Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Belas kasihan


" Sudah selesai bersenang-senang? " tanya Jason dengan dingin begitu Anna masuk ke dalam rumah.


" Tidak biasanya kau pulang ke rumah. Apa ada sesuatu yang menarik? Apa kakakku akan datang berkunjung? " tanyanya untuk menyembunyikan kegugupannya.


Jason terdiam sesaat. Matanya melihat Anna tanpa berkedip. Anna terlihat berbeda. Sangat berbeda. Dengan balutan gaun yang anggun dan riasan wajah yang pas, membuatnya terlihat cantik.


Melihat Jason yang diam memandanginya, membuat Anna risih. Ia lalu beranjak ke kamarnya. Pandangan Jason terus mengikutinya.


" Maafkan aku Anna, aku tidak menduga Tuan Jason akan pulang. Aku sudah membuatmu dalam masalah " Roberta langsung meminta maaf begitu Anna masuk ke dalam kamar.


" Kau tidak bersalah Roberta, aku sendiri yang menyetujui rencana ini. Tenanglah, aku bisa menghadapinya " Anna menenangkan.


" Kau yakin? Lebih baik aku menginap disini untuk berjaga-jaga kalau - kalau dia bersikap buruk padamu "


" Tidak perlu Roberta. Terimakasih. Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lebih baik kau segera pulang, Max menunggu di depan untuk mengantarmu pulang "


" Kau yakin? "


" Tentu saja "


*****


" Anna!!! Dimana sarapan pagiku ? " teriak Jason dari ruang makan. Anna menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan rasa kesalnya yang pagi ini serasa bertambah dua kali lipat. Ia sedang berusaha menyuapi Joanna yang tampaknya sedang memulai gerakan tutup mulutnya. Entah apa yang ada dipikiran bocah kecil itu hingga ia sama sekali tidak mau membuka mulutnya untuk menerima suapan dari ibunya.


" Tinggalkan dia sebentar dan siapkan sarapan pagiku ! " perintah Jason dengan ketus. Ia sepertinya tidak sabar sehingga menghampiri Anna. Joanna yang melihat kedatangan Ayahnya, justru menatap Jason dengan bingug. Mungkin dia heran akan kedatangan orang asing di pagi harinya yang indah.


" Yang kau sebut dia itu adalah anakmu, Jason " jawab Anna sengit.


" Oya? Aku bahkan tidak ingat kapan dan dimana aku membuatnya " jawab Jason santai. Anna menatapnya dengan marah.


" Jangan melihatku seperti itu, Anna. Kau harusnya sadar siapa dirimu dirumah ini. Hidupmu sudah cukup beruntung karena aku mau menikahimu dan memberikan kehidupan yang layak bagi kalian berdua. Kalau tidak, kalian pasti sudah kelaparan dan terlatar di jalanan "


" Kalau kau keberatan dengan pernikahan ini, seharusnya kau menceraikanku saat Joanna lahir "


" Kau pikir aku tidak ingin? Aku juga sangat ingin melakukan hal itu. Hanya saja, aku masih terlalu baik untuk membiarkan kalian berdua terlantar. Anggap saja, ini belas kasihanku pada kalian " Jason menatap Anna tajam. Joanna tampaknya menyadari bahwa ibunya dan orang asing itu tengah bersitegang. Lalu, " aaaaa " Joanna mulai menangis, kencang sekali. Anna segera menghampiri dan memeluk putri semata wayangnya.


" Sia***!! Kenapa kau malah menangis, huh?? Selera makanku jadi hilang !! " Kata Jason kesal dan segera meninggalkan ruangan itu.


*****


Anna mengawasi Joanna yang sedang bermain. Bocah itu mengambil bola, melemparnya kemudian berlari untuk mengambilnya kembali. Ia lakukan itu sambil tertawa riang.


" Aku penasaran, dimanakah syaraf capai pada anak-anak? Apa mereka tidak memilikinya? Kalau itu aku, pasti sudah capai sejak tadi " kata Roberta sambil duduk di sebelah Anna.


Anna tersenyum.


" Ia bahkan melakukannya sambil tertawa. Astaga, pasti ia memiliki syaraf tawa yang berlipat ganda " tambah Roberta lagi.


" Kupikir memang begitu. Jojo sangat aktif dan ceria. Aku kadang kewalahan menghadapinya " kata Anna sambil tetap mengawasi Joanna.


" Kau tidak apa-apa? " tanya Roberta pada akhirnya. Ia merasa sudah cukup dengan basa-basi yang ia buat. Ia sudah tidak tahan lagi untuk mengetahui alasan kemurungan Anna.


" Apa maksudmu ? Aku baik-baik saja " kilah Anna.


" Ayolah, Anna. Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Dan aku lebih tua darimu. Pengalamanku jauh lebih banyak. Jadi jangan coba-coba berbohong padaku. Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja " bujuk Roberta.


Perlahan airmata Anna menetes. Roberta lalu meraih kepala Anna dipundaknya.


" Menangislah, biarkan bebanmu terlepas. Dengan begitu kau akan merasa lebih lega "


Cukup lama Anna menangis. Roberta menunggunya hingga tenang kembali.


