Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Foto Anna di kamar Justin


Jason menelusuri setiap ruangan yang ada di kediaman Wilderman yang saat ini sudah resmi menjadi miliknya. Tadi pagi ia mendapatkan telepon dari Olivia yang mengabarkan bahwa ia dan Josh akan bertolak ke Malaysia hari itu juga untuk mengelola hotel yang diwariskan Ayahnya. Satu jam setelahnya ia baru datang ke rumah ini. Bukan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Olivia, tentunya. Ia justru merasa sangat senang saat wanita itu meninggalkan rumah ini.


Kepergian wanita itu memang sangat dinantikan oleh Jason. Saat Ayahnya mengatakan bahwa ia akan menikahi Marrissa, saat itu juga Jason mengajukan syarat agar ia memiliki rumah ini, rumah yang penuh kenangan dengan Ibunya. Dan Jonathan menyetujuinya, karena ia tahu bahwa Jason sangat menyayangi Ibunya dan ia juga berharap agar luka dihati Jason bisa sembuh dengan berada di rumah ini.


Dilain pihak, Olivia yang saat itu mengajukan gugatan perceraian, tampaknya juga sudah mencium gelagat ini, karena itu ia meminta izin pada Jonathan agar diperbolehkan tinggal di rumah itu hanya sampai Justin lulus sekolah. Lagi-lagi Jonathan juga menyetujuinya. Tapi takdir berkata lain, Jonathan meninggal saat Justin belum lulus sekolah, karena itu Jason dengan leluasa bisa menempati rumah itu kapan saja. Olivia yang merasa tidak diinginkan oleh Jason pun menyingkir. Ia lebih baik meninggalkan rumah itu terlebih dahulu daripada menunggu diusir Jason.


Jason membuka pintu kamar Josh. Kamar anak kecil itu tampak kosong. Tidak ada satu barangpun yang tersisa, sama seperti kamar utama. Jason tersenyum. Ia lalu duduk ditepi ranjang. Dulu ini adalah kamar tempat ia bermain. Ada banyak sekali mainan yang ia miliki. Tapi ada satu mainan kesukaannya. Sebuah boneka tyranosaurus berwarna merah. Entah dimana mainan itu saat ini, ia tidak ingat kapan terakhir kali ia meletakkannya saat kakeknya menjemputnya keluar dari rumah ini. Saat asyik melamun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada boneka tyranosaurus merah yang berada di balik pintu. Boneka itu berada di ujung dalam, sehingga orang yang masuk ke dalam kamar ini tidak akan menyadarinya. Jason segera mengambilnya. Boneka itu mirip sekali dengan boneka miliknya dulu. Sebuah tyranosaurus merah. Bedanya, boneka milik Josh ini memiliki semacam "perisai tanduk " di punggungnya berwarna biru. Jason mengelus boneka itu dengan sayang sebelum meletakkannya kembali di ranjang.


Jason menutup pintu kamar. Ia lalu beralih ke kamar satunya. Kamar milik Justin. Saat ditelepon tadi, Olivia mengatakan kalau Justin akan tetap berada di rumah itu hingga ia lulus ujian. Ia menitipkan Justin padanya untuk dijaga layaknya seorang kakak terhadap adiknya. Jason mendengus kesal. Menjaganya? Omong kosong!. Ia bahkan tidak peduli pada apapun yang dilakukan Justin. Bahkan kalau adik tirinya itu kelaparan atau tinggal di kolong jembatan sekalipun. Ia tidak akan peduli. Justru ia ingin agar Justin tidak terlalu banyak belajar, agar adiknya itu tidak ikut mengurus perusahaan bersamanya.


