Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Kebahagiaan atau kesedihan ?


" Angkat, Marrissa, angkat " kata Anna penuh harap. Saat ini ia sedang berusaha melakukan panggilan telepon pada kakaknya, Marrissa. Sudah belasan kali ia coba, tetapi saudarinya itu tidak kunjung mengangkatnya, padahal ia ingin sekali mengabarkan kalau Ibu mereka telah sadar dari koma.


Sementara itu, ditempat lain, Marrissa yang sedang berendam di bathtube merasa terganggu dengan teriakan suaminya.


" Sayang, gawaimu terus berdering. Apakah tidak apa jika aku mengangkatnya? " tanyanya setengah berteriak. Marrissa membuka matanya dengan kesal, ia sedang menikmati me time nya hari itu dengan berendam sembari memejamkan mata, setelah menjalani malam panjang bersama Jonathan, suaminya.


" Angkat saja, jika kau mau, itu pasti Viviane " jawab Marrissa sambil berteriak pula. Ia ingat bahwa hari ini mempunyai janji dengan Viviane, seorang agen properti. Ia memang berencana membeli rumah baru yang besarnya melebihi rumah Olivia Wilderman. Semenjak datang ke rumah mantan istri suaminya beberapa waktu yang lalu, ia terus merengek pada Jonathan untuk dibelikan rumah dengan halaman yang luas seperti milik Olivia. Awalnya Jonathan tidak menyetujuinya, karena rumah yang sekarang mereka tinggalipun tidak kalah bagusnya, akan tetapi Marrissa terus bersikeras dan pada akhirnya Jonathanpun menyetujuinya. Karena itu ia mengunjungi beberapa agen properti. Dan seperti biasanya, para agen itu tanpa kenal waktu akan selalu menghubunginya untuk menawarkan sebuah rumah padanya. Marrissa tersenyum sinis. Sekarang, setelah menjadi orang kaya, dia dikejar-kejar puluhan agen yang menawarkan dagangannya, padahal sewaktu dia miskin dulu, para agen itu bahkan tidak mau memberikannya selembar brosur.


" No. Ini bukan Viviane. Disini tertulis namanya Marrie-Anne. Dia salah satu agen juga ya?" tanya Jonathan.


Marrissa terkesiap. Anna? Untuk apa gadis itu menelponnya? Bukankah ia sudah melarangnya untuk menghubunginya?


" Tunggu sayang, biar aku sendiri yang menjawabnya " Marrissa bergegas keluar dari bathtube nya dan memakai kimono mandinya.


Dalam hitungan detik, gawai yang semula ada di tangan Jonathan sudah berpindah ke tangan Marrissa,


" Biar aku saja yang menjawabnya, beib " kata Marrissa mesra sambil mengambil gawainya dari tangan Jonathan lalu melangkah ke balkon, apalagi tujuannya kalau bukan agar Jonathan tidak mendengar pembicaraannya. Jonathan mengernyit. Ia justru curiga sekarang. Selama ini ia selalu mengetahui siapa saja teman istri nya. Tetapi Marrie-Anne? siapa dia? ia bahkan baru mengetahui namanya. Jonathanpun lalu berdiri di dekat balkon untuk mencuri dengar pembicaraan istrinya.


" Sudah kubilang, jangan telpon aku, kenapa kau masih bandel juga? " suara Marrissa terdengar kesal.


" Apa? dia sudah sadar? baiklah, aku akan kesana secepatnya "


Marrissa menutup teleponnya dan segera berganti pakaian. Jonathan menatapnya penuh kecurigaan.


" Siapa?" tanyanya sambil melihat Marrissa yang sedang memilih pakaian.


" Teman lama " jawab Marrissa pendek tanpa memperhatikan suaminya yang sedang memandangnya dengan tatapan menyelidik.


" Aku belum pernah mendengar namanya "


" Suatu saat nanti kalian akan aku perkenalkan. Jangan khawatir, sayang "


" Kau tidak pernah bercerita tentangnya. Aku tidak suka itu. Bisa jadi nama sebenarnya adalah Mario atau Micky, atau.. "


Marrissa menghentikan kegiatannya sejenak. Ia melupakan satu hal. Suaminya ini seorang pencemburu. Marrissa terkekeh geli.


