
Hari-hari berikutnya,Anna terus mencoba untuk menyingkirkan bayang-bayang Justin dari pikirannya. Anna menyemangati dirinya agar bisa melupakan Justin. Berkali-kali dia camkan dalam pikirannya kalau orang sepopuler Justin tidaklah pantas untuk orang biasa sepertinya. Justin sangat cocok bersanding dengan Ashley. Mereka berdua pasangan yang serasi. Justin yang tampan dan Ashley yang cantik dengan kaki jenjangnya yang indah. Benar-benar sempurna.
" Astaga, sekolah ini semakin suram saja rasanya " Drew mengeluh disampingnya. Ia membawa beberapa buku tebal dan permen lolly ditangannya.
" Kau mau?" Drew mengulurkan permen itu pada Anna. Anna menggeleng.
" Baiklah,aku tahu, kau tak butuh permen untuk membuat harimu menjadi manis. Hari burukmu sudah lama berlalu sementara hari burukku baru saja dimulai " katanya sambil membuka plastik pembungkus permen dan segera melahap permen itu di mulutnya yang mungil.
" Melihat Justin dan Ashley setiap hari membuatku rasanya ingin melarikan diri dari sekolahan ini. Pandanganku menjadi suram "
" Mungkin kau hanya butuh kacamata "
" Walaupun memakai kacamata terbaik di seluruh negeri, pandanganku akan tetap sama. Semua ini gara-gara pasangan baru itu!!Rasanya aku tidak sabar menunggu mereka putus!! "
" Kali ini kau terdengar jahat "
" Bukan aku yang jahat,tetapi wanita itu. Kau lihat, siswi di sekolah ini hampir semuanya meratapi hal ini. Kami semua menangisi masa lajang Justin yang berakhir, kecuali kau tentunya "
" Masa lajang? hei, Justin hanya berpacaran dengannya, bukannya menikah. Dan kau, berhentilah meratapinya. Kau tak lihat, gerombolan gadis-gadis disana itu tidak menangis,padahal mereka pemuja Justin juga " kata Anna sok kuat, padahal ia sebenarnya sedang menyembunyikan kesedihan hatinya, seraya menunjuk beberapa siswi yang sepertinya asyik membicarakan sesuatu dengan mimik wajah yang riang gembira.
Drew melihat ke arah yang ditunjuk Anna.
" Tentu saja mereka tidak peduli. Mereka itu geng-nya Claire. Mereka pemuja Roger, bukan Justin " bantah Drew cepat. Anna terdiam. Drew menyadari kesalahannya. Ia buru-buru meminta maaf pada Anna.
" Maaf Anna, aku tidak bermaksud begitu "
" Tidak apa, Drew. Semuanya sudah berlalu " kata Anna. Ia lalu mengambil salah satu buku dari tumpukan buku Drew. Drew melihat Anna yang sekarang sedang asyik membolak balikkan halaman buku. Entah memang sedang mencari sesuatu,atau sekedar melarikan diri dari pertanyaan Drew. Tapi justru itu yang membuat Drew jadi tergelitik ingin tahu. Drew berdehem.
" Anna, apa kau masih mempunyai perasaan pada Roger? maksudku setelah semua peristiwa yang terjadi "
Anna terdiam. Ia menutup bukunya lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Pertanyaan macam apa itu? Bagaimana mungkin ia masih menyukai Roger setelah apa yang dia lakukan padanya? Hufth,mengingat peristiwa itu membuat Anna kembali teringat Justin, bagaimana Justin berkelahi dengan Roger untuk menolongnya.
Kediaman Anna kembali menyadarkan Drew kalau pertanyaannya tadi keterlaluan.
" Maafkan pertanyaanku tadi Anna " pinta Drew.
" Aku.... sudah tidak mempunyai perasaan apapun pada Roger, Drew " jawab Anna tiba-tiba.
Anna mengangguk.
" Aku juga sudah melupakan peristiwa itu "
Drew menghela nafas lega.Syukurlah. Jadi ia tidak perlu takut membicarakan tentang Roger pada Anna. Sudah lama ia ingin mengatakan kabar ini pada Anna.