Pandangan Jason menyapu seisi kamar Justin. Kamar Justin memang khas kamar anak muda. Tidak banyak ornamen disana sini. Hanya ada sebuah gitar yang diletakkan begitu saja di ujung tempat tidur serta sebuah miniatur mobil balap di meja. Dan hei, ada sebuah foto yang tergeletak begitu saja di atas meja. Jason mengambil foto itu. Foto seorang gadis di sebuah taman hiburan. Jason mengernyit. Bukankah ini foto adik Marrissa? kalau tidak salah, namanya Marrie-Anne. Mengapa Justin menyimpan fotonya? Apakah keduanya ada hubungan? Jika dugaannya ini benar, tampaknya akan sangat menarik. Sebuah senyuman smirk muncul di wajah tampan Jason. Tampaknya ia sudah menemukan imbalan yang tepat untuk menolong keluarga Marrissa. Ya, Marrie-Anne adalah jawabannya. Dengan satu tepukan, dua masalah akan selesai. Kakak perempuan mana yang tidak sakit hatinya saat adik perempuannya di sakiti? Atau, adik mana yang tidak patah hati saat kekasihnya direbut oleh kakaknya sendiri ? Benar-benar akan menjadi pembalasan yang sempurna bagi orang-orang yang terlebih dahulu telah menyakiti hatinya.


Kringgg!! Dering telepon mengejutkan Jason. Ia meletakkan kembali foto Anna diatas meja kamar Justin lalu bergegas keluar dari kamar.


" Hallo.. " jawabnya saat memegang ganggang telepon.


" Oh, hai, kau pasti Jason atau mungkin temannya " sahut suara kecil di ujung sana. Sudah pasti suara Josh.


" Dan kau pasti Josh atau mungkin temannya " goda Jason.


" Aku Josh " suara kecil itu mengaku.


" Dan aku Jason. Apa yang sedang kau lakukan Josh? bukankah seharusnya kau berada di pesawat bersama Ibumu saat ini? "


" Pesawatnya mengalami penundaan keberangkatan. Dan Mommy sedang berada di kamar kecil. Hanya ada aku dan Olga disini "


" Okay. Lalu apa yang kau inginkan? kau ingin mengucapkan selamat tinggal padaku? " tanya Jason dengan penuh percaya diri.


" Tidak. Aku tidak sengaja meninggalkan Mr-T di kamarku " jawaban polos Josh membuat Jason malu.


" Mr.T? maksudmu boneka tyranosaurus merah? " Jason segera teringat pada boneka tyranosaurus yang ia temukan di kamar Josh.


" Ya. Bisakah kau menolongku merawat Mr. T? kalau tidak, kau bisa memberikannya pada Justin dan bilang padanya untuk mengirimkan Mr. T padaku di Malaysia "


" Okay. Jangan khawatir, Josh. Apa Justin tidak ikut kalian ? " Jason pura-pura bertanya.


" Kalau tidak dia tidak akan lulus ujian. Bukankah begitu, Josh? "


" Ya, tapi ada yang lebih penting lagi "


" Apa itu? " Jason pura-pura tertarik. Ia mengikuti permainan Josh.


" Kau bisa menjaga rahasia? "


" Tentu saja "


" Sungguh? "


" Pasti "


" Okay. Justin harus selalu berangkat sekolah agar dia bisa bertemu Anna "


" Anna? siapa dia? " Jason pura-pura kaget.


" Dia temanku saat liburan musim panas kemarin. Aku rasa Justin merindukannya karena ia menyimpan fotonya. Sebenarnya aku juga merindukannya tapi kami tidak dapat bertemu karena Anna sibuk sekolah. Kau tahu, sekarang ujian sekolah sudah dimulai. Oh, Mommy sudah datang. Aku harus menutup teleponnya. Jangan lupa sampaikan pesanku pada Justin. Dan jangan lupa untuk selalu menjaga rahasia " Josh memberi perintah dengan gaya bocahnya. Jason tersenyum geli.


" Baik, Josh. Kau bisa percayakan semuanya padaku "


" Oya, satu lagi, pastikan kau tidak berbicara dengan Anna saat dia datang berkunjung, Justin akan sangat marah sekali "


" Jangan khawatir boss kecil, aku akan melaksanakan perintahmu "


" Oke. See yaa .."


Klik. Telepon dimatikan. Jason tertawa geli. Tidak diduga, adik tirinya itu lucu sekali. Sayang, ia tidak bertemu dengannya. Kalau ya, pasti dia sudah mencubiti pipinya dengan gemas.


Tawa Jason tiba-tiba berubah menjadi seringaian jahat. Kepolosan Josh sudah memberikannya sebuah petunjuk. Ia semakin menguatkan keinginan Jason untuk menjadikan Anna sebagai alat balas dendam terhadap Marrissa dan Justin.