
Anna mencuci piring dan gelas yang kotor. Minggu ini Morgan sengaja menjemputnya di kediaman Wilderman, jadi dia tidak mempunyai alasan untuk menolak. Dan disinilah ia berada, menghabiskan hari minggunya bersama Morgan dan keluarganya.
Mereka makan siang bersama. Marrissa dan Morgan terlihat semakin dekat. Anna bahagia melihatnya. Ia selalu berharap Morgan bisa menjadi kakak iparnya. Dan tampaknya harapannya akan segera menjadi kenyataan, seiring dengan semakin dekatnya hubungan kakaknya dengan Morgan. Anna bisa melihat tatapan penuh cinta dari mata Morgan yang ditujukan untuk Marrissa. Dalam hatinya, Anna berharap kelak ia akan menemukan seorang pria yang mempunyai tatapan mata penuh cinta padanya seperti yang dimiliki Morgan untuk Marrissa.
" Anna, gawaimu berdering " kata Marrissa tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop miliknya. Ia memang sibuk sekarang. Selain bekerja sebagai admin online sebuah toko, Marrissa juga mulai mengembangkan bakat menulisnya. Dan semua ini berkat Morgan. Beberapa hari lalu, Morgan membelikan sebuah laptop untuknya. Ia memang mengatakan ingin membeli sebuah laptop agar bisa bekerja secara online. Dan Morgan mengabulkannya. Meski Marrissa bersikeras akan membayar laptop itu saat ia mempunyai cukup uang nanti.
" Anna " Marrissa kembali memanggilnya. Tapi tampaknya Anna tidak mendengarkannya. Marrissa lalu mengarahkan kursi rodanya ke arah tas Anna yang tergeletak di sofa ruang tamu. Ia lalu membuka resleting tas ransel adiknya. Tangannya terulur ke dalam, mencari gawai yang masih berbunyi. Dan tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah amplop putih. Karena penasaran, ia lalu membuka amplop berlogo rumah sakit itu. Tangan Marrissa bergetar saat membaca isi amplop itu. Sebuah hasil pemeriksaan kehamilan atas nama adiknya, Marrie-Ann Rose.
" Ada apa? " Morgan yang baru saja selesai mengecek keadaan Kattie tampak keheranan saat melihat Marrissa yang menangis di ruang tamu. Cepat-cepat ia mendekati Marrissa.
" Ada apa? " tanyanya sekali lagi. Marrissa tidak menjawab. Morgan segera mengambil kertas yang ada di tangan Marrissa. Ia lalu membacanya. Ia tampak sedikit shock dengan apa yang baru saja ia baca.
" Ya Tuhan, Anna.. " Morgan memegangi kepalanya. Marrissa di depannya masih menangis. Morgan berjongkok di depan Marrissa. Ia lalu menghapus airmata Marrissa.
" Aku tahu ini pasti sulit sekali bagi kalian berdua. Ia pasti punya alasan untuk menyembunyikan hal ini dari kita. Bicaralah hati-hati dengannya. Aku akan meninggalkan kalian berdua agar lebih leluasa berbicara. Dan ingat, jangan terlalu emosi padanya. Ia pun sedang tidak baik-baik saja "
Marrissa mengangguk. Morgan lalu bangkit dan melangkah keluar dari rumah.
" Apa Morgan pergi bekerja? Ia harusnya mengantarku pulang... " Anna tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat kakaknya menggenggam kertas hasil periksa nya dengan kedua mata yang sembab.
" Anna, kita harus bicara , duduklah " perintah Marrissa lembut. Anna mengangguk. Ia lalu duduk di sofa. Jantungnya berdebar. Ia tahu, apa yang akan mereka bicarakan, tapi ia bingung harus mengatakan apa pada kakaknya.
" Anna, aku paham jika keadaan keluarga kita membuatmu tertekan. Dan aku minta maaf karenanya. Aku juga minta maaf karena aku terlalu sibuk dengan masalahku sendiri, dengan ketidakberdayaanku, hingga aku melupakan bahwa kau juga membutuhkan tempat untuk bersandar. Kau membutuhkan tempat untuk bercerita. Kau masih terlalu labil, terlalu muda untuk menanggung semua beban ini sendirian. Aku minta maaf karena tidak bisa berada disampingmu saat kau membutuhkannya. Hingga kau mungkin terjerumus pada pergaulan yang salah. Aku minta maaf... "
" Tidak, Marrissa. Kau ataupun Ibu tidak salah. Kalian bukanlah beban untukku " jawab Anna sambil menangis.
