
Anna mengelap kaca etalase dengan semangat. Meski ini bukan hari pertamanya untuk bekerja, tetapi dia merasa sangat bersyukur dapat diterima bekerja di butik Nyonya Teresha ini. Nyonya Teresha begitu baik padanya. Ia juga mengajari Anna banyak hal. Dalam sebulan ini, Anna bahkan sudah bisa menjahit, meski belum sehalus jahitan pegawai lainnya. Ia juga mulai belajar membuat desain pakaian.
" Mengapa kau mengelap kaca, Anna? Bukankah sudah ada Sonia yang melakukan pekerjaan itu ?. " tanya Nyonya Teresha.
" Tidak apa Nyonya. Tadi Sonia menelpon, ia tidak bisa masuk hari ini, Nyonya. Ibu- nya sakit. Lagipula hari ini saya sedang kelebihan energi. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan. "
" Kau ini. Sonia tidak masuk ya? Padahal hari ini ada pesanan yang harus diantarkan. "
" Kalau Nyonya mengizinkan, biar saya saja yang melakukannya. "
" Sungguh ? Kau tidak keberatan ?. "
" Seperti yang saya katakan tadi, saya sedang kelebihan energi. "
Nyonya Teresha tersenyum. Pilihannya untuk menerima Anna bekerja memang tidak salah. Anna anak yang rajin dan suka menolong.
****
Anna memasuki parkiran gedung perkantoran. Whinfrey and Co. Tampaknya ia pernah mendengar nama itu. Tapi dimana ya?. Ah sudahlah, mungkin hanya perasaannya saja.
" Permisi. Saya mau mengantarkan pesanan pakaian atas nama Nona Melinda Summers. " kata Anna pada petugas lobby di kantor itu.
" Kau bisa menemukannya di lantai tiga. Di bagian keuangan. " jawab petugas itu dengan ramah.
" Baik. Terimakasih " jawab Anna sambil tersenyum ramah.
" Hei !!. Bukankah kau Anna? Marrie-Anne? " seseorang menepuk bahunya. Anna segera berbalik, dan..
" Drew? Astaga, ini kau? "
" Ya, ini aku " jawabnya. Anna hendak memeluknya tetapi ia urungkan. Mengingat Drew yang didepannya kali ini benar-benar berbeda. Ia tampak elegan dengan setelan kantor yang dipakainya. Ia juga terlihat begitu berbeda dengan make up di wajahnya. Terlihat lebih percaya diri dan berani.
" Apa yang kau lakukan di sini, Anna?. "
" Aku mengantarkan pesanan baju milik Nona Melinda Summers. "
" Hei, apakah kau seorang pesuruh sekarang ?. " tanyanya yang terdengar seperti ejekan.
Anna tersenyum, " Lebih baik daripada tidak punya pekerjaan, bukan ?. " jawabnya menghibur diri. Drew mengernyit.
" Kau tadi bilang mau mengantar pesanan untuk Melinda bukan ? Sini, titipkan saja padaku, aku akan mengantarkannya untukmu " pinta Drew.
" Tidak. Tidak perlu. Aku harus mengantarkannya sendiri. Ini sudah menjadi tugasku. " tolak Anna.
" Baiklah kalau begitu, mari kuantar " kata Drew ramah.
****
Anna berkendara diatas sepeda motornya sambil tersenyum senang. Ia sama sekali tidak menyangka Drew begitu berbeda. Tidak ada lagi kekonyolan padanya. Sebaliknya Drew terlihat begitu keren. Meski begitu Drew masih ramah seperti dulu. Ia bahkan mau mengantar Anna ke ruangan Nona Melinda meski ruangan mereka berbeda. Nona Melinda dilantai tiga di bagian keuangan. Sementara Drew, ada di lantai pertama, entah di bagian apa, Anna juga tidak tahu.
Nona Melinda juga sangat ramah. Ia sangat menyukai desain baju Nyonya Teresha. Berkali-kali dia memuji pekerjaan Nyonya Teresha. Tidak lupa ia mengucapkan banyak terimakasih atas pelayanan butik Nyonya Teresha. Anna sangat senang dibuatnya.
****
Drew memainkan pulpen ditangannya. Hari ini dimulai dengan perasaan khawatir. Semua dimulai saat ia mendengar seseorang bercakap-cakap dengan petugas lobby. Suara seseorang yang ia benci bertahun-tahun lamanya. Dan benar saja, Anna berada di sana. Untung sekali ia cepat melihatnya, hingga bisa memikirkan cara untuk membuat Anna tidak bisa bertemu Justin. Ya, Justin juga magang di tempat yang sama dengannya. Bahkan sebenarnya, Justin-lah alasan baginya untuk magang di kantor ini.
Jantungnya berdetak cepat saat jam menunjukkan pukul 08.00. Jam masuk kerja di kantor ini. Sementara perempuan di depannya seolah tidak mau menyerahkan pesanan untuk Melinda padanya Padahal ia sudah berbaik hati dengan menawarkan untuk mengantarnya. Terpaksa ia harus mengantar perempuan itu ke bagian keuangan. Sepertinya Anna tidak menyadari perbuatan liciknya. Apapun akan ia lakukan agar mereka tidak bertemu. Semuanya demi Justin. Demi lelaki impiannya.
" $i***!!. Kenapa kau harus muncul lagi !!. " katanya dengan geram.