
Justin merapikan rambut dengan kedua tangannya. Setelah dirasa cukup rapi, ia lalu mengambil tas ranselnya dan bergegas keluar dari kamarnya. Saat melewati kamar Josh, tidak sengaja ia mendengar percakapan Josh dengan Olga. Ia memutuskan berhenti sejenak, untuk menggoda adiknya itu.
" Apakah Mr. T, sudah di masukkan ke dalam kardus, Olga? " tanya Josh dengan serius. Mr. T adalah boneka kesayangannya yang berbentuk tyranosaurus.
" Tentu. Semua mainanmu sudah aman di dalam kardus. Mereka sudah terbang ke sana. Tinggal lego dan rubik mu saja. Kau masih menggunakan keduanya untuk bermain hari ini, bukan? "
" Hmm, rasanya sulit bermain tanpa,Mr. T- ku "
" Tenanglah, Josh. Begitu tiba disana, Mr. T dan yang lain akan menyambutmu "
Disana? Dimana? tak urung Justin jadi bertanya-tanya juga. Ia lalu masuk ke dalam kamar Josh.
" Kemana semua mainanmu, Josh? " tanyanya dengan heran karena melihat kamar Josh yang biasanya penuh dengan mainan kini terlihat lenggang, hanya ada lego yang berserakan di lantai kamar.
" Mereka semua sudah terbang kesana " jawab Josh dengan polos.
" Terbang? kemana? " tanya Justin pada Olga.
" Apa Anda belum mengetahuinya, Tuan? " Olga balik bertanya.
" Kalau begitu, tanyalah pada Nyonya Olivia " kata Olga begitu melihat Justin yang kebingungan. Tanpa banyak bicara, Justin segera ke kamar utama untuk mencari Ibunya. Dan dilihatnya Ibunya yang sedang duduk diranjang. Di depannya, terdapat dua buah koper besar.
" Ibu? Ibu mau pergi kemana? " tanyanya dengan bingung. Olivia menoleh. Dengan tangannya, ia mengisyaratkan Justin untuk duduk di sampingnya. Dengan hati-hati ia berbicara,
" Surat warisan sudah dibacakan beberapa hari yang lalu. Berdasarkan isinya, kau dan Josh mendapatkan sebuah hotel di Malaysia, sedangkan perusahaan akan menjadi tanggung jawab Jason, termasuk rumah ini. Karena itu Ibu dan Josh akan berangkat ke Malaysia besok lusa "
" Lusa? Malaysia? itu jauh sekali? mengapa Ibu tidak memberitahuku? "
" Maaf Ibu tidak memberitahumu. Itu karena kau membutuhkan konsentrasi untuk ujian. Ibu tidak mau perhatianmu terpecah "
" Baiklah. Jadi setelah ujian, aku akan segera mengepak barang-barangku dan mengikuti Ibu dan Josh di sana "
Olivia menggeleng.
" Kau harus tetap disini, Justin. Ibu ingin kau menyelesaikan sekolahmu dulu disini "
" Apa maksudmu? Bukankah Ibu bilang, rumah ini milik Jason? Itu artinya kita semua tidak diharapkan disini bukan ? "
" Jason tidak pernah menyukai kehadiran Ibu. Tapi kau, Jason dan juga Josh, adalah satu darah. Dia tidak bisa mengusirmu seenaknya "
" Bisa saja kalau dia mau "
" Dia tidak akan melakukan hal itu "
" Kenapa tidak? Aku juga tidak mau tinggal di rumah ini dengannya. Lebih baik aku tinggal di apartemen atau menyewa kamar "
" Kau harus tetap di sini, Justin. Temanilah Jason. Perbaiki hubungan kalian sebagai saudara karena kelak kalian akan mengelola perusahaan bersama "
" Akan lebih baik jika aku mengikutimu kemanapun Ibu pergi "
Olivia tersenyum.
" Kau bisa mengunjungi kami saat liburanmu tiba. Percayalah ini keputusan terbaik. Ibu sudah memikirkannya dengan matang "
Justin cemberut.
" Setidaknya kasihanilah Jason. Ia begitu kesepian. Ia tidak seberuntung kita "
****
Marrissa menekan angka telepon dengan berat hati. Ia berharap untuk tidak pernah melakukan hal ini, tetapi kenyataan berkata lain. Ia tidak punya pilihan lain. Hanya ini satu-satunya pilihan terbaiknya.
" Hallo.. " suara berat di ujung sana tampak menyambut panggilan darinya. Marrissa menarik nafas dalam-dalam.
