
Anna sedang duduk menunggu bus di halte bus dekat gang rumahnya. Masih terngiang perkataan Roger di telepon beberapa jam sebelumnya.
" Sorry, beib, hari ini aku harus membantu Ayah mengecat pagar halaman. Catnya sudah pudar dan mengelupas di sana sini. Ayah sudah beberapa kali memintaku mengecatnya, tetapi aku selalu memberinya alasan. Dan hari minggu ini, Ayah tidak mau menerima alasanku lagi. Terpaksa aku harus melakukan pekerjaan ini. Maafkan aku ya sayang . Aku akan menemanimu menengok Adam minggu depan " begitu kata Roger saat itu.
Dan Anna menyetujuinya. Bagaimanapun Roger memang harus mengutamakan orangtuanya bukan? begitu pikir Anna. Lagipula Roger berjanji akan menemaninya menengok Adam minggu depan. Jadi, tidak ada alasan baginya untuk marah pada Roger.
Anna membuka gawainya. Memainkan beberapa game di gawainya sambil menunggu bus nya lewat.
Sudah setengah jam berlalu,dan bus nya belum lewat juga. Anna juga mulai bosan bermain game. Ia mengedarkan pandangannya ke jalan,dan kemudian dilihatnya sebuah mobil lewat yang menarik perhatiannya. Bukan karena jenis mobilnya yang terkenal, melainkan karena pengemudinya yang ia kenali. Seorang pria dengan mata elangnya. Ya,tidak lain dan tidak bukan,Justin Wilderman yang baru saja melewatinya dengan mengendarai mobil sportnya. Anna menunduk. Sesaat tadi Anna berharap Justin akan menghentikan mobilnya dan memberikannya tumpangan. Tetapi kemudian ia pupuskan harapannya. Memangnya siapa dia, berani-beraninya berharap seorang Justin yang populer menghampirinya? lagipula, dia sudah mempunyai Roger disisinya, meski saat ini kekasihnya itu tidak bisa menemaninya. Ralat, bukan hanya saat ini,tetapi akhir-akhir ini Roger memang jarang menemaninya, pria itu selalu sibuk, komunikasipun lebih sering dilakukan melalui gawainya. Tetapi bukankah mereka sudah berjanji untuk saling setia? Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan bukan? Meski memang ia akui, akhir-akhir ini ia menikmati kedekatannya dengan Justin. Astaga! Apa dia mulai mengkhianati Roger? Tidak mungkin! Anna menutup kedua telinganya.
Tin!Tin! Suara klakson mobil menghentikan Anna dari lamunannya. Anna mendongak. Tunggu! Apa dia tidak salah lihat? itu Justin!! Bagaimana bisa? bukankah mobilnya baru saja berlalu?
" Kau mau pergi kemana? "
Anna masih menatapnya heran.
" Ke rumah Adam? ayo, aku antar " tawarnya.
Tidak! Tidak!Jangan tergoda!! teriak hati Anna. Tapi entah mengapa ia beranjak dan kakinya melangkah menuju mobil Justin.
Great!! bahkan tubuhnya mulai mengkhianati hatinya.
" Kau tidak sedang menunggu seseorang, bukan?" tanya Justin begitu Anna duduk di kursi mobilnya.
" Tidak. aku menunggu bus. kenapa bertanya seperti itu?"
" Hanya ingin tahu saja "
" Bukankah kau tadi baru saja lewat? aku rasa aku baru saja melihatmu mengendarai mobilmu ini "
" Kau memperhatikanku rupanya. Terimakasih " kata Justin sambil tersenyum ke arah Anna. Jantung Anna mulai berdetak tidak karuan melihat senyum indah Justin. Wajahnya bersemu merah.
"Ada apa ? " tanya Justin heran melihat kediaman Anna.
" Ah, tidak, aku.. " Anna terbata-bata.
" Aku tahu. Kau pasti tidak menyangka si tampan ini akan memberikan tumpangan padamu, bukan ?" potong Justin.
Anna mendengus kesal. Detak jantungnya yang semula abnormal menjadi melambat mendengar perkataan Justin barusan. Dan otomatis kadar ketampanan Justin menurun dimatanya.
" Dasar sombong !"
Justin terkekeh. Dia memang suka sekali melihat raut wajah Anna yang sedang kesal terhadapnya.