" Dia seorang perempuan,sayang. Aku tidak membohongimu " katanya berusaha meyakinkan Jonathan. Lagipula ia memang tidak membohongi suaminya. Ia akan memperkenalkan Anna dan ibunya pada Jonathan kalau waktunya sudah tepat. Yang dimaksud waktu yang tepat adalah setelah ia mengirim keduanya ke luar negeri. Ia memang ingin keduanya tinggal di luar negeri. Ia ingin Anna kuliah disana, kalaupun kembali, adiknya itu sudah harus mempunyai pendidikan yang tinggi. Akan lebih bagus jika Anna nanti mempunyai pekerjaan yang mapan diluar negeri sehingga mereka berdua tidak sering bertemu. Setidaknya ia tidak malu untuk bercerita pada teman-temannya atau pada kolega Jonathan tentang keluarganya.


****


Marrissa memulaskan lipstik nude di bibirnya. Jonathan memperhatikannya dengan seksama. Dandanan istrinya pagi ini terlihat cukup minimalis, tetapi hal itu tidak menutup pancaran kecantikan alami pada dirinya. Karena kecantikannya itulah ia jatuh cinta pada Marrissa sejak pandangan pertama. Kecantikan Marrissa selalu bisa membuat setiap lelaki menoleh untuk melihatnya. Karena itu ia menjadi pencemburu dan selalu curiga jika Marrissa pergi tanpa dirinya, apalagi ditambah dengan usia Marrissa yang jauh lebih muda darinya. Ia selalu takut jika suatu saat Marrissa meninggalkannya.


" Jangan melihatku seperti itu, kau membuatku nervous " rengek Marrissa.


" Justru aku yang akan gugup setiap ada lelaki yang melihatmu. Aku selalu tidak rela jika ada lelaki lain yang melihatmu " bisik Jonathan pada istrinya. Marrissa tersenyum. Ia lalu melingkarkan kedua tangannya pada pundak suaminya.


" Mereka hanya melihatku. Mereka tidak memilikiku. Aku hanya milikmu seorang, suamiku. I love you "


****


*****


Marrissa melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju kamar rawat Ibunya. Ia sangat ingin berjumpa dengan Ibunya. Ia tidak menyadari kalau Jonathan mengikutinya.


Anna menyambutnya dengan senyuman yang merekah bahagia.


" Ibu sudah membuka matanya " katanya dengan gembira.


Marrissa langsung masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya Ibunya yang berbaring di ranjang. Mata wanita itu terbuka. Marrissa lalu memeluk Ibunya dengan penuh kerinduan. Airmatanya menetes keluar.


" Aku merindukanmu, Bu " katanya disela tangis. Tidak ada reaksi apapun dari Ibunya. Tapi dari sudut matanya, ada setetes airmata yang keluar. Marrissa menyadarinya. Ia lalu melepaskan pelukannya.


" Ibu ?? " Marrissa menatap Anna dengan penuh tanda tanya.


" Ibu memang sudah sadar. Kondisinya mulai membaik. Hanya saja, Ibu sekarang lumpuh. Ia juga belum bisa berbicara " kata Anna menjelaskan. Marrissa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tidak percaya ini.


" Yang penting ibu sudah sadar dari koma nya. Semoga saja kondisinya cepat membaik sehingga kita bisa segera membawanya pulang " kata Anna dengan bijak. Marrissa menganguk setuju.


" Aku akan mengirimkan perawat untuk menjaga Ibu dirumah selama kau bersekolah " kata Marrissa.


Anna mengangguk. Ide yang sangat bagus. Dengan demikian ia tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Ibunya dan ia bisa konsentrasi sekolah.


" Oya,ujianmu sudah dekat kan?"


Anna mengangguk.


" Minggu depan aku ujian "


" Baguslah kalau begitu "


" Bagus apanya? "


" Mmm,.. kau akan segera lulus, itu bagusnya " ucap Marrissa.


" Masih setahun lagi. Aku baru kelas sebelas "


" Tidak masalah " kata Marrissa dalam hati. Ia tersenyum membayangkan rencananya dapat berjalan dengan mulus.


" Oya , apa Tuan Jonathan tidak akan keberatan kalau kau mengirimkan perawat untuk Ibu ? "


" Apa yang bisa membuatku keberatan ? " tiba-tiba saja Jonathan sudah masuk ke dalam ruangan. Rupanya sedari tadi ia menguping dari luar. Marrissa dan Anna sama-sama menoleh. Wajah Marrissa berubah pias setelah mengetahui siapa yang datang.