
Sambil terisak, Anna beringsut mundur. Ia menunduk dan memegangi kedua lengannya. Rambutnya acak-acakan. Pakaiannya apalagi. Anna menangisi nasibnya malam ini. Ia benar-benar sangat menyesal telah tertidur di ruang tengah. Ia menyesal tidak memakai celana jeans saja hari ini dan malah memilih mengenakan rok panjang sehingga b******* itu mudah melancarkan aksinya. Ia menyesal tidak bergabung dengan Justin dan Max saja. Anna menyesali semuanya. Ia terus terisak meratapi nasibnya.
Didepannya, Jason tergeletak di lantai. Sebuah senyum terukir di wajahnya. Dan ia pun tertidur.
*****
Pukul dua siang.
Justin bersiul riang memasuki rumahnya. Keadaan rumah yang sepi tidak membuatnya heran. Ini hari Senin, kakak tirinya itu pasti tengah berada di kantor, sibuk dengan urusan pekerjaannya. Ia sendiri, saat ini, tengah bolos sekolah demi mengantar sahabatnya, Max, ke bandara. Max pergi hari ini. Sahabatnya itu memilih untuk pindah ke sekolah seni di Paris. Rupanya darah seni Ibunya mengalir kuat dalam dirinya. Kemarin, Max sengaja datang untuk berpamitan pada sahabatnya dan juga pada Anna.
Justin menghela nafas lega. Saat ini, ia tidak mempunyai alasan untuk cemburu pada kedekatan Max dan Anna. Sebelum pergi, Max sudah menjelaskan padanya, bahwa hubungannya dengan Anna tidak lebih dari sahabat. Max justru mensupport Justin agar bisa mengungkapkan perasaannya pada Anna. Ia bilang, Justin akan menyesal jika ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Anna. Dan Justin pun menyanggupinya, suatu saat nanti ia pasti akan mengatakan perasaannya pada Anna, tapi ia membutuhkan waktu untuk itu. Terlebih ada Ashley di sampingnya. Pasti tidak akan mudah baginya maupun Ashley untuk saling melepaskan. Ia memang tidak mencintai Ashley, tapi gadis itu sangat mencintainya. Dan mereka berdua adalah pasangan terpopuler di sekolah. Akan buruk jika tiba-tiba saja ia memutuskan Ashley tanpa sebab.
Justin menuju ruang makan. Ia begitu lapar siang ini. Tadi pagi ia tidak sempat sarapan di rumah Max. Mereka berdua bangun kesiangan dan harus buru-buru ke bandara untuk mengejar pesawat.
Justin mengernyit. Tidak ada apapun di meja makan. Biasanya hidangan makan siang masih tersedia di meja hingga ia pulang. Karena Jason tidak pernah makan siang dirumah, maka Anna hanya menunggu kedatangannya untuk makan siang.
Justin menuju kamar belakang. Ia hendak mencari Anna. Memintanya untuk sekedar membuatkan telur dadar untuknya karena ia sudah sangat lapar.
Tok. Tok. Justin mengetuk pintu kamar Anna.
" Anna? apa kamu di dalam? "
Tidak ada sahutan sama sekali. Justin pun mengetuknya beberapa kali, tetapi tetap tidak ada sahutan. Akhirnya iapun memilih pergi ke dapur dan membuat makan siangnya sendiri.
Di dalam kamar, Anna menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia masih terbayang peristiwa semalam. Air matanya terus menerus menetes. Ia sangat bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa dia harus mengadukan hal ini? Pada siapa ia harus mengadu? Beranikah ia melaporkan hal ini ke polisi, menanggung resikonya jika identitasnya terbuka? Dan kalau ia melaporkan hal ini ke polisi, apa Marrissa dan Ibunya akan baik-baik saja?
*****
Jason merenung di balik meja kerjanya. Ia agak bingung dengan keadaannya pagi ini. Pagi ini, ia terbangun di ruang tengah dengan kepala yang pening dan pakaian yang lumayan acak-acakan. Malam itu, ia memang banyak minum. Ia melakukannya untuk melupakan kemarahannya pada Marrissa dan juga kekesalannya pada Justin. Tapi ia minum minuman keras di kamarnya sendiri. Lalu bagaimana ia bisa berada di ruang tengah? Dan kenapa bajunya seperti itu? Jason benar-benar bingung. Dan apa Anna atau Roberta sempat melihatnya dengan keadaan yang seperti itu? Kalau ya, betapa memalukannya.
