Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Pesta (Part 1)


Anna melipat baju-baju mungil milik Joanna seraya tersenyum. Waktu begitu cepat berlalu. Padahal rasanya baru kemarin ia melahirkan Joanna, tapi lihatlah sekarang, bayinya sekarang bahkan sudah bisa berlari, hingga membuat dirinya cukup kerepotan menjaganya.


" Dia terlihat pulas sekali " tiba-tiba saja Justin sudah berada di sampingnya.


Anna mengangguk setuju.


" Seharian ini ia berlarian kesana kemari. Ada saja yang ingin dia lihat dan dia kejar. Dia penuh dengan rasa ingin tahu " kata Anna sambil menatap Joanna yang tertidur lelap.


" Itu bagus untuk kalian berdua "


" Maksudmu? "


" Jojo bisa memenuhi rasa ingin tahunya, dan kau... bisa dikatakan Jojo melatihmu berolahraga secara gratis " kata Justin tenang.


" Hmm... ya, aku rasa juga begitu. Aku tidak harus ke gym untuk menyingkirkan lemak-lemak yang menumpuk di perutku ini " balas Anna.


Mereka berdua tertawa kecil. Joanna tampak mengeliat hingga keduanya langsung terdiam.


" Sepertinya dia tidak suka dibicarakan " kata Justin setengah berbisik.


" Aku rasa juga begitu "


" Anna, aku tidak bisa menemukan kemeja biruku. Bisakah kau membantuku mencarinya? "


" Tentu "


*****


" Lihat, kemeja biru yang kau cari itu ada disini " kata Anna sambil menunjuk tumpukan baju di almari. Ia lalu mengambil kemeja biru yang diinginkan Justin.


" Wow, amazing. Bagaimana kau bisa menemukannya dengan sangat cepat ? "


Anna tersenyum. Bukankah memang itu pekerjaannya selama ini? Dirumah besar ini, walaupun ia berstatus sebagai istri Jason, ia tetap diperlakukan seperti pembantu oleh suaminya itu. Jason hanya bersikap baik padanya saat mereka kembali ke rumah ini dan saat kakaknya mengunjunginya. Selebihnya ia selalu acuh pada Anna dan juga putri mereka, Joanna. Sepertinya ia bahkan tidak menganggap mereka berdua ada di rumah ini. Jason lebih sering ke luar negeri, atau menginap di rumah warisan itu. Setiap ia pulang ke rumah ini, ia hanya marah dan memerintah Anna ini dan itu.


Tapi Anna juga tidak bisa berbuat banyak. Ia sadar, Jason sudah memberikannya tempat tinggal dan yang paling penting, Jason sudah mencukupi kebutuhan Joanna, hingga mereka tidak terlunta-lunta di jalanan karena Anna sudah benar-benar tidak mempunyai siapapun di kota ini.


Sebulan setelah Anna kembali ke kediaman Wilderman, Marrissa memutuskan untuk pergi ke luar negeri bersama dengan ibunya. Ia mendapatkan pekerjaan yang cukup menjanjikan disana. Selain itu, ia juga ingin ibunya mendapatkan perawatan yang lebih baik di luar negeri. Marrissa memang sangatlah beruntung. Begitu kedua kakinya sembuh, berbagai tawaran pekerjaan menghampirinya. Ia memang cantik dan juga pintar. Tidak seperti dirinya.


" Hei, kenapa kau melamun? "


" Eh.. " Anna tersadar dari lamunannya.


" Kenapa kau tiba-tiba kau mencari kemeja? " Anna mengalihkan pembicaraan.


" Besok malam ada pesta dansa di sekolah. Waktu begitu cepat berlalu ya? Sepertinya baru kemarin kita melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan takut-takut..... "


Anna sudah tidak mendengarkan perkataan Justin lagi. Ia terhanyut dengan perasaannya. Pesta dansa? lulus? Astaga, sudah selama itukah aku tertinggal. Ya Tuhan, disaat semua teman sekolahku sibuk belajar, aku disini sibuk menggendong bayi. Dan besok, disaat mereka mendapatkan impian mereka, bekerja di tempat yang mereka inginkan, liburan di tempat yang bagus, dan banyak lagi hal yang nenyenangkan lainnya, aku masih disini. Aku mengasuh anakku disini dengan suami yang tidak pantas disebut suami . Dan aku tidak bisa melakukan apapun. Aku.. aku..