" Bisakah kau datang ke rumah sakit sekarang? "
******
" Aku tidak punya banyak waktu Marrissa, banyak hal yang harus aku kerjakan "
" Aku.. aku menerima tawaranmu Jason " kata Marrissa sambil menundukkan wajah cantiknya. Ia tidak ingin melihat wajah angkuh Jason saat ini. Dan wajah tampan itupun tertawa penuh kemenangan.
" Sudah kuduga. Rupanya kau cukup sadar diri Marrissa. Hanya uangku yang bisa menolongmu saat ini " katanya dengan pongah. Marrissa mengatur nafasnya. Apa yang akan ia katakan berikutnya benar-benar akan membuatnya malu seumur hidup.
" Aku meminta satu hal lagi darimu "
Jason menghentikan senyum sombongnya. Ia menatap Marrissa lekat.
" Katakan "
" Aku ingin meminta bantuanmu untuk melunasi hutang kami di bank. Saat ini kami sedang kesulitan dan pihak bank mengirimkan surat peringatan... "
Jason tersenyum kecut. Ia tidak mendengarkan penjelasan Marrissa sama sekali karena sejujurnya ia sudah mengetahui keadaan keuangan keluarga itu dari Noah. Beberapa waktu yang lalu ia memang meminta Noah untuk mengumpulkan informasi tentang Marrissa dan keluarganya. Dan penjelasan Marrissa saat ini membuatnya tertawa, kemenangan sudah pasti ada ditangannya.
" Jadi, apa kau bersedia, Jason? "
" Bagaimana aku bisa mengambil keputusan kalau kamu saja tidak menghargaiku, Marrissa? "
" Apa.. Apa maksudmu, Jason? " tanya Marrissa tidak mengerti.
" Ada seseorang yang berbicara dengan cepat tanpa menatapku. Menurutmu, haruskah aku mengabulkan permintaan orang seperti itu? "
Marrissa tersadar. Sedari tadi ia memang menatap ke arah yang lain.
" Tatap lawan bicaramu, Marrissa. Dan berbicaralah dengan jelas " titah Jason.
Marrissa menatap Jason.
" Aku meminta bantuanmu untuk untuk melunasi hutang-hutang kami di bank "
" Bisakah kau memohon dengan benar? " ejek Jason.
Marrissa menghela nafas. Jason benar-benar menyebalkan. Kalau dia tidak lumpuh, mungkin Jason akan memintanya untuk memohon sambil berlutut.
Tapi ia tidak punya pilihan lain. Dan saat ini, Jason memang lebih berkuasa.
" Aku mohon bantuanmu, Tuan Jason Wilderman, untuk berbaik hati membantu melunasi hutang kami di bank " katanya sambil menatap Jason. Jason tersenyum puas.
" Apa imbalan yang bisa kau berikan padaku? "
" Imbalan? "
" Ya. Aku pernah mengatakan padamu, aku hanya menolongmu sekali, itupun karena rasa tanggung jawabku padamu sebagai janda mendiang Ayahku. Untuk urusan hutang keluargamu, sama sekali tidak ada hubungannya denganku "
Marrissa menatapnya tidak percaya. Lalu untuk apa Jason menyuruhnya memohon kalau jawaban yang ia terima seolah-olah dia tidak mau menolongnya?
" Aku..aku akan bekerja untuk melunasi hutangku padamu di kemudian hari " kata Marrissa dengan terbata. Jason tertawa mendengarnya.
" Bekerja? dengan apa? sadarlah, kau itu lumpuh " ejek Jason.
" Tidak peduli bagaimana caranya, aku pasti akan membayarnya padamu suatu saat nanti "
" Baiklah, kalau kau yakin mampu membayarnya. Aku akan menolongmu. Lagipula aku belum memikirkan imbalan apa yang akan kuminta darimu nanti karena aku yakin seratus persen, kau tidak akan mampu melunasinya "
Jason bangkit dari duduknya.
" Kemasi barang-barangmu. Orang suruhanku akan kemari menyelesaikan administrasinya. " katanya lalu beranjak pergi.
Di koridor rumah sakit, Jason berjalan sambil tersenyum. Ini sudah sesuai rencananya. Dan tanpa diduga, semuanya begitu mudah. Ia memang menginginkan hal ini. Marrissa yang bertekuk lutut memohon pertolongan padanya untuk kemudian ia sakiti. Soal kecurigaannya pada keterlibatan Marrissa dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Ayahnya, sebenarnya tidak pernah ada. Ia hanya berusaha meyakinkan pengacara itu agar menangguhkan pemberian hak rumah Marrissa. Jason tersenyum sekali lagi.
" Selamat datang di nerakaku, Marrissa " batinnya sambil tersenyum smirk.