Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas

Anna&Justin- Cinta Di Musim Panas
Mulai membuka hati


Dua minggu kemudian,..


Anna sedang bermain petak umpet bersama Josh. Bocah kecil itu memang pintar sekali bersembunyi, ini terbukti saat Anna sudah sejam lebih mencarinya tetapi tidak ketemu.


" Kau lihat Josh?" tanya Anna pada Justin yang sedang asyik bermain gitar di halaman belakang. Justin menghentikan kegiatannya dan menatap Anna heran.


" Bukankah kalian sedang bermain petak umpet? kau harus mencarinya sampai ketemu. Jangan berbuat curang " Justin menasehatinya.


Anna menghela nafas,


" Ya, aku tahu, tetapi sudah lebih dari sejam aku mencarinya, dan anak itu belum kutemukan. Aku mulai khawatir padanya "


" Tenang saja, dia tidak akan pergi jauh "


" Tetap saja aku khawatir. Bisakah kau membantuku mencarinya? " pinta Anna.


" Kalau aku membantumu itu sama saja dengan curang. Bukan contoh yang baik untuk Josh " tolak Justin dan kembali memetik gitarnya.


" Ayolah, please, aku hanya khawatir padanya. Aku tetap akan mengalah walaupun dia berhasil ditemukan "


Justin tidak bergeming. Ia malah asyik memetik dawai gitarnya. Bahkan ia mulai bernyanyi juga, seperti tidak memperdulikan keberadaan Anna Tetapi Anna tidak menyerah begitu saja. Anna mendekatinya. Berjongkok dan melihatnya dengan tatapan memelas. Berharap Justin akan memenuhi permintaannya.Awalnya Justin mencoba untuk tidak memperhatikannya akan tetapi lama kelamaan Justin menjadi salah tingkah juga, wajahnya memerah.


" Baiklah,baiklah " katanya menyerah dan kemudian beranjak dari duduknya, meninggalkan gitar kesayangannya di kursi taman. Anna bersorak gembira.


****


" Josh !! Kau dimana? " teriak Justin di dalam gudang.


" Josh sayang, aku menyerah kalah. Keluarlah, setelah ini aku akan membuatkan telur dadar yang lezat untukmu " bujuk Anna.


" Josh!! "


"Josh !!!! "


Berulang kali Anna berteriak memanggil nama Josh, tetapi tidak ada sahutan. Anna semakin khawatir saja, beberapa jam lagi Nyonya Olivia pulang. Apa jadinya kalau Josh menghilang?


Anna yang kelelahan akhirnya bersandar pada sebuah papan pengecat yang berada di gudang tanpa sadar kalau papannya begitu rapuh, sehingga benda-benda diatasnya terjatuh


" Awass!! " pekik Justin. Secara reflek ia lalu melindungi tubuh Anna dari perlengkapan cat yang terjatuh, hingga keduanya justru terjatuh di lantai gudang dengan posisi tubuhnya yang menindih Anna. Pandangan keduanya bertemu. Anna merasakan jantungnya berdegup kencang, ada desiran halus di dadanya, pipinya pun menjadi panas. Sejenak mereka dalam posisi itu, sampai tiba-tiba terdengar suara Josh yang kesal.


" Kalian mengacaukan tempat persembunyianku " dengus Josh kesal. Mukanya cemberut. Rupanya bocah itu bersembunyi di belakang papan cat yang tertutup kain. Saat papan itu terjatuh, kainnya pun ikut tertarik sehingga menyingkap tempat persembunyiannya.


Anna dan Justin pun tersadar. Lalu cepat-cepat bangun. Untung saja Josh masih anak-anak yang tidak mungkin berpikiran yang tidak-tidak pada keduanya.


" Maafkan aku, Josh. Tapi kau memang hebat sekali dalam bersembunyi. Aku mengaku kalah " kata Anna sembari menepuk- nepuk bajunya, berusaha membersihkan bajunya dari debu yang menempel.


" Mm, ya, kau memang keren jagoan kecil. Rajanya persembunyian " Justin ikut menimpali agar adiknya tidak marah.


" Aku memang jagonya penyamaran. Saat besar nanti aku akan jadi mata-mata" kata Josh dengan mata berbinar setelah mendengar pujian dari Anna dan juga kakaknya, Justin.


Anna dan Justin berpandangan, lalu tersenyum lega.


