Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Ada aku disini


Anna mengetuk pintu kamar utama. Seperti perintah Jason semalam, ia harus membangunkan tuannya pagi ini. Sebenarnya Anna merasa enggan. Tetapi sesuai peraturan, ia harus mematuhi segala perintah tuannya yang menyebalkan itu.


Berkali-kali Anna mengetuk pintu kamar, tetapi tidak ada jawaban.


" Sepertinya mereka kelelahan " bisik Justin yang tiba-tiba saja sudah berada di dekatnya. Anna terlonjak kaget, tidak menduga Justin sudah berada di dekatnya.


" Lebih baik kau tidak membangunkannya. Sepertinya mereka tidak akan terbangun "


" Jadi kau lebih suka kalau aku dimarahi? "


" Kau akan lebih dimarahi kalau membangunkannya saat ini. Kau tahu? Pukul tiga pagi aku masih mendengar suara-suara menyeramkan dari kamar ini "


Anna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus bagaimana. Justin meliriknya sambil tersenyum nakal.


" Akan lebih baik kalau dia tidak bangun sama sekali. Akan terasa lebih damai disini " sambung Justin kemudian. Dalam hati Anna membenarkan perkataan Justin.


*****


" Annaa!!! Anna !! " suara teriakan Jason dari kamarnya membuat Anna yang sedang membereskan makanan di meja makan segera menghentikan kegiatannya. Setengah berlari ia mendatangi Jason di kamarnya. Dan dilihatnya Jason yang masih berada di tempat tidur. Wanita disampingnya sepertinya juga baru terbangun karena mendengar teriakan marah lelaki teman tidurnya itu.


" Ya Tuan " jawab Anna dari depan pintu. Ia merasa risih untuk masuk ke dalam kamar dimana ada sepasang manusia yang masih berada di ranjang. Anna berani bertaruh, keduanya masih te*******, hanya selimut saja yang menutupi tubuh keduanya.


" Kemari kau gadis bo***!! sudah berapa kali aku bilang, kau harus membangunkanku pagi-pagi. Dan lihat jam berapa sekarang ini !! "


Anna yang kini sudah berada di samping tempat tidur tuannya hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tidak berani melihat tuannya yang sedang marah.


" Sudahlah. Jangan marah. Mungkin dia takut membangunkan kita " wanita di samping Jason mencoba melerai, sepertinya ia merasa kasihan pada Anna.


" Siapa yang menyuruhmu bicara? pakai pakaianmu dan segera pergi dari sini " hardik Jason pada wanita itu. Wanita itu menatapnya keheranan.


" Pergi dari sini!! " kata Jason sekali lagi. Wanita itupun beranjak dari tempat tidur. Dan benar saja, ia tidak mengenakan pakaian sehelai pun. Dengan cepat ia memakai pakaiannya dan segera meninggalkan tempat itu.


Anna yang tidak sengaja melihatnya lalu menutup matanya. Ia merasa malu. Jason menangkap kegugupan Anna. Segera saja sebuah ide nakal muncul di kepalanya.


" Siapkan kamar mandiku " perintahnya. Sambil menunduk, Anna mengangguk. Ia lalu bergegas ke kamar mandi menyiapkan air panas untuk tuannya.


Saat Anna sedang menyiapkan air panas di bak mandi, tiba-tiba saja Jason masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.


" T-Tuan... "


" Kenapa? aku mau mandi " jawab Jason dengan santainya. Anna menundukkan wajahnya. Ia lalu beranjak dari tempatnya semula.


" Kalau begitu, saya permisi Tuan " kata Anna sambil melangkah menuju pintu. Tapi Jason menangkap tangannya sehingga langkah Anna terhenti.


" Kenapa kau tidak menemaniku mandi saja? aku membutuhkan seseorang untuk menggosok punggungku " bisiknya lembut di telinga Anna. Seketika bulu kuduk Anna seakan merenggang. Ia sangat ketakutan sekarang. Bayangan peristiwa yang ia alami beberapa waktu lalu bersama Roger melintas di kepalanya. Tubuhnya serasa kaku.


" Kenapa kau hanya diam saja? Ayolah, kau akan menyukainya " bisik Jason sekali lagi. Anna merasakan tubuhnya menegang. Ia sekuat tenaga berusaha melawan ketakutannya. Dan ketika ia berhasil mengumpulkan keberaniannya, ia lantas menghempaskan tangan Jason dan berlari keluar dari tempat itu sambil menangis.


Brukk!! Anna yang berlari pun menabrak Justin di ruang tengah. Sesaat mereka berpandangan sebelum akhirnya Anna berlari meninggalkan Justin yang kebingungan.