" Lalu mengapa hal ini bisa terjadi? "
Anna tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya sambil terisak. Marrissa mendekatinya.
" Aku tidak sedang memarahimu, Anna. Kesalahan bisa dilakukan siapa saja. Aku hanya ingin kau jujur. Agar kita bisa menentukan langkah kita selanjutnya. Apa kau ingin menanggung semuanya sendirian? Membebaskan tanggung jawab pria itu? Baik, katakanlah kau ingin menanggung ini sendirian, tapi apa dengan begitu kau bisa menjamin pria itu tidak melakukan hal yang sama pada gadis lain? Apa kau ingin bayi mungil yang tidak berdosa ini atau mungkin bayi-bayi tidak berdosa lainnya nantinya tidak memiliki seseorang untuk dipanggil " Ayah "? Jangan biarkan ia melenggang bebas, Anna. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya "
" Jujurlah, Anna "
Marrissa menggenggam tangan adiknya. Ia masih menatap Anna penuh harap, agar adiknya itu mau berterus terang padanya.
" Ini semua karenanya. Ia mabuk dan memaksaku " kata Anna sambil terisak.
" Siapa, Anna.. "
" J-Jason.. "
****
Sore itu, setelah mengantar Anna pulang ke kediaman Wilderman. Marrissa dan Morgan segera menemui Jason di rumah warisan Jonathan.
" Whoa, Marrissa. Ada apa kau kemari ? Apa kau sudah tidak sabar menempati rumah ini? Bukankah kau harus menunggu setahun untuk itu ? " ejek Jason.
Marrissa tidak bereaksi. Ia menatap tajam pada Jason.
" Kita harus bicara "
" Boleh. Tentang apa? Rumah ini ? Kau mulai bosan hidup miskin rupanya "
Perkataan Jason hampir membuat Morgan tersulut emosi. Tetapi Marrissa menggenggam tangan Morgan seakan meminta Morgan untuk mengesampingkan kemarahannya. Rahang Jason mengeras melihat Marrissa menggenggam tangan Morgan. Sungguh, ia sangat cemburu dengan kedekatan keduanya.
" Bicaralah, tapi hanya berdua saja. Ini masalah keluarga " Jason menekankan kata keluarga pada kata-katanya sambil melihat Morgan tajam, memperlihatkan ketidaksukaannya pada pria yang menurutnya aneh itu.
" Tinggalkan kami berdua, Morgan " pinta Marrissa sambil menatap lembut Morgan.
" Kau yakin? " Morgan pun kelihatannya tidak rela melihat Marrissa bicara hanya berdua saja dengan Jason.
Marrissa mengangguk.
" Tunggulah di mobil, aku akan keluar beberapa saat lagi "
Mereka berdua saling menatap, membuat Jason jengah melihatnya.
" Baiklah. Aku akan menunggumu di mobil "
Morgan pun keluar dari rumah itu menuju mobil tuanya yang terparkir di halaman.
" Sepertinya kau akan segera mengakhiri masa jandamu " sindir Jason.
" Kenapa tidak? Morgan lelaki yang baik. Ia pekerja keras dan sangat bertanggung jawab " Marrissa menanggapi sindiran Jason dengan jawaban telak.
" Tapi aku akan menikah setelah kau menikah terlebih dahulu " tambah Marrissa. Jason tersenyum kecut. Ia merasa Marrissa menyindirnya balik. Siapapun tahu, Jason Wilderman tidak mempunyai seorang kekasih. Ia memang sering bersenang-senang dengan banyak wanita. Tapi tidak ada seorangpun yang ia akui sebagai kekasih.
" Tidak. Tentu saja tidak. Aku ingin kau segera menikah, kalau bisa secepatnya "
Jason tertawa.
" Kalau begitu keinginanmu tidak akan terkabulkan. Aku tidak akan pernah menikah "
" Siapa bilang itu sebuah keinginan? itu adalah sebuah perintah "
Jason kembali tertawa. Marrissa masih melihatnya dengan serius.
" Kau? memerintahku? atas dasar apa? " tantang Jason.
