
Jason termenung di meja kerjanya. Sampai sesiang ini ia masih merasa enggan berangkat ke kantor. Berbagai meeting yang diagendakan hari ini dibiarkannya terbengkalai. Ia hanya menghubungi Noah untuk menyuruhnya menjadwal ulang, yang entah kapan.
Teringat kejadian kemarin, saat seorang bocah perempuan menghadang langkahnya dan putrinya. Joanna terlihat gugup saat bocah itu menyebutnya pembohong.
" Dengar, bocah. Kalau Joanna bilang aku adalah Ayahnya, maka aku adalah Ayahnya. Putriku tidak pernah berbohong. Sekarang, singkirkan tubuhmu dari hadapan kami. " hardik Jason dengan galak. Bocah perempuan itu terlihat takut. Dengan segera Jason menggandeng tangan putrinya dan berjalan menuju mobilnya.
Dalam perjalanan, Joanna tidak berceloteh seperti biasanya. Dia hanya diam sambil melihat pemandangan.
" Tidak apa-apa. Dia tidak akan mengganggumu lagi. " Jason berinisiatif memulai pembicaraan. Joanna masih diam.
" Bagaimana kalau kita mampir ke toko es krim ? " tawar Jason. Joanna menggeleng.
" Aku hanya ingin pulang " kata Joanna lirih.
" Kau yakin tidak ingin mampir ke toko es krim ? "
Joanna menggeleng.
" Aku tidak ingin makan apapun. "
" Baiklah, kalau begitu kita akan pulang "
" Aku rindu Uncle Justin. " kata Joanna tiba-tiba. Jason tersentak.
" Kapan Uncle pulang ? Kenapa dia pergi lama sekali. Biasanya Uncle pergi paling lama satu bulan. "
Jason terdiam.
" Uncle selalu bermain denganku. Dia juga selalu mendengarkan ceritaku. Dia Uncle ku yang terbaik. Aku sayang sekali padanya. "
Jason tercekat.
" Bahkan putriku pun merindukannya, seperti Ibunya merindukan dirinya. "
Jason merasa tertampar keadaan. Saat ini ia merasa kalah karena ternyata Justin sangat berarti bagi orang-orang yang ia cintai, putrinya dan juga istrinya. Tunggu, apa yang barusan ia pikirkan ? Dua orang yang ia cintai ? Kalau Joanna, tentu saja ia mencintainya, bukankah Joanna adalah putrinya ? Tapi istrinya ? Anna? Apa dia memang mencintai Anna ? Tidak, tidak mungkin terjadi. Dulu, sekarang, dan bahkan besok yang akan datang, mereka bersama hanya karena perjanjian. Perjanjian yang ia buat agar Marrissa tidak menikahi siapapun. Hanya Marrissa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Bukan Anna. Dan tidak mungkin Anna.
Sebuah deringan telepon membuyarkan Jason dari lamunannya. Sebuah telepon dari Noah.
" Bukankah sudah kubilang untuk tidak mengganggu ku hari ini ? " tanyanya dengan marah.
" Maaf, Tuan. Tapi Frans menghubungi saya, menanyakan apakah ada yang Tuan kehendaki perihal email yang ia kirimkan hari ini. Ia menunggu perintah Anda selanjutnya " jawab Noah diseberang.
Frans adalah orang suruhan Jason untuk memata-matai Marrissa.
" Email ? "
" Ya. Frans mengirimkannya sekitar dua jam yang lalu dan Anda sama sekali tidak merespon. Ia sudah berusaha menghubungi Anda, tetapi tidak terhubung. "
Jelas saja tidak terhubung, karena handphonenya ia matikan. Saat ini Noah menghubunginya melalui nomor telepon pribadi yang hanya diketahui Noah saja.
Jason segera membuka laptopnya, memeriksa email yang dikirimkan Frans. Pastinya ada sesuatu yang penting yang hendak pria itu sampaikan sampai-sampai ia menghubungi Noah.
" Bagaimana, Tuan ? Ada yang ingin disampaikan pada Frans ? " tanya Noah. Tidak ada jawaban dari Jason. Lama sekali. Hingga akhirnya.
" Suruh Frans kembali. Pekerjaannya telah selesai. " jawab Jason.
" Baik, Tuan. "
Jason masih memandang isi email Frans. Marrissa. Akhirnya wanita itu menikah juga. Ada rasa kecewa di hati Jason saat melihat wanitanya memakai gaun pengantin bersama pria lain disampingnya.
Jason menarik nafas dalam. Marrissa, seperti biasa, selalu terlihat cantik dan menarik. Sayang sekali, wanita itu tidak menaruh perasaan sedikitpun padanya. Wanita itu memiliki selera yang aneh. Ia justru menyukai lelaki yang lebih tua seperti ayahnya atau justru menyukai lelaki berantakan seperti Morgan.
Jason tertawa. Saat ini ia benar-benar kalah telak. Istri dan putrinya lebih memilih adik tirinya, sementara wanita yang dicintainya memilih orang lain.
Apa sekarang dia benar-benar akan sendirian ? Seperti saat sebelum dia mengenal kakak beradik Marrissa dan Anna. Tidak. Dia tidak ingin dan tidak bisa sendirian.
