Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Terpaksa Putus Sekolah


Keputusan Marrissa untuk menunggu pembacaan warisan tak urung membuat Anna diliputi perasaan cemas. Bukannya ia meragukan Tuan Jonathan, tetapi lama pernikahan kakaknya dengan Ayah Justin itu baru bisa dihitung dengan jari. Dengan begitu, kemungkinan warisan yang akan diterima Marrissa akan jauh lebih sedikit dari warisan yang diterima Nyonya Olivia dan anak-anaknya. Sementara itu, tagihan Rumah Sakit juga akan semakin membengkak seiring dengan semakin lamanya mereka disana. Dokter sendiri sudah mengatakan kalau Marrissa bisa melakukan rawat jalan, sedangkan Ibunya, mungkin butuh waktu sekitar seminggu lagi untuk bisa berobat jalan. Tapi tentu saja mereka berdua tidak bisa keluar begitu saja dari Rumah Sakit tanpa membayar tagihan.


Anna mulai berpikir untuk mencari pekerjaan saja. Kalau bisa,ia akan mencari pekerjaan full time, bukan lagi pekerjaan paruh waktu sehingga bisa mempunyai gaji yang lumayan. Untuk tugas menjaga Ibunya, ia akan meminta Marrissa melakukannya, karena kondisi kakaknya itu juga sudah membaik. Ia rasa kakaknya tidak akan keberatan dengan hal ini.


Sedangkan untuk masalah sekolah, setelah berpikir matang, Anna memutuskan untuk keluar sekolah. Sebenarnya ini adalah keputusan yang berat untuknya, mengingat keinginan mendiang Adam adalah melihatnya lulus sekolah dan bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.


" Maafkan aku, Adam. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu tahun ini. Tapi aku janji, begitu kehidupan kami membaik, aku akan melanjutkan sekolahku " kata Anna lirih. Butiran airmata tampak menetes dari matanya.


*****


" Apa? keluar sekolah? " tanya Marrissa tidak percaya saat Anna mengungkapkan keinginannya.


" Aku rasa itu yang terbaik saat ini, Marrissa " jawab Anna.


" Sudah ku bilang, kau tidak perlu pusing memikirkan uang, Anna. Kita tinggal menunggu pembacaan warisan. Aku yakin, Jonathan tidak melupakanku. Aku pasti mendapatkan bagianku, Anna !! " Marrissa tetap bersikeras dengan pendapatnya.


" Aku tahu Tuan Jonathan tidak akan melupakanmu, Marrissa. Hanya saja, aku memikirkan bagaimana kehidupan sehari-hari kita selama menunggu pembacaan warisan itu. Kita tidak pernah tahu, kapan surat wasiat Tuan Jonathan dibacakan. Dan bagaimana kalau surat wasiatnya tidak pernah ada? tidak pernah ditulis? " bantah Anna.


" Pasti ada, Anna.. pasti ada.. Jason tidak mungkin mengamankan rumah itu kalau tidak ada pembagian warisan "


" Bagaimana kalau dia mengamankan untuk dirinya sendiri ? "


Anna mendekati kakaknya. Ia lalu berjongkok didekat kursi roda kakaknya.


" Percayalah, Marrissa, ini adalah pilihan terbaik yang kita miliki saat ini. Aku tidak bisa berdiam diri menanti saat yang tidak pasti " ucap Anna lembut.


Lama Marrissa terdiam, hingga,


" Bagaimana dengan keinginanmu untuk kuliah? Aku tahu kau sangat menginginkannya. Bahkan sudah menyiapkan uang untuk itu. Aku akan sangat bersalah kalau sampai harapanmu sirna karena aku " Marrissa mulai terisak.


" Tidak. Kau tidak bersalah Marrissa. Jangan khawatir, begitu kehidupan kita membaik, aku akan melanjutkan sekolahku. Walau terlambat, aku pasti lulus sekolah dan aku akan melanjutkan ke perguruan tinggi " kata Anna bersemangat.


" Janji ya. Kau harus lulus sekolah. Setidaknya diantara kita, ada satu anak keluarga Rose yang bisa lulus sekolah "


" Pasti Marrissa. Aku janji " Anna segera memeluk kakaknya dengan bahagia.


*****


Anna melangkah keluar dari gedung sekolah. Ia baru saja menemui bagian administrasi sekolahnya, menyatakan keinginannya untuk keluar sekolah. Bagian administrasi sangat terkejut dengan keputusannya, apalagi wali kelasnya, Miss Devgan. Wali kelasnya membujuknya agar menarik keputusannya dan memikirkannya baik-baik terlebih dahulu. Bukan tanpa alasan ia melakukannya, minggu ini ujian akan dimulai. Ia berharap setidaknya Anna mau bertahan sampai ujian berakhir. Tetapi Anna tetap pada keputusannya semula. Ia memutuskan untuk mencabut berkasnya.


Anna memandang gedung sekolahnya dari jalan masuk dekat pintu gerbang sekolah. Gedung sekolahnya terlihat sangat besar dan megah. Anna mengusap airmatanya. Ia akan sangat merindukan sekolah ini.