****
" Wah, ternyata adikku tersayang yang datang beserta dengan selingkuhannya " kata Adam begitu ia membuka pintu yang tentu saja disambut dengan cubitan kecil yang mendarat di perutnya.
"Aww " Adam meringis kesakitan, tetapi Anna tidak memperdulikannya. Ia langsung saja masuk ke rumah, diikuti Justin yang mengekornya.
" Bagaimana keadaanmu ?" tanya Justin begitu ia duduk di sofa. Sedangkan Anna, tentu saja sudah berkeliaran di berbagai ruangan untuk mengecek keadaan rumah Adam.
" Semakin membaik, seperti hubungan kalian " jawab Adam. Justin tersenyum.
" Bagaimana? apa kalian sudah berpacaran ?" tanya Adam setengah berbisik. Sepertinya takut pembicaraannya terdengar adiknya. Justin menggeleng.
" Tidak semudah itu. Adikmu sudah punya pacar. Anna sangat mencintai pacarnya, meski dia sebenarnya seorang playboy " kata Justin lirih.
" Apa? Dan dia tidak mengetahuinya? "
" Kau tidak sedang bercanda bukan? Maksudku, kau tidak sedang berusaha menjatuhkannya bukan? Karena kalian sedang bersaing "
Justin menggeleng lagi. Tentu saja tidak. Dia bukan tipe orang yang menyingkirkan saingannya dengan cara yang licik.
" Kurang a*** !!" Adam terdengar mulai emosi.
" Kenapa kau tidak memberitahu Anna?"
" Untuk apa? nanti dia akan salah paham terhadapku. Lebih baik dia melihatnya sendiri "
" Kau berencana menjebaknya?"
Justin mengangguk.
" Bagus. Kau harus lakukan secepatnya. Aku tidak mau Anna bersama ba****** itu lebih lama lagi "
" Aku sedang menunggu saat yang tepat untuk membuka kedoknya " bisik Justin.
" Oke. Pastikan itu benar-benar terjadi. Ngomong-ngomong, siapa nama ba****** itu ?"
" Roger. Roger Adams "
Adam manggut-manggut. Roger Adams. Sepertinya nama itu terdengar familiar di telinganya.
********
Anna menguap panjang di mobil Justin. Saat itu mereka dalam perjalanan pulang dari rumah Adam. Justin tersenyum melihatnya.
" Tidurlah kalau mengantuk " perintahnya.
" Aku memang sedikit mengantuk. Mungkin karena kecapaian. Kau tahu barang- barang kotor di rumah Adam tadi sangat banyak sekali " jawab Anna, kemudian menguap lagi.
Memang di rumah Adam tadi, Anna sibuk membersihkan rumah. Mulai dari menyedot debu, mencuci piring, mengepel lantai, mengelap perabot hingga menyetlika ia lakukan. Mungkin kalau Adam tidak menghentikannya, Anna bisa saja mengecat dinding.
" Hm, membereskan rumah Adam sebentar saja sudah terasa sangat capek. Aku tidak bisa membayangkan betapa capainya ibumu "
" Ibuku? kenapa?"
" Well, Nyonya Olivia selalu melakukan semuanya sendiri bukan? "
" Tidak juga, ada Roberta dan Olga yang membantunya " bantah Justin.
" Roberta hanya datang pagi hari. Sementara Olga khusus mengurus Josh, itupun belum lama ini bukan? Apa jadinya hari - hari Ibumu sebelum ada mereka? Aku juga sangsi putranya mau membantunya " sindir Anna.
" Aku? tentu saja aku membantunya " kata Justin tidak terima.
" Oya? katakan, kau membantu apa saja"
" Yeah, aku memberinya saran agar ia memakai pembantu dan sopir pribadi saja. Tetapi ibuku selalu menolaknya dengan mengatakan bahwa itu semua adalah kewajiban seorang istri dan urusan sopir, dia bilang, di luar sana ada banyak sopir taxi yang membutuhkan bantuan untuk mengejar setoran"
Anna terkikik geli. Bantuan saran ??
" Ehm, hanya saran? Tidak ada tindakan apapun ?"
" Memangnya kau mengharapkan bantuan seperti apa ? " tanya Justin kesal. Anna tidak dapat menahan tawanya. Justin pura-pura kesal.
Tapi kemudian tawa Anna lenyap seketika saat ia melihat seseorang berjalan bergandengan mesra dengan seorang gadis tinggi semampai dan berpakaian seksi. Tak salah lagi, itu Roger!!