Jason meremas rambut di kepalanya. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi. Tapi apa? Ia tidak bisa mengingatnya karena banyaknya minuman yang ia teguk semalam. Lalu siapa yang bisa ia tanyai? Cukup lama Jason merenung, hingga tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hampir di setiap ruangan di kediaman Wilderman terdapat cctv. Ia bisa mendapatkan informasi dari cctv. Jason tersenyum. Ia harus pulang secepatnya dan mengecek cctv. Ia begitu penasaran. Bagaimanapun ia tidak ingin terlihat konyol saat mabuk di depan Anna maupun Roberta. Bisa hancur harga dirinya.
****
" Kau pulang? " Justin bertanya keheranan saat mendapati kakak tirinya memasuki pintu rumah. Setahunya, Jason baru akan pulang sekitar pukul tujuh malam, atau paling cepat jam lima sore. Justin melirik jam tangannya. Baru jam tiga sore. Dan apa yang membuat Jason terlihat terburu-buru ?
" Kenapa kaget? Kau lupa kalau ini rumahku " jawab Jason ketus. Justin mendengus kesal. Jason memang sangat menyebalkan. Tak heran banyak orang yang tidak ingin bersinggungan dengannya.
Jason mempercepat rekaman yang menunjukkan saat adik tiri dan temannya bercanda di ruang tengah. Ia memang tidak menyukai hal itu. Ia benci melihat Justin bahagia.
Rekaman ia percepat di jam hampir tengah malam. Sekitar pukul sebelas lebih. Rekaman itu menunjukkan ia berada di ruang tengah bersama seseorang dan sepertinya tengah berkelahi. Jason terperanjat. Ia membuka matanya lebar. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang ada dalam rekaman cctv itu adalah dirinya, dan juga Anna. Dan mereka tidak berkelahi. Tetapi Jason tengah berusaha mem******* Anna, dan gadis itu memberontak.
Jason memegangi dahinya. Cemas. Apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu? Kenapa ia melakukan itu dengannya ? Terlebih lagi, Anna adalah adik Marrissa. Wanita yang ia cintai sekaligus wanita yang sudah membuatnya sakit hati. Bagaimana dengan kelanjutan rencana balas dendamnya? Tunggu. Jason tersenyum smirk. Bukankah ini hampir sesuai dengan rencananya. Justru malah terlalu bagus. Ia sudah mendapatkan adik Marrissa sekaligus menyakitinya. Bukankah ini sangat bagus?
***
" Anna, apa kau sakit? " tanya Justin dari depan kamar Anna. Ia merasa khawatir karena Anna tidak juga menampakkan batang hidungnya. Apalagi ini sudah pukul enam sore.
" Aku tidak apa " terdengar suara parau dari kamar Anna.
" Suaramu terdengar aneh. Beristirahatlah kalau memang sedang sakit. Aku akan memesankan makanan untukmu " jelas Justin lalu berlalu dari kamar Anna.
" Anna sakit. Lebih baik kita pesan makanan restoran saja " kata Justin saat melewati ruang makan dan melihat Jason tengah duduk menunggu makan malamnya.
" S*** " Jason mengumpat.
Justin mendengus kesal. Bisa-bisanya Jason mengumpat Anna saat gadis itu tengah sakit. Keterlaluan.
***
Pukul empat pagi.
Anna keluar dari kamarnya. Matanya terlihat sembab. Ia memang menangis semalaman. Dilihatnya sekotak makanan di atas meja kecil di samping pintu kamarnya. Pasti Justin yang meletakkannya disana semalam, pikirnya.
Anna melangkah menuju kamar mandi. Kandung kemihnya yang penuh memaksanya meninggalkan kamarnya pagi ini.
Selesai mengosongkan kandung kemihnya,ia pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya lagi. Tapi tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya dan menutup mulutnya dengan tangan, hingga Anna tidak bisa menjerit. Saat Anna mengetahui siapa orangnya, kakinya seakan melemas.
" Jangan coba-coba berteriak atau aku akan mema***kan lehermu " ancamnya. Dengan takut Anna mengangguk. Jason menyeringai. Ia menatap tajam Anna. Anna tertunduk takut.
" Dengar, kalau sampai kau bercerita pada siapapun tentang kejadian kemarin, maka aku pastikan, kau akan melihat seluruh keluargamu menderita sampai ajal menjemput mereka. Ingat itu " bisiknya di telinga Anna. Anna tidak bisa berkata apapun. Ia sangat ketakutan.