***


" Kenapa sekarang kau suka sekali berada di rumah?" tanya Josh pada Justin di sela mengunyah telur dadar. Anna yang duduk disebelahnya mengernyit. Memang kalau dipikir, selama dia bekerja di kediaman Wilderman, Justin selalu berada di rumah. Tidak seperti teman-temannya yang menggunakan kesempatan ini untuk liburan di suatu tempat. Padahal kalau ia mau, ia bisa saja liburan karena setahu Anna, banyak teman-temannya yang mengajaknya, terutama cewek - cewek pemandu sorak itu.


" Aku suka, tapi sebelumnya kau tidak pernah berada dirumah seharian. Hanya Olga yang menemaniku" kata Josh tanpa memperhatikan mimik muka kakaknya yang berubah jadi salah tingkah.


" Mm, itu karena, karena Olga tidak ada dan Anna ini pengasuhmu yang baru. Sebagai kakakmu aku harus memastikan kau berada di tangan yang tepat. Karena itu kalian aku awasi " jawab Justin sok bijaksana yang membuat Anna langsung mencibirnya.


" Kau bisa berhenti mengawasi kami, Anna orang yang baik " bela Josh. Anna tersenyum penuh kemenangan.


" Tetap saja aku harus mengawasinya. Aku kan kakakmu "


" Anna bisa takut kalau diawasi terus "


" Ehh?"


Anna hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Josh tadi. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menahan tawa. Justin gantian mencibirnya.


*****


" Jadi begitu ya? karena aku pengasuh baru yang punya kakak mantan narapidana? " tanya Anna pada Justin saat mereka duduk bersama di pinggiran kolam renang, sembari memperhatikan Josh yang sedang asyik berenang.


" Hm?" Justin mengernyitkan dahinya.


" Kata-katamu tadi? waktu Josh menanyakannya "


Justin berdehem.


" Aku tidak bermaksud begitu "


" Aneh, padahal kau sendiri yang jelas-jelas mengatakannya "


" Kau sendiri akan menjawab apa? kalau ada yang bertanya, kenapa kau berada di rumahmu sendiri?"


Anna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alasan Justin ada benarnya juga. Josh berenang ke arah mereka.


" Justin, kenapa kau tidak mengajari Anna berenang? " tanyanya yang lebih seperti sebuah permintaan.


" Aku? kenapa harus aku? "


" Karena kau satu-satunya lelaki dewasa disini " jawab Josh cepat.


" Aku bukan perenang hebat. Lagipula Anna ini tipe orang yang sangat lama dalam menyerap ilmu " jelas Justin. Anna cemberut. Secara tidak langsung, Justin telah mengatainya sebagai gadis bodoh. Josh hanya manggut-manggut saja, tampaknya ia belum mengerti arti perkataan Justin.


" Lagipula aku hanya pengasuh disini Josh, tidak sopan rasanya kalau majikan mengajari pembantunya " ucap Anna kesal. Justin meliriknya. Anna kelihatan kesal sekali.


" Hei, Aku tidak bermaksud begitu,Anna " Justin mencoba meralat ucapannya sebelum Anna benar-benar marah.


" Saya mengerti,Tuan. Yang saya bicarakan tadi adalah kenyataannya " Anna berbicara dengan nada sesopan mungkin dan memberikan penekanan pada kata " Tuan " sehingga Justin merasa tidak enak hati.


" Apa kamu marah, Anna ? " tanya Justin sambil menatap Anna.


" Tidak. Bukankah kenyataannya memang seperti itu? Sudahlah, tidak perlu dibicarakan lagi. Josh, seperempat jam lagi,sudahilah berenangmu.Kau sudah terlalu lama berenang. Aku akan ke dapur sebentar, membuatkanmu coklat hangat " kata Anna sembari memberikan perintah pada Josh. Josh mengangguk.


Anna berdiri,bermaksud meninggalkan Justin. Ia lalu mulai melangkah dengan kesal. Baru selangkah, ia tergelincir sehingga tubuhnya limbung dan terjatuh. Justin dengan sigap menangkapnya. Sekarang tubuh Anna ada di pelukan Justin. Lagi-lagi pandangan mereka bertemu. Sekali lagi Anna merasakan desiran halus di dalam dadanya. Jantungnya juga berdebar kencang. Suatu perasaan yang pernah ia rasakan saat bersama dengan Roger. Mungkinkah ia mulai menyukai Justin?