" Heii... " Justin menepuk bahu Anna.


" Eh, ya ..."


" Kau melamun lagi "


" Maaf . Kalau tidak ada lagi yang bisa kubantu, aku akan kembali ke kamar lagi " kata Anna dengan kikuk. Ia hendak pergi meninggalkan Justin. Tapi tiba-tiba saja tangan Justin meraihnya, menghentikan langkahnya.


" Anna "


Anna menunduk, ia sedang menahan airmatanya sekarang.


" Tidak apa. Aku pergi dulu " Anna melepaskan tangan Justin dan segera berlalu pergi.


Selepas kepergian Anna,


Sia* Justin. Kenapa kau begitu pengecut. Kenapa kau tidak bisa mengatakannya. Bukankah kau hanya perlu bertanya padanya, maukah ia menemanimu datang ke pesta ??? rrrghh..


Justin menyugar rambutnya kasar. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri.


******


" Anna, aku pergi dulu " pamit Justin pada Anna yang sedang sibuk mengganti saluran televisi.


" Ya, pergilah. Have fun " jawab Anna sambil tersenyum manis. Justin mengangguk dan ia pun berlalu.


Astaga. Justin terlihat tampan sekali. Kira-kira, siapa nanti teman dansanya? Apa si Amanda? atau ada perempuan lain? Hufth, kenapa aku jadi memikirkan hal itu? Terserah Justin mau memilih siapa. Toh, dia tampan dan populer, pasti banyak yang mengantri untuk berdansa dengannya. Andai saja waktu bisa berputar kembali, aku juga ingin berada disana dan berdansa dengan Justin. Ehh, tidak, tidak. Apa yang sedang kupikirkan barusan? Ingat, Justin itu iparmu. Setampan apapun dia. Sepopuler apapun dia. Sebaik apapun dia. Dia adalah adik ipar !!


Deringan telepon mengagetkan Anna yang sedang melamunkan Justin, si adik ipar. Anna meraih ganggang telpon


" Hei Anna, kau di rumah sekarang? "


Dari suaranya, Anna langsung tahu kalau itu adalah Max.


" Sure, Max. Kalau aku tidak dirumah, lalu siapa sekarang yang sedang berbicara denganmu ? Hantu? " jawab Anna kesal. Max terkikik di seberang sana.


" Kalau kau mencari Justin, dia sedang berada di pesta dansa sekolah sekarang "


" Pesta dansa? Oh ya, Justin pernah mengatakan padaku tentang hal itu. Apa kamu tidak ikut? "


" Untuk apa menanyakan hal itu padaku? sudah pasti jawabannya tidak. Aku harus merawat bayiku "


" Hmm, sayang sekali. Aku rasa kau sangat ingin datang kan? "


" Ya " kata itu meluncur saja dari bibir Anna.


" Benar kan? "


" Benar apanya? "


" Kau bilang kau ingin datang. Jujurlah "


Anna tersipu. Well, apa ruginya kalau dia bicara jujur? Toh, Max berada jauh di Paris sana.


" Ya, Aku ingin sekali datang ke pesta itu. Meskipun aku tidak lulus sekolah, tapi aku ingin merasakan pengalaman pesta dansa di sekolah. Ini seperti pengalaman sekali seumur hidup. Tapi aku tahu aku tidak akan bisa melakukannya. Bukan hanya karena aku harus menjaga Joanna, tapi aku juga tidak akan sanggup bertemu teman-temanku. Aku merasa ingin tapi sekaligus juga merasa tidak pantas berada di sana "


" Jangan bicara begitu. Kau orang baik, Anna. Kau pantas berada di sana. Aku rasa teman-temanmu juga merindukanmu. Apa kau juga tidak merindukan mereka? "


" Sangat. Aku bahkan merindukan penjaga sekolahan yang galak itu. Aku merindukan meja sekolahan. Merindukan bau buku lama di perpustakaan.. "


" Oke, kurasa itu lebih dari cukup sebagai alasan untuk datang ke pesta "


" Kau gila. Bagaimana mungkin aku datang? "


" Aku tidak gila, Anna. Dan kau hanya perlu membuka pintu rumahmu untuk mengatasi semua masalahmu "


" Apa maksudmu ? "


" Buka pintu sekarang, Anna. Atau aku akan mendobraknya "