" Pertama, aku masih sah istri mendiang Ayahmu. Dan yang kedua. Karena aku adalah kakak Marrie-Ann Rose, gadis yang sudah kauhamili " kata Marrissa dengan tenang. Jason terperanjat.
" Anna? dia hamil? "
" Ya. Dan kau adalah Ayah dari bayi yang dikandungnya "
Jason berdecih.
" Aku? bagaimana kau bisa menuduhku? Kami tidak tinggal berdua saja, masih ada Justin,adik tiriku. Dan jangan lupakan temannya, siapa namanya? Max? mereka terlihat akrab sekali . Bisa jadi adikmu melakukannya tidak hanya denganku saja "
" Berhenti menghina adikku! " nada bicara Marrissa mulai meninggi. Ia merasa terhina dengan ucapan Jason yang ditujukan untuk adiknya. Jason terperangah. Sama sekali tidak mengira bahwa Marrissa akan semarah itu. Marrissa mengatur nafasnya. Ia harus menghadapi ini dengan kepala dingin.
" Anna sudah menceritakan semuanya. Kau tidak bisa mengelak lagi "
Jason menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
" Berapa yang kalian butuhkan? "
" Apa maksudmu? "
" Bukankah adikmu itu masih terlalu muda untuk memiliki anak? Sebutkan saja nominal yang kalian inginkan. Aku juga akan menyuruh Noah mencari rekomendasi dokter yang tepat untuk hal ini "
" Hal ini? Kau ingin Anna menggugurkan kandungannya? "
" Kau bisa membujuknya untuk melakukannya "
" Dan kau tidak akan bertanggungjawab sama sekali? dasar bre***** !!"
" Siapa bilang? Aku sudah menawarimu uang "
" Kau sudah merusak masa depan adikku, Jason Wilderman. Dan kau harus bertanggungjawab untuk itu dengan cara menikahinya !! " kata Marrissa dengan lantang.
" Apa? Menikahinya? "
" Ya. Tentu saja "
" Kau bergurau? aku sama sekali tidak mencintainya. Sama sekali " tolak Jason. Bagaimana mungkin ia menikahi Anna sedangkan hatinya hanya untuk Marrissa?
" Seharusnya kau memikirkan hal itu sebelum melakukannya " Marrissa menatapnya tajam. Jason terdiam.
" Aku hanya ingin masa depan Anna terselamatkan. Kau harus menikahinya. Secepatnya. Anak itu harus lahir dengan nama keluargamu di belakangnya "
" Kalau aku tidak mau? apa kau akan menuntutku? " tantang Jason. Ia tahu Marrissa tidak sebodoh itu untuk menuntutnya. Karena kalau ia melakukannya, Jason dengan mudah akan menutup kasusnya, tentu saja dengan uang yang dimilikinya.
Marrissa membuang nafasnya dengan berat. Ia sudah memikirkan hal ini sebelumnya. Ia tahu, tidak akan pernah mudah untuk membuat kesepakatan dengan seorang Jason Wilderman.
" Aku akan memberikan rumah ini sebagai gantinya. Aku tidak akan pernah menuntut hakku atas rumah ini " kata Marrissa dengan bergetar. Ia tahu, Jason tidak akan pernah rela memberikan secuilpun harta mendiang Ayahnya pada Marrissa.
" Dan kau boleh menceraikan Anna, kapanpun setelah anak itu lahir. Aku juga akan memastikan Anna untuk tidak pernah menuntut apapun saat perceraian itu terjadi " tambahnya. Jason terlihat menimbang-nimbang penawaran Marrissa.
" Rumah ini? boleh juga, tapi aku rasa itu masih belum sepadan dengan masa lajangku yang harus terenggut karena menikahi adikmu " kata Jason acuh.
Marrissa tercengang. Apa lagi yang diinginkan ba****** ini? umpatnya. Tapi ia harus tenang. Bagaimanapun tujuan utama adalah membuat Jason menikahi Anna.
" Lalu apa yang kau inginkan? "
Jason tersenyum smirk.
" Aku menerima rumah ini. Dan ada satu hal lagi yang harus kau lakukan "
" Apa itu? "
" Selama aku menikah dengan adikmu, kau tidak boleh menikahi pria aneh itu. Akan lebih baik jika kau meninggalkannya selama kau masih menginginkan aku bersama dengan adikmu "