Jason melirik email Frans. Biarlah Marrissa menikmati pernikahannya dahulu. Ia enggan mengganggunya saat ini. Mungkin nanti, suatu saat nanti ia akan masuk dan merusak pernikahan kedua Ibu tirinya itu.
Saat ini yang paling memungkinkan hanya mendapatkan kembali putri dan istrinya. Menjauhkan mereka dari bayang-bayang Justin. Dengan begitu, selain mendapatkan mereka, Justin juga akan sendirian.
Jason tersenyum. Ia harus segera bertindak. Ia tidak mau kecolongan lagi.
*****
" Berhasil apanya ? "
" Kau sudah merebut perhatian suamimu. Tidak kusangka akan secepat ini rencanamu terealisasikan. " jawab Karen dengan lirik mata menggoda. Anna tertawa.
" Aku bahkan sudah melupakan rencana itu, Karen. "
" Tidak masalah kau melupakannya. Tapi hasilnya benar-benar diluar dugaan. Good job, Anna. "
" Apa kau berpikir kalau dia menyukaiku ? Hm, sebaiknya kau singkirkan saja dugaanmu itu, Karen. Jason memang mulai peduli pada kami, tapi kurasa dia tidak mencintaiku.. "
" Bukan tidak, Anna, tapi belum. Sebaiknya kau teruskan usahamu. Percayalah, usaha tidak akan mengkhianati hasil. "
" Usaha ? Aku bahkan tidak melakukan apapun. Mungkin awalnya aku bersemangat memperhatikannya, tapi sekarang aku terlalu lelah bekerja dan mengurus Joanna. "
" Itulah. Dia kehilangan perhatianmu. Karena itu ia mencarimu. Coba kau ingat lagi, berapa kali ia bersikap manis padamu ? Memberimu kejutan ? Atau bahkan memaksamu menerima bantuannya, misalnya ? "
Anna mengernyit. Akhir-akhir ini, Jason memang sedikit aneh. Ia bahkan membantunya memasak saat Roberta tidak ada. Ia juga rajin mengiriminya pesan dan tidak segan menelponnya jika pesannya tidak terbalas. Ia bahkan melewatkan meetingnya di kantor untuk makan bersamanya. Ia juga tidak melupakan janjinya untuk selalu menjemput Joanna. Karena itu hubungan Joanna dan ayahnya membaik. Dan hari inipun, ia menawarkan untuk membawa Joanna ke taman sementara menunggu Anna bertemu dengan Karen.
" Bagaimana ? Apa ia melakukan salah satu yang aku sebutkan tadi ? " tanya Karen penasaran.
Anna mengangguk.
" Sudah kuduga, dia mulai merindukanmu, mencintaimu. "
" Kurasa tidak, Karen. "
" Ayolah, Anna. Dia berubah. Itu artinya kau berhasil menundukkan dia. "
Anna menggeleng.
" Dia memang berubah. Tetapi tetap saja aku tidak merasa dia mencintaiku. Entahlah. "
" Huh " Karen mendengus.
" Ayolah, kurasa dia masih berhubungan dengan Ashley. Mana mungkin dia mencintaiku. " bantah Anna.
" Pelakor itu ? Apa dia masih berkeliaran dirumahmu ?. " tanya Karen geram.
Anna menggeleng.
" Lalu mengapa kau pikir suamimu masih berhubungan dengannya ? "
" Aku hanya merasakan itu. Kurasa ia masih berhubungan dengan Ashley. Ayolah, kau juga tahu kalau insting wanita, terlebih seorang istri itu sangat peka "
" Ralat. Insting seorang istri yang mencintai suaminya. " bantah Karen.
" Tunggu, apa ini artinya, kau mencintai suamimu ? " tanya Karen dengan mata berbinar.
Anna menggeleng.
" Tidak mungkin. Aku tidak pernah mencintainya dan tidak akan pernah. "
" Apa ini karena dia ? "
" Siapa ? "
" Sepupumu yang tampan, eh maksudku, iparmu "
Anna tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya. Bingung untuk menjawab pertanyaan ini.
" Kau sangat mencintainya ya ? "
Anna mengangkat wajahnya. Karen tahu perasaannya ?.
" Anna, kita sudah lama berteman. Kau tidak bisa menyembunyikan perasaanmu padaku lagi. Saat kita sekolah dulu, aku mungkin terlalu naif. Tapi kemudian aku sadar, apa yang dia lakukan padamu, menjemputmu setiap hari, melindungimu, adalah caranya untuk menyampaikan perasaannya padamu. Dan sebaliknya, caramu menatapnya, caramu bercerita tentang dirinya sudah mengisyaratkan bahwa kamu mencintainya "
" Tapi kurasa, kalian berdua akan sulit bersatu. Bukan hanya karena kau adalah kakak iparnya, tapi sekarang, ibunya pun memusuhimu. Jadi, dengan sangat terpaksa, aku harus mengatakan ini. "
Karen mengambil nafas sejenak.
" Menyerahlah, Anna. Lupakan dia. Buang jauh perasaan lamamu itu. Sekarang adalah waktunya untuk membuat kisah baru. Sebuah kisah bahagia bersama orang yang mencintaimu. Suami dan anakmu. "