Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Hamil?


Hari-hari berikutnya Anna lewati dengan sangat berat. Ini sudah lebih dari satu bulan semenjak kejadian itu. Dan selama itu, ia selalu menghindari bertatap muka baik dengan Jason maupun dengan Justin. Ia hanya akan membuka tirai kamar untuk membangunkan Tuannya. Setelah menyiapkan makanpun ia memilih berdiam diri di kamarnya. Ia baru akan keluar dari kamarnya saat Jason pergi bekerja dan Justin berangkat sekolah. Anna merasa sangat tertekan dengan kejadian buruk yang menimpanya. Ia merasa tidak mempunyai harga diri lagi. Ia malu bertemu orang lain. Ia bahkan menghindari bertemu dengan Ibunya dan juga Marrissa. Hari minggunya ia lewati dengan berdiam diri di makam Adam. Ia mencurahkan perasaannya. Disana ia bisa menangis dengan puas. Tanpa khawatir ada orang lain yang mengetahuinya. Seperti hari ini, Anna berdiam diri sambil menangis di makam Adam, tanpa menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya.


" Disini kau rupanya " suara Morgan mengagetkannya. Anna tersentak kaget. Cepat-cepat ia menghapus air matanya.


" Aku juga merindukannya " kata Morgan saat dilihatnya Anna tengah berusaha menghapus airmatanya.


Morgan menarik Anna ke dalam pelukannya.


" Menangislah. Tak apa. Luapkan saja dan kau akan merasa lega " katanya sambil membelai rambut Anna. Anna menangis terisak di dada bidang Morgan.


" Merasa baikan? " tanya Morgan setelah beberapa saat kemudian Anna menarik diri dari pelukannya.


" Kau tahu. Adam sangat membanggakanmu. Ia begitu ingin kau lulus dari perguruan tinggi. Bekerja di sebuah perusahaan yang bagus. Merubah nasib keluargamu. Ia sangat percaya kau bisa melakukannya "


" Tapi sayangnya aku tidak bisa mewujudkan keinginannya " Anna kembali meneteskan airmata.


" Bukannya tidak. Tapi belum. Kau mungkin putus sekolah tahun ini. Tapi masih ada tahun-tahun berikutnya. Kau pasti bisa mengejarnya "


" Entahlah. Aku merasa segalanya semakin sulit "


" Hei. Jangan menyerah. Kau harus kuat. Kau harus berusaha. Seperti Adam yang percaya padamu, seperti itulah kau harus mempercayai dirimu sendiri, bahwa kau bisa melakukannya " Morgan menyemangatinya. Anna terdiam. Perkataan Morgan ada benarnya juga. Apapun yang menimpanya. Ia tidak boleh menyerah. Ia harus kuat. Adam telah menaruh harapan yang besar padanya. Ia tidak boleh mengecewakannya.


" Ayo kita pulang, Kakak dan Ibumu sudah menunggumu " ajakan Morgan mengagetkannya.


" Tapi aku.. " Anna mencoba mencari alasan. Ia belum siap bertemu dengan kakak maupun Ibunya.


" Apa majikanmu melarangmu? " tanya Morgan.


Anna mengangguk.


" Aku akan dimarahi habis-habisan kalau dia sampai tahu " Anna berbohong.


" Kalau begitu, jangan sampai dia tahu " kata Morgan enteng lalu menggandeng tangan Anna, mungkin lebih tepatnya memaksa Anna mengikutinya naik ke mobil pick up miliknya.


****


" Anna!!, Ya Tuhan, aku sangat merindukanmu. Aku selalu berpikir buruk saat kau berminggu-minggu tidak kemari " Marrissa menangis bahagia saat menemui Anna. Kedua tangannya direntangkan. Anna menyambut pelukan hangat kakaknya.


" Maafkan aku " kata Anna lirih. Buliran bening mulai turun membasahi pipinya.


" Kau menangis? Kenapa? Ada masalah dengan pekerjaanmu? Apa dia bersikap kasar padamu? " tanya Marrissa saat menyadari adiknya menangis.


" Tidak. Hanya saja banyak sekali pekerjaan yang dia berikan padaku hingga aku tidak sempat menemui kalian " Anna berbohong lagi.


" Apa Ibu baik-baik saja? aku ingin menemuinya sebentar, aku tidak bisa berlama-lama disini " tambahnya. Marrissa mengangguk. Anna pun meninggalkan mereka berdua, menuju ke kamar Ibunya.


" Apa ada sesuatu yang terjadi, Morgan? " tanya Marrissa sambil menatap Morgan serius. Ia merasa ada yang tidak beres pada adiknya dan berharap Morgan dapat memberitahunya. Morgan mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.


