
Anna melangkahkan kecil kakinya saat memasuki halaman rumah keluarga Wilderman. Hari ini hari Sabtu, hari terakhirnya bekerja di kediaman Wilderman.Ia sengaja datang pagi agar bisa lebih lama bersama Josh. Dalam hati, ia merasa sedikit tidak rela harus meninggalkan Josh. Ia memang menyayangi Josh seperti adiknya sendiri dan menganggapnya tidak lagi sekedar seseorang yang harus ia jaga demi uang. Walaupun kenyataannya, ia memang membutuhkan uang itu untuk biaya kuliahnya nanti. Ah,andai saja ia bisa terus bekerja menjaga Josh tanpa mengganggu sekolahnya, pasti akan ia lakukan dengan senang hati. Tapi apa boleh buat, ia harus tetap bersekolah,belajar dengan rajin dan lulus dengan hasil memuaskan agar bisa melanjutkan ke perguruan tinggi,dan tidak mengecewakan keluarganya,terutama Adam yang telah menaruh harapan besar padanya. Lagipula Olga akan menggantikannya menjaga Josh. Josh akan berada di tangan yang tepat. Walaupun saat ini keadaan keluarga Wilderman agak kacau, tetapi ia yakin Josh akan baik-baik saja.
Kalau berbicara tentang keluarga Wilderman saat ini, mau tak mau Anna juga harus mengakui kalau kakaknya sendiri, Marrissa, berada di balik perceraian Jonathan dan Olivia Wilderman. Anna merasa heran, terbuat dari apa hati kakaknya itu sampai-sampai ia tega merusak rumah tangga wanita sebaik Nyonya Olivia Wilderman. Apakah kakaknya itu memang dibutakan oleh cintanya pada Jonathan Wilderman? ataukah ada alasan lain, karena harta misalnya? Ah, entahlah, Anna tidak peduli apa alasannya. Yang jelas, apa yang dilakukan Marrissa itu terlihat salah dimatanya. Ditambah lagi kakaknya itu tidak juga mencarinya setelah mereka bertemu kembali beberapa hari lalu.
Tentang Marrissa, sampai saat ini Anna masih belum menceritakannya pada Adam maupun pada Ibunya. Anna bingung harus menceritakannya seperti apa. Haruskah ia bercerita bahwa Marrissa adalah istri muda Jonathan,majikannya? Tidak. Anna tidak mungkin menceritakan pada Ibunya kalau Marrissa adalah orang ketiga dibalik perceraian majikannya. Meski Anna bisa menebak reaksi ketidaksukaan Adam, tetapi ia tidak bisa menebak reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh Ibunya. Sedih? Kecewa? atau justru bahagia?. Ya, seperti kata Adam, Marrissa adalah anak kesayangan Ibunya.
Anna memencet bel rumah. Seorang wanita berusia empat puluhan dengan wajah keibuan membuka pintu untuknya.
" Hai, kau pasti Anna, Josh sudah menceritakan banyak hal tentangmu " sambutnya seraya membuka pintu.
" Dan Anda pasti Olga, pengasuh kesayangan Josh " jawab Anna sambil mengulurkan tangannya. Olga mengangguk. Mereka berdua bersalaman.
" Kapan Anda kembali?"
" Olga. Panggil saja aku Olga, Anna. Aku kembali tadi malam. Masuklah, Josh sudah menunggumu " Olga mengajak Anna masuk ke dalam rumah.
****
Josh memeluk erat Anna setelah Anna keluar dari ruang kerja untuk berpamitan pada Nyonya Olivia. Sore itu,masa kerja Anna berakhir sudah. Nyonya Olivia mengucapkan rasa terimakasihnya pada Anna yang telah membantunya menjaga Josh. Ia juga mengatakan kalau Anna boleh mengunjungi Josh kapan saja. Anna bahagia mendengarnya.
Anna menunduk untuk mencium kedua pipi Josh.
" Jadi anak baik ya, jangan nakal " pesan Anna pada Josh. Anak itu mengangguk.
" Kau harus mengunjungiku, Anna. Pastikan itu " perintah Josh.
" Pasti " jawab Anna.
Anna bangkit. Ia celingukan,apalagi kalau bukan mencari Justin. Ia heran, kemana perginya cowok itu? padahal ini hari terakhir dia bekerja dirumah ini, tetapi seharian Justin tidak menyapanya. Bahkan sore ini dengan sengaja Justin meninggalkan rumah tepat sebelum ia berpamitan.
Olga sepertinya mengetahui apa yang ia pikirkan, dengan sedikit berbisik ia berkata,
" Sepertinya ia tidak rela melihatmu pergi, karena itu si pengecut itu memilih melarikan diri "
Anna agak terkejut mendengar bisikan Olga. Tapi ia hanya menganggukkan kepalanya saja.
****
Sementara itu di tempat lain, Justin sedang melamun. Ia bingung harus berbuat apa. Disatu sisi, ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Anna, tapi di sisi lain ia tidak mau teman-temannya menjauhinya. Pengecut. Ia memang pengecut, seperti kata Olga. Drrt. Sebuah panggilan telepon menyadarkannya.
" Ya Olga "
" Anna sudah pulang. Sepertinya ia kecewa sekali Tuan tidak menemuinya "
Hening. Tidak ada jawaban dari Justin.
