan tidak memberi kabar,karena itulah boss memecatnya" kata pelayan itu setengah berbisik kemudian pergi meninggalkannya.


[kemarin? berarti..]


*****


[jadi..,aku secara tidak langsung sudah membuat Anna kehilangan pekerjaan. Kasihan gadis itu. Apa yang bisa aku lakukan untuk menolongnya?]


Justin teringat saat pertama kali ia melihat Anna. Ia melihat Anna dari kejauhan saat gadis itu sedang berdiri di bawah pohon,angin berhembus,Anna memejamkan mata dengan kedua tangannya yang terentang. Dan dia tersenyum. Sungguh,senyum paling indah yang pernah Justin lihat. Sejak saat itu,ia diam-diam mencari tahu tentang Anna. Dan ternyata gadis itu berada di kelas bawah,sangat berbeda dengan dirinya yang populer. Bahkan keluarganya berantakan. Semua temannya membicarakan hal yang buruk tentang keluarga Anna. Justin menjadi ragu untuk mengenalnya lebih lanjut. Bisa-bisa tingkat kepopulerannya menurun kalau ketahuan dekat dengan Anna.