" Apa yang membuatnya menangis seperti itu ? " Justin bertanya-tanya. Justin berpikir sejenak. Sebelumnya, Ia pernah melihat Anna menangis ketakutan karena ulah Roger. Jangan-jangan...?. Merasa ada yang tidak beres, Justin pun bergegas mencari Anna.


Dan ia menemukan Anna di kamarnya. Gadis itu meringkuk ketakutan di sudut kamar. Ia menangis sesenggukan. Pelan-pelan Justin mendekatinya. Anna masih menangis.


" Anna.. " Justin memanggilnya pelan. Anna tidak menjawab. Justin lalu meraih tubuh Anna dalam pelukannya.


" Semuanya akan baik-baik saja, Anna. Ada aku disini "


****


" Apa yang kau lakukan padanya?!! " Justin berteriak marah pada Jason yang sedang mengenakan kemejanya.


" Siapa yang kau bicarakan ? " tanya Jason acuh sambil mengancingkan kemejanya.


" Tentu saja Anna, dasar bren****!! "


" Jaga bicaramu, Justin. Aku bisa menendangmu keluar dari rumah ini kapan saja "


" Silakan, tapi aku akan membawa Anna keluar dari sini bersamaku !! " Justin tidak mau kalah.


" Wow. Kau pikir kau itu siapa? Jangan bermimpi di siang hari, Justin. Anna itu tawananku, jangan harap kau bisa membawanya pergi sebelum aku sendiri yang melepaskannya "


" A-Apa? tawananmu ? " Justin tidak mengerti.


" Kenapa dia menjadi tawananmu? Apa salahnya padamu ? "


Jason tidak menjawab pertanyaan Justin. Ia sibuk memakai dasinya. Justin menatapnya dengan marah.


" Apa alasannya, kau tidak perlu tahu. Yang pasti, dia akan terus berada disini selama aku menginginkannya "


****


Justin memukuli sasaknya dengan marah. Ia merasa gagal melindungi Anna. Gadis itu menangis ketakutan dan ia bahkan tidak mengetahui alasannya. Tidak. Tidak boleh terjadi lagi. Ia tidak akan membiarkan Anna menangis seperti tadi. Ia harus menjaga Anna. Membuat gadis itu merasa aman bersamanya.


***


" Apa yang akan kau masak malam ini ? " tanya Justin pada Anna yang sedang memotong wortel. Ia sedang berusaha mengakrabkan dirinya dengan Anna. Ia harus melakukan itu agar Anna merasa nyaman dan aman bersamanya. Seperti dulu.


" Aku akan membuat steak malam ini "


" Wow. Steak. Aku suka. Mm, apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu? " tanya Justin. Anna terdiam. Mungkinkah Justin sudah mulai menerima keberadaannya?


" Hei, aku bertanya padamu " Justin mengagetkannya.


" Maaf.. mm, kau bisa membantuku mengupas kentang. Kau bisa ? " Anna mengulurkan sekeranjang kecil berisi kentang beserta pisau.


" Itu sangat mudah, Nona " jawab Justin.


" Oya, Anna, apa yang terjadi padamu tadi pagi? kau sepertinya menangis ketakutan " Justin berusaha mengorek keterangan dari Anna. Anna terdiam. Ia menghentikan kegiatannya memotong wortel.


" Maaf,Anna. Kau tidak perlu bercerita kalau memang tidak ingin " Justin menyadari kediaman Anna.


" Tadi pagi kami hanya berdua di dalam kamar, dan tiba-tiba saja bayangan peristiwa itu muncul di kepalaku. Karena itu aku ketakutan " Anna berbohong.


" Kau tidak perlu takut lagi, Anna. Peristiwa itu sudah lama berlalu "


" Aku tahu, tapi entah kenapa tiba-tiba saja muncul lagi di kepalaku. Aku takut. Dulu ada kamu, Adam dan juga Morgan yang menolongku, tapi sekarang.. "


" Sekarangpun aku masih ada disini untukmu, Anna. Aku rasa Adam juga ikut menjagamu dari atas sana "


Anna tersipu malu.


" Bukankah aku sudah pernah bilang padamu kalau aku adalah malaikat penolongmu " Justin mengingatkan Anna pada perkataannya beberapa waktu lalu. Pipi Anna pun merona.


" Maafkan aku Anna " kata Justin tiba-tiba.


" Ehh? "


" Belakangan ini aku bersikap tidak adil padamu. Aku mengaku salah. Aku akan berusaha memperbaikinya "


Anna menatap Justin.


" Jadi, kau sudah bisa menerima kalau aku ini adik.. "


" Aku rasa itu permasalahan mereka. Kita tidak perlu terlibat dalam hal semacam itu " potong Justin.


Anna mengangguk setuju.