" Kau tahu,aku mendengar kabar bahwa pada hari pertama masuk sekolah kemarin, orangtua Roger mencabut berkasnya dari sekolah ini. Dia dipindahkan. Karena itu para pemujanya menangis. Andai mereka mengetahui kebenarannya, pasti mereka mengutuk perbuatan jahat Roger bukannya menangisi kepergiannya "
" Pindah? bukankah orang itu berada di penjara sekarang?"
"Entahlah mana yang benar. Bisa saja orangtuanya menutupi kejadian itu.Tapi apapun itu, kau harus merasa lega sekarang,kau tak perlu melihat wajahnya di sekolah ini lagi. Itu bagus untukmu " kata Drew. Anna mengangguk. Ya, Drew benar. Pindah sekolah atau dipenjara tidak perlu dia pusingkan. Yang jelas, ia tidak perlu lagi bertemu si breng*** itu.
" Dan hari ini para pemuja itu tertawa gembira, pastinya mereka sudah melupakan si breng*** itu " imbuh Drew. Lagi-lagi Anna mengangguk setuju. Secepat Claire dan teman-temannya melupakan Roger,maka secepat itulah ia harus melupakan Justin.
******
Justin melempar bola basket ke keranjang. Hup. Masuk. Ia memang sangat jago bermain bola basket, karena itu banyak gadis yang memujanya. Mereka akan menjerit begitu Justin memasuki lapangan. Dan Justin menikmatinya. Jujur,ia suka menjadi terkenal, dikelilingi banyak gadis cantik sangat menyenangkan baginya. Itu sebabnya ia sengaja tidak memilih salah satu diantara mereka. Ia khawatir akan kehilangan popularitasnya.
Tapi itu dulu, sebelum ia bertemu dengan Anna. Gadis biasa itu telah menarik perhatiannya saat pertama kali mereka bertemu. Ia juga selalu merasa gugup ketika bertemu dengannya. Dan bodohnya, perasaan gugupnya itu justru membuat ia melontarkan kata-kata buruk tentang Anna, seolah ia memusuhinya. Padahal tidak sama sekali. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Ia sangat menyukai Anna.
Sore itu, dengan berlari ia menuju rumah Anna. Ia pikir saat itu adalah saat yang tepat untuk mengatakan perasaannya pada Anna. Ia sudah berpikir masak-masak. Ia rela tidak lagi berada di puncak kepopuleran agar bisa bersama Anna. Tetapi yang terjadi justru diluar dugaannya. Dia menemukan Anna sedang berbincang dengan istri muda Ayahnya. Mereka berdua ternyata bersaudara. Anna adalah adik dari penghancur keluarganya. Dan bagian terburuknya adalah Anna ikut ambil bagian dalam rencana jahat wanita itu. Masih terdengar jelas ditelinganya saat wanita itu bilang bahwa ia akan membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik.
Cih. Justin berdecih. Bagi keluarga miskin dan berantakan itu pastinya segala cara akan mereka lakukan agar bisa dipandang orang lain. Meskipun dengan cara yang kotor sekalipun.
Justin kecewa. Sangat kecewa. Ia juga merasa malu dan menyesal telah tertipu dengan berbagai macam muslihat yang ditampilkan Anna. Gadis yang baik apanya? Ternyata Anna hanyalah seekor serigala berbulu domba. Menyesal dia dulu pernah menyukainya,menunjukkan perhatian padanya.
" Honey, kamu disini rupanya. Aku merindukanmu "
Tanpa menengokpun Justin sudah tahu siapa pemilik suara manja itu. Ashley Runner, ketua cheerleaders di sekolahnya. Gadis itu sangat cantik,jauh lebih cantik dari Anna. Dan gadis itu menggilainya. Tapi sampai saat ini, bayang-bayang Anna masih enggan menyingkir dari pikirannya. Mungkin ia terlalu tenggelam dalam pesona palsu gadis pembohong itu. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Ia harus bisa melupakan gadis palsu itu. Dan Ashley adalah pilihan yang tepat.Ya, Ia akan menunjukkan pada gadis palsu itu kalau ia tidak tertarik pada pesona palsunya.
Sebuah senyuman jahat menghiasi wajah tampan Justin. Seperti Anna dan saudarinya yang telah menghancurkan keluarganya, Ia juga akan membuat gadis palsu itu menyesal telah mengenalnya. Dan Ashley bisa membantunya.
" Hello, honey. Aku merindukanmu juga " katanya sambil tersenyum pada Ashley.