
Anna masih berdiri di tempatnya. Ia tidak mampu menggerakkan kakinya untuk menyusul Justin. Bagaimana ia bisa menggerakkan kaki jika untuk menggerakkan bibirnya saja ia tidak mampu. Lidahnya terasa kelu. Ia tidak mampu berkata apapun untuk membela dirinya dari tuduhan Justin.
Anna menggigit bibirnya. Marrissa benar, keluarga mereka memang miskin. Mereka butuh uang untuk bertahan hidup. Dan Anna membutuhkan uang untuk bisa mewujudkan impiannya, kuliah. Tapi Marrissa salah jika menggunakan hal itu sebagai alasan untuk mengancamnya. Bahkan sampai detik inipun, Anna tidak ingin mencampuri urusan kakaknya dengan Tuan Wilderman. Ia memang menyesali tindakan kakaknya itu, tapi membongkar jatidiri Marrissa pada keluarga Wilderman tidak akan memberikan pengaruh apapun bagi dirinya, kecuali rasa malu. Malu pada Nyonya Olivia yang telah begitu baik padanya. Juga malu pada Justin dan Josh atas hubungan Marrissa yang telah memisahkan kedua orangtua mereka.
Kini, Justinpun telah salah paham terhadapnya. Dan Anna tidak bertindak apapun untuk membela dirinya. Ia memang bodoh sekaligus pengecut. Anna menarik nafas panjang. Tidak. Ini tidak benar! Justin tidak boleh berpikiran seperti itu tentangnya! Ia harus menjelaskan semuanya pada Justin agar cowok itu tidak membencinya. Ia tidak mau dibenci Justin untuk sesuatu yang tidak ia lakukan. Ia tidak mau dibenci Justin dengan alasan apapun. Karena ia menyukai Justin.
*****
Senin pagi.
Suasana sekolah tampak ramai. Ini karena hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan musim panas, pastilah siswa siswi di sekolah ini sibuk menceritakan kegiatan apa saja yang mereka lakukan di saat mereka liburan. Mereka seakan saling berlomba menunjukkan liburan siapa yang paling keren, paling mahal, dan tentunya yang paling mengesankan. Anna menatap kerumunan siswa yang tengah mengobrol dengan seru. Ah, andai saja ia punya segerombolan teman seperti mereka, pastilah akan menyenangkan membicarakan hal-hal seperti ini. Walaupun, tentu saja ia tidak punya cerita liburan keren seperti teman-temannya.
Anna memalingkan wajahnya ke kelas Justin. Kelas itu tampak luar biasa ramai. Beberapa siswa bahkan memaksa melihat melalui kaca jendela kelas yang terletak di samping koridor tempat Anna berdiri. Mereka saling berbisik riuh. Beberapa siswi bahkan menangis. Penasaran, Annapun ikut melihat apa yang terjadi di dalam kelas itu. Dengan susah payah ia menembus barisan siswi di depan pintu. Saat ia sampai di barisan paling depan, sebuah pemandangan tidak mengenakkan yang ia dapatkan. Justin dan Ashley, ketua cheers di sekolahnya, tampak saling menggoda. Mereka duduk berdua dan bertingkah layaknya orang yang sedang berpacaran. Anna meremas ujung bajunya. Sungguh ia tidak bisa melihat hal ini. Terasa sakit di dalam dadanya. Rasa sakit yang sama seperti ketika melihat Roger dan Amanda dulu. Anna berpaling. Kemudian berlari keluar.
*****
Anna duduk di bangku taman sekolah. Masih terasa rasa sakit di ulu hatinya. Buliran airmata mulai terbentuk di matanya.
" Kau kenapa? sepertinya sedih sekali " tanya Drew yang tak sengaja memperhatikan raut muka keruh Anna.
" Aku? aku sedih karena harus berpisah dengan Josh " elak Anna. Drew mengangguk. Sebagai teman, ia tahu betul kalau Anna sangat menyayangi Josh,majikan kecilnya.
" Sudahlah. Josh sudah bersama pengasuh lamanya kan? dia pasti baik-baik saja " hibur Drew.
Anna mengangguk. Untunglah Drew percaya ucapannya. Ia lalu mengusap buliran kecil yang hampir jatuh dari matanya.
" Jadi apa yang mau kau bicarakan ?"
" Anna, aku sangat sedih sekali. Mereka bilang Justin sekarang bersama Ashley, tidak ada lagi harapan untukku ataupun gadis lain. Ini benar-benar seperti hari patah hati nasional. Kau lihat, banyak siswi yang menangisinya " Drew terisak pelan.
" Aku sangat mencintainya. Aku tidak rela melihatnya dengan gadis sombong itu. Walaupun aku yakin suatu saat nanti Justin akan bersamaku, tapi tetap saja aku tidak bisa melihat hal semacam ini " Drew mulai menangis tersedu-sedu. Anna memeluknya. Drew terus menangis. Airmata yang Anna tahan tadi pun ikut keluar. Jadilah mereka menangis bersama. Hanya saja, Drew tidak tahu kalau Anna sebenarnya menangisi orang yang sama.