" Kenapa begitu takut mengatakan perasaan pada seseorang yang Anda sukai? Katakanlah, atau Anda akan menyesalinya di kemudian hari. Katakan saja, agar kalian saling mengetahui perasaan satu sama lain. Soal hasil akhirnya akan seperti apa, tidak perlu dipedulikan. Yang penting hati Anda merasa lega. Aku berdoa yang terbaik bagimu, Tuan Justin "
Panggilan dimatikan. Justin masih tetap memegang gawainya.
*****
Waktu menunjukkan pukul enam sore,saat Anna turun dari bus yang ditumpanginya. Ia melangkah pelan menuju rumahnya. Dalam hati ia terus menggerutu karena Justin tidak juga muncul saat ia berpamitan tadi. Padahal Anna sengaja berpamitan jam empat sore. Satu jam lebih lama dari waktu kerjanya. Semua itu ia lakukan agar bisa bertemu Justin. Tapi pria itu malah tidak muncul sama sekali.
Memang dia bisa bertemu Justin saat di sekolah nanti, tapi Anna tidak yakin Justin mau berbicara dengannya mengingat kelas sosial mereka yang berbeda. Jadi seharusnya mereka berbincang sore tadi.
Rumahnya tampak gelap saat ia tiba. Pasti Adam keluyuran lagi,pikir Anna. Ia meraih ganggang pintu.
suara seseorang mengagetkannya. Anna menoleh kebelakang. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Marrissa berdiri di belakangnya. Kakaknya tampak semakin cantik dengan midi dress ketat berwarna biru yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
" Marrissa?" tanyanya seakan tak percaya. Dalam hati Anna bersyukur kakaknya masih ingat untuk pulang kerumah.Ibunya pasti senang.
" Aku sengaja mampir untuk berbincang denganmu " katanya dengan angkuh.
" Mampir? kau tidak mau pulang ke rumah ini?"
" Cih. Untuk apa pulang ke rumah ini? kembali hidup miskin bersama kalian?"
Anna tersentak, perkataan Marrissa telah menyakiti hatinya.
" Aku mampir,hanya untuk memastikan satu hal "
" Apa itu?" tanya Anna, berusaha tegar walaupun ia sebenarnya kecewa dengan perkataan kakaknya tadi.
" Apa Ibu sudah tahu aku kembali ?"
Anna menggeleng.
" Bagus. Pertahankan seperti itu. Aku tidak mau ada seorangpun yang mengetahui dari mana aku berasal "
" Tapi mengapa?"
" Tentu saja agar hubunganku dengan Jonathan tidak terganggu"
" Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan peduli dari mana kau berasal "
" Memang. Tapi itu bisa mempermalukan dia. Kau mengerti? "
Marrissa mendekatinya.
" Aku butuh waktu untuk meyakinkan keadaan keluarga kita pada Jonathan. Jadi,kalau kau mau bekerjasama denganku, tidak memberitahu Ibu dan bisa terus berpura-pura tidak mengenalku, aku akan menjamin kehidupanmu. Kau tidak perlu bekerja lagi. Aku juga akan memberimu uang untuk biaya kuliah. Kau menginginkan itu bukan? kuliah, bekerja di perkantoran? merubah hidup? bukankah begitu, Marrie-Anne Rose? "
Tangan Anna terkepal. Bisa-bisanya Marrissa berkata demikian.
" Tapi kalau kau bersikeras memberitahunya dan membuka jati diriku,kau akan merasakan akibatnya. Suamiku orang kaya. Dengan kekuasaannya, tidak akan sulit bagiku untuk menyingkirkanmu maupun seisi rumah ini, mengerti ?"
Apa ini? Marrissa,kakaknya sendiri, mengancamnya?
" Sekarang pikirkan baik-baik,Anna. Kau lebih suka hidup enak atau hidup di kubangan lumpur selamanya? Aku harap kau memilih yang pertama. Aku yakin tak butuh waktu lama untuk meyakinkan Jonathan. Ia sangat mencintaiku. Setelah ia setuju, aku akan membawa kalian ke hidup yang lebih baik "
Setelah berkata demikian, Marrissa meninggalkannya. Anna tertunduk dan terdiam di tempatnya berdiri. Ia sama sekali tidak menyangka Marrissa akan mengatakan hal itu padanya.
" Anna?" lagi lagi suara seseorang mengagetkannya. Anna mengangkat wajahnya. Ada Justin di depannya,menatapnya tak percaya dengan wajah yang memerah menahan marah.
" Apa itu benar? Perempuan sia*** itu kakakmu?"
Anna tidak menjawab. Ia bahkan tidak berani menatap Justin.
" Pembohong! Sudah berapa lama kalian merencanakan ini semua? menghancurkan keluargaku "
" Justin, kau salah paham "
" Salah paham apanya? Aku mendengarnya sendiri bagaimana perempuan itu bilang setelah bisa meyakinkan Ayahku,ia akan membawa kalian ke kehidupan yang lebih baik!! Kau pembohong Anna! Kau memanfaatkan keluargaku!! Aku membencimu!! Jangan pernah kau muncul di hadapanku lagi!! Dan jangan coba-coba menemui Josh. Dasar gadis palsu !!! "