" Kenapa dia selalu menyakiti perasaanku, Roberta? Aku tahu dia terpaksa menikahiku. Akupun sama. Aku terpaksa menikah dengannya. Andai saja malam itu tidak terjadi. Aku tidak akan terjebak dengan keadaan ini " isak Anna.


" Sst, jangan berkata seperti itu. Semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu disesali. Sekarang lihatlah. Kau memiliki Joanna. Bertahanlah demi dia "


" Apa yang harus aku lakukan, Roberta? Dia bahkan menganggap kami tidak pernah ada. Kami disini hanya karena belas kasihannya. Dan setahuku, belas kasihan bisa hilang sewaktu-waktu "


" Sesuai perjanjian, kami seharusnya bercerai setelah Joanna lahir. Tapi dia bersikeras mempertahankan pernikahan kami. Lalu apa gunanya semua ini kalau dia hanya terus menyakiti ? "


" Baiklah, baiklah. Aku mengerti perasaanmu, Anna. Tuan Jason memang keterlaluan. Tidak seharusnya ia mengabaikan kalian "


" Aku tidak mempedulikan jika ia kasar padaku. Tapi tidak pada Joanna "


Roberta mengelus lengan Anna.


" Aku tahu. Tidak ada seorang ibupun di dunia ini yang ingin anaknya diperlakukan kasar "


Pembicaraan mereka terhenti saat Joanna menghampiri mereka karena bola yang dilempar ke arah mereka. Anna lalu mengusap airmatanya. Bagaimanapun, ia tidak ingin terlihat sedih dimata anaknya. Anna mengambil bola itu. Joanna menatapnya dan memberikan gestur melempar.


" Kau ingin aku melemparnya? " tanya Anna. Joanna mengangguk. Anna lalu melemparnya dan bocah kecil itu berlari ke arah bola sambil tertawa gembira.


" Jadi, apa rencanamu selanjutnya ? "


" Aku tidak tahu. Di satu sisi, aku sangat tersiksa. Tapi disisi lain, Jason benar. Kami akan terlantar tanpa belas kasihannya "


" Tapi katamu, belas kasihan bisa hilang sewaktu-waktu "


Anna mengangguk.


" Lalu apa yang akan kau lakukan? kau akan menunggu hal itu hilang dan terlantar di jalanan? atau kau akan terus mempertahankan pernikahan kalian? dengan membuat Tuan Jason mencintaimu, misalnya? "


" Aku tidak tahu, Roberta. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan "


" Anna, apa kau mencintai Tuan Jason? "


" Apa? kau gila, Roberta "


" Jujurlah. Apa kau mencintainya ? "


" Tidak, Roberta. Aku tidak pernah mencintai Jason. Bahkan tidak sedikitpun aku berpikir untuk mencintainya atau membuatnya mencintaiku "


" Sungguh? "


" Aku berani bersumpah demi Tuhan, Roberta "


" Baiklah, kalau begitu. Berarti kau harus bercerai dengan Tuan Jason "


" Tapi, bagaimana dengan kehidupan kami, bagaimana dengan Joanna? "


" Aku tidak menyuruhmu untuk secepat mungkin bercerai, Anna. Tapi bersiaplah untuk bercerai. Dan selama menunggu, pastikan dirimu sudah mendapat kehidupan yang layak bagi Joanna . Tuan Wilderman memang kaya, tapi itu bukan jaminan kalau nanti kalian akan mendapatkan bagian ketika kalian bercerai. Karena itu, bekerjalah, Anna. Dan tabung peghasilanmu untuk kehidupan kalian berdua kelak "


" Bekerja? Tapi aku bahkan tidak lulus sekolah, paling bagus aku menjadi penjaga toko. Dan itu upahnya tidak seberapa. Dan dengan sistem kerja shift , bagaimana aku menjaga Joana ? "


" Lanjutkan sekolahmu, Anna. Dengan ijazah SMA, kau bisa bekerja kantoran. Mungkin dengan posisi rendah. Tapi setidaknya, gajinya lebih baik. Dan kau bisa bersama Joanna saat malam hari dan saat hari libur "


" Sekolah lagi? "


" Benar, Anna. Demi kehidupan yang lebih baik untukmu dan juga Joanna "


" Tapi... "


" Jangan khawatirkan Joanna saat kau sekolah, kau bisa mengandalkanku "


" Bagaimana jika Jason tahu dan ia mengusir kami ? "


" Aku akan pastikan ia tidak mengetahuinya. Kalaupun dia tahu, kita akan membuat alasan yang bagus agar dia tidak bisa menolaknya. Ayolah, Anna, ini kesempatanmu untuk merubah semuanya "


Anna tampak berpikir. Roberta memandanginya dengan serius. Berharap Anna akan meng-iyakan perkataannya. Sementara itu, dibelakang mereka berdua, tampak seseorang yang ikut cemas dengan jawaban yang akan diberikan Anna.


" Baiklah, Roberta, aku akan bersekolah lagi "


Justin tersenyum senang mendengar jawaban Anna.