" Aku menemukan dia sedang menangis di makam Adam. Mungkin dia sangat merindukannya. Anna selalu dekat dengan Adam sebelumnya "


" Kita semua merindukannya. Tapi aku tidak pernah melihat Anna seperti itu. Ia terlihat sangat rapuh. Entahlah. Aku merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan "


" Jangan cemas, Marrissa. Anna akan baik-baik saja. Dia gadis yang kuat. Mungkin dia hanya membutuhkan waktu untuk menghimpun kekuatannya "


Morgan mengusap bahunya. Marrissa mengangguk. Ia berharap apa yang Morgan katakan tadi itu benar. Meski dalam hati ia tetap merasa bahwa adiknya sedang tidak baik-baik saja.


" Kau tidak makan siang bersama kami ? "


Anna menggeleng. Ia tidak ingin terlalu lama berada di rumah ini.


" Aku harus segera pulang. Dia bisa marah kalau aku terlambat pulang " katanya. Marrissa menatapnya dengan kecewa.


" Baiklah. Aku akan mengantarmu " tawar Morgan saat dilihatnya Marrissa yang ingin mengatakan sesuatu. Marrissa memandangnya sambil cemberut. Ia tahu, Morgan sengaja mengatakannya untuk menghindari perdebatan antara dia dengan Anna.


" Tidak perlu. Aku akan naik bis " kata Anna cepat.


" Kau yakin? Meski mobilku tua tapi aku rasa naik mobil jauh lebih cepat sampai daripada harus naik bis "


Anna terdiam. Untuk kali ini, menolak tawaran Morgan sama saja dengan memberitahukan pada mereka kalau saat ini ia tengah berbohong.


*****


Anna memandang jalanan. Ia tidak ingin berbincang apapun dengan Morgan. Dan Morgan tampaknya memahami hal itu. Ia sama sekali tidak menanyai Anna setelah ocehannya tentang padatnya lalu lintas tidak mendapat tanggapan sedikitpun dari Anna. Gadis itu hanya diam sambil melihat jalanan.


Aktifitas Anna yang memandangi jalanan terhenti sesaat saat dilihatnya Justin dan Ashley yang baru saja keluar dari sebuah toko pakaian terkenal di kota itu. Anna semakin merasa kecil. Ia semakin merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk Justin. Pria setampan, sekeren dan sepopuler dia pantas untuk mendapatkan seorang wanita yang baik. Jauh lebih baik dari dirinya.


" Anna, kalau ada sesuatu yang mengganggumu. Kau bisa mengatakannya padaku " kata Morgan saat ia memberhentikan pick up tuanya di luar halaman kediaman Wilderman.


" Tidak. Aku rasa tidak ada " tolak Anna.


" Kau yakin? Kau tidak seperti biasanya. Menangis di makam, dan melamun sepanjang perjalanan kurasa bukan bagian dari dirimu " Morgan mengingatkan. Memang, sepanjang perjalanan Anna hanya terdiam, tidak berbicara sepatah katapun.


" Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa mengatakannya padaku. Jangan sungkan. Anggap saja aku ini kakakmu "


" Aku baik-baik saja, Morgan. Terimakasih untuk tumpangannya " kata Anna sambil membuka pintu mobil.


" Baiklah kalau kau belum mau mengatakannya. Tapi ingat, kalau kau membutuhkan sesuatu, apapun itu, selalu ada aku dan juga Marrissa yang akan membantumu "


Anna mengangguk.


****


" Pria aneh itu yang mengantarmu ? " suara berat Jason terdengar begitu Anna melangkahkan kakinya memasuki pintu rumah Wilderman. Anna pura-pura tidak mendengarnya. Ia masih takut jika harus berhadapan langsung dengan pria itu. Anna langsung saja menuju ke dalam tanpa menoleh.


" Aku bertanya padamu, bo*** " kata Jason sambil menarik lengan Anna kasar.


" Atau aku harus menanyaimu dengan cara lain agar kau menjawabnya? " tanya Jason sambil menyeringai. Anna ketakutan dibuatnya.


" Lepaskan aku. Lepaskan aku " Anna mulai histeris. Dengan cepat Jason melepaskannya.


" Kau pikir aku tertarik padamu? dasar gadis b**** ! Apa yang terjadi malam itu hanyalah suatu kesalahan. Kau ini sama sekali tidak berharga untukku "


Jason berdecih. Ia lalu meninggalkan Anna yang masih ketakutan. Anna mengatur nafasnya. Seluruh tubuhnya masih gemetar.


****


Pukul lima pagi. Roberta sedang mengiris sayuran di dapur ketika di dengarnya suara seorang sedang muntah. Roberta menghentikan kegiatannya. Ini sudah ketiga kalinya ia mendengar suara muntah di pagi hari. Ia lalu mencari asal suara. Ternyata dari kamar mandi pembantu. Dengan hati-hati disingkapnya pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Dan terlihatlah Anna yang sedang memuntahkan isi perutnya di wastafel.


" Kamu hamil? " tanyanya begitu gadis itu selesai membasuh wajahnya